“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”
Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.
Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SDUA 18
Sekitar pukul tiga sore di hari yang sama.
Tok!
Tok!
Tok!
Pintu kamar Alyra diketuk dengan keras berturut-turut.
Alyra yang duduk seraya menatap laptop seketika menoleh. Menatap heran ke arah pintu yang terus digedor.
“Siapa, sih? Ganggu aja!” Matanya memicing, namun segera beranjak dari kursi, lalu mendekati pintu.
Ia buka dengan gerakan pelan sehingga memberi celah dan memperlihatkan sosok yang mengetuk pintunya, Alyra langsung menarik napas panjang.
“Velisa?” Ia memutar malas bola matanya.
“Budek, Lo, ya! Dipanggil dari tadi nggak nyaut!” bentak Velisa.
Alyra tak terpancing, masih menatap tenang. “Ada urusan apa?”
“Buka dulu, anjir. Nggak ada sopan santunnya, ya, Lo, nyuruh gue ngomong di depan pintu!” Seperti biasa, intonasi Velisa selalu naik satu oktaf setiap kali berbicara dengan Alyra.
“Tinggal ngomong aja ribet amat, sih,” sahut Alyra seraya membuka lebar pintu kamarnya, ia berdiri menyandarkan bahu di sisi pintu. “Buruan, mau ngomong apa.”
Velisa tak langsung bicara, tatapan sibuk memindai sosok yang sangat tak disukainya sejak masa menempuh pendidikan. Sorot mata penuh kebencian itu terpaku pada perut Alyra yang sudah terlihat lebih berisi dari biasanya. Bertambahlah kedengkian yang menumpuk di hatinya.
“Dasar jalang,” desisnya.
“Lo ke sini cuma mau ngata-ngatain gue?” Alyra mengangkat alisnya.
“Denger, ya. Sundal,” ucap Velisa dengan nada santai, tidak sekeras tadi. “Lo nggak usah berlagak jadi nyonya di rumah ini. Sekalipun Lo mengandung anak Ervin … tapi itu semua nggak akan mengubah keadaan kalau gue adalah istri sahnya! Satu-satunya pewaris sah keluarga Pradana — ya udah pasti anak gue nantinya.”
“Kenapa tiba-tiba ngebahas warisan, emangnya gue udah lakuin apa sampe bikin Lo ketar-ketir gitu,” balas Alyra, balik menatap berani.
“Lo udah ngadu apa sama mama Zaskia, hah?!” ia tatap nyalang perempuan yang mengandung benih suaminya.
“Ngadu?” Kening Alyra mengernyit. “Oh … yang masalah Lo nggak ngasih info apapun soal acara sore nanti?”
“Lo pasti sengaja, ‘kan? Ngadu aneh-aneh sampe mama Zaskia tadi marah sama gue.” Velisa terus menyerang dengan tudingan.
Alyra tersenyum miring seraya menatap angkuh. “Apa? Lo dimarahin? Katanya menantu kesayangan, kok masih kena omel juga, sih.” Tawanya membahana, tatapan berubah mengejek.
“Berani juga lo ngetawain gue.” Velisa mendengus sinis. “Liat aja nanti, gue nggak bakal tinggal diam. Siapin mental lo, Say … suatu hari nanti, lo bakal nangis darah di depan gue!”
“Gue muak banget sama ancaman murahan Lo ini. Dari dulu sampai sekarang cuma omong doang!”
“Perempuan murahan kayak Lo berani nantangin gue?” hardiknya lantang, mengundang perhatian beberapa bibi yang tengah membersihkan lantai di sekitar mereka.
Tanpa pikir panjang, Velisa mengangkat tangan tinggi-tinggi, berniat melayangkan tamparan tepat ke wajah Alyra. Namun sebelum telapak tangan itu menyentuh kulitnya, Alyra bergerak lebih cepat.
Plak!
Bukan suara tamparan yang terdengar, melainkan bunyi cekalan keras saat Alyra menangkap pergelangan tangan Velisa di udara.
Tatapan Alyra berubah dingin. Jemarinya mencengkeram kuat hingga Velisa sedikit meringis.
“Berani Lo sentuh gue … gue bisa balas lebih kejam lagi, Sa,” ucap Alyra rendah, tetapi penuh penekanan.
Velisa membelalak tak percaya. “Lepasin tangan gue!”
Alyra melepas cengkeraman dengan keras, sehingga tubuh Velisa sedikit terhuyung. Dengan penuh kekesalan dan rasa malu, Velisa menatap tajam sosok yang memandangnya dengan angkuh.
“Awas, ya, Lo!” Ia menghentakan kaki, berlalu dengan raut wajah berapi-api.
.
.
.
Ruang tamu mewah itu dipenuhi aroma parfum mahal dan suara tawa para perempuan sosialita. Meja panjang yang berdiri di tengah sudah dipenuhi aneka dessert cantik, cangkir kopi, serta tas-tas bermerek yang sengaja diletakkan mencolok di atas sofa — di samping pemiliknya.
Beberapa wanita tampil glamor dengan balutan dress elegan dan perhiasan berkilau. Jemari mereka sibuk menggulir layar ponsel, sesekali memperlihatkan foto liburan atau barang baru yang dibeli dari luar negeri.
“Ya ampun, tas kamu limited edition, kan, Jeng?” seru salah satu wanita dengan mata berbinar. Ia menatap lekat tas tenteng milik Zaskia.
Yang dipuji terkekeh pelan sambil mengangkat dagu bangga. “Iya dong. Kemarin baru sampai dari Paris. Susah banget dapetinnya.”
Di sudut lain, dua ibu-ibu sibuk bergosip dengan suara setengah berbisik, meski cukup keras untuk didengar sekitar.
“Eh, kalian tau nggak? Katanya suami Bu Ranti ketahuan jalan sama sekretaris mudanya.”
“Hah? Serius?” Zaskia membelalak tak percaya.
“Makanya sekarang dia rajin banget ikut arisan. Mungkin buat cari hiburan,” sahut Marina, wanita berusia akhir empat puluhan itu menutup mulut menahan tawa.
Gelak kecil pun pecah memenuhi ruangan.
Alyra hanya menghela napas, sesungguhnya dirinya sangat malas ikut nimbrung dalam acara. “Mulai … gibah ronde pertama.” Ia geleng-geleng kepala.
Berbeda dengan Velisa, wanita itu cukup menikmati acara, ikut tertawa, bahkan nimbrung dalam obrolan para wanita tua. “Tante Ranti yang anaknya jadi dokter itu, ya? Ihhh … kasiannya,” komentarnya yang dibalas dengan gelak tawa para tamu.
“Pantesan … waktu itu Bu Ranti dm saya di instagram, katanya nyari slot arisan. Tapi kan ya, arisan kita ini cukup gede, modal uang dan berlian, takutnya dia nggak mampu. Jadi saya bilang kalau sudah tidak ada slot lagi,” dusta Zaskia, hanya mengarang cerita untuk menambah seru suasana.
Tak lama kemudian, ketua arisan berdiri sambil menepuk tangan pelan agar perhatian kembali fokus.
“Ladies, yuk mulai dulu arisannya sebelum kita lanjut gibah sesi kedua,” ujarnya bercanda.
Suasana langsung ramai oleh protes dan tawa. Satu per satu amplop arisan mulai dikumpulkan, sementara para sosialita itu tetap sibuk saling pamer, membandingkan kehidupan, dan menjaga senyum manis yang tampak sempurna di permukaan.
“Jeng Zaskia makin glowing aja, nih. Apalagi kedua anaknya sudah menikah semua. Pasti udah merasa tenang, ya, tentram hidupnya,” komentar Bu Lusi, teman sekolah Zaskia.
“Iya, pastilah. Udah nggak mikir beban lagi, nggak kayak anakku yang susah banget disuruh nikah.” Gelak tawa kembali membahana, ketua geng tengah menceritakan putra semata wayangnya yang diusia 30 tahun masih betah menduda.
“Tapi Mahesa kan sudah mapan, Jeng. Punya anak juga, nggak usahlah disuruh nikah lagi,” sahut Zaskia.
Maya, selaku ketua geng sosialita itu menghela napas panjang. “Tetap saja, saya pengen liat anak saya bahagia, apalagi usia saya semakin tua, takut dia kesepian nantinya.” ia kemudian beralih menatap kedua menantu tuan rumah. “Kayak jeng Zaskia gini. Bisa arisan ditemani dua menantunya, hmmm … saya pengen banget berada di posisi itu.”
“Kamu pasti bangga, ya, Jeng. Punya menantu seorang aktris terkenal, lalu satunya lagi ….” Lusi menggantung kalimatnya, kemudian menatap penuh tanya pada Alyra. “Apa pekerjaan menantumu yang ini?”
“Dia … dia nggak punya kerjaan.” Bukan Zaskia, tapi Velisa yang menjawab. “Dia pengangguran,” sambungnya dengan nada bercanda, namun sudut bibirnya berkedut sinis.
Sontak saja semua mata kini tertuju ke Alyra, sosok yang dianggap pengangguran.
Bisik-bisik mulai mengudara, merayap hingga ke pendengaran Alyra.
“Benar, saya tidak bekerja. Kerjaan saya di rumah … cuma makan dan tidur, eh sama nonton drama, emm ... sama berakk sih, nggak pernah lupa, hehe.” Alyra menanggapinya dengan santai.
Setelah menjawab lugas, wanita hamil itu pamit untuk ke kamar mandi.
Semua mata berubah menatap prihatin, bukan pada Alyra, tetapi ke arah Zaskia. Sosok yang selalu bersikap pongah, membanggakan keluarganya yang dikelilingi orang-orang berpengaruh. Suami seorang pengusaha terpandang, kedua putranya berkecimpung di dunia hiburan dan cukup dikenal banyak orang atas beberapa proyek yang berhasil diluncurkan.
Saat Ervin menikahi Velisa, Zaskia tak henti-hentinya terus membicarakan sang menantu yang merupakan seorang aktris cukup terkenal. Namun saat putra keduanya menikah, semua acara dibuat privat, hanya kerabat dekat yang hadir, seolah ingin menyembunyikan sosok menantu yang menurutnya pembawa sial.
Beberapa saat berlalu, suasana kembali seperti semula, dipenuhi suara gibah dan gelak tawa. Akhirnya ketua arisan mulai menghitung amplop dan beberapa kotak berlian, namun keningnya terus mengerut saat jumlah kotak berlian tak sesuai dengan seharusnya.
“Berliannya hilang satu,” ucap Maya.
“Hah? Kok bisa?” Semua orang berteriak panik.
“Satu berlian bukanlah nominal recehan, kok bisa-bisanya hilang.”
“Lebih baik kita periksa semua tas yang ada di sini, Tante,” kata Velisa, menatap tanpa ragu ke arah Maya.
“Iya, boleh juga. Haduuh jadi pusing saya.”
Ia segera mengumpulkan semua tas branded di satu meja, mulai memeriksa satu per satu. Dibantu oleh Zaskia.
Pada tas pertama dan beberapa tas lainnya tak membuahkan hasil, hingga akhirnya Maya meraih tas terakhir.
“Ini dia, ketemu!” serunya.
Sang pemilik tas baru tiba, tak tahu menau tentang barang yang hilang, ia menatap polos pada semua orang, lalu ekspresinya berubah bingung.
“Ada apa, ya?” Alisnya terangkat.
“Astaga, Alyra … dasar kampung! Lo yang udah nyolong berlian ini!”
*
*
Bersambung.