NovelToon NovelToon
Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Action
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Monster yang Masih Peduli

Hujan belum berhenti.

Air jatuh deras dari langit kota yang gelap, membasahi kendaraan militer, pasukan bersenjata, dan gedung setengah runtuh tempat semuanya bermula.

Namun perhatian Veyra sekarang bukan pada pasukan.

Bukan pada misil.

Bukan pada ancaman dunia.

Melainkan pada seorang anak kecil yang berdiri gemetar di tengah kekacauan.

Bocah itu menangis sambil memanggil ibunya.

Dan entah kenapa—

suara itu terdengar jauh lebih keras daripada alarm mana pun malam ini.

Lyra memperhatikan wajah Veyra perlahan berubah.

“Kamu lihat sesuatu?”

Veyra tidak langsung menjawab.

Tatapannya masih terpaku keluar jendela.

“Aku dulu juga begitu ya?”

Deg.

Lyra membeku sesaat.

Karena nada suara itu—

terdengar kecil.

Rapuh.

Seperti anak yang selama ini tersembunyi jauh di dalam dirinya akhirnya muncul lagi.

“Aku takut,” lanjut Veyra pelan. “Aku cuma lupa rasanya.”

Sunyi.

Hujan terus turun.

Dan untuk pertama kalinya setelah semua kekacauan ini—

Veyra tidak terdengar seperti monster.

Ia hanya terdengar… manusia.

Namun dunia di luar tidak peduli.

“TARGET TERLIHAT DI JENDELA!”

“SIAPKAN SERANGAN KEDUA!”

Laser senjata langsung mengarah ke tubuh Veyra.

Puluhan titik merah memenuhi dadanya.

Lyra langsung panik.

“VEYRA, MUNDUR!”

Namun Veyra tetap diam.

Tatapannya perlahan berpindah dari anak kecil itu… ke para pasukan yang ketakutan.

Dan tiba-tiba—

ia sadar sesuatu.

Semua orang di luar sana takut.

Pasukan.

Warga.

Pemerintah.

Semuanya.

Dan rasa takut itu membuat mereka berubah brutal.

Sama seperti para ilmuwan di laboratorium dulu.

Deg.

Senyum kecil muncul di bibirnya.

Sedih.

Pahit.

“Manusia memang lucu.”

Selene melirik.

“Kamu ngomong kayak penjahat utama anime.”

“Karena mungkin aku memang menuju ke sana.”

“Fair enough.”

Suara dari pengeras kembali terdengar.

“MENJAUH DARI JENDELA DAN MENYERAH SEKARANG!”

Veyra menghela napas pelan.

Lalu—

ia melangkah naik ke bingkai jendela yang hancur.

“VEYRA!”

Lyra langsung bergerak cepat.

Namun terlambat.

Karena detik berikutnya—

Veyra melompat keluar gedung.

Deg.

Semua orang membeku.

Pasukan di bawah refleks mengarahkan senjata.

Helikopter langsung menyorot lampu ke tubuhnya.

Namun sesuatu yang mustahil terjadi.

Tubuh Veyra tidak jatuh.

Ia melayang.

Pelan.

Di tengah hujan.

Cahaya biru muncul di sekitar tubuhnya seperti serpihan data hidup.

Dan seluruh kota—

diam.

Karena untuk pertama kalinya—

mereka benar-benar melihatnya.

Bukan dari layar.

Bukan dari rumor.

Tapi langsung.

Gadis yang membuat dunia bertekuk lutut selama tiga detik.

“...Ya ampun,” bisik salah satu pasukan.

“Dia bukan manusia…”

Kalimat itu langsung menyebar pelan di antara mereka.

Dan Veyra mendengarnya.

Tentu saja ia mendengar.

Sekarang suara jantung manusia saja terasa jelas baginya.

Ketakutan mereka.

Keraguan mereka.

Semuanya terdengar seperti gema kecil di udara.

Dan anehnya—

ia tidak marah.

Ia hanya kecewa.

“Dengar baik-baik.”

Suara Veyra menggema melalui seluruh perangkat militer tanpa mikrofon.

Seluruh layar kendaraan langsung menyala sendiri.

Memperlihatkan wajahnya.

Dan semua orang menatap.

“Kalau aku memang ingin menghancurkan kalian…”

Tatapannya perlahan dingin.

“…kota ini sudah jadi abu dari tadi.”

Sunyi.

Tak ada yang berani bergerak.

Bahkan helikopter di udara berhenti mendekat.

Karena tidak ada yang tahu batas kekuatannya lagi.

Di dalam gedung, Selene bersandar di dekat jendela sambil tersenyum kecil.

“Oke. Itu keren.”

Lyra sama sekali tidak merasa keren.

Ia justru takut.

Karena semakin Veyra menggunakan kekuatan itu—

semakin sinkronisasinya meningkat.

Dan ia bisa merasakan sesuatu.

Sistem itu…

masih ada.

Masih mengawasi.

Masih menunggu kesempatan.

Hologram glitch muncul lagi di belakang Veyra.

Hanya dia yang bisa melihatnya sekarang.

“Mereka tidak akan percaya padamu.”

“Mereka tetap akan mencoba membunuhmu.”

Veyra menatap lurus ke depan.

“Ya. Aku tahu.”

“Lalu kenapa masih menahan diri?”

Pertanyaan itu membuatnya diam sesaat.

Karena ia sendiri tidak tahu.

Atau mungkin—

ia tahu, tapi tidak mau mengakuinya.

Anak kecil tadi akhirnya melihat Veyra di udara.

Dan bukannya menangis—

bocah itu justru menatap kagum.

Deg.

Perasaan aneh muncul lagi di dada Veyra.

Karena tatapan itu…

tidak berisi takut.

Tidak seperti orang-orang lain.

Bocah itu cuma melihatnya seperti seseorang yang luar biasa.

Bukan monster.

Dan entah kenapa—

itu jauh lebih menyakitkan.

“Turunkan senjata kalian.”

Suara Veyra kembali terdengar.

Dingin.

Tenang.

Namun tidak mengancam.

“Aku nggak mau bunuh siapa pun malam ini.”

Salah satu komandan langsung berteriak,

“JANGAN DENGARKAN DIA!”

Namun sebelum ia selesai—

seluruh senjatanya langsung mati.

Klik.

Lampu kendaraan padam.

Drone jatuh satu per satu.

Dan seluruh pasukan langsung panik.

“PERALATAN TIDAK BERFUNGSI!”

“SISTEM DOWN!”

Veyra bahkan tidak mengangkat tangan kali ini.

Ia hanya berdiri di udara sambil memandang mereka semua.

Dan itu justru lebih mengerikan.

Pria misterius di layar dalam gedung memperhatikan semuanya tanpa berkedip.

“Luar biasa…”

Selene mendecakkan lidah.

“Kamu terdengar kayak fans.”

“Aku melihat kemungkinan.”

“Dan aku lihat alasan kenapa dunia bakal makin kacau.”

Namun pria itu tersenyum tipis.

“Dunia memang perlu dihancurkan sedikit… sebelum berubah.”

Deg.

Lyra langsung menatap tajam.

“Aku mulai ngerti kenapa Veyra benci kamu.”

Di luar—

pasukan mulai mundur perlahan.

Bukan karena diperintah.

Tapi karena takut.

Dan Veyra bisa melihatnya dengan jelas.

Ia bisa mengakhiri semuanya sekarang.

Satu pikiran saja.

Satu dorongan kecil.

Dan semua kendaraan militer itu bisa meledak bersamaan.

Namun—

ia tidak melakukannya.

Karena anak kecil itu masih ada di sana.

Karena Lyra masih melihatnya seperti manusia.

Karena jauh di dalam dirinya—

Veyra masih belum siap jadi monster sepenuhnya.

Namun dunia tidak akan membiarkannya memilih dengan damai.

Tiba-tiba—

KREEEEEEKKK—

Suara tajam memenuhi udara.

Veyra langsung menegang.

Frekuensi menara kembali aktif.

Namun kali ini—

lebih kuat.

Jauh lebih kuat.

“Tidak…” gumam Lyra dari jendela.

Selene langsung sadar.

“Mereka pakai generator cadangan?”

Pria di belakang terminal memucat.

“Itu frekuensi pembunuh jaringan…”

Veyra langsung memegang kepalanya.

“UGH—!”

Seluruh cahaya biru di tubuhnya mulai kacau.

Hologram di belakangnya glitch liar.

“Koneksi terganggu!”

Namun yang lebih buruk—

langit mulai berubah.

Petir biru muncul di antara awan gelap.

Data-data digital terlihat seperti retakan cahaya di udara.

Dan semua perangkat elektronik di kota mulai menyala sendiri.

Tidak normal.

Tidak manusiawi.

“VEYRA!”

Lyra langsung berlari keluar gedung.

Hujan membasahi tubuhnya.

Namun ia tetap berlari ke arah Veyra.

Sementara di udara—

Veyra mulai kehilangan kendali.

Suara-suara di kepalanya kembali kacau.

Terlalu banyak.

Terlalu keras.

Dan di tengah semuanya—

suara hologram terdengar lagi.

Lebih jelas dari sebelumnya.

“Mereka tidak akan berhenti sampai kamu hancur.”

“Jadi hancurkan mereka lebih dulu.”

Deg.

Cahaya biru di mata Veyra langsung berubah lebih terang.

Dan untuk pertama kalinya—

seluruh kota merasakan sesuatu yang sama.

Ketakutan.

1
Frando Wijaya
hee....hanya 1 klik...mka org yg buat Dia menderita... langsung hancurkn reputasi Dan sbgny sampe hancur tanpa sisa sedikitpun ya? luar biasa 👏...gw simpen ini dlo..krn ada novel lain yg gw blom baca selesai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!