"Setelah 17 tahun pernikahan, Wulan Hartati baru mengetahui bahwa anak tiri yang selama ini ia sayangi bagaikan anak kandungnya sendiri ternyata adalah anak dari suaminya, Arif dan selingkuhannya, Siti Aminah!
Wulan pun menuntut cerai saat itu juga dan beranjak dari rumah bak neraka itu dengan tangan kosong. Mantan suami dan orang-orang di sekelilingnya meremehkannya, dan menghina kalau dirinya tak akan bisa hidup di luar sana.
Namun, Wulan kembali dengan tamparan keras! Tak hanya sebagai CEO sebuah bisnis kuliner tetapi juga istri dari seorang Mayor Angkatan Darat, beserta ketiga anaknya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Malam itu, Joko masih berada di apartemen sederhana Siti, memeluknya erat setelah mereka berdua selesai menghabiskan waktu intim. Meski hatinya berdebar, pikirannya tetap dipenuhi perhitungan dan perencanaan. Dengan suara rendah tapi tegas, Joko berkata, “Besok aku akan resmi bercerai dengan Wulan. Aku ingin menikahimu secara sah, membentuk keluarga baru yang utuh, bertiga… seperti yang selama ini kita impikan.”
Siti terkejut. Matanya membulat, bibirnya sedikit terbuka, seakan ingin menolak atau bertanya, tapi kata-kata tak kunjung keluar. Ia menatap Joko dengan campuran rasa takut dan cemas. Benar-benar tak menyangka, Joko bisa sampai sejauh ini, begitu yakin ingin meninggalkan Wulan yang telah membesarkan Arif selama 17 tahun. Hatinya berdebar, bukan karena senang, tapi karena menyadari tanggung jawab yang tiba-tiba menimpanya.
“Apa kau yakin dengan semua ini?” Siti akhirnya menahan napas, suaranya lembut tapi tegas. “Aku… aku tidak pernah membayangkan akan menikahimu. Dulu aku hanya ingin Wulan menikahimu. Sekarang kau ingin meninggalkan semua itu?”
Joko menatapnya dengan mata yang tak menyembunyikan keteguhan. “Aku sudah memikirkannya lama. Wulan sudah tahu semuanya. Tentang kita, tentang rumah yang kubeli untukmu. Dia sudah pindah, dia ingin bercerai. Aku ingin semuanya jelas dan bersih. Aku lelah dengan rahasia dan kebohongan.”
Siti menghela napas panjang, menegakkan punggungnya, dan menatap Joko dari atas ke bawah. Ia bisa merasakan tekad di matanya, tapi juga ada sedikit keraguan—sebuah celah yang bisa ia manfaatkan, jika perlu. Meski demikian, ia menahan diri. Ia duduk dengan tenang, menyesap teh melati hangat, meletakkan kue kecil di piring dengan rapi, dan mengamati Joko. Segala gerakan dan sikapnya terkontrol, anggun, dan elegan.
Siti akhirnya berkata, suara datar tapi penuh makna: “Kau pikir aku akan ikut campur atau menahan Wulan? Aku tidak akan melakukannya. Tapi kau juga harus ingat, besok adalah hari penting untuk penilaian jabatanmu sebagai wakil direktur rumah sakit. Jangan sampai karena urusan pribadi, semuanya berantakan. Aku bisa pergi menemui Wulan, mencoba membujuknya kembali, jika kau mau.”
Joko tersenyum tipis, menggeleng, namun matanya tetap menyala dengan tekad. “Aku tidak peduli Wulan kembali atau tidak. Aku hanya ingin ini selesai. Aku lelah. Aku ingin semua jelas. Dan aku ingin kau tahu, aku memilihmu.”
Siti mengangguk perlahan, tetap menjaga senyumnya, namun di balik senyum itu ada perasaan superior yang tak bisa disembunyikan. Selama bertahun-tahun, ia selalu berada satu langkah di depan, memanfaatkan peluang, menempatkan dirinya di atas segalanya. Setiap gerakan, setiap senyum, setiap kata yang ia ucapkan seolah menegaskan bahwa ia memang lebih unggul, lebih cerdas, lebih berkuasa daripada Wulan dan bahkan Joko sendiri.
Keesokan harinya, suasana di toko sarapan milik Sri tetap ramai seperti biasa. Wulan datang lebih pagi, mengenakan seragamnya, dan segera mulai menyapu, mengepel, menyiapkan adonan untuk roti dan kue. Aroma kopi, teh, dan telur teh yang baru dimasak menguar ke seluruh ruangan, membuat para pelanggan yang datang merasa hangat dan nyaman. Wulan bekerja tanpa mengeluh, tangannya lincah mengolah adonan, mengatur loyang, dan menyiapkan telur teh dengan teknik yang sempurna, retakan halus pada cangkang terbentuk dengan rapi, warna bumbu meresap hingga ke kuning telur.
Dalam waktu singkat, dua panci telur teh yang baru dimasak habis terjual. Aroma rempah yang khas menarik perhatian pelanggan baru, beberapa orang bersedia menunggu lama hanya untuk mencicipinya. Wulan terus bekerja, menata meja, melayani pelanggan dengan senyum, meski dalam hatinya ada kekhawatiran kecil: bagaimana jika Joko tiba-tiba muncul, atau bagaimana jika rahasia masa lalunya kembali menghantui?
Setelah jam sibuk berlalu, Wulan meminta izin kepada Sri untuk pergi sebentar. Ia harus menunggu Joko di kantor pencatatan sipil untuk proses perceraian. Sri mengangguk, menepuk pundaknya, lalu menyerahkan dua bungkus kue sebagai bekal, bercanda, “Jangan sampai kau lupa makan ya, Nak. Kau harus kuat menghadapi semua ini.” Wulan tersenyum dan mengangguk, hatinya lebih ringan meski langkahnya masih terasa cepat karena adrenalin.
Di kantor pencatatan sipil, Wulan duduk menunggu dengan sabar. Ia menatap jam, menghitung setiap menit yang berlalu. Namun, Joko tak kunjung muncul. Alih-alih Joko, seorang wanita berpakaian rapi, dandanan elegan, aroma parfum mahal menguar di sekitarnya, muncul di pintu: Siti.
Wulan terkejut, menatap Siti dengan campuran marah, heran, dan tidak percaya. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Wulan, suaranya dingin tapi tegas.
Siti tersenyum, menutup tasnya dengan lembut, lalu meletakkan brosur teh impor dan beberapa paket kue di meja. “Aku pikir kita bisa bicara sambil minum teh. Aku tahu kau ingin bercerai… tapi aku ingin bicara dewasa. Tidak perlu ribut, tidak perlu emosi. Kita bisa bicara santai, duduk di sini, dan menikmati teh bersama,” katanya dengan nada lembut tapi yakin.
Wulan menahan napas, mencoba menenangkan diri. Setiap gerak Siti—cara menata cangkir teh, cara menekuk jari di atas meja, cara menyesap teh perlahan—semuanya menunjukkan ketenangan dan kontrol. Wulan menyadari, selama ini Siti memang selalu satu langkah di depan, selalu menempatkan dirinya di atas, dan memanfaatkan segala peluang yang ada.
Wulan meneguk teh dengan perlahan, menahan amarah dan rasa sakit. “Benarkah kau tidak merasa bersalah? Tidak ada sedikit pun rasa menyesal?” tanyanya, suaranya tenang tapi penuh kepedihan, menatap Siti lurus-lurus.
Siti menatapnya, senyum tipis tetap terukir di bibirnya, mata tenang tapi menusuk. “Mengapa aku harus merasa bersalah? Mengapa aku harus menyesal?” jawabnya. Nada itu lembut, elegan, tapi juga menegaskan superioritasnya. “Hidup memang begini. Setiap orang punya jalan masing-masing, dan aku hanya mengikuti jalanku. Kau juga punya pilihanmu.”
Wulan menelan ludah, merasakan jantungnya berdegup kencang. Setiap kata Siti, setiap gerakannya, mengingatkan Wulan akan semua yang telah terjadi selama lebih dari satu dekade: Siti yang perlahan memasuki hidupnya, mengambil posisi yang seharusnya miliknya, sementara Wulan hanya menjadi pengurus rumah tangga tanpa hak dan pengakuan.
Ia menatap Siti lebih lama, suara bergetar tapi tegas, “Kalau begitu… aku akan melakukan jalanku sendiri. Aku akan bercerai. Aku tidak mau lagi menjadi pengurus rumah gratis untuk kalian berdua.”
Siti mengangguk, tetap tenang, membiarkan Wulan merasa marah dan sakit hati. Ia tidak menekan, hanya menunjukkan kehadiran dan superioritasnya, seakan berkata: ‘Aku di atas semua ini.’
Wulan meneguk teh terakhir, menarik napas panjang, dan merasakan tekad mengalir dalam dirinya. Ia tahu, inilah saatnya membalik halaman, hidup untuk diri sendiri, dan membuktikan bahwa ia juga bisa kuat. Sementara Siti, dengan senyum anggun, tetap duduk di seberang, menikmati teh, tanpa menekan tapi menunjukkan bahwa ia selalu satu langkah di depan, memamerkan keunggulannya secara halus tapi jelas.
ᴅɪʙᴀᴡᴀ ᴋ ᴋɪsᴀʜ ᴊᴀᴍᴀɴ ᴅᴀʜᴜʟᴜ ᴅɪ ʙᴀɴᴅᴜɴɢ...
ᴋᴇʀᴇᴇᴇᴇᴇɴɴñ ᴛʜᴏʀ.... 😍😍😍