NovelToon NovelToon
Terikat Tanpa Pilihan

Terikat Tanpa Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:33.5k
Nilai: 5
Nama Author: ludiantie

Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.

Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.

Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.

Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 18

Ruangan itu kembali hening setelah Nick keluar.

Clara pamit untuk menyiapkan sentuhan akhir riasan.

Tessa akhirnya duduk perlahan di kursi dekat cermin.

Begitu heels dilepas, rasa perih langsung terasa lebih jelas.

Bagian belakang tumitnya memerah. Sedikit lecet.

Ia mengusapnya pelan, mencoba tidak mengeluh.

Satu jam lagi.

Ia hanya perlu bertahan beberapa jam.

Suara langkah tegas terdengar lagi mendekat.

Tessa refleks berdiri, tapi sedikit meringis saat tumitnya menyentuh lantai.

Nick berhenti tepat di ambang wardrobe.

Tatapannya turun tanpa komentar.

Dari wajahnya.

Ke gaun.

Ke kaki yang kini tanpa sepatu.

Ia melihat lecet itu.

“Kenapa dilepas?” tanya nick pelan,

“Supaya tidak tambah sakit.”

“Kau baru latihan dua jam.”

Nada suaranya tidak peduli.

Tapi tatapannya tetap sama,

Tessa tidak ingin terlihat lemah.

“Aku bisa pakai lagi nanti.”

Nick melangkah masuk.

Ia jongkok tanpa banyak bicara.

Gerakannya cepat dan praktis, bukan dramatis.

Tangannya memegang pergelangan kaki Tessa sebentar, memutar sedikit untuk melihat lebih jelas.

Sentuhannya tetap kuat. Tidak lembut.

“Ini akan terasa perih saat kau berdiri lama.”

“Aku tahu, tidak apa apa, biarkan saja," tessa mencoba terlihat baik-baik saja,

“Dan kau tetap memaksakan diri?”

Tessa terdiam beberapa detik.

“Aku tidak mau terlihat tidak siap.”

Nick terdiam sepersekian detik lalu berdiri kembali.

“Duduk.” perintah nick,

Tessa langsung duduk lagi.

Nick mengambil kotak kecil dari laci wardrobe, entah sejak kapan itu sudah ada di sana.

Ia mengeluarkan plester khusus tumit, menempelkannya dengan gerakan efisien.

Tidak pelan tapi tidak kasar.

Hanya cepat dan tepat.

“Jangan bergerak.”

Ia memakaikan kembali heels itu pada kakinya.

Mengencangkan strap dengan presisi.

Tessa hanya bisa menahan napas, bukan karena sakit.

Tapi karena situasinya terasa… berbeda.

Nick berdiri lagi.

“Kalau kau jatuh di depan keluargaku malam ini, itu bukan karena mereka terlalu tajam.”

Tatapannya turun ke mata Tessa.

“Itu karena kau tidak cukup disiplin.” ucap nick debgan kalimatnya yang tajam, seperti biasa,

Tapi kali ini Tessa tidak merasa dikecilkan.

Ia berdiri perlahan.

Tumitnya masih perih.

Tapi lebih tertahan.

“Aku tidak akan jatuh.”

Nick menatapnya beberapa detik.

Seolah menilai apakah itu keberanian… atau keras kepala.

“Bagus.”

Ia meraih jasnya.

“Kita berangkat.”

Saat mereka berjalan keluar kamar, Tessa berjalan sejajar dengannya, langkahnya stabil.

Masih terasa sedikit sakit tapi tessa tidak goyah.

Dan tanpa disadari Tessa,

Nick memperlambat langkahnya setengah tempo.

Hanya sedikit.

Cukup agar ritme mereka tetap sama.

Mobil melaju mulus di jalanan malam yang mulai padat lampu kota.

Di dalam suasananya hening.

Tessa duduk tegak di kursi belakang, gaun emerald-nya jatuh rapi. Kalung berlian itu berkilau setiap kali mobil melewati cahaya lampu jalan.

Nick duduk di sampingnya, dengan masih memainkan handphone nya,

Beberapa menit berlalu tanpa suara.

“Kau tahu siapa saja yang akan hadir malam ini?”

Tessa menggeleng kecil. “Tidak.”

“Direksi senior keluarga. Beberapa kerabat jauh. Dan tentu saja ayahku.”

Nada suaranya datar.

“Tante Livia,” lanjutnya, “akan menjadi yang pertama mengujimu.”

“Bagaimana?” tanya tessa mulai penasaran,

“Dia tidak pernah berbicara langsung. Tapi kalimatnya selalu punya dua makna.”

Tessa menelan ludah pelan.

“Jangan tertipu nada manis.”

Ia akhirnya menoleh sedikit ke arahnya.

“Kalau dia bertanya tentang keluargamu, jawab singkat.”

“Kalau dia membandingkanku dengan pasanganmu sebelumnya?”

Hening sepersekian detik.

Tatapan Nick berubah lebih dingin.

“Jangan pernah membahasnya lebih dulu.”

“Aku hanya..."

“Aku tidak suka spekulasi.”

Nada suaranya mulai tajam.

Tessa langsung diam.

Beberapa detik kemudian Nick melanjutkan, lebih rendah.

“Jika seseorang berbicara di luar batas, kau lihat aku. bukan mereka.”

Tessa menoleh perlahan.

“Kenapa?”

“Karena aku yang akan menghentikannya.”

Kalimat itu tidak terdengar manis, lebih seperti pernyataan wilayah.

Mobil berbelok memasuki kawasan perumahan elite yang lebih tua dan megah dari rumah mereka.

Lampu taman menyala terang.

Rumah utama keluarga terlihat di kejauhan, lebih besar, lebih klasik, lebih… berkuasa.

Nick kembali berbicara.

“Jangan terlalu banyak tersenyum.”

Tessa berkedip.

“Kenapa?”

“Kau bukan tamu yang ingin disukai.”

Suasana kembali hening.

“Kau istriku.”

Kalimat itu jatuh berat di udara mobil.

“Duduk di sampingku. Bicara saat perlu. Diam saat harus.”

Nada suaranya tidak meninggi.

Tapi jelas, tidak ada ruang untuk kesalahan.

Tessa menarik napas perlahan.

“Dan kalau aku melakukan kesalahan?”

Nick menatap lurus ke depan.

“Jangan.” hanya satu kata tegas dari nick, membuat tessa tidak berani untuk membantahnya,

Mobil akhirnya berhenti di depan tangga besar rumah keluarga.

Seorang pelayan tua sudah berdiri menunggu untuk membukakan pintu.

Nick keluar lebih dulu.

Lalu ia berbalik, mengulurkan tangan.

Bukan lembut.

Lebih seperti memastikan ia turun tanpa goyah.

Tessa meletakkan tangannya di atas tangan Nick.

Tumitnya menyentuh lantai batu.

Perihnya masih ada.

Tapi ia berdiri stabil.

Nick mencondongkan sedikit wajahnya ke arahnya sebelum mereka melangkah naik tangga.

Suara rendah. Hanya untuknya.

“Jangan buat aku terlihat salah memilih.”

Tessa menatap lurus ke depan dengan senyuman tipis,

“Tidak akan pernah.”

Dan untuk pertama kalinya malam itu,

Ia benar-benar mempercayai kalimatnya sendiri.

1
Nur Halida
gimana dg kondisi kantor??apa semua sudah baik2 saja?
Nur Halida
mau yg kayak nick🥰🥰🥰.tapi aku udah punya suami😁
Nur Halida
aku padamu nick🥰🥰🥰
Nur Halida
ya .. untuk orang yg kita cintai kita rela melakukan apapun demi melihat dia bahagia meski menyakiti hati sendiri .😊😊😊
itsmecancer: dalem banget say☺️❤️
total 1 replies
Nur Halida
seperti biasa nick emang the best kalo soal mengendalikan perusahaan ..
Ririn Susanti
setiap hari selalu aku tunggu cerita mu...krn sangat bagus ceritanya, karakter tokohnya chemistry Nick dan Tessa seakan hidup ketika aku membaca
itsmecancer: wah makasih banyak...ditunggu kelanjutannya yang gak kalah seru ❤️☺️
total 1 replies
Nur Halida
bagus nick kamu harus memperjuangkan tessa👍👍
itsmecancer: mode bucin akut lagi ON 🤫
total 1 replies
meli pbc
keren Nick 💪💪
itsmecancer: Nick be like, "Aku tahu," 🤭❤️
total 1 replies
Nur Halida
spanjang baca chapter ini aku deg2an😊
bersihkan nama tessa nick dan kamu harus menyelidiki elena karena aku yakin pasti dia dalang semua ini
Nur Halida
nick pasti bisa mengatadi masalah ini kan thor??😔
itsmecancer: kita lihat nanti, ya☺️
total 1 replies
Nur Halida
ahhh nick tessa kalian emang harus saling menguatkan dan jalani dg lebih bahagia lagi ..
itsmecancer: semoga ya🤭❤️
total 1 replies
Nur Halida
terimalah kehamilan tessa dg suka cita nick..
Nur Halida
nick.. jangan bilang kamu meragukan tessa ..
awas kamu nick kalo kamu menyakiti tessa🤬
itsmecancer: engga kok, dia kan lagi kena virus bucin akut☺️😅
total 1 replies
Nur Halida
nah kan.. .. semoga nick bisa menerima kehamilan tessa dan lebih menjaga dan menyayangi tessa
Zahraputri Putri
smg aja hamil
Zahraputri Putri: iya biar nick gk kaku kyk kanebo kering😁
total 2 replies
Nur Halida
gak sabar nunggu kelanjutannya...
tessa kenapa??
hamilkah ???
atau karena tertekan dg berita itu sampe shock dan pingsan??tapi keknya tessa gak selemah itu deh
Nur Halida
pasti elena yg nyebarin .. gak mungkin orion kan.?
Nur Halida
bener kata dilan ya nick kalo rindu itu berat kamu gak akan kuat😅
itsmecancer: rindu pas lagi bucin-bucinnya itu berat 😅☺️
total 1 replies
Nur Halida
sweet banhet sih mereka🫠🫠
Henik Irawati
manis sekali😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!