NovelToon NovelToon
Teror Maut Di Pabrik Karet

Teror Maut Di Pabrik Karet

Status: sedang berlangsung
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Hantu / Horor
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: UncleHoon

Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.

Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar dari Rumah

Bab 31

Tiga hari setelah berita itu terbit, dunia luar mulai bergerak. Bambang tahu karena Ipda Rini setiap pagi membawa koran dan menunjukkan halaman depan yang masih membahas pabrik karet dan proyek manusia karet. Berita itu sudah naik ke level nasional. Bahkan beberapa stasiun televisi menayangkan wawancara dengan saksi-saksi anonim yang tidak pernah Bambang kenal. Ada yang mengaku mantan pekerja pabrik. Ada yang mengaku anak korban. Ada yang mengaku peneliti yang sudah bertahun-tahun menyelidiki perusahaan. Bambang tidak tahu apakah mereka asli atau hanya aktor yang mencari ketenaran.

"Semakin ramai, semakin baik," kata Dewi suatu pagi sambil membaca koran. "Semakin banyak orang membicarakan ini, semakin sulit bagi perusahaan untuk menutup-nutupi."

"Tapi Pak Toni masih belum ditemukan," kata Bambang.

"Belum. Tapi polisi sudah mengeluarkan Daftar Pencarian Orang. Fotonya ada di koran ini. Lihat."

Dewi menunjukkan koran itu. Halaman tiga. Foto Pak Toni dengan kemeja batik yang sama seperti saat wawancara dulu. Senyumnya masih sama. Senyum yang tidak pernah sampai ke mata. Di bawah foto, ada tulisan: DPO, dugaan pelanggaran HAM berat dan perdagangan manusia.

"Setidaknya ada kemajuan," kata Ucok.

"Tapi kita masih di sini," kata Bambang. "Terjebak. Tidak bisa pulang."

"Kita harus bersabar."

"Sudah. Sudah bersabar. Sudah terlalu lama."

Pintu ruangan terbuka. Ipda Rini masuk dengan wajah yang berbeda dari biasanya. Ada senyum di bibirnya. Senyum yang membuat Bambang bertanya-tanya.

"Ada kabar baik," kata Ipda Rini.

"Apa?" tanya Bambang cepat.

"Keluarga kalian sudah kami hubungi. Mereka tahu kalian selamat."

Bambang merasakan dadanya sesak. "Ibu saya? Bapak saya?"

"Ibu kamu baik-baik saja. Bapak kamu juga. Mereka sudah kami informasikan bahwa kamu dalam perlindungan polisi. Mereka tidak perlu khawatir."

"Boleh saya telepon mereka?"

Ipda Rini mengeluarkan ponsel dari sakunya. "Sebentar. Saya sambungkan dulu."

Dia menekan nomor. Beberapa detik. Lalu dia memberikan ponsel itu pada Bambang.

"Bu?" suara Bambang gemetar.

"Nak? Bambang? Ini kamu, Nak?" Suara Ibu dari ujung sana. Suara yang begitu familiar. Suara yang dirindukannya setiap malam. Suara yang membuat air matanya jatuh seketika.

"Iya, Bu. Ini aku."

"Kamu di mana, Nak? Ibu dengar kabar kamu terlibat kasus besar. Ibu takut. Ibu khawatir."

"Bu, aku baik-baik saja. Aku dalam perlindungan polisi. Aku aman."

"Kapan kamu pulang, Nak? Ibu kangen. Bapak juga kangen. Setiap hari Bapak tanya, 'Bambang sudah pulang?' Ibu tidak tahu jawab apa."

Bambang menutup matanya. Air matanya terus mengalir. "Aku tidak tahu, Bu. Tapi aku akan pulang. Aku janji."

"Jangan janji kalau tidak tahu kapan, Nak. Ibu tidak suka janji kosong."

"Ini bukan janji kosong, Bu. Aku akan pulang. Secepatnya."

"Kamu jaga diri, Nak. Jangan sampai kenapa-kenapa. Ibu hanya punya kamu."

"Iya, Bu. Aku jaga diri. Bu, tolong jaga Bapak. Jaga kesehatan. Jangan lupa minum obat."

"Iya, Nak. Ibu jaga. Kamu juga jaga makan. Kamu kurusan, ya? Suaramu saja beda."

"Aku kurusan sedikit, Bu. Tidak apa. Nanti aku gemuk lagi kalau sudah pulang."

Ibu menangis di ujung sana. Bambang bisa mendengar isak tangis yang tertahan. Dia ingin memeluk Ibu. Ingin mencium tangan Ibu. Ingin pulang. Sekarang juga.

"Bu, aku harus tutup sekarang. Nanti aku telepon lagi."

"Iya, Nak. Hati-hati. Ibu sayang kamu."

"Aku juga sayang Ibu. Sampai jumpa."

Bambang menutup telepon. Tangannya gemetar. Wajahnya basah. Dewi mengusap punggungnya pelan. Ucok hanya diam, menatap ke jendela.

"Kamu lihat," kata Dewi. "Ada kabar baik selalu datang. Tidak cepat. Tapi datang."

Bambang mengangguk. Dia menyeka air matanya dengan punggung tangan.

"Ibu kamu baik-baik saja?" tanya Ucok.

"Iya. Bapak juga. Mereka sehat."

"Syukurlah."

"Ucok, kamu tidak mau telepon Laras?"

Ucok terdiam. Wajahnya yang keras itu melunak. "Aku takut."

"Takut apa?"

"Takut mendengar suaranya. Takut aku tidak kuat menahan tangis. Takut aku malah pulang sebelum waktunya."

"Kamu harus telepon, Ucok. Laras butuh mendengar suara Bapaknya."

Ucok menghela napas panjang. Dia mengangguk. Ipda Rini menghubungkan sambungan ke adik Ucok.

"Kak?" suara perempuan dari ujung sana.

"Nia, ini kakak. Laras ada?"

"Ada, Kak. Sebentar. Laras! Laras! Bapak telepon!"

Beberapa detik. Lalu suara anak kecil. "Bapak? Bapak, kapan pulang? Laras kangen."

Ucok menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya jatuh. Tubuh besarnya berguncang.

"Bapak pulang nanti, Nak. Bapak pulang."

"Janji, Pak?"

"Janji. Bapak janji."

"Laras tunggu ya, Pak. Laras doain Bapak setiap hari. Supaya Bapak cepat pulang."

Ucok tidak bisa menjawab. Dia hanya menangis. Menangis dalam-dalam. Tangis yang tertahan selama lima tahun kini meledak begitu saja.

Bambang memegang pundak Ucok. Tidak bicara. Hanya memegang. Memberi tahu bahwa dia tidak sendirian.

Setelah Ucok selesai telepon, Dewi juga meminta dihubungkan dengan anaknya. Percakapannya singkat. Anak Dewi masih kecil. Masih belum mengerti mengapa ibunya tidak bisa pulang. Tapi Dewi tetap tersenyum. Tetap tegar. Setelah telepon ditutup, dia duduk di kursi dan memejamkan mata. Mungkin dia tidak ingin Bambang dan Ucok melihat air matanya.

Malam itu, mereka makan malam dengan perasaan yang berbeda. Tidak lagi penuh ketakutan. Tidak lagi penuh keputusasaan. Ada harapan. Ada keyakinan. Ada kepastian bahwa orang-orang yang mereka cintai masih menunggu. Masih sehat. Masih berdoa.

"Bambang," panggil Ucok setelah makan.

"Iya."

"Aku minta maaf."

"Maaf buat apa?"

"Karena dulu aku hampir bunuh diri. Waktu kita di hutan, aku hampir menyerah. Tapi kamu terus dorong aku. Kamu terus bilang kita akan selamat. Dan lihat sekarang. Kita masih hidup. Kita masih bisa telepon keluarga. Kita masih punya harapan."

"Kita saling menguatkan, Ucok. Aku juga hampir menyerah berkali-kali. Tapi kamu selalu ada di sampingku."

Mereka berdua tersenyum. Senyum yang tulus. Senyum yang sudah lama tidak muncul.

Dewi bergabung. "Kita bertiga harus tetap bersama. Sampai kasus ini selesai. Sampai kita bisa pulang."

"Setuju," kata Bambang.

"Setuju," kata Ucok.

Mereka bertiga berjabat tangan. Di ruangan putih dengan lampu neon yang menyala terang. Di tengah ketidakpastian. Di tengah kelelahan.

Tapi setidaknya, mereka tidak sendirian.

Setidaknya, mereka masih punya satu sama lain.

Setidaknya, mereka masih punya alasan untuk terus berjuang.

1
Mega Arum
ungkap dong thor... sebenarnya perusahaan itu pnya motif apa, knp ceritanya msh berulang2 tntg mimpi.. penasaram dan di bab yg d tggu2 ini blm juga ada titik kejelasanya
Mega Arum
kok blm up juga thoor.. menunggu lama
Mega Arum
knp blm up thor.. menunggu lama nian nii
Amy Asmeera
thor kami tunggu update nya...cerita ini menarik lain dari yang lain
Elizha Anggraini
keren
Elizha Anggraini
apakah penulis dari kalteng,hayyy halo aiu dr kalteng kab kotawaringin timur nih
Seindah Senja
Thor jangan lama² up nya thor🙏
Mega Arum
thor.. kasih penjelasan alasan pembuatan mahkluk2 itu di pabrik..
Mega Arum
msh penasaran dg pabrik karet itu sbnrnya untuk apa..
Mega Arum
lanjut kak... semoga lekas bertemu bpk dan ibu bambamg,,
Mega Arum
luar biaaa...
Mega Arum
lanjuuut tra Thoor
Mega Arum
menegangkan.... tp msh penasaran siapa pak toni dan apa maksut dr perusahaan karet membuat hantu karet
Mega Arum
bagus sekali Thoor..
Mega Arum
semoga segare terpecahkan misteri apa sbnrnya yg ada di pabrik karet,
Mega Arum
lanjut kak...
Astuti Puspitasari
jangan lupa sholat nak 👍
Astuti Puspitasari
Hati2 mbang, kamu hanyalah anak yang ingin berbakti/Whimper/
Mega Arum
sereem
Mega Arum
mampir thor.. semoga cerita nya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!