Tania Santoso adalah gadis polos yang hidupnya sederhana—hingga ia masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan. Dunia milik Hans Lesmana.
Di mata publik, Hans dikenal sebagai “Dewa Es” Jakarta—pria dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi melawan.
Namun bagi Tania, ia adalah badai yang memenjarakannya—lembut sekaligus berbahaya, dingin namun membakar.
“Dek… tarik napas dulu,” bisiknya rendah di telinga Tania, suaranya serak menahan sesuatu yang lebih gelap.
“Kamu terlalu manis… sampai aku tidak bisa berhenti.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Ucapan Selamat Malam
Jantung Tania berdegup kencang, ia segera mengetik balasan: 【Baru selesai bersih-bersih, ini mau tidur!】
Setelah mengirim pesan itu, ia menepuk-nepuk pipinya yang panas, berusaha menenangkan diri.
Di tempat lain, Hans Lesmana menatap balasan gadis itu di layar ponselnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan tipis yang nyaris tak terlihat. Tahu cara tidur awal, anak pintar.
Jemari tangannya yang tegas mengetuk layar, lalu beralih menekan tombol pesan suara.
【Selamat malam~】
Suara berat yang magnetis, sengaja direndahkan dengan tempo yang lambat, membawa setitik kelembutan yang samar serta derau statis di akhir nada, terkirim melalui gelombang udara.
Tania baru saja hendak meletakkan ponselnya ketika sebuah bar pesan suara berdurasi dua detik muncul di layar. Itu dari Hans.
Hatinya mencelos. Dengan campuran rasa penasaran dan kegugupan yang tak terjelaskan, jemari lentiknya mengetuk pesan itu. Begitu pengeras suara ponsel menyentuh telinganya, suara unik pria itu—suara yang seolah memiliki kail di dalamnya—merasuk ke indra pendengarannya: "Selamat malam~"
Boom—
Tania merasa kepalanya seolah meledak. Gelombang panas seketika menjalar dari telinga ke seluruh tubuhnya.
Pria ini... pria ini bermain curang! Ia sekarang paham apa maksud orang-orang saat bilang sebuah suara bisa membuat telinga "hamil"! Suara itu dalam, seksi, dan memiliki seretan nada yang sengaja diperlambat. Rasanya seperti bulu yang mengelitik hatinya, atau seperti anggur merah yang matang, membuatnya merasa sedikit pening dan mabuk.
Tania langsung menarik selimut menutupi seluruh kepalanya. Pipinya sangat panas, dan jantungnya berdegup tak terkendali seolah ingin melompat keluar dari tenggorokan.
Apakah pria ini iblis? Bagaimana bisa suaranya saja begitu menggoda!
Beberapa menit berlalu barulah ia mengeluarkan kepalanya dari balik selimut, meski pipinya masih merona. Ia menarik napas dalam-dalam beberapa kali, berusaha menstabilkan emosinya. Sambil memegang ponsel dengan ujung jari yang sedikit gemetar, ia membalas dengan dua kata:
【Selamat malam!】
Setelah terkirim, ia langsung mengunci layar, melempar ponselnya ke sudut terjauh di atas nakas, dan memejamkan mata, memaksa dirinya untuk tidur.
Hans Lesmana menatap dua kata di layar: "Selamat malam!", dan tatapannya sedikit melunak.
Selamat malam?
Sebuah frasa yang sudah lama hilang dan terasa asing baginya. Sejak orang tuanya meninggal dan kakeknya semakin menua, sepertinya tidak ada lagi yang mengucapkan dua kata itu padanya—atau mungkin, ia memang tidak pernah peduli. Selama bertahun-tahun ini, Tania adalah yang pertama.
Ia meletakkan ponselnya dan berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menjulang dari lantai hingga langit-langit. Pemandangan malam Jakarta yang biasanya terasa dingin dan hampa, kini seolah memiliki sentuhan kehangatan.
Adek sudah mengucapkan selamat malam padaku.
Mengingat hal itu, hati Hans yang biasanya dingin dan keras pun melunak di satu sudutnya.
Sementara itu di sisi lain, Tania bolak-balik mengubah posisi tidurnya, tidak bisa terlelap. Ucapan "Selamat malam~" dari Hans Lesmana bagaikan mantra yang berputar terus-menerus di benaknya. Nadanya, cara suaranya berakhir—setiap detail seolah diperbesar tanpa batas oleh pikirannya.
Pria ini terlalu berbahaya. Meskipun mereka belum lama saling mengenal, Hans seolah terus menarik ulur hatinya setiap detik. Sikap dominannya, otoritasnya, dan sekarang kelembutan yang tiba-tiba ini—semuanya terasa asing dan... membuat jantung berdebar.
Tania memegang dadanya yang masih belum tenang dan mengembuskan napas panjang. Malam ini ditakdirkan menjadi malam tanpa tidur baginya. Akhirnya, tanpa disadari dan dengan membawa sedikit rasa "gangguan" yang manis, Tania pun jatuh tertidur. Hanya saja, ia tidak tahu bahwa senyum tipis terus menghiasi sudut bibirnya sepanjang waktu.
Keesokan paginya, Tania terbangun bahkan sebelum alarm berbunyi. Menyentuh pipinya, ia merasa sedikit sembap. Ia menyambar cermin di kepala tempat tidur untuk melihat—ya ampun, dua lingkaran hitam besar terlihat jelas di wajahnya, membuatnya tampak seperti panda kecil yang begadang semalaman.
Ia menepuk dahinya dengan frustrasi. Ini semua salah Hans Lesmana yang membuatnya terjaga begitu lama tadi malam. Layar ponsel menyala, menunjukkan pesan yang dikirim Hans tiga puluh menit yang lalu:
【Adek, selamat pagi】
Empat kata sederhana, namun seolah membawa suara berat pria itu terngiang di telinganya. Ujung hati Tania merasa sedikit mati rasa. Jarinya ragu-ragu di atas layar selama beberapa detik sebelum akhirnya membalas: 【Selamat pagi】
Ia ingin menambahkan emoji, namun setelah bingung memilih cukup lama, akhirnya ia tidak menambahkan apa-apa dan langsung menekan kirim.
Tania turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk bersiap. Di depan cermin, ia dengan hati-hati memoles riasan no-makeup look, fokus menyamarkan lingkaran hitam di bawah matanya, dan memilih lip glaze pelembap berwarna merah mawar untuk dipoles tipis di bibirnya.
Gadis di cermin itu memiliki kulit putih bersih dengan rona alami, dan matanya yang cerah bersinar di balik bulu mata yang panjang. Ia membuka lemari dan memilih gaun jacquard berwarna krem dengan pola halus. Keliman gaunnya berakhir tepat di atas lutut, membuat kaki panjangnya terlihat ramping dan lurus. Ia memadukannya dengan kardigan rajut berwarna biru muda—gaya akademis klasik yang tampak manis namun tetap hidup.
Tania berputar dengan puas; pinggangnya ramping dan lekuk tubuhnya elegan—ia memang seorang primadona.
"Oh, kucing malas kita akhirnya mau bangun juga?" Mama Tania keluar dari dapur membawa susu. Melihat putrinya menguap sambil berjalan turun tangga, beliau tidak bisa menahan diri untuk tidak menggoda.
Tania mengusap matanya, suaranya terdengar lembut khas orang bangun tidur: "Mama, selamat pagi."
"Cepat sarapan. Papamu ada rapat pagi sekali, jadi sudah berangkat duluan." Mama Tania menarik putrinya untuk duduk di meja makan. "Tidur nyenyak semalam? Mama lihat lingkaran hitammu agak tebal."
"Hm... lumayan kok, Ma." Tania menjawab samar sambil menggigit roti panggangnya, sementara dalam hati ia berpikir bahwa semalam itu lebih dari sekadar "lumayan"—itu praktis sangat menggetarkan jiwa.
Meskipun Papa Tania tidak ada, sarapan tetap tersaji dengan mewah. Tania menyesap susu hangatnya, pikirannya masih melayang pada urusan dengan Hans Lesmana.
Setelah sarapan, sopir sudah menunggu di depan pintu. Universitas Nasional cukup jauh dari kediaman Keluarga Santoso, memakan waktu sekitar empat puluh menit perjalanan. Begitu masuk ke mobil, Tania menyandarkan kepalanya ke jendela dan mulai melanjutkan tidurnya yang kurang, bulu matanya yang panjang memberikan bayangan samar di bawah matanya.
Sesampainya di kelas, Ghina sudah memesankan tempat duduk untuknya dan segera melambai begitu melihatnya masuk.
"Tania, di sini!" Ghina merendahkan suaranya, matanya penuh dengan binar gosip. "Kemarin baik-baik saja kan? Tuan Hans itu... dia tidak melakukan apa-apa padamu, kan?"
"Memangnya dia mau melakukan apa?" Tania meletakkan ranselnya dan mengeluarkan buku pelajaran. "Dia cuma mengantarku pulang karena searah. Kamu terlalu berlebihan."
Ia tidak berani bicara lebih jauh tentang sikap posesif Hans, takut Ghina akan khawatir dan juga takut bahwa semakin ia bicara, ia sendiri yang akan semakin bingung.
"Benar cuma searah?" Ghina mengedipkan mata. "Kenapa aku merasa tidak sesederhana itu ya? Kamu kan belum pernah mau diantar pulang oleh cowok sebelumnya."
Tania memelototinya, pipinya sedikit memerah: "Pelajaran mau dimulai!"
Tania memiliki kamar asrama di Universitas Nasional. Meskipun rumahnya di Jakarta, Keluarga Santoso tetap menyediakannya demi kenyamanan sang putri. Ia bahkan meminta bantuan keluarganya agar bisa satu kamar dengan Ghina. Itu adalah asrama elit dua orang terbaik di kampus. Mereka biasanya suka beristirahat di sana saat jam makan siang atau saat tidak ada kelas.
Siang itu, Tania dan Ghina tidak keluar makan melainkan memesan makanan untuk dimakan di asrama. Setelah makan, Ghina sibuk menonton drama di ponselnya, sementara Tania duduk di meja membaca buku materi kuliah. Namun, pikirannya tidak tenang, dan ia tidak membalik halaman bukunya sejak tadi.
Tiba-tiba, notifikasi IG-nya berbunyi. Siapakah yang mengiriminya pesan di tengah hari bolong begini?