Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Teror di Balik Layar Perang Sinyal Gaib
Pagi itu, Faris Arjuna sedang asyik menyeruput kopi hitamnya sambil memantau kolom komentar di media sosial miliknya. Sebagai penulis dan sosok yang viral setelah kejadian di Alun-alun, HP-nya tak henti-henti berbunyi. Namun, tiba-tiba layar HP itu bergetar hebat. Muncul sebuah pesan dari nomor tak dikenal yang berisi gambar sebuah keris yang patah dengan latar belakang peta Nusantara yang terbakar.
"Mas Arjuna! Lihat ini. Sepertinya pengikut Ki Ageng Blorong mulai main lewat jalur digital," ucap Faris sambil menunjukkan layar HP-nya pada kakaknya.
Arjuna Hidayat mendekat, keningnya berkerut. "Mereka menggunakan media sosial untuk menyebarkan ketakutan, Dikmas. Sinyal-sinyal ini mengandung energi hitam yang bisa merusak batin orang awam."
Tiba-tiba, dari dalam HP Faris keluar asap hitam tipis yang berbau busuk. Suara tawa Ki Ageng Blorong terdengar sayup-sayup dari pengeras suara telepon, tertawa mengejek kesederhanaan Faris.
"Faris Arjuna... Kamu pikir makan malam dengan para Ratu bisa menyelamatkanmu? Aku akan menghancurkan namamu melalui tangan-tangan manusia yang kau bela sendiri!"
Faris tidak panik. Ia justru tersenyum nakal, gaya khasnya saat ingin mengerjai musuh. Ia tidak menghunus keris, melainkan mulai mengetik sesuatu dengan kecepatan kilat.
"Paman Jayanegara! Siapkan sinyal gaib Majapahit. Kita akan lakukan counter-attack lewat jalur frekuensi!" perintah Faris.
"Siap, Keponakanku! Ingsun siap menghancurkan dinding-dinding udara ini!" sahut suara Raden Jayanegara dari dimensi sebelah.
Faris memejamkan mata, ia tidak lagi merapal mantra kuno yang panjang, melainkan menyatukan batinnya dengan arus informasi dunia modern. Ia mengirimkan balik sebuah pesan singkat: "Nomor Anda sudah terdaftar di pusat pembersihan batin Nusantara. Harap segera bertaubat atau sinyal Anda akan kami gulung!"
Seketika, cahaya putih terang memancar dari layar HP Faris, melesat masuk ke dalam jaringan internet. Di sebuah tempat persembunyian yang gelap, para dukun bayaran Ki Ageng Blorong menjerit histeris saat komputer dan HP mereka meledak, mengeluarkan cahaya suci yang membakar jimat-jimat mereka.
"Jangan main-main dengan anak muda zaman sekarang, Ki Ageng. Kami punya cara sendiri untuk membasmi hama seperti kalian!"
(Ojo dolanan karo bocah enom jaman saiki, Ki Ageng. Kita duwe coro dhewe kanggo mbasmi omo koyo kowe!)
"Ilmu hitammu itu sudah ketinggalan zaman. Sekarang zamannya cahaya batin yang menembus satelit!"
(Ilmu irengmu iku wis katinggalan jaman. Saiki jamane cahyo batin sing nembus satelit!)
Arjuna Hidayat tertawa melihat adiknya yang begitu santai menangani teror kelas berat. "Nakalmu itu memang membawa berkah, Dik. Musuh jadi bingung menghadapi ksatria yang lebih suka main HP daripada main otot."
"Biar saja, Mas. Biar mereka tahu kalau Nusantara ini dijaga oleh orang-orang yang tetap cerdas di tengah zaman gila," jawab Faris sambil kembali menyeruput kopinya.
Namun, di balik candaan itu, Faris tahu bahwa ini adalah peringatan. Ki Ageng Blorong sedang mengumpulkan kekuatan dari sisa-sisa keserakahan manusia yang haus kekuasaan. Perang yang sesungguhnya akan segera berpindah ke panggung yang lebih besar: Panggung Kepemimpinan Bangsa.
Belum kering kopi di cangkirnya, Faris dikejutkan dengan berita bohong yang tersebar luas di berbagai grup percakapan. Foto dirinya saat makan malam bersama keluarga dan "bayangan" para Ratu diedit sedemikian rupa, seolah-olah Faris sedang melakukan ritual yang tidak benar untuk menghasut rakyat.
"Kurang ajar! Mereka memutarbalikkan fakta, Dikmas. Kamu dituduh menggunakan tipu daya untuk mencari nama!" seru Arjuna Hidayat dengan nada emosi, jarinya menunjuk layar tablet yang menampilkan berita bohong itu.
Faris hanya melirik sekilas, lalu tertawa kecil. Ia justru merasa lucu melihat editan foto musuh yang menurutnya sangat amatir dan tidak bermutu.
"Tenang, Kangmas. Jangan dilawan pakai amarah, nanti kita malah masuk jebakan mereka. Biar Faris yang urus pakai cara 'anak muda'."
(Tenang, Kangmas. Ojo dilawan nganggo nesu, mengko awake dhewe malah mlebu jebakane. Ben Faris sing ngurus nganggo coro 'bocah enom'.)
Faris mengambil HP-nya, lalu melakukan siaran langsung (Live) di akun media sosialnya. Jutaan penonton langsung masuk dalam hitungan detik. Di layar, Faris tampak santai, hanya mengenakan kaos oblong sambil mengunyah kerupuk kaleng kesukaannya.
"Halo saudaraku semua di Nusantara. Katanya saya lagi ritual aneh-aneh ya? Ini ritualnya: makan kerupuk sambil nunggu waktu ibadah. Enak loh, mau?" ucap Faris sambil menunjukkan wajah nakalnya yang jenaka ke arah kamera.
Seketika kolom komentar meledak dengan tawa dari netizen. Namun, saat itulah Faris mengubah suaranya menjadi berat dan berwibawa. Aura kuning keemasan tipis mulai muncul di belakang punggungnya, menembus layar HP setiap penonton yang sedang menyaksikan.
"Dengarkan baik-baik... Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Barangsiapa yang menyebar berita bohong demi uang, maka hatinya akan terasa panas seperti terbakar."
(Rungokno sing tenanan... Fitnah iku luwih kejem tinimbang mateni wong. Sopo wae sing nyebar berita goroh demi dhuwit, mulo atine bakal keroso panas koyo diobong.)
"Kalian yang dibayar untuk menghujat, segeralah sadar sebelum batinmu terasa hampa dan diputus hubungannya oleh Yang Maha Kuasa."
(Kowe sing dibayar kanggo ngujat, ndang sadaro dhisik sakdurunge batinmu keroso kothong lan diputus hubungane karo Kang Maha Kuasa.)
Tiba-tiba, di sebuah tempat persembunyian, para penyebar fitnah yang sedang sibuk mengetik hujatan serentak menjerit. Tangan mereka mendadak kaku, dan semua layar perangkat mereka memunculkan gambar keris yang bersinar terang dengan tulisan: "KEBENARAN TIDAK BISA DIBELI".
Faris menutup siaran langsungnya dengan senyuman kemenangan yang tipis. Ia tidak butuh penjelasan panjang lebar, cukup dengan kejujuran dan sedikit "getaran" suci lewat frekuensi sinyal.
"Nakal sedikit tidak apa-apa kan, Kangmas? Biar mereka tahu kalau Satrio Piningit itu tidak bisa dibohongi pakai teknologi," canda Faris sambil kembali meletakkan HP-nya.
Arjuna Hidayat menggelengkan kepala sambil tersenyum bangga. "Kamu memang luar biasa, Dik. Musuh pakai cara kotor, kamu pakai cara jernih lewat kuota internet."
"Ingatlah, kebenaran itu tidak butuh dibela dengan teriakan. Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri, meski harus melewati sinyal satelit sekalipun."
(Elingo, bebener iku ora butuh dibela nganggo bengok-bengok. Bebener bakal nemu dalane dhewe, senadyan kudu ngliwati sinyal satelit pisan.)
Malam itu, fitnah yang tadinya membara langsung padam seketika, berganti dengan gelombang dukungan yang lebih besar bagi sang Satrio Piningit dari seluruh pelosok Nusantara.