Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Kebangkitan di Atas Batu Hitam
Perisai perak keunguan di sekujur tubuh Arga memudar seperti kabut pagi yang tersapu mentari. Tiga detik telah berlalu, dan seluruh energi Benang Peraknya terkuras habis untuk mengaktifkan teknik warisan ketiga itu. Namun matanya—matanya yang tadinya redup—kini menyala dengan api yang tidak asing bagi dirinya sendiri. Api seorang Kaisar yang pernah mengguncang sembilan langit.
Surya masih berdiri beberapa langkah di depannya, menatap tangannya sendiri dengan ekspresi tidak percaya. Serangan yang seharusnya menghancurkan Dantian seorang kultivator tahap ketiga itu tidak hanya gagal—ia dipantulkan kembali. Perisai aneh yang muncul tiba-tiba itu seperti dinding tak kasat mata yang menelan kekuatannya bulat-bulat.
"Apa... apa yang kau lakukan?!" suara Surya bergetar. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang jenius Klan Wirya merasakan sesuatu yang asing: ketakutan.
Arga tidak menjawab. Ia melangkah maju dengan susah payah. Setiap gerakan terasa seperti mengangkat gunung. Tulang rusuknya retak, bahunya memar, darah mengalir dari berbagai luka di tubuhnya. Tapi ia terus berjalan. Satu langkah. Dua langkah.
Di dalam Dantian-nya yang hampir kosong, Benang Perak sepanjang delapan ruas jari berdenyut lemah. Hampir tidak ada energi tersisa. Namun Arga tahu, dalam pertarungan sejati, kekuatan fisik bukanlah segalanya. Pengalaman tiga ribu tahun sebagai Kaisar Langit telah mengajarinya bahwa momen setelah musuh kehilangan keyakinan adalah momen paling berbahaya—bagi musuh itu sendiri.
"Kau... kau monster!" Surya mundur selangkah. "Teknik macam apa itu?! Tidak mungkin kultivator tahap ketiga memiliki pertahanan sekuat itu!"
Arga terus berjalan. Tatapannya terkunci pada Surya seperti elang mengunci mangsa. Tidak ada emosi di matanya—hanya keheningan yang dalam, keheningan yang lebih menakutkan daripada amukan apa pun.
Penonton di sekeliling arena terdiam. Ratusan pasang mata menyaksikan pemandangan yang tidak masuk akal: sang jenius Klan Wirya, kultivator tahap keenam puncak, mundur dari hadapan si "sampah klan" yang berlumuran darah dan berjalan terseok-seok.
"Aku... aku tidak takut padamu!" Surya mengerahkan seluruh sisa Qi-nya. "AKU AKAN MENGHABISIMU SEKARANG JUGA!"
Ia menerjang dengan kecepatan penuh, tinjunya berselimutkan Qi yang berputar-putar seperti bor. Serangan pamungkasnya—Tinju Penembus Langit—yang konon pernah menembus batu granit setebal tiga meter.
Arga melihatnya datang.
Waktu seolah melambat. Bukan karena teknik sihir, melainkan karena tiga ribu tahun pengalaman bertarung yang terpatri dalam jiwanya. Ia melihat sudut serangan, kecepatan, titik lemah, dan yang terpenting—emosi di baliknya. Surya marah. Surya takut. Dan ketakutan membuat gerakannya ceroboh.
Langkah Bayangan Bulan.
Arga bergerak. Bukan menghindar sepenuhnya—ia tidak punya energi untuk itu. Ia hanya memiringkan tubuhnya, membiarkan tinju Surya meleset beberapa senti dari wajahnya. Angin dari pukulan itu menerpa pipinya, tapi tidak mengenai.
Dan saat Surya berada dalam posisi terjang—keseimbangannya goyah, tubuhnya terbuka—Arga melakukan hal paling sederhana yang bisa dilakukan.
Ia menendang lutut Surya.
Bukan tendangan yang diperkuat Qi. Hanya tendangan biasa, diarahkan ke sendi yang paling rentan.
Krak!
Suara retakan kecil terdengar. Surya menjerit, kehilangan keseimbangan, dan jatuh terduduk di lantai batu hitam. Lututnya tertekuk ke arah yang tidak seharusnya. Tidak patah, tapi cukup untuk membuatnya tidak bisa berdiri.
Seluruh arena menahan napas.
Arga berdiri di atas Surya yang terduduk. Darah menetes dari dagunya, jatuh di pipi sang jenius yang kini menatapnya dengan mata penuh ketakutan.
"Kau... kau tidak mungkin... aku tidak mungkin kalah dari... sampah sepertimu..."
Arga menatapnya. "Kau kalah bukan karena aku lebih kuat. Kau kalah karena kau meremehkanku. Karena kau pikir status dan klanmu membuatmu tak tersentuh." Ia berjongkok, menatap mata Surya dari dekat. "Di dunia kultivasi, kesombongan adalah racun yang paling mematikan."
Surya terdiam. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya—bukan karena sakit fisik, tapi karena harga dirinya yang runtuh.
"Pe... pertarungan selesai!" Wasit berlari masuk ke arena, suaranya gemetar. "Pemenang... Arga Sanjaya dari Klan Sanjaya!"
Hening.
Lalu sorakan membahana seperti guntur di musim hujan.
"ARGA! ARGA! ARGA!"
Nama yang tadinya diolok-olok kini diteriakkan dengan penuh kekaguman. Penonton yang tadinya mencemooh kini berdiri memberikan tepuk tangan meriah. Bahkan beberapa anggota Klan Wirya menundukkan kepala, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Bima melompati pagar pembatas dan berlari ke arah Arga. Wajahnya berseri-seri, matanya berkaca-kaca. "Kau gila! Kau benar-benar gila! Aku tidak percaya kau menang!"
Arga mencoba tersenyum, tapi rasa sakit di sekujur tubuhnya membuat senyuman itu lebih mirip ringisan. "Aku... juga tidak percaya."
Bima merangkulnya, membantu tubuhnya yang hampir roboh. "Ayo, kita keluar dari sini. Kau butuh tabib. Sekarang juga."
Saat mereka berjalan keluar arena, Arga melintas di depan Arman. Sang paman menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca—antara kagum, curiga, dan sesuatu yang lebih gelap. Di sampingnya, Ardi hanya bisa melongo, wajahnya pucat pasi.
Raka berdiri tidak jauh dari sana. Ia mengangguk pelan pada Arga—sebuah pengakuan diam-diam dari seseorang yang tadinya meremehkannya.
Tapi saat Arga hampir mencapai tepi arena, sebuah suara berat menghentikan langkahnya.
"Tunggu."
Semua orang menoleh. Seorang pria paruh baya berjubah merah marun melangkah masuk ke arena. Rambutnya hitam dengan garis-garis putih di pelipis, dan matanya tajam seperti elang. Auranya... auranya jauh di atas siapa pun di tempat ini.
Ranah Pondasi. Puncak.
Arga mengenalinya dari deskripsi Bima. Ini adalah paman Surya, Rudi, dan Beni. Kultivator ranah Pondasi yang disebut-sebut sedang mencarinya.
"Aku Baskara Wirya," kata pria itu, suaranya dalam dan berwibawa. "Paman dari ketiga keponakan yang kau permalukan dan lukai."
Bima menegang di samping Arga. "Pak Baskara, pertarungan sudah selesai. Aturan festival—"
"Aku tahu aturannya." Baskara memotong dengan dingin. "Aku tidak akan menyerang bocah ini di sini. Itu akan merusak nama Klan Wirya." Ia menatap Arga lurus-lurus. "Tapi aku ingin menyampaikan sesuatu."
Arga balas menatapnya, meski tubuhnya sudah di ambang roboh.
"Kau mungkin menang hari ini," lanjut Baskara. "Tapi ingat ini: Klan Wirya tidak melupakan penghinaan. Suatu hari nanti, di luar arena ini, di luar perlindungan aturan festival, kita akan bertemu lagi. Dan saat itu..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya tersenyum tipis—senyuman yang menjanjikan sesuatu yang tidak menyenangkan—lalu berbalik dan berjalan pergi.
Keheningan kembali menyelimuti arena.
Bima menghela napas lega. "Ayo, cepat. Sebelum dia berubah pikiran."
Mereka berjalan keluar arena, melewati kerumunan yang masih meneriakkan nama Arga. Tapi di tengah sorakan dan pujian, Arga hanya bisa merasakan satu hal.
Ancaman Baskara tadi bukan gertakan.
Ranah Pondasi puncak, pikirnya. Aku butuh waktu. Aku butuh kekuatan lebih. Jauh lebih banyak.
---
Malam itu, di kamarnya yang reyot, Arga terbaring dengan tubuh dibalut perban. Sari menangis tersedu-sedu saat membalut lukanya, tapi di sela-sela tangisannya, ada senyum bangga yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Tuan Muda menang... Tuan Muda benar-benar menang..."
Arga menatap langit-langit bambu di atasnya. Liontin giok di dadanya berdenyut pelan. Benang Perak di Dantian-nya—setelah beristirahat—mulai memulihkan diri, kini sepanjang delapan ruas jari.
Teknik ketiga sudah terbuka. Perisai Langit Kesepuluh. Tapi itu menghabiskan seluruh energiku. Aku butuh Benang Perak yang lebih panjang agar bisa menggunakannya lebih lama.
Sembilan ruas jari. Itu targetku selanjutnya. Saat aku mencapai itu... aku akan butuh Inti Monster Tingkat Raja untuk bertransformasi ke Benang Emas.
Tapi sebelum itu... aku harus selamat dari Baskara Wirya.
Di luar jendela, bulan purnama menggantung rendah. Cahayanya jatuh di atas liontin giok yang berdenyut seirama dengan jantung Arga.
hancurkan dia Arga
Lanjutt