NovelToon NovelToon
The Don & The Disaster

The Don & The Disaster

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gaun Mewah dan Sandal Jepit Ziva

Puing-puing Villa d’Este masih membara di balik cakrawala Sisilia saat kapal cepat yang membawa Aiden dan Ziva merapat ke sebuah dermaga kecil yang tersembunyi di teluk pribadi milik keluarga Volkov. Suasana di kapal itu sunyi, hanya ada deru mesin yang perlahan mati dan napas Ziva yang masih memburu.

​Ziva menunduk, menatap penampilannya sendiri. Gaun merah marun seharga ribuan euro itu kini compang-camping. Bagian bawahnya sobek hingga paha akibat aksi melompat meja, dan noda jelaga menghiasi kain sutra yang seharusnya berkilau. Namun, yang paling tragis adalah nasib sepatu hak tingginya—keduanya sudah hilang entah ke mana, satu tertinggal di lantai dansa, satu lagi mungkin tenggelam di dasar laut Mediterania.

​Aiden turun dari kapal lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya pada Ziva. "Kita sudah sampai di rumah aman. Masuklah, kau butuh membersihkan diri."

​Ziva menatap lantai dermaga yang berbatu tajam dengan kaki telanjang yang kotor. "Bang... kaki gue lecet semua. Gue nggak bisa jalan kalau nggak pake alas kaki."

​Aiden terdiam sejenak. Ia melihat ke sekeliling, lalu memberikan kode pada Marco. "Cari apa pun yang bisa digunakan sebagai alas kaki untuk Nona Ziva. Cepat."

​Beberapa menit kemudian, Marco kembali dengan wajah yang sedikit ragu. Ia membawa sepasang benda yang sangat tidak asing bagi Ziva: Sandal jepit Swallow warna hijau putih.

​"Tuan, hanya ini yang ditemukan di pos penjagaan belakang. Milik salah satu kru kapal yang berasal dari Asia Tenggara," lapor Marco dengan nada formal yang sangat tidak cocok dengan objek yang ia bawa.

​Mata Ziva seketika berbinar. "SWALLOW! Wah, Bang Marco, lu beneran malaikat tak bersayap! Ini mah penyelamat hidup gue!"

​Aiden menatap sandal jepit itu dengan dahi berkerut, seolah-olah benda itu adalah artefak kutukan. "Kau mau memakai... benda plastik itu dengan gaun malammu?"

​"Daripada kaki gue bolong kena karang? Lagian ini bukan plastik sembarangan, Bang! Ini limited edition kenyamanan internasional!" Ziva langsung menyambar sandal itu dan memakainya.

Pemandangan di depan mata Aiden malam itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah ia lupakan: Seorang wanita dengan gaun pesta mewah yang sobek, perhiasan berlian jutaan dolar di lehernya, namun berjalan dengan santai menggunakan sandal jepit Swallow hijau-putih yang mengeluarkan suara plak-plok setiap kali melangkah di atas lantai marmer rumah aman tersebut.

​"Ini dia... definisi fashionista sejati," gumam Ziva sambil berputar kecil. "Atas Sisilia, bawah Cirebon. Cocok kan, Bang?"

​Aiden hanya bisa memijat pelipisnya. "Masuklah ke kamar, Ziva. Sebelum aku memutuskan untuk membakar sandal itu karena merusak estetika rumahku."

​"Dih, galak amat. Bilang aja lu iri karena sepatu lu berat banget!" sahut Ziva sambil terus melangkah masuk menuju kamarnya.

Setelah mandi dan mengganti gaunnya dengan kaos kebesaran milik Aiden (karena koper mereka hancur di villa), Ziva keluar menuju ruang tengah. Ia melihat Aiden sedang duduk di sofa, menatap sebuah peta digital di tabletnya. Luka di bahu Aiden tampak kembali merembeskan darah, namun pria itu seolah tidak peduli.

​Ziva mendekat, membawa kotak P3K. Ia duduk di samping Aiden tanpa diminta dan mulai membuka perban pria itu.

​"Kenapa lu nggak pernah sayang sama badan lu sendiri, Bang?" tanya Ziva sambil mulai mengoleskan salep.

​Aiden tidak menarik diri. Ia membiarkan tangan Ziva yang mungil mengobati lukanya. "Di duniaku, rasa sakit adalah pengingat bahwa aku masih bernapas. Jika aku terlalu memanjakan luka, musuh akan melihatnya sebagai lubang untuk membunuhku."

​"Halah, filosofi mulu," Ziva mencibir. "Naga juga butuh istirahat, Bang. Lu tadi gila banget di balkon. Gue beneran mikir lu bakal jatuhnya bareng Lorenzo ke jurang."

​Aiden menatap Ziva dengan intens. "Saat aku melihatmu terpojok di dapur, akal sehatku benar-benar hilang, Ziva. Aku menyadari satu hal... gaun mewah yang kuberikan padamu, pesta dansa itu, semuanya tidak berarti apa-apa jika akhirnya hanya membuatmu ketakutan."

​Ia melirik ke arah sandal jepit yang diletakkan Ziva di samping sofa. "Sandal itu... mungkin lebih cocok untukmu. Sederhana, kuat, dan tidak berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Sama seperti dirimu."

Ziva terhenti sejenak dari aktivitas mengobatinya. Ia menatap Aiden. "Bang Don, lu tahu nggak kenapa gue suka banget pake sandal jepit meskipun gue udah pake baju mahal?"

​Aiden hanya diam, menunggu jawaban.

​"Karena sandal jepit itu ngingetin gue dari mana gue berasal. Biar gue nggak lupa kalau gue ini cuma Ziva si kurir seblak. Kalau gue terlalu nyaman sama gaun mewah dan kehidupan mafia lu, gue takut gue bakal kehilangan diri gue sendiri. Gue takut gue bakal jadi kejam kayak orang-orang di villa tadi."

​Aiden meraih tangan Ziva, menggenggamnya erat. "Aku tidak akan membiarkanmu menjadi kejam. Aku akan menjadi perisaimu agar kau bisa tetap menjadi Ziva yang cerewet dan suka sandal jepit. Tapi kau harus tahu... serangan Lorenzo tadi malam hanyalah awal. Dia belum mati, Ziva. Dan sekarang dia tahu bahwa kau adalah jantung dari kekuasaanku."

​"Berarti gue sasaran empuk terus dong?"

​"Tidak. Berarti aku akan membangun benteng yang lebih tinggi. Kita tidak akan kembali ke Milan dalam waktu dekat. Kita akan tinggal di sini, di Sisilia, sampai aku memastikan setiap jengkal pulau ini bersih dari pengkhianat."

Keesokan paginya, berita tentang hancurnya Villa d’Este meledak di seluruh Italia. Namun, di rumah aman Volkov, suasana justru terasa sangat domestik. Ziva terlihat sedang sibuk di dapur, mencoba memasak sesuatu dengan bahan-bahan lokal Sisilia namun dengan bumbu yang ia bawa secara ajaib di dalam tas kecilnya.

​"Bang Marco, cobain nih! Pasta Aglio Olio pake boncabe!" seru Ziva pada Marco yang sedang berjaga.

​Marco, yang biasanya kaku, mencoba satu suapan dan matanya langsung membelalak. "Nona... ini... sangat pedas, tapi luar biasa."

​Aiden masuk ke dapur dengan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka. Ia melihat Ziva yang masih mengenakan sandal jepit hijau-putihnya, sedang tertawa bersama Marco. Sebuah pemandangan yang mustahil terjadi setahun yang lalu.

​"Marco, kembali ke posmu," perintah Aiden.

​Setelah Marco pergi, Aiden menghampiri Ziva. Ia mengambil sepasang sandal jepit itu dari kaki Ziva secara tiba-tiba, membuat Ziva berjinjit kaget.

​"Eh! Bang! Mau dikemanain sandal gue?!"

​Aiden tidak menjawab. Ia membawa sandal itu ke luar, ke arah teras yang menghadap laut. Ziva mengikutinya dengan panik. Di teras, sudah ada seorang pengrajin kulit ternama Sisilia yang sengaja dipanggil Aiden.

​"Buatkan replika dari sandal ini," perintah Aiden pada pengrajin itu. "Gunakan kulit terbaik dari Tuscany, pasang bantalan memori di dalamnya, dan di bagian talinya... aku ingin ada jalinan benang emas dan berlian kecil di ujungnya."

​Ziva melongo. "Bang... lu mau bikin sandal jepit berlian?!"

​"Jika kau bersikeras memakai sandal jepit di rumahku, maka pakailah sandal jepit yang layak untuk seorang ratu," ucap Aiden dengan nada mutlak yang tidak bisa dibantah.

​Ziva hanya bisa menepuk jidatnya. "Ya ampun, Bang Don... filosofi sandal jepit gue tadi malem lu nggak dengerin ya? Sandal jepit itu gunanya biar merakyat, bukan biar bisa buat bayar cicilan negara!"

Namun, candaan itu terhenti saat sebuah panah kecil melesat dari arah hutan zaitun di depan mereka, menancap tepat di meja kayu di samping Aiden. Di ujung panah itu terdapat sebuah sobekan kain merah—potongan dari gaun malam Ziva yang tertinggal di villa.

​Aiden segera menarik Ziva masuk ke dalam rumah. Wajahnya kembali menjadi dingin dan mematikan. "Mereka sudah menemukan tempat ini."

​"Sinyal pelacak di gaun itu?" tanya Ziva ketakutan.

​"Tidak. Mereka menggunakan cara lama. Pelacakan manual melalui aroma dan jejak. Lorenzo punya unit pemburu yang tidak menggunakan teknologi," Aiden memeriksa senjatanya. "Ziva, masuk ke ruang bawah tanah. Marco, aktifkan protokol Omega."

​Ziva melihat sandal jepit barunya yang masih dipegang pengrajin (yang sekarang sudah tiarap ketakutan). Ia menyambarnya dengan cepat.

​"Bang Don, jangan mati ya! Gue belum liat sandal jepit berlian gue jadi!" teriak Ziva sebelum didorong masuk oleh Marco ke dalam brankas besar di bawah rumah.

​Malam itu, Sisilia tidak lagi tenang. Suara tembakan dan ledakan granat menghiasi kebun-kebun jeruk yang indah. Aiden Volkov bertarung seperti iblis, mempertahankan rumah aman itu dengan segala keganasannya.

​Di dalam ruang bawah tanah yang sunyi, Ziva duduk memeluk lututnya. Ia menatap sandal jepit Swallow hijau-putihnya yang sudah mulai tipis. Ia menyadari satu hal: di dunia Aiden, bahkan sebuah sandal jepit pun bisa menjadi pemicu perang. Gaun mewah dan perhiasan berlian mungkin indah, namun di saat-saat paling gelap, ia lebih memilih karet tipis yang membuatnya bisa berlari dan tetap berpijak pada bumi.

​"Bang Don," bisik Ziva pada kegelapan. "Cepat balik. Gue nggak mau pake sandal jepit berlian lu kalau lu nggak ada yang nemenin gue pamerin ke emak."

​Perang di Sisilia baru saja dimulai, dan kali ini, batas antara kemewahan dan kesederhanaan benar-benar kabur dalam genangan darah dan debu

1
Dessy Lisberita
so sweet
Dessy Lisberita
athoor mereka berdua so sweet banget suruh siva belajar menembak dan bela diri thoor
Farida 18: Ziva bisa bela diri ko ya walau absurd caranya😄dan masalah nembak dah suka suka Ziva aja deh dari pada abis vas aiden yang harga ratusan/milyaran dolar jadi sasaran peluru nyasar Ziva
total 1 replies
Dessy Lisberita
sandal jepit mana bisa bergerak cepat mending pake sepatu ziva
Dessy Lisberita
so sweet
Farida 18
sekali2 serius🤭 jangan comedi terus🤭
Vie Desta
jangan serius” tor sesekali comedi biar gak garing 🤭
Vie Desta
lanjut torrr… suka lah sama ceritanya gak monoton tp muncul dengan nuansa baru comedi jd asik baca sambil ketawa😍
Farida 18
salam sejahtera juga beb
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!