Nama adalah hal yang sakral di dunia Haochun, Nama adalah berkah Dewa, nama adalah kekuatan. Manusia tanpa nama bukanlah siapa-siapa, semua manusia yang tak bernama hanyalah orang-orang buangan dan kriminal.
Karena hak pada Berkah dan Nama mereka dicabut.
Mereka akan dipanggil dengan sebutan apapun yang orang inginkan. Meskipun mereka bisa membuat nama sendiri, tetap saja itu tak memiliki makna apapun.
Nama lahir adalah kehormatan mutlak di dunia ini. Dan inilah kisah tentang anak Klan Bangsawan kelas satu. Dia memiliki Inti Spritual yang sangat buruk. Saking buruknya, bahkan tidak seorang pun sebelum dia di dunia Kultivasi yang memiliki Inti spritual seperti itu.
Sehingga dia dianggap sebagai aib keluarga. Berkah namanya miliknya dicabut layaknya hukuman bagi
penjahat keji.
Dimulailah kisah anak buangan yang membawa nasib baik dan buruk bersamaan.
Berjuang tanpa kekuatan Berkah Nama seperti yang dimiliki orang lain. Huang Kai yang berganti nama menjadi Feng Yan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Sumpah Kematian
Huang Mingshi benar-benar merasa dipermalukan di depan banyak orang, seluruh kerajaan tentu saja akan membuat lelucon tentang hal ini. Sehingga ia tidak memendam kemarahannya. Bagi Huang Mingshi kehormatan dan martabat keluarga lebih berharga dari nyawanya sendiri.
"Huang Kai kau sungguh membuat kami semua kecewa, keluarga sudah memberikan semua yang kami miliki untuk menopang pondasi kultivasimu. Tapi sekarang lihatlah apa yang kau lemparkan pada kami. 'Aku memberimu makan tapi kau malah melemparkan kotoran ke wajahku!!" " ia benar-benar meluapkan kemarahannya tanpa peduli orang-orang dari luar klan masih ada disana.
Tapi ayah ini semua sudah di luar kendaliku, bukankah ini sudah
Ditakdirkan" Huang Kai membela diri.
"Omong Kosong!!! mulai hari ini kau bukan lagi bagian dari keluarga, aku tidak memiliki putra tak berguna sepertimu." Orang-orang dari klan tidak ada yang membantah ucapannya.
Bahkan ada beberapa yang terlihat sangat senang.
Tetua dari sekte Bintang Abadi hanya bisa menggelengkan kepala, ia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Pengusiran sudah biasa saat seseorang mendapat inti pecah tiga dengan tiga elemen berbeda. Apalagi kejadian unik dengan inti pecah lima Huang Kai, namun hal yang terjadi berikutnya sungguh di luar dugaan Tetua Hai Chun Bai.
"Ayah aku pasti bisa menjadi kuat, aku janji akan berlatih lebih keras dari orang lain." Huang Kai bersujud meminta maaf pada ayahnya dan para tetua. Air mata bocah sepuluh tahun itu sudah bercucuran.
"Bocah, sekeras apapun kau berlatih tidak akan bisa menerobos lebih tinggi dari Pemurnian tubuh puncak dan kau pasti sudah mengetahui hal itu bukan.
Huang Mingshi sangat geram mendengar pembelaan putranya.
"Kau tidak perlu melakukan apapun mulai hari ini kau bukan lagi putra dan bukan juga bagian keluarga Huang. Para tetua siapkan sumpah rune kematian" para tetua terkejut mendengar ucapan ketua Huang Mingshi.
"Tuan, dia putramu satu-satunya. Apa anda yakin akan melakukan hal ini?" tetua Huang Li Shu menasehati.
Mendengar ucapan ketua Huang, tetua Hai lu Bai langsung melompat ke dekat Huang Kai. Ia memberi salam kepalan "Sebaiknya ketua pikirkan lagi dengan matang, bocah ini putramu sendiri. Tidak pantas rasanya kau perlakukan seperti seorang penjahat keji"
Membalas salam tetua Hai, ketua Huang meminta maaf karena lelah perjalan mereka justru mendapatkan sesuatu yang tak berguna." Tetua Hai, kami mengucapkan terima kasih untuk kedatangan tetua kemari. Tapi apapun yang kami lakukan hari ini, itu menjadi urusan internal keluarga dan klan kami. Mohon tetua mengerti situasi yang kami hadapi"
Lalu Huang Mingshi meminta salah satu tetua untuk mengantar kepergian rombongan Bintang Abadi.
Sebelum pergi tetua Hai menatap Huang Kai yang terlihat masih menangis. Sambil menghela nafas ia mendoakan kebaikan untuk nya." Semoga dewa kembali memberi keberuntungan untukmu, tidak ada yang bisa kulakukan kecuali semua kuserahkan pada takdir."
"Ternyata mereka menyiapkan pakaian sebagus ini untuknya" gumam tetua Hai saat melihat pakaian yang
Dikenakan Huang Kai.
Selepas kepergian tetua Bai, mereka semua bersiap untuk melakukan ritual sumpah kematian. Walaupun putranya merengek dan bersujud meminta maaf tidak sedikitpun menggoyahkan pendirian Huang Mingshi.
Beberapa kali Huang Kai ingin mencoba menjelaskan keanehan dari Dantian dan Inti Spiritualnya namun sebelum mengatakan apapun ayahnya selalu membentaknya. Pada akhirnya ia hanya terdiam dan berhenti menangis.
Mungkin air matanya sudah kering atau juga kebencian pada orang tua yang tak pernah ada untuknya membuncah. Bocah malang itu berdiri dengan tatapan penuh kebencian pada ayahnya, tak peduli apapun yang ia katakan tak akan berarti di hadapan ayahnya. Orang yang menganggap klan adalah segalanya.
Huang Kai menatap ke atas kepalanya saat sebuah lingkaran rune
Sihir besar diaktifkan oleh para tetua yang masing-masing berdiri mengelilingi anak itu. Sebuah lingkaran rune sihir berwarna hitam yang digunakan untuk menyegel berkah nama seorang yang biasa berbuat kejahatan. Hari ini seorang bocah malang yang tidak tahu apa-apa akan dihukum seperti para penjahat itu.
"Mulai saat ini kau bukan lagi bagian keluarga dan tidak diperkenankan menggunakan nama lahirmu. Jangan pernah mengatakan kau bagian dari klan pada siapa pun atau kau akan mati oleh petir kesengsaraan." Huang mingshi berkata dengan lantang.
"Sekarang ucapkan namamu untuk terakhir kalinya bocah!" Tetua kiri membentak Huang Kai yang terdiam tak percaya ayahnya sendiri akan tega melakukan hal seperti ini. Ia hanya bisa mengepalkan kedua tinju nya dengan perasaan campur aduk.
Cepat katakan sekarang!!" bentak
Huang Mingsi pada putra yang sudah tak dianggap anak olehnya itu.
“HUANG KAI" Dengan lantang dan mata berkaca-kaca namun sudah dipenuhi oleh kebencian dan rasa sakit.
Sesaat setelah dia menyebutkan nama, tubuh kecil dengan berkah nama itu terangkat ke awang-awang beberapa meter, kemudian sebuah ledakan energi terjadi dan tubuhnya pun jatuh terduduk ke lantai arena.
"PERGILAH DARI SINI SAMPAH!!!
"Ya pergi dari kota ini sampah!!!
Suara gaduh dari bangku penonton memenuhi tempat itu, segala ejekan dan sumpah serapah mereka ucapkan.
Bahkan ada beberapa orang melemparkan sepatu ke kepala bocah tanpa nama itu, beberapa diantaranya mengenai wajah.
Bocah tanpa nama itu mencoba berdiri dari duduknya, namun tubuhnya terasa sakit akibat ledakan energi
Sebelumnya. Dengan gontai ia berdiri dan berjalan keluar dari arena pertarungan itu sambil tertunduk lesu. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini, semua berkecamuk campur aduk. Marah, benci dan sedih serta segala emosi berbaur menjadi satu.
Ia tak ingin menatap siapapun bahkan tidak ayahnya sendiri. Ia terus berjalan pergi walau tidak tahu harus kemana tujuannya.
Huang Mingshi bahkan tidak ingin repot-repot melihat putranya pergi, sesaat setelah sumpah kematian dilakukan ia segera berlalu pergi bersama para tetua yang lain.
Hanya tersisa satu tetua yang tertinggal disana dan sebuah senyuman licik terpancar dari wajahnya saat kepergian anak buangan itu. "Hehehe, pakaian itu terlalu bagus untukmu seorang sampah" ia bergumam dan terlihat penuh kebahagian.
Sepertinya sedari tadi ia selalu memperhatikan pakaian yang dikenakan bocah tanpa nama itu dan mengetahui sesuatu tentang bahan pembuatannya.
Tentu saja hal mewah dan kuat seperti itu membuat pikiran serakah di hati tetua muncul. Apalagi orang yang mengenakannya saat ini bukan lagi siapa-siapa di klan, ia hanya orang luar yang tidak penting walau mati sekalipun tidak akan ada yang peduli.
Bocah itu berjalan sudah cukup jauh dari gerbang utama benteng Klan Huang.
Dengan langkah lesu dan pikiran yang sedang kacau ia mengarah ke kota utama yang berada di dekat Klan Huang berada, Yaitu kota Bukit Berbaris.
Disebut kota Bukit berbaris karena di sebelah timur kota hanya ada pegunungan panjang berbaris-baris.