''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."
Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.
Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.
Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.
Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Seminggu telah berlalu sejak malam yang menghancurkan itu. Aku menenggelamkan diriku dalam kesibukan yang gila-gilaan, seolah-olah dengan tumpukan dokumen dan jadwal rapat yang padat, aku bisa membungkam suara-suara di kepalaku.
Pagi ini, sebuah mobil berwarna putih mutiara terparkir di halaman rumah kami. Mobil itu bukan hasil cicilanku, melainkan dibeli tunai dari hasil kerja keras Ibu selama lima tahun membangun butik. Saat Ibu menyerahkan kuncinya kemarin sore, beliau memelukku lama dan berbisik, "Ini untuk kenyamananmu, Rana. Ibu ingin putri Ibu selalu merasa aman."
Menyetir mobil itu menuju kantor memberikan rasa bangga sekaligus haru yang membuncah. Setiap kali aku memegang kemudinya, aku diingatkan bahwa aku punya Ibu yang luar biasa kuat di belakangku. Mobil ini bukan sekadar alat transportasi, melainkan "benteng" pribadi pemberian Ibu yang melindungiku dari debu dan hujan jalanan yang sering kali membawa kenangan pahit.
Kesibukan memang obat bius paling manjur. Dalam tujuh hari ini, aku nyaris tidak punya waktu untuk memikirkan Ayah, Bagaskara, atau aroma kayu cendana milik Farez.
Namun, ketenangan semu itu terusik pagi ini di meja kerjaku.
"Mbak Rana, jadwal konsultasi mingguan dengan Abiwangsa Group sudah keluar," lapor Maya sembari meletakkan jadwal di mejaku.
Aku mengangguk tanpa mendongak dari layar laptop. "Iya, siapkan ruang rapat seperti biasa. Jam sepuluh, kan?"
Maya berdeham, tampak ragu. "Anu, Mbak... pihak Abiwangsa baru saja menelepon. Pak Farez minta Mbak Rana yang datang langsung ke kantor pusat mereka siang ini. Katanya ada beberapa dokumen operasional strategis yang tidak bisa dibawa keluar kantor, jadi Mbak sebagai asisten manajer proyek harus meninjau langsung di sana."
Gerakan jariku di atas papan ketik terhenti seketika. "Ke kantor Abiwangsa? Kenapa prosedurnya berubah?"
"Instruksi langsung dari Pak Farez, Mbak. Beliau bilang ini menyangkut keamanan data."
Aku mengepalkan tangan di bawah meja. Keamanan data? Atau ini hanya taktik baru untuk menarikku ke wilayah kekuasaannya?
Setelah kejadian "kerikil" malam itu, aku mengira Farez akan mundur karena terluka. Ternyata aku salah besar. Dia justru sedang menarik jaringnya lebih kuat. Pergi ke kantornya berarti aku harus masuk ke dunianya, menghirup aromanya di setiap sudut ruangan, dan menghadapi tatapan matanya di tempat dia berkuasa.
"Jam berapa?" tanyaku akhirnya dengan suara datar.
"Jam satu siang, Mbak."
Aku menghela napas panjang, melirik kunci mobil pemberian Ibu yang tergeletak di atas meja. Baiklah. Jika dia ingin aku datang, aku akan datang. Aku akan datang dengan mobilku sendiri—mobil yang dibeli dari cinta tulus seorang Ibu—dan aku akan menunjukkan padanya bahwa aku tidak lagi membutuhkan tumpangan atau perlindungan dari laki-laki mana pun.
Aku tidak akan membiarkan gedung megah Abiwangsa membuatku gemetar. Aku akan masuk ke sana sebagai profesional, melakukan pekerjaanku, lalu pulang ke rumah yang hangat.
Tepat pukul satu siang, aku melangkah masuk ke dalam gedung pencakar langit milik Abiwangsa Group. Interiornya yang didominasi kaca dan baja memberikan kesan dingin, persis seperti pemiliknya yang sekarang. Aku membawa tas kerjaku dengan genggaman mantap, mencoba mengabaikan debaran jantung yang mulai tak beraturan.
Di ruang rapat pribadi yang luas itu, Farez sudah menunggu. Tak ada senyum, hanya tatapan intens yang seolah ingin menembus dinding pertahananku.
"Silakan duduk, Ibu Rana," ucapnya. Suaranya tetap lembut, tapi ada nada getir yang tertahan di sana.
Aku segera membuka laptop. "Mari langsung saja, Pak Farez. Saya punya banyak jadwal lain setelah ini."
Konsultasi pun dimulai. Namun, Farez justru sering menginterupsi dengan pertanyaan-pertanyaan yang terdengar seperti refleksi dari rasa sakitnya sendiri.
"Tidakkah menurut Anda strategi ini terlalu... kaku?" tanya Farez sembari menatap dokumen di depannya. "Dalam bisnis, jika kita terlalu takut untuk mempercayai mitra hanya karena satu kesalahan di masa lalu, kita tidak akan pernah bisa membangun sesuatu yang besar."
Aku mengerutkan kening. "Kita sedang bicara soal prosedur operasional, Pak, bukan soal kepercayaan buta."
Farez sedikit memajukan tubuhnya, menopang dagu. "Saya hanya bertanya, Rana. Apakah Anda selalu menganggap setiap kontrak yang ditawarkan adalah sebuah kebohongan? Sampai Anda merasa harus membangun benteng setinggi ini agar tidak ada satu pun orang yang bisa masuk?"
Rahangku mengeras. Sindirannya terasa sangat personal. "Kehati-hatian adalah kunci profesionalisme, Pak Farez. Saya lebih baik dianggap kaku daripada harus tertipu oleh janji-janji manis yang tidak punya dasar kuat."
"Janji manis?" Farez tersenyum tipis, tapi matanya memerah. "Atau Anda memang sudah memutuskan bahwa semua laki-laki adalah penipu? Sampai-sampai kehadiran seseorang yang ingin menjaga Anda pun hanya Anda anggap sebagai 'kerikil'?"
Ruangan yang luas itu tiba-tiba terasa sangat sempit. Dia sedang meluapkan rasa sakitnya karena kalimat kejamku malam itu.
"Pak Farez," suaraku merendah, menahan getaran emosi. "Saya datang ke sini sebagai konsultan profesional. Jika Anda keberatan dengan cara kerja saya, Anda bisa mengajukan komplain ke perusahaan saya. Tidak perlu menyangkutpautkan urusan bisnis dengan analogi 'kerikil' yang tidak relevan."
"Relevan atau tidak, Anda yang lebih tahu, Rana," sahutnya lirih. "Anda boleh mengganti semua nomor Anda, Anda boleh membuang nama panggilan Anda, bahkan Anda boleh membangun tembok setinggi gedung ini. Tapi satu hal yang tidak bisa Anda ganti adalah kenyataan bahwa Anda sedang menghukum orang yang salah."
Aku tertegun. Kalimatnya menghantamku tepat di ulu hati.
"Saya tidak menghukum siapa pun, Pak Farez. Saya hanya sedang menata hidup saya agar tidak lagi bergantung pada siapa pun," jawabku tegas sambil menutup laptop. "Karena bagi saya, kemandirian adalah satu-satunya keamanan yang nyata. Jika rapat ini sudah tidak lagi membahas teknis, saya mohon pamit."
Farez tidak mencegahku pergi. Dia hanya menatapku dengan pandangan yang sangat lelah. Saat aku mencapai pintu, suaranya kembali terdengar, pelan namun sanggup menghentikan langkahku.
"Kamu sukses, Rana. Kamu hebat. Tapi jangan sampai kesuksesanmu itu kamu jadikan penjara untuk hatimu sendiri."