Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.
Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.
Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.
Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.
Tapi mereka lupa satu hal.
Dia bukan korban.
Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.
Termasuk dirinya.
Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.
Kakaknya menginginkan kematiannya.
Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.
Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.
Dunia mengira Sabrina akan tunduk.
Mereka salah.
Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...
dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.
Membunuh… atau kehilangan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Provokasi Kania
Ketukan sepatu hak tinggi memecah keheningan koridor. Kania Tanjung berdiri di ambang pintu kamar bayi dengan senyum palsu.
Gaun merah marun berbahan sutra melekat ketat membalut tubuh rampingnya. Tas tangan kulit buaya berlogo merek Paris bertengger arogan di lekuk sikunya. Kontras visual yang sangat menjijikkan jika diadu dengan kondisi Sabrina yang pucat pasi dalam balutan piama rumah sakit berbau yodium.
Sabrina tidak mengubah posisinya. Punggungnya masih bersandar kokoh pada dinding di samping boks bayi. Sayatan operasi di panggulnya berdenyut panas, mengirimkan sinyal nyeri tajam ke sumsum tulang belakang. Ia sengaja mengunci lutut kirinya rapat-rapat, menolak memperlihatkan satu milimeter pun kelemahan fisik di depan musuh berdarahnya.
"Sabrina, Sayang," sapa Kania. Nada mendayu-dayu yang dibuat-buat itu keluar dari bibir merahnya. "Lasmi lapor lo ngamuk buang semua barang mahal dari kamar ini? Lo kumat lagi?"
Langkah stiletto runcing itu menerobos masuk. Hak sepatunya menusuk karpet sutra Persia seolah sedang menginjak harga diri penghuni aslinya.
"Kamar ini cuma butuh oksigen steril." Sabrina menjawab datar, matanya menyapu postur tubuh Kania. "Keluar. Sepatumu membawa debu kotoran anjing dari halaman luar."
Kania tertawa sumbang. Suaranya melengking merusak frekuensi tenang di dalam ruangan.
"Lo lupa ini rumah siapa? Lo cuma numpang nama di kartu keluarga Adrianus Halim." Kania berjalan santai mengitari tumpukan selimut dan boneka beruang raksasa yang tadi dibuang Sabrina ke lantai. "Sayang banget. Padahal gue pesan boneka ini khusus dari pengrajin Milan. Lo memang nggak punya selera kelas atas. Pantesan Adrian bosan nyentuh lo."
Provokasi murahan. Taktik standar perempuan tidak aman yang haus validasi.
Wanita bergaun merah itu terus melangkah maju. Matanya mengunci boks kayu jati di sudut ruangan. Ada kilat kecemasan memburu di balik pupil cokelat Kania, bersembunyi di bawah lapisan maskara tebal. Kania tidak datang untuk mengejek selera desain kamar. Kania datang murni untuk mengonfirmasi apakah bayi itu benar-benar selamat bernapas.
"Mundur."
Sabrina merentangkan tangan kirinya. Menutup lintasan Kania tepat sejauh dua meter dari batas wilayah udara boks Sebastian.
"Gue cuma mau lihat keponakan gue. Kenapa panik gitu?" Kania memiringkan kepalanya, memasang wajah iba artifisial. "Lo kan gila, Sab. Emosi lo nggak stabil. Adrian sendiri yang bilang lo butuh penanganan khusus. Jangan-jangan lo mau nyekik bayi ini pas lagi halusinasi."
Sabrina menarik napas dangkal. Rongga dadanya naik turun meredam sisa kelelahan fisik yang merongrong sendinya. Ia memfokuskan tatapannya pada urat nadi biru yang menonjol di leher jenjang Kania. Denyutnya terlalu cepat. Wanita ini sedang terbakar panik murni.
Boni dan tiga preman bayarannya tidak kunjung memberikan laporan konfirmasi kematian. Adrian mendadak pulang membawa Sabrina yang masih bernapas. Otak Kania pasti sedang mendidih mencari jawaban atas kegagalan skenario sempurnanya di lereng Puncak.
"Empat anjing suruhanmu tidak akan pernah pulang malam ini," ucap Sabrina lambat-lambat. Nada suaranya dingin tanpa intonasi, memotong langsung ke inti rahasia kotor lawan.
Napas Kania tertahan sepersekian detik. Senyum palsunya retak seketika. "Gue nggak ngerti lo ngomong apa."
"Haryo. Jono. Koko. Boni." Sabrina mengeja empat nama itu layaknya membacakan daftar menu makan malam. "Mereka mati berteriak di lantai gudang. Darah mereka lengket sekali. Aku harus mencuci pergelangan tanganku berkali-kali untuk membilas bau amisnya."
Mata Kania membelalak ngeri. Cengkeramannya pada tali tas mewah itu mengerat hingga buku jarinya memutih. Otaknya menolak memproses informasi brutal ini. Sabrina yang asli selalu menangis histeris hanya melihat darah dari goresan kertas. Mustahil perempuan lemah penakut ini selamat dari empat algojo bayaran.
"Lo halusinasi lagi, Sab." Kania memaksakan tawa gugup yang terdengar sangat kering. Bibir bawahnya bergetar tipis. "Lo pasti dikasih obat bius dosis tinggi sama dokter bedah. Khayalan lo makin parah."
Sabrina melangkah maju satu tindak. Sengaja menginvasi ruang personal Kania, membelah jarak aman di antara mereka. Aroma menyengat dari kulit wanita itu langsung tertangkap penciuman tajam sang mantan pembunuh bayaran.
"Parfum Baccarat Rouge Extrait," bisik Sabrina dingin. Hidungnya mengendus udara di depan wajah Kania pelan. "Campuran ekstrak saffron dan almond pahit. Tiga semprotan di titik nadi leher. Dua di pergelangan tangan. Selera wewangian pasaran yang bersembunyi di balik label harga selangit."
Kania memundurkan bahunya refleks. "Mau apa lo? Jangan bertingkah aneh."
"Kau juga meminum obat penenang Zolpidem sepuluh miligram." Sabrina terus membedah musuhnya lewat rentetan observasi taktis. "Setiap malam tepat jam satu dini hari. Tanpa pil putih itu, kau tidak bisa menutup kelopak matamu karena otakmu terus memutar trauma saat ibu kandungmu membuangmu di panti asuhan."
"Tutup mulut lo, Bangsat!" Kania mendesis marah. Wajahnya memerah padam, urat lehernya menonjol keluar. Rahasia psikologisnya ditelanjangi begitu saja di bawah cahaya lampu neon.
Sabrina sama sekali tidak berhenti. Ia sengaja mengoyak sisa ego Kania menggunakan pisau bedah verbal. "Langkah kakimu selalu terseret saat melewati lantai marmer sayap timur pada jam dua pagi. Efek sedatif obat itu melemaskan otot motorik kakimu. Kau selalu tidur menyamping ke arah kiri. Memeluk bantal guling rapat-rapat karena ketakutan setengah mati bangun sendirian di rumah raksasa ini."
"Dari mana lo tahu rutinitas malam gue?!" Nada suara Kania kini pecah dipenuhi teror.
Tidak ada yang tahu soal dosis obat tidurnya selain dokter psikiater pribadinya. Bahkan Adrianus Halim pun tidak peduli pada rutinitas malam saudara angkat istrinya itu.
Sabrina tersenyum miring. Senyum maut seorang jagal yang sedang mengukur akurasi ukuran peti mati targetnya. Di kehidupan nyata Maureen, informasi semacam ini sangat mudah didapat dari membaca postur, ritme langkah kaki, dan bau keringat kronis target yang sedang panik. Kania Tanjung terlalu transparan. Semua rasa tidak amannya tercetak jelas di setiap pori-pori kulitnya.
"Tidur lelap itu mahal harganya, Kania," desis Sabrina menembus gendang telinga wanita itu. "Zolpidem membuat sistem saraf sadarmu lumpuh total selama empat jam berturut-turut. Suara engsel pintu terbuka tidak akan sanggup membangunkanmu."
Sabrina mengangkat telunjuk kirinya secara dramatis. Ujung jarinya yang pucat dan bersih menunjuk lurus ke arah pembuluh karotis di leher Kania yang berdenyut liar.
"Satu jarum suntik berisi udara kosong," lanjut Sabrina mematikan. Matanya berubah kelam. "Ditusukkan presisi di urat lehermu saat kau sedang tertidur lelap. Gelembung udara itu akan berjalan cepat masuk menembus katup jantungmu. Kau akan mati kejang terkena emboli udara tanpa sempat mengeluarkan satu pun suara rintihan. Dokter koroner kepolisian hanya akan mencatat kematianmu sebagai serangan jantung mendadak akibat kelelahan kronis."
Dada Kania naik turun beringas memompa oksigen. Kakinya gemetar hebat menahan lutut yang mendadak mati rasa. Ancaman ini terlalu spesifik. Terlalu teknis dan rapi. Ancaman ini seratus delapan puluh derajat berbeda dari teriakan histeris lempar barang yang biasa dilakukan perempuan gila.
Ada monster baru yang menempati bola mata Sabrina malam ini.
Sabrina membiarkan ancaman itu mengendap pekat di udara. Ia kembali memutar tubuhnya, berjalan tenang menjaga jarak menuju boks bayi Sebastian. Mengabaikan denyut nyeri di panggulnya. Ia menyelipkan sebelah tangannya ke dalam kotak kayu tersebut, mengusap pelan selimut perak sang bayi.
Ruang napas ini diambil Sabrina murni untuk menetralisir suhu amarah di kepalanya sendiri. Sebastian tidur nyenyak. Detak jantung anak itu adalah pelindung kewarasannya. Ia tidak akan membunuh Kania di ruangan steril ini dan mengotori udara bersih bayinya dengan bau darah.
"Mulai malam ini, kunci pintu kamarmu rapat-rapat, Kania," tutup Sabrina tanpa menoleh lagi ke arah pintu. "Dan berdoa supaya efek Zolpidem-mu cepat hilang sebelum ada bayangan yang berdiri membawa jarum suntik di sebelah ranjangmu."
Udara di dalam kamar bayi itu seakan membeku seketika. Kania menelan ludah paksanya sendiri. Suara tegukan liur itu terdengar sangat keras. Ego dan arogansinya sebagai penguasa rumah runtuh berantakan dihantam intimidasi pasif yang sangat akurat dari Sabrina.
Wanita bergaun merah itu tidak berani mengeluarkan satu bantahan pun. Insting bertahannya menyuruhnya mundur pergi sejauh mungkin dari monster bermata hitam di depannya. Tidak ada lagi ejekan gila. Tidak ada lagi paksaan menyentuh bayi.
Kania melangkah mundur. Tangan kirinya gemetar menyentuh lehernya yang tiba-tiba terasa dingin.