Sesungguhnya mencintai seseorang dengan setulus hati itu sangatlah sederhana, tak ada alasan, tak ada tuntutan, juga tak berharap balasan, cukup melihatnya tersenyum bahagia maka hatimu akan merasa bahagia.
Seseorang yang memiliki ketulusan dalam cintanya akan terus berusaha agar orang yang di cintainya merasa bahagia, meskipun terkadang tanpa sadar telah menyakiti dirinya sendiri.
Seperti dalam kisah ini.
Seorang gadis yang setia menunggu cinta pertamanya yang hampir 3 tahun tak ada berita, tiba tiba saja di lamar oleh seorang pria yang sudah dia anggap seperti kakaknya di masa lalu. kebimbangan menimpanya,sampai akhirnya mereka menikah atas permintaan orangtuanya, perlahan diapun mulai menyukai suaminya.
Namun entah apa yang terjadi, setelah hampir satu tahun berumah tangga, suaminya merasa dirinya tak mampu membahagiakan istri yang sangat ia cintai, dia pun berusaha untuk mempersatukan kembali istrinya dengan cinta pertamanya. Apa yang terjadi?...
yuk readers ikuti kisah serunya 😉
❤❤❤
happy reading.... 😊🤗👏
=====================================
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahma khusnul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percaya Diri
Empat jam berlalu, mata kuliah Afifa akhirnya selesai. Dengan langkah ringan, ia dan kedua sahabatnya, Sari dan Sofi, bergegas menuju salon yang direkomendasikan Sari. Dari luar saja, salon itu sudah terlihat elegan dan nyaman. Benar saja, begitu mereka masuk, suasananya begitu tenang, privasi terjaga, dan yang terpenting—hanya untuk akhwat. Pekerjanya pun semuanya wanita.
“MasyaAllah, tempatnya nyaman banget, Fa,” gumam Sofi sambil tersenyum puas.
Afifa hanya mengangguk kecil sambil mengedarkan pandangannya. Ini pertama kalinya ia masuk ke salon khusus wanita.
Tak butuh waktu lama, seorang petugas salon menghampiri mereka dengan senyum ramah. “Silakan, Mbak. Kita mulai dari perawatan wajah dulu, ya?”
Afifa mengangguk ragu, lalu duduk di kursi yang disiapkan. Saat tangan lembut petugas mulai memijat wajahnya, pujian pun tak berhenti terdengar.
“MasyaAllah, kulit Mbaknya halus banget. Jarang lho ada pelanggan dengan kulit alami sebersih ini,” ucap petugas itu sambil tersenyum kagum.
Pipi Afifa terasa hangat mendengar pujian itu. “Ah… enggak juga, Mbak. Biasa saja,” ujarnya malu-malu.
“Serius, Mbak,” timpal petugas lain yang tengah merapikan rambutnya. “Rambutnya juga lembut, sehat banget. Pasti suaminya sayang banget, ya?”
Sari dan Sofi yang duduk tak jauh darinya langsung tergelak.
“Wah, cocok banget dipuji. Iya kan, Sof?” Sari menggoda sambil mengedip nakal.
Afifa hanya tersenyum kikuk, mencoba mengalihkan perhatian dengan menatap ke arah cermin. Tapi jauh di dalam hatinya, pujian-pujian itu diam-diam membuat rasa percaya dirinya kembali tumbuh.
Selama satu jam, mereka bertiga dimanjakan oleh pelayanan salon. Wajah yang segar, rambut yang tertata rapi, dan aroma lembut yang menempel membuat Afifa merasa sedikit berbeda.
Selesai dari salon, ketiganya melangkah ke butik yang letaknya hanya beberapa meter dari sana. Pandangan Afifa langsung tertuju pada deretan pakaian tidur yang elegan, bahkan… cukup berani.
Sari, yang paling usil di antara mereka, langsung menyorotkan mata ke arah salah satu dress tidur berwarna merah muda lembut dengan bahan tipis, dilengkapi outer lengan panjang.
“Fa… ini, Fa. Ini cakep banget buat pengantin baru,” bisiknya sambil menahan tawa nakal.
Sofi ikut menimpali, “Iya, Fa. Bayangin aja, malam-malam, wangi, cantik, terus pakai ini… suamimu pasti nggak bakal bisa tidur.”
Afifa langsung merona. “Astaghfirullah, kalian ini ada-ada saja…” gumamnya sambil berusaha menahan senyum malu.
“Tapi kamu beli, kan?” Sari mendekat, menyerahkan pakaian itu ke tangan Afifa. “Anggap aja investasi rumah tangga.”
Akhirnya, dengan pipi yang masih merah, Afifa membawa tiga potong pakaian tidur ke kasir. Sari dan Sofi tersenyum puas sambil berbisik-bisik, membuat Afifa hanya bisa menggeleng pasrah.
Afifa tiba di rumah pukul setengah lima sore. Tanpa membuang waktu, ia segera mandi, membersihkan tubuhnya dari penat seharian. Usai mandi, ia mengenakan pakaian rumah yang sederhana, lalu menuju dapur untuk menyiapkan bahan makan malam. Ia sengaja tidak langsung memasak; Fauzi biasa makan setelah Isya, jadi Afifa bisa mulai memasak setelah Magrib, sambil menunggu suaminya pulang dari masjid.
Selesai memastikan semua bahan siap, Afifa masuk ke kamarnya. Ia duduk di kursi rias, memandangi bayangan dirinya di cermin. Senyum kecil terlukis di bibirnya. Hasil perawatan salon tadi benar-benar membuatnya merasa lebih percaya diri.
“Sebentar lagi Kak Aji pulang… aku harus rapi,” bisiknya pada diri sendiri.
Perlahan ia membuka hijabnya, lalu menyisir rambutnya yang masih lembut setelah perawatan. Sedikit bedak dan lipstik berwarna pink alami ia poleskan ke wajahnya. Tak lupa parfum beraroma lembut disemprotkan ke pakaiannya. Beberapa kali ia membuka mulut lebar-lebar, meniup ke telapak tangan, lalu menciumnya. Ia ingin memastikan tidak ada aroma tak sedap yang bisa mengganggu momen kecilnya bersama suami.
Saat melirik jam dinding, jarum menunjuk pukul lima kurang lima menit.
Afifa pun melangkah keluar kamar, duduk di ruang keluarga sambil menanti.
“Assalamualaikum…”
Suara Fauzi dari depan pintu membuatnya terperanjat. Ia berlari kecil membukakan pintu, senyum merekah menampilkan lesung pipit manisnya.
“Waalaikumsalam… sore, Kak,” sapanya ceria.
Fauzi berdiri mematung, seolah terpaku melihat istrinya. Senyuman lembut di wajah Afifa, wangi lembut yang menyeruak, dan sorot matanya yang teduh membuat Fauzi tak bisa berkata-kata.
Afifa mendekat, mencium punggung tangan suaminya, lalu bergelayut manja di lengannya. “Masuk, Kak…” ucapnya pelan, membimbing suaminya menuju kamar.
Fauzi hanya mengikutinya, masih tak habis pikir dengan tingkah manja istrinya yang terasa sedikit berbeda sore ini.
“Kak… mandi dulu, ya.” Afifa menyodorkan handuk yang sudah dilipat rapi. “Afifa siapin pakaian dan minuman hangat untuk Kakak.”
Fauzi mengangguk pelan, mengambil handuk dari tangannya. “Hmm… iya,” jawabnya singkat, lalu masuk ke kamar mandi.
Afifa meletakkan pakaian suaminya di atas tempat tidur, lalu berjalan ke dapur untuk membuat dua cangkir teh hangat. Ditaruhnya kedua cangkir itu di meja depan televisi yang baru saja ia nyalakan, lalu ia duduk di sofa sambil menunggu suaminya keluar.
Tak lama kemudian, Fauzi keluar. Afifa segera bangkit, menyodorkan secangkir teh hangat. “Ini minumannya, Kak…” ucapnya lembut.
“Iya… terima kasih,” jawab Fauzi sambil duduk di sampingnya. Tatapannya sesekali mencuri pandang ke arah istrinya, masih heran dengan sikap manja Afifa sore itu.
Afifa hanya tersenyum kecil, menundukkan kepala sambil memainkan ujung kerudungnya. Ada debar yang tak bisa ia jelaskan, seolah-olah sore ini menjadi awal yang berbeda dalam hari-hari rumah tangga mereka.
Bersambung… ❤️
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
InsyaAllah dibaca SCA 2 nya, semakin menarik sepertinya dan bikin penasaran dengan kisah Fauzi dan Afifa, Farid dan Wulan bagaimana ya 🤔🤔🤔
Semangat kak Rahma dan teruslah berkarya
👍👍👍🤗🤗🤗
😊😊😊
🤣🤣🤣
Doa terbaik buat kak Rahma dan keluarga, sehat sehat dan sukses selalu 🤗🤗
🤗🤗🤗
🤧🤧🤧
🤔🤔🤔