Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.
Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.
Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.
Vol. 1: Arc 1 - 3 (Complete)
(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 17: Usulan Gerald
Setelah kembali ke kamarnya, Alice yang selesai menutup pintu merosot kebawah dalam posisi duduk dengan kedua lututnya tertekuk—ia meletakkan tangannya memeluk lututnya dengan air mata membasahi wajahnya.
"Kenapa seseorang berniat membunuhku? Salah apa aku hingga aku ditargetkan oleh orang itu? Apa tujuannya? Apa yang diinginkannya dariku?"
Semua pertanyaan memenuhi benaknya.
Ia tidak mungkin mengadukan ini pada ayah dan ibunya karena bisa saja mereka mengadukan ini pada kakeknya, Arga, membuat suasana semakin kacau diantara ketiga faksi tanpa tahu siapa yang ingin ia mati.
Tapi disisi lain, ia khawatir atas keselamatannya. Jika ia tidak mengadu maka ia akan mengulangi kesalahan sama seperti yang terjadi pada dirinya di kehidupan sebelumnya sebagai Nia.
"Siapapun, tolong aku! Aku tidak ingin mati!"
Tidak ada siapapun yang mendengar jeritan hatinya yang dipenuhi keputusasaan dan kesedihan.
Saat membayangkan dirinya hendak mati, ia tahu pasti akan ada rasa sakit yang ditinggalkan oleh orang-orang disekitarnya, seperti keluarganya maupun teman dekatnya, mereka pasti akan terpuruk dalam kesedihan mendalam.
"Apakah aku bisa berubah? Akankah ini mudah untukku untuk melaluinya?"
Saat pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi benaknya, ia tidak yakin dengan apa yang dilakukannya saat ini akan membawanya perubahan sedikitpun.
Memang, ia akui kalau fisiknya sedikit meningkat. Tapi untuk menghadapi orang lain yang jauh lebih berpengalaman, ada kemungkinan ia akan langsung mati tanpa sempat memberikan perlawanan sepadan sesuai keinginan mereka.
•••••
Saat pagi terlihat melalui sela-sela jendela, suara pintu terbuka memperlihatkan wanita dewasa butterfly haircut pirang, sepasang mata crimson dengan paras cantik yang terlihat ceria saat pintu terbuka sepenuhnya.
"Sayang, sudah waktunya untuk sarapan pa–huh?"
Wanita itu tidak lain adalah Luna, ibu dari Alice.
Alasan mengapa ia terkejut saat memasuki kamar putrinya karena tidak ada keberadaan putrinya membuatnya bertanya-tanya kemana perginya ia. Saat membayangkan hal buruk terjadi padanya, kekhawatiran dan ketakutan memenuhi hatinya.
Dalam kondisi panik, ia memeriksa kamarnya untuk memastikan bahwa putrinya tidak ada di kamarnya. Setelah tahu, ia segera pergi ke kamar Ren, suaminya.
"Sayang, ini gawat! Alice, putri kita hilang!"
"Huh?"
Mendengar perkataan dari luar yang suaranya mirip seperti istrinya, Luna, Ren yang selesai berganti pakaian dari piyama ke pakaian formal ala bangsawan, dengan lengan panjang berwarna hitam menutupi kemeja putih didalamnya dengan kancing hitam berkilau, celana bahan berwarna hitam panjang, dan sepatu hitam saat ia berjalan untuk membuka pintu untuk melihat istrinya yang panik.
"Bukankah ia sudah biasa menghilang?" Tanyanya, jelas ia sudah terbiasa dengan putrinya yang selalu menghilang disaat mereka lengah di usianya dulu sewaktu masih merangkak hingga 6 tahun.
Tapi, tidak untuk ibunya yang tidak terbiasa dengan kehilangan putrinya. Insting keibuannya membuatnya khawatir, takut hal buruk terjadi pada putrinya.
"Ini bukan waktunya untuk tenang, Sayang! Kita harus mencarinya!"
Sebelum dapat berlari berkeliaran ke segala tempat, suaminya mencegah istrinya dengan menggenggam erat tangan kirinya saat ia akan lari dari pandangannya dalam kondisi panik.
"Tidak perlu panik, aku akan mencari keberadaan putri kita."
"Baik."
Lega mengetahui kalau suaminya berniat untuk mencari keberadaan sendiri, istrinya berharap suaminya dapat segera menemukan putri mereka sebelum sarapan pagi berlangsung.
"Jangan beritahu pada Ayah Mertua karena aku takut ia akan memerintahkan para maid dan ksatria untuk mencari putri kita."
"Baik."
Melihat kepergian suaminya untuk mencari putrinya, istrinya tahu betul kalau ia mengadukan ini pada ayahnya—Arga, maka akan menyebabkan kegemparan yang membuat para maid dan ksatria segera mencari keberadaan putri mereka.
Padahal kenyataannya, putri mereka tidak mungkin kenapa-kenapa melainkan hanya menghilang. Tapi, kehebohannya dapat membuat bangsawan lain bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam benak mereka menyebabkan kegaduhan diantara para bangsawan lain dengan rumor bahwa kakeknya terlalu protektif melindungi Alice—cucunya sendiri.
Sepanjang lorong ditelusuri oleh pria itu di lantai dua, mulai dari; area penginapan, aula makan, gudang artefak, gudang peralatan medis, ruangan operasi hingga ruangan pertemuan, ia tidak menemukan keberadaan putrinya sama sekali.
Dirasa tidak ada di lantai dua, ia dengan tenang tanpa perlu membiarkan rasa takut, panik, dan khawatir memenuhi hatinya segera mencarinya di lantai ketiga karena lantai tersebut mungkin saja tidak ada siapapun yang berjaga tidak seperti lantai pertama yang memiliki ksatria dan para maid di penginapan yang tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi di dapur.
Besar kemungkinan, putrinya mungkin bermain di lorong tersebut jadi tanpa berlama-lama ia segera menaiki tangga menuju ke lantai tiga yang tembus ke aula umum kosong tanpa ada apapun.
"Tidak ada disini."
Segera berpindah ke tempat lain, dimana area tersebut merupakan kantor pribadi yang berada di lorong dari arah utara aula umum.
Matanya memandang dengan seksama setiap pintu, tidak ada tanda-tanda pintu terbuka sedikit maupun suara dari dalam di setiap ruangan kantor pribadi dengan nama masing-masing di papan didepan pintu membuatnya yakin kalau semua para bangsawan belum sibuk melakukan aktivitas pagi.
"Mungkinkah Putriku di Ruangan Pribadi Ayah Mertua?"
Tidak jauh dari area kantor pribadi milik bangsawan, ia segera berhenti di depan pintu masuk ganda terukir dengan ukiran indah berwarna keemasan tua di bagian ukiran yang membentuk huruf s dan s terbalik, dengan warna pintu dasar berwarna coklat metalik yang tingginya sekitar 3 meter.
"Kuharap Ayah Mertua tidak ada didalam."
Kedua tangannya diletakkan di gagang pintu hendak membukanya dengan harapan tidak ada ayah mertuanya didalam, Arga. Karena jikalau ayah mertuanya ada didalam, ada kemungkinan ia penasaran atas kedatangan mantunya kemari untuk mencari sesuatu yang tidak seharusnya ada disini—menimbulkan kecurigaan padanya.
"Tenanglah, Ren. Kau pasti bisa."
Setelah meyakinkan dirinya, ia mau tidak mau memaksa untuk membuka pintu meskipun terdapat resiko akan dicurigai oleh ayah mertuanya nanti.
"Apakah anda memiliki keperluan, Ren-sama?"
"Whoa!"
Melompat kaget saat mendengar suara dari belakangnya, ia segera menoleh untuk mengetahui siapa yang ada dibelakangnya saat ini.
Dibelakangnya, terlihat pria berambut mohawk berwarna hijau tua, sepasang mata berwarna azure yang sipit yang selalu tertutup, memiliki paras tampan dengan postur tubuh yang tinggi dan sedang dengan postur tubuh yang tegap dibalik jubah berwarna biru gelap panjang, terbuat dari kain mewah berupa beludru dan dilapisi dengan bulu mahal seperti sable menatap penuh senyum padanya.
Orang tersebut tidak lain adalah Gerald, penasihat dari Raja Arga.
"Ternyata kau rupanya," ada rasa lega dari wajahnya begitu mengetahui kalau itu tidak lain adalah penasihat ayah mertuanya.
"Aku kemari ingin mencari putriku. Dia tidak ada di kamarnya sejak tadi pagi."
"Mungkin sedang menghirup udara segar diluar di halaman depan istana?"
"Apakah kau yakin dia ada di sana?"
"Entahlah. Tapi, saya melihatnya tadi pagi saat matahari terbit dimana Alice-sama duduk didekat air mancur di halaman depan."
Tidak ingin memberitahu apa yang dilihatnya tadi pagi, penasihat itu hanya memberitahu seadanya meskipun dengan kebohongan berharap pria itu tidak menanyakannya lebih jauh.
Sesuai dugaan penasihat itu, pria itu mengangguk—menepuk pundaknya dan tersenyum selagi berlari menuju ke tangga di lantai tiga yang mengarah ke lantai dua.
"Terimakasih banyak, Gerald."
"Tidak masalah. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan."
Begitu melihat sosok pria itu menghilang di kejauhan, ekspresi senyum dengan sikap santai dari penasihat itu berubah drastis menjadi serius, mata sipitnya terbuka memperlihatkan sepasang mata berwarna azure.
"Yah, aku memang tidak membantunya dari depan seperti Lisa-sama. Tapi tetap saja, aku membantunya melalui caraku."
Kembali berjalan menjauh dari kantor pribadi raja yang berada diluar, baginya keputusan ini sangat pas untuk dirinya yang bekerja tanpa diketahui oleh orang lain sesuai dengan kinerjanya.
Lagipula, ini bukan pertama kalinya ia melakukan ini melainkan sudah sering jadi ia tidak ragu untuk mengulurkan tangan pada gadis kecil itu demi masa depan kerajaan ini, demi keingintahuannya untuk mengetahui apakah ia bisa menjadi pemimpin berikutnya atau tidak.
Di halaman depan istana, Ren melihat sekeliling tidak menemukan keberadaan putrinya sama sekali. Bingung, ia segera bertanya pada kedua penjaga diluar pintu istana ketimbang didalam.
"Apakah kalian melihat putriku?"
Kedua ksatria bertukar pandang lalu menatap ke arahnya setelah keduanya mengangguk.
"Kami tadi melihat Alice-sama kembali ke kamarnya pagi hari setelah melakukan joging di waktu fajar."
"Joging?"
"Ya. Sudah seminggu beliau melakukan ini tanpa henti. Katanya, itu berguna untuk meningkatkan fisiknya menjadi lebih baik demi memimpin kerajaan di masa mendatang."
Tidak disangka kalau putrinya benar-benar serius melakukannya, ia tidak tahu apakah ia harus senang atau tidak karena putrinya memikul tugas yang tidak seharusnya ia pikul melainkan tugas orang dewasa.
"Terimakasih banyak atas informasinya."
Tidak ingin para ksatria tahu, ia kembali memasuki pintu ganda kayu yang memperlihatkan lobby didalamnya.
Tidak ada siapapun, kecuali para ksatria yang berjumlah tiga orang didalam. Mereka semua menatap penuh kebingungan atas sikapnya yang terlihat tidak seperti biasanya.
"Dimana putriku?"
"Kami melihatnya kembali ke kamarnya."
"Benarkah?"
"Ya," salah satu prajurit senior mengangguk padanya, berkata jujur tanpa ada kebohongan.
Tapi, ia merasa tidak bertemu dengan putrinya tadi. Kalaupun ketemu, mungkin ia sudah masuk kamar. Hanya itu pemikiran positif darinya.
"Mungkin kucoba periksa lagi."
Mengangguk sekali, ia kembali ke lantai kedua dari salah satu sisi lobby yang melingkar. Ia sekali lagi kembali lagi ke area penginapan.
"Sayang, bagaimana? Apakah kau sudah menemukan keberadaan putri kita?"
Saat mendekati kamar putrinya, ia dikejutkan melihat Luna, istrinya yang mendekatinya dengan wajah khawatir tanpa mempedulikan kedua maid yang menemaninya guna untuk menenangkannya.
Tapi, bukannya mereka menenangkannya, istrinya malah semakin khawatir atas kondisi putrinya yang hilang—takut kalau hal buruk terjadi padanya.
"Tenanglah, Sayang. Aku yakin ia baik-baik saja."
"Benarkah?"
"Ya," meskipun suaminya tidak tega melihat istrinya seperti ini, entah bagaimana ia harus meyakinkan istrinya bahwa semuanya baik-baik saja.
Kalau tidak, istrinya akan pingsan bila ia asal menjawab pertanyaannya. Apalagi jika ia tahu kalau putri mereka melakukan latihan fisik tanpa sepengetahuan mereka diam-diam menyebabkan ia marah pada dirinya.
Sementara disaat suaminya bingung kemana putrinya pergi sedangkan istrinya khawatir atas ketidakadaan putrinya di kamar, di suatu tempat di lantai ketiga di kedalaman ruangan perpustakaan.
Terlihat seorang gadis kecil berusia 6 tahun yang sedang menatap bangga atas ruangan yang telah bersih setelah ia membersihkannya cukup lama tanpa sadar kalau ibu dan ayahnya sedang mencari keberadaannya.
Orang itu tidak lain adalah Alice.
Mari kilas balik beberapa saat lalu.
Setelah Alice selesai melakukan joging sebanyak 20 putaran mengitari kastil usai melakukan latihan selama beberapa minggu, ia beristirahat sejenak di kursi dekat taman bunga di kedua sisi di luar istana terlihat ragu akan hal ini.
"Apakah aku benar-benar bisa bertahan hidup di dunia ini?"
Ada keraguan yang menggerogoti hatinya.
Dirinya tidak yakin apakah ia bisa menghadapi mereka—musuh terkuat yang tidak diketahui siapa mereka. Mereka bisa saja menikamnya dari belakang disaat ia lengah.
Kalaupun ia berhati-hati, ada kemungkinan orang yang ingin melenyapkannya akan tahu kalau sikapnya seperti berjaga-jaga terhadap orang lain jadi mereka mengubah rencana.
Sesuatu seperti itu membuatnya tidak yakin harus berbuat apa nanti.
Jika ia dihadapkan dengan sesuatu yang lebih kuat, misalnya orang yang berniat untuk membunuhnya memiliki afinitas sihir dan mana yang luar biasa kuat, ada kemungkinan kalau latihan yang dijalaninya olehnya akan sia-sia menyebabkan ia mati.
Begitupun jika musuhnya menggunakan fisik yang lebih kuat darinya, jangankan untuk melawan, berteriak saja tidak bisa dapat membuatnya mati dengan mudah secara langsung oleh musuhnya.
Membayangkan hal tersebut membuat keringat dingin menyebar di punggungnya, bulu kuduknya berdiri menegang seolah-olah ia tidak menginginkan kematian untuk kedua kalinya—takut kalau kehidupan ketiga tidak mungkin ada untuk kedua kalinya.
"Andaikan aku tidak terlahir seperti ini," keluhnya yang merasa kalau dunia ini tidak adil.
Dilahirkan dari keluarga bangsawan, terutama keluarga kerajaan cukup bagus menurutnya. Tak hanya terdapat beberapa pria ikemen, ada juga makanan dan minuman enak, kasih sayang dan perhatian dari kedua orangtuanya, serta teman dekatnya. Itu merupakan suatu kelebihan.
Sedangkan kekurangannya cuma dua, ia lemah fisik dan sihir. Jangankan fisik yang lemah, mana yang dimilikinya sangat kecil layaknya lilin yang hendak padam saat akan lenyap.
Tahu kalau mengeluh tidak ada gunanya, ia menggelengkan kepalanya berkali-kali lalu menampar keras kedua pipinya untuk menyadarkan dirinya dari mengeluh yang dapat menyebabkan ia sama seperti dirinya dulu.
"Aku tidak boleh mengeluh. Kalaupun aku tidak bisa hidup untuk ketiga kalinya nanti atau tidak memiliki perubahan sedikitpun, setidaknya aku sudah berusaha keras," meyakinkan dirinya akan hal tersebut, pandangannya dipenuhi tekad yang menyala—tidak seperti sebelumnya yang diliputi oleh rasa takut, khawatir, dan ragu yang menjadi satu.
"Sip. Aku harus tetap melakukannya."
Tidak ingin berlama-lama diluar, ia pergi setelah mentari hangat menerpa tubuhnya yang kira-kira sekitar pukul 06:00 pagi untuk kembali ke kamarnya.
Begitu memasuki lobby lalu menaiki tangga menuju ke area penginapan, ia tidak sengaja melihat penasihat itu berada ditengah-tengah lorong yang sedang diam—tampak menunggu kehadiran seseorang yang akan melewati tempat itu.
"Apa yang dilakukannya di sana?"
Instingnya memberikan sinyal. Ada sesuatu yang tidak biasa dari sikap penasihat itu yang ia tidak tahu seperti apa pria tersebut, tapi dari pengalaman lamanya sebagai otaku, kebanyakan pria dengan mata sipit memiliki masa lalu misterius jadi ia takut bila ia mendekatinya tanpa sikap waspada maka ada kemungkinan ia akan dibunuh olehnya.
"Apa yang kamu lakukan disini? Apakah kamu menungguku?"
"Ah, Alice-sama. Kebetulan saya ingin membicarakan sesuatu dengan anda," saat langkahnya mendekatinya, penasihat itu melihat jarak yang dilebarkan oleh gadis kecil itu dengan sikap waspada saat mengatakannya dengan ramah dan penuh senyum di wajahnya—dengan mata sipitnya yang tertutup.
"Apa yang kamu ingin bicarakan denganku? Katakan saja!" Desaknya, tidak peduli apa yang penasihat itu inginkan, ia tetap berhati-hati dan berwaspada dengan jarak sekitar 20 meter.
Tahu kalau sikap waspada gadis kecil itu terlihat jelas, pikirannya sangat yakin kalau mungkin saja Lisa sudah memberitahu ini padanya. Kalau tidak, mana mungkin gadis kecil itu bersikap hati-hati seperti ini tanpa menjaga jarak dengan orang lain.
"Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu pada anda." Gadis kecil itu mengangguk. Ia tetap diam selagi menatapnya dengan wajah serius—ingin tahu apa yang akan dikatakannya berikutnya.
"Pertama, saya bukanlah musuh anda. Kedua, saya datang sebagai orang yang akan membantu anda dari masalah ini. Ketiga, orang yang berencana untuk membunuh anda adalah Edi-sama."
Sekilas, keterkejutannya sempat terlihat di wajahnya namun dengan cepat tergantikan dengan wajah jengkel selagi ia tetap menatap penasihat itu.
"Omong kosong apa yang kamu katakan?! Mana mungkin Ayah dari temanku tega melakukan itu?!"
Mendengar kata-katanya yang dingin dan ekspresinya yang penuh kebencian dari wajahnya padanya, penasihat itu bisa memaklumi kalau gadis kecil dihadapannya di kejauhan tidak mungkin mempercayainya jadi ia tidak marah melainkan tetap tenang.
Tapi, tiba-tiba mata sipitnya terbuka memperlihatkan sepasang mata azure yang menatap tajam padanya dengan wajah serius yang berbanding terbalik dari sikap ramah dan santai dari dirinya.
"Tidak, anda salah dalam hal tersebut."
Ekspresinya semakin kesal seolah-olah berkata "mana mungkin aku percaya begitu saja?!" Lalu terlihat ekspresi lainnya "jelaskan padaku!" Agar membuktikan bahwa penasihat itu benar-benar teman, bukan musuh yang ingin melenyapkannya dengan menikamnya dari belakang.
Menanggapi ekspresi kesal dari wajahnya yang tersirat jelas untuknya, ia mengangguk tanpa keberatan untuk menjelaskan apa yang diketahuinya pada gadis kecil itu meskipun itu akan berakhir menjadi kenyataan pahit yang harus ditelan olehnya sendirian.
"Alasan Edi-sama mengincar anda untuk dilenyapkan adalah kekuasaan. Beliau berencana untuk memanfaatkan putranya untuk menikahi anda, tapi sepertinya Ken-sama tidak menginginkannya."
"Tidak menginginkan itu?"
"Ya," angguknya. Ia kembali ke mode santai dan ramah dengan senyum kecil di wajahnya, mata sipitnya kembali tertutup rapat selagi ia berjalan mendekati gadis kecil itu.
Meskipun gadis kecil itu menjaga jarak dengannya. Jarak diantara mereka sekarang 10 meter lalu 5 meter hingga akhirnya penasihat itu berhasil mendekatinya.
"Ken-sama mengatakan bahwa ia tidak ingin menjadi suami anda, ia berencana untuk menjadi ksatria yang melindungi anda dari bahaya."
"Tapi, kenapa ia berniat untuk membunuhku? Apa yang didapat dari itu?"
Memang, penasihat itu tidak memahami apa yang dipikirkan oleh Edi. Tapi melihat dari situasi yang ada, ia memahami sesuatu melalui pembicaraan rahasia yang dilakukan oleh Edi dengan ketiga bawahannya di kamarnya saat tengah malam.
"Apakah anda yakin ingin mendengarnya meskipun ini akan sangat menyakitkan dan pahit?" Tidak peduli atas apa yang dirasakannya, gadis kecil itu mengangguk siap untuk menerima jawaban dari penasihat didepannya meskipun terasa sakit dan pahit nanti.
"Beliau ingin menyingkirkan anda bukan hanya secara mudah, tapi juga berencana untuk menjadikan putranya sebagai raja untuk memimpin Kerajaan Thijam."
"Tapi, kenapa harus menggunakan kekera—"
"Karena jikalau anda tidak dilenyapkan, ada kemungkinan anda akan melaporkan ini pada siapapun."
"....."
Terdiam karena tidak bisa menanggapi apapun, apa yang dikatakan oleh penasihat didepannya ada benarnya.
Melenyapkan orang lebih mudah ketimbang bicara dengan baik-baik. Hal itu tidak pernah terpikirkan olehnya, yang mungkin memiliki pemikiran sama seperti ibunya, Luna.
Tapi tetap saja, rasanya menyakitkan mengetahui kalau ayah dari teman dekatnya berencana untuk melenyapkannya demi kekuasaan untuk menjadikannya putranya sebagai raja di kerajaan ini, Kerajaan Thijam.
"Alasan mengapa anda tahu tentang ini dari Lisa-sama, saya yang memberitahu ini padanya untuk membuatnya bekerjasama denganku untuk membantumu."
"Tapi, apa yang kamu dapatkan dari membantuku?"
Tidak ada yang bisa didapat oleh penasihat itu untuk membantu dirinya, setidaknya itu yang dipikirkan olehnya. Namun, penasihat itu tidak menanggapi itu melainkan terkekeh, tetap tersenyum dibalik topeng penuh ramah padanya.
"Saya melakukannya untuk melindungi anda dari bahaya. Terlebih, saya ingin tahu seperti apa masa depan yang anda pimpin nanti sebagai ratu di masa depan."
Tersentak mendengarnya dari penasihat didepannya, ia tidak menyangka kalau pria itu membantunya hanya karena rasa penasaran, tidak lebih dari itu.
"Tapi, apa yang kamu harapkan dariku?" Kata-katanya terdengar penuh putus asa saat merendahkan dirinya dihadapannya. "Aku tidak memiliki mana yang banyak, bahkan fisikku lemah."
Memeluk tubuhnya, air mata mengalir membasahi wajahnya dengan deras, takut dan khawatir bila ia benar-benar mati membuat penasihat itu terkejut melihat sikap dari gadis tersebut yang terpuruk dalam ketakutan dan kesedihan.
"Mana mungkin aku bisa memimpin Kerajaan Thijam disaat aku lemah."
Apa yang didengar olehnya berikutnya merupakan kalimat keputusasaan dengan penuh keraguan, ia melihat ekspresi gadis kecil itu yang kesakitan saat menangis—memahami apa yang diderita olehnya dihadapannya.
Sekilas, penasihat itu ingin maju untuk memeluknya dan menenangkannya namun itu bukanlah pilihan terbaik untuk dilakukan. Malahan, dia hanya bisa melakukan satu-satunya cara untuk membuatnya terhindar dari keterpurukan yang menyedihkan ini.
"Abaikan pemikiran orang lain! Mereka ingin menjatuhkan dirimu untuk membuatmu hancur, termasuk untuk melenyapkanmu!"
Kata-katanya tegas tanpa bersikap formal, menatap tajam dengan mata azure terbuka dari mata sipitnya menatap langsung ke mata crimson miliknya.
Gadis kecil itu dikejutkan dengan sikap penasihat itu yang berbeda, ia kembali menunduk ke bawah dengan wajah semakin sedih saat membayangkannya, tetap menangis selagi memeluk tubuhnya untuk menghilangkan ketakutannya sedikit.
Tahu kalau kata-kata tersebut tidak bisa meyakinkannya, ia terpaksa untuk memberikan saran lain.
"Kalaupun anda tidak kuat maka gunakan ini untuk keselamatan anda!"
Tiba-tiba ia melemparkan sesuatu padanya, gadis kecil itu dikejutkan dengan gerakan tak terduga—hampir kewalahan menangkap benda yang dilemparkan padanya.
Untungnya, benda itu tidak jatuh dan berhasil ditangkap meskipun ia sempat kewalahan sebentar.
"Ini...." ditatapnya penasihat itu dengan wajah bingung, ada keingintahuan dari sikap gadis kecil seolah-olah ingin tahu kunci apa ini.
Memahami kebingungannya, penasihat itu menjelaskan padanya dengan sikap yang lebih santai namun tidak ada senyuman kecil dibalik topeng wajahnya melainkan keseriusan meskipun matanya kembali tertutup.
"Itu adalah kunci dari Gudang Penyimpanan Artefak. Disana anda bisa mendapatkan artefak yang anda ingin gunakan untuk bertahan hidup. Untuk mengaktifkannya mudah, anda bisa meminta tolong pada Lisa-sama untuk memberikan mana kedalam artefak supaya bisa disesuaikan dengan ukuran anda sekaligus menggunakannya."
Merasa bingung atas hal ini, ada satu hal yang ia tidak mengerti mengenai cara untuk menggunakan artefak.
Apakah itu menggunakan sihir atau hanya sebatas mana yang dituangkan pada artefak agar bisa mengaktifkannya, ia tidak ragu untuk bertanya pada penasihat didepannya.
"Apakah mereka diaktifkan melalui sihir atau mana?"
"Mereka aktif bila dituangkan mana kedalamnya. Dengan anda menggunakannya, mana tersebut tergantung dari seberapa besar kapasitas mana. Bila dituangkan dalam jumlah banyak, bisa bertahan selama 10 kali penggunaan untuk pemakaian. Jika mana-nya sedikit maka hanya bisa digunakan satu kali."
Tiba-tiba penasihat itu tidak ingin gadis kecil itu merasa bangga bisa menggunakannya, terpaksa untuk melanjutkan penjelasan meskipun ini akan menyinggung perasaannya.
"Tapi, anda tidak bisa menggunakannya dengan kapasitas mana anda karena anda lemah."
"Ya, aku paham," tidak membenci kata-katanya yang tidak memiliki maksud menghina maupun merendahkannya, gadis kecil itu tahu betul kalau mana miliknya mustahil untuk bisa menggunakan artefak tersebut.
"Dengan kata lain, aku hanya perlu meminta bantuan pada Lisa-san?"
"Ya."
Sekarang ia memahami garis besar yang diusulkan oleh penasihat itu padanya.
Apa yang dikatakan olehnya sebagai teman adalah apa adanya. Buktinya ia rela membantu dirinya untuk menjadi ratu di masa depan, ia yakin kalau ia memiliki orang yang berniat untuk melindunginya dari bahaya. Tapi tetap saja, ini tidak sepadan untuk dilakukannya karena masih ada rasa curiga dibalik motif tujuan penasihat itu untuk membantunya sejauh ini.
Tapi, ia tidak mengatakan apapun melainkan menampilkan senyum tulus dibalik topeng wajahnya.
"Baik, aku akan menerima usulan darimu. Terimakasih telah mengusulkan ini padaku."
"Sama-sama." Kata-kata penasihat itu terdengar tulus, wajahnya terlihat tenang dengan sikap santai pada Alice. "Asalkan anda selamat dan bahagia, saya rasa itu sudah cukup untuk saya bisa membuat anda jauh dari masalah."
Memang, kata-kata penasihat itu terdengar biasa. Tapi biar bagaimanapun, gadis kecil itu tetap gadis biasa yang belum mengenal cinta selama hidupnya sebagai Nia di kehidupan lamanya, bunga bermekaran di hatinya dengan pipi sedikit merah merona.
"Tidak, tidak.... aku tidak boleh jatuh cinta padanya."
Tahu kalau jatuh cinta padanya akan sangat merepotkan, ia yakin kalau penasihat itu mana mungkin tidak memiliki pasangan.
Secara keseluruhan, ia adalah pria ikemen selain dari ayahnya sendiri. Mustahil bila ia tidak memiliki pasangan sama sekali maupun sudah bertunangan sebagai suami-istri.
"Kalau begitu, aku permisi dulu."
"Baik."
Dipersilahkan untuk lewat oleh penasihat itu, ia segera berlari karena tidak ingin ia tetap merasakan detak jantungnya yang semakin kuat. Takut jikalau ia tetap disini maka ia akan semakin jatuh cinta padanya.
Penasihat itu kebingungan tidak memahami kenapa gadis kecil itu berlari, berpikir kalau ia berencana untuk melakukan persiapan untuk melatih fisiknya lagi. Harapannya adalah kunci itu berguna di tangan yang tepat untuk gadis kecil sepertinya supaya masa depan Kerajaan Thijam tidak menuju ke arah buruk melainkan ke arah yang baik.
^^^To be continued...^^^