Alya, mahasiswi tingkat akhir yang cerdas dan mandiri, tengah berjuang menyelesaikan skripsinya di tengah tekanan keluarga yang ingin ia segera menikah. Tak disangka, dosen pembimbingnya yang terkenal dingin dan perfeksionis, Dr. Reihan Alfarezi, menawarkan solusi yang mengejutkan: sebuah pernikahan kontrak demi menolong satu sama lain.
Reihan butuh istri untuk menyelamatkan reputasinya dari ancaman perjodohan keluarga, sedangkan Alya butuh waktu agar bisa lulus tanpa terus diburu untuk menikah. Keduanya sepakat menjalani pernikahan semu dengan aturan ketat. Tapi apa jadinya ketika batas-batas profesional mulai terkikis oleh perasaan yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Sudah sebulan sejak aku resmi tinggal di rumah ini, rumah besar yang kini menjadi tempatku bersama Reihan. Rasanya waktu berjalan lambat, tapi juga cepat. Lambat karena hari-hariku diisi dengan rutinitas yang hampir sama: bangun pagi, menyiapkan sarapan, mengerjakan skripsi, membereskan rumah, lalu menunggu malam tiba. Cepat karena tiba-tiba saja aku sadar, sudah empat minggu aku menjalani pernikahan kontrak ini.
Tapi sebulan tinggal bersama bukan berarti aku mengenalnya lebih dalam. Tidak juga membuat kami jadi lebih dekat. Aku masih merasa seolah-olah ada dinding besar di antara kami.
Reihan tetap dengan sikapnya yang dingin, teratur, dan jarang bicara. Kami hanya berbincang seperlunya saja.
Pagi ini udara terasa berbeda. Matahari sudah meninggi, tapi rasanya sinarnya tak mampu menenangkan detak jantungku yang terus berpacu. Hari ini hari yang sudah lama kutunggu, sekaligus hari yang paling kutakuti hari sidang skripsi. Mungkin 90% orang juga takut hal itu.
"Tenang, Alya… kamu bisa. Semua ini sudah kamu persiapkan. Tinggal jalani," bisikku pada diri sendiri.
Namun, rasa gugup itu tidak bisa sepenuhnya hilang. Apalagi mengingat Nia dan Lala sudah lebih dulu melewati masa sidang mereka seminggu lalu. Aku sempat hadir saat itu, melihat bagaimana mereka keluar dari ruang sidang dengan wajah lega. Ada rasa bangga untuk mereka, tapi juga tekanan tersendiri bagiku.
Sekarang, giliran aku. Dan berbeda dari mereka, aku harus menjalaninya seorang diri.
Aku turun ke bawah dengan map berisi skripsi yang sudah dicetak rapi. Dapur masih rapi, di meja makan ada roti panggang dan susu dengan note 'jangan lupa dimakan". Sepertinya Reihan sudah berangkat lebih dulu ke kantor.
Sempat ada sedikit rasa kecewa yang menusuk. Entah kenapa, di hari sepenting ini aku berharap ada sekadar ucapan singkat darinya “Semangat sidangnya” atau apa pun itu. Tapi tidak ada. Dia juga yang memperlambat skripsiku.
Aku menghela napas panjang, mencoba menepis perasaan itu.
Setengah jam kemudian, aku sudah sampai di kampus dengan motorku. Suasana kampus pagi ini terasa menegangkan. Beberapa mahasiswa lain juga bersiap sidang, sibuk dengan berkas, revisi terakhir, atau sekadar masuk matkul.
Aku berjalan ke arah ruang sidang, jantungku makin berdegup kencang. Langkahku terasa berat. Dari jauh kulihat Nia dan Lala sudah menunggu di luar ruangan, wajah mereka berseri-seri menyambutku.
“Akhirnyaa, giliran kamu juga, Ly!” seru Lala sambil merangkul lenganku.
“Iya, semangat ya. Kamu pasti bisa. Kami kan udah bilang dari kemarin, dosen pengujinya nggak segalak itu kok,” tambah Nia memberi dukungan.
Aku tersenyum kecil, meski tetap saja gugup itu tak berkurang. “Semoga aja ya… doain aku.”
“Kami di sini kok, nungguin kamu sampai selesai,” jawab Lala mantap.
Lima belas menit sebelum sidang dimulai, aku duduk di kursi tunggu. Tanganku memeluk map skripsi erat-erat. Aku menatap pintu ruang sidang yang tertutup rapat, mencoba membayangkan apa yang akan terjadi di dalam sana.
Pertanyaan demi pertanyaan, komentar, revisi… semua berputar di kepalaku.
“Ya Allah… lancarkanlah,” lirihku pelan, nyaris tak terdengar.
Aku bangkit dari kursi tunggu setelah namaku dipanggil, jantungku berdegup kencang. Kaki terasa berat, tapi akhirnya aku berdiri di depan pintu ruang sidang. Setelah mengetuk, terdengar suara dari dalam.
“Silakan masuk.”
Aku membuka pintu, melangkah masuk, dan segera menunduk memberi salam. Di depan, sudah ada tiga dosen penguji dan dosen pembimbingku yang duduk dengan wajah serius.
Setelah presentasi selesai, sesi pertanyaan dimulai.
Bu Rina membuka diskusi. “Alya, kenapa kamu memilih metode kualitatif deskriptif, bukan kuantitatif? Padahal topikmu ini sebenarnya bisa diuji dengan data numerik.”
Aku menarik napas. “Pertimbangan saya memilih metode kualitatif karena ingin menggali makna dari perspektif responden, Bu. Data naratif memberi pemahaman lebih mendalam, sementara data numerik hanya memberi gambaran umum.”
Bu Rina mengangguk pelan, lalu mencatat sesuatu.
---
Pak Bambang kemudian angkat bicara. “Saya lihat di bab tiga, jumlah respondenmu hanya sepuluh orang. Mengapa hanya sepuluh? Apakah itu bisa mewakili populasi yang kamu teliti?”
Aku menelan ludah. “Benar, Pak. Jumlahnya kecil karena keterbatasan waktu dan kondisi lapangan. Namun, data yang saya kumpulkan cukup mendalam untuk dianalisis dan menjawab rumusan masalah.”
Pak Bambang hanya mengangguk singkat.
Pertanyaan terus berdatangan, satu demi satu. Ada tentang teori, sistematika penulisan, hingga kritik soal tata bahasa. Aku menjawab sebisa mungkin, meski kadang terbata.
Setelah hampir satu jam, akhirnya sesi tanya jawab selesai.
Bu Rina, selaku ketua penguji, membuka suara. “Baik, setelah melalui proses presentasi dan tanya jawab tadi, serta setelah kami berdiskusi, kami memutuskan bahwa… Alya dinyatakan lulus sidang skripsi.”
Aku tertegun sesaat. Rasanya seperti mimpi. Suara tepuk tangan kecil dari para dosen menyusul, dan mataku langsung berkaca-kaca.
Aku menunduk dalam-dalam, berusaha menahan tangis lega. “Terima kasih banyak, Bu, Pak, terima kasih…” suaraku nyaris bergetar.
Aku menoleh sekilas ke arah Reihan. Dia hanya menatapku singkat, lalu mengangguk tipis. Tidak ada senyum, tidak ada ekspresi hangat—seolah dia hanya seorang dosen pembimbing yang netral. Tapi entah kenapa, isyarat kecil itu memberiku kekuatan tersendiri.
“Baik, Alya, selamat sekali lagi,” kata Bu Anita dengan nada lebih ramah.
Aku kembali menunduk dan memberi salam sebelum melangkah keluar. Begitu pintu tertutup, Nia dan Lala langsung berlari menghampiriku.
“Lulus, Ly?!” seru Lala tak sabar.
Aku mengangguk cepat, lalu tanpa sadar air mataku menetes. “Iya, aku lulus…”
Nia langsung memelukku erat. “Akhirnya! Perjuanganmu terbayar, Ly!”
Aku tersenyum di sela tangisku, merasa lega luar biasa. Satu beban besar di pundakku akhirnya terlepas.
Aku menunduk dalam-dalam, berusaha menahan tangis lega. “Terima kasih banyak, Bu, Pak, terima kasih…” suaraku nyaris bergetar.
Aku menoleh sekilas ke arah Reihan. Dia hanya menatapku singkat, lalu mengangguk tipis. Tidak ada senyum, tidak ada ekspresi hangat—seolah dia hanya seorang dosen pembimbing yang netral. Tapi entah kenapa, isyarat kecil itu memberiku kekuatan tersendiri.
“Baik, Alya, selamat sekali lagi,” kata Bu Anita dengan nada lebih ramah.
Aku kembali menunduk dan memberi salam sebelum melangkah keluar. Begitu pintu tertutup, Nia dan Lala langsung berlari menghampiriku.
“Lulus, Ly?!” seru Lala tak sabar.
Aku mengangguk cepat, lalu tanpa sadar air mataku menetes. “Iya, aku lulus…”
Nia langsung memelukku erat. “Akhirnya! Perjuanganmu terbayar, Ly!”
Aku tersenyum di sela tangisku, merasa lega luar biasa. Satu beban besar di pundakku akhirnya terlepas.
Begitu keluar dari gedung fakultas, aku masih sulit mempercayai kenyataan. Rasanya kakiku ringan sekali melangkah, seolah dunia berubah jadi lebih terang. Nia dan Lala berjalan di sampingku sambil terus berceloteh, wajah mereka penuh semangat.
“Ly, sumpah ya, tadi aku yang deg-degan banget pas kamu presentasi,” kata Nia
Aku terkekeh, masih menahan rasa haru. “Aku aja masih nggak percaya tadi bisa jawab pertanyaan-pertanyaan mereka.”
Lala mengaitkan lengannya ke lenganku. “Tapi kamu keren banget, Ly. Pas ditanya soal metode penelitian, jawabannya lancar. Aku aja di tanya waktu itu ngga setegas kamu ly"
Aku mendengus kecil. “Lebay.”
“Bukan lebay, tapi fakta,” timpal Nia, mengedipkan mata jahil. “Pokoknya hari ini kamu harus traktir kita.”
Aku mengerjap. “Hah? Traktir?”
“Ya iyalah,” kata Lala cepat. “Ini momen langka, sahabat kita akhirnya lulus sidang! Harus ada perayaan. Minimal es krim atau mie ayam kek. Nggak boleh nolak.”
Aku menghela napas pasrah, tapi bibirku tidak bisa menahan senyum. “Baiklah, kalian menang. Terserah kalian mau beli apa aku yang bayar.”
Kami bertiga akhirnya menuju sebuah kafe kecil tak jauh dari kampus. Tempatnya hangat dan tidak terlalu ramai, dengan aroma kopi yang menenangkan. Kami memilih meja di sudut, dan begitu pesanan kami datang, Lala langsung mengangkat gelas kopinya tinggi-tinggi.
“Untuk Alya yang akhirnya lulus sidang skripsi!” seru Lala penuh semangat.
Aku tertawa sambil mengangkat gelasku juga. “Terima kasih kalian udah selalu ada buat aku. Tanpa kalian, aku nggak tahu bisa bertahan apa nggak.”
Obrolan kami berlangsung hangat sampai akhirnya tiba saatnya membayar. Aku merogoh tas kecilku dengan tenang, yakin sudah membawa dompet seperti biasa. Tapi begitu kubuka, aku langsung panik dalam hati.
ATM-ku… tidak ada.
Aku mengaduk-aduk isi dompet, lalu baru sadar. Ternyata ATM dan dompet yang biasa aku gunakan tertinggal di rumah. Yang tersisa hanya satu kartu hitam elegan yang selalu kusimpan di dompet lain, black card pemberian Reihan.
Aku terdiam sesaat, menatap kartu itu. Rasanya canggung sekali. Kalau aku menggunakannya, pasti Nia dan Lala akan curiga. Tapi kalau tidak, aku tidak punya pilihan lain.
“Kenapa, Ly?” tanya Nia, memperhatikanku yang terlihat kikuk.
Aku memaksakan senyum. “Eh… nggak apa-apa. Dompetku agak berantakan.”
Dengan sedikit ragu, aku akhirnya menyerahkan kartu hitam itu ke kasir. Mataku sekilas menangkap ekspresi kaget Nia dan Lala.
“Ly… itu…” Lala berbisik sambil menatap kartu itu takjub. “Kartu eksklusif banget kan? Aku pernah lihat di internet, cuma orang-orang super kaya yang punya.”
Aku langsung gelagapan. “Hah? Ah… ini cuma… pinjaman. Punya papa aku, kok.” Jawabanku terdengar gugup, tapi aku berusaha setenang mungkin.
Kasir memproses transaksi tanpa masalah, lalu mengembalikan kartuku dengan senyum ramah.
Aku buru-buru menyelipkan kartu itu lagi ke dalam dompet. Wajahku terasa panas karena tatapan penuh tanda tanya dari kedua sahabatku.
“Ly, sejak kapan kamu punya akses kartu beginian?” tanya Nia penasaran.
Aku hanya bisa tertawa canggung. “Udah, jangan bahas. Yang penting makan kita beres kan? Anggap aja traktiran kelulusan.”
Mereka berdua akhirnya ikut tertawa, meski aku tahu mereka masih penasaran.