NovelToon NovelToon
Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: MishiSukki

Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Perumusan Ulang Metode Body Tempering

Dengan mengunyah roti keras pelan-pelan, Xiao An membuat coretan pada perkamennya. Rasa roti yang kasar di lidahnya sedikit terabaikan oleh pikirannya yang sibuk. Dia mencatat sedikit informasi yang dia peroleh dari Lin Cheng mengenai kultivasi.

"Ada dua tahap level kultivasi mayor," tulisnya,

"Di mana setiap mayor memiliki tiga minor."

Xiao An tenggelam pada tiga minor pertama dalam Body Tempering yang diceritakan Lin Cheng: kulit, tulang, dan darah. Sebuah kerutan muncul di dahinya.

"Kenapa hanya kulit, tulang, dan darah?" gumamnya pada diri sendiri.

Dengan nalarnya, sesuai anatomi manusia, harusnya ada beberapa hal lain yang juga dikuatkan agar tubuh menjadi sempurna.

Setelah berpikir keras, ia akhirnya menambahkan urutan lengkapnya: kulit, tulang, otot, jeroan dalam, sistem saraf, pembuluh darah, kemudian darah. Total ada tujuh bagian yang, menurut pemahamannya, harus diperkuat dalam tahap Body Tempering.

Xiao An kemudian memberi catatan pada masing-masing poin yang ia tambahkan, merumuskan pemahamannya tentang tahap Body Tempering secara lebih detail:

Skin Tempering → “Perisai Luar”

Ibarat kulit pohon raksasa: keras, tahan goresan, tapi masih elastis.Setelah sempurna: kulit seperti baja tipis yang bisa memantulkan serangan ringan.

Bone Tempering → “Pondasi Baja”

Ibarat rangka jembatan baja: menopang beban apapun tanpa retak.Puncak tahap ini: tulang sepadat tungsten, tapi tetap lentur seperti bambu roh.

Muscle Refining → “Kekuatan Ledakan”

Ibarat kabel baja yang terjalin rapat: otot padat, tak mudah sobek.Hasil: tenaga satu pukulan bisa merobohkan pohon raksasa.

Organ Forging → “Mesin Vital”

Ibarat mesin inti reaktor: organ bisa menahan tekanan Qi seperti ledakan internal.Jantung berdenyut seperti gendang perang, paru-paru menarik Qi seperti pusaran angin.

Nerve Awakening  → “Jalur Petir”

Ibarat kabel listrik kecepatan tinggi: saraf menyalurkan sinyal secepat kilat.Reaksi tubuh hampir instan, refleks setara hewan pemburu.

Vascular Tempering  → “Sungai Qi”

Ibarat sungai spiritual: pembuluh darah & meridian seperti jalur deras Qi tanpa hambatan.Energi bisa mengalir bebas tanpa merusak jaringan tubuh.

Blood Refining → “Cairan Ilahi”

Ibarat air raksa bercahaya: darah jadi kental, memuat Qi → menyembuhkan luka cepat.Xiao An sangat puas dengan risetnya kali ini.

Pemahamannya tentang Body Tempering terasa lebih logis dan lengkap. Semua itu sesuai dengan nalarnya dan berbagai novel kultivasi yang pernah dia baca sebelumnya, memberinya gambaran imajinatif untuk memudahkan perumusannya.

Xiao An belum selesai. Ia merasa perlu melengkapi diagram kultivasinya agar sempurna. Untuk masing-masing dari tujuh level minor dalam Body Tempering yang baru ia definisikan, Xiao An menambahkan bahwa Qi yang digunakan untuk membaptis diri itu akan dialirkan melalui jalur-jalur spesifik.

Ia mencoret-coret perkamennya dengan pensil arang, menandai jalur utama. Qi akan mengalir dari Dantian, pusat energi utama tubuh, melewati meridian Ren (jalur depan tengah tubuh) dan Du (jalur belakang sepanjang tulang belakang hingga kepala).

Kemudian, dari kedua jalur utama ini, Qi akan dipecah menjadi berbagai jalur kecil yang dia tandai dengan titik-titik pada gambar anatomi manusia di perkamennya. Ia membuat detail yang sangat rinci untuk setiap level minor, menunjukkan bagaimana energi akan menguatkan setiap bagian tubuh secara sistematis, dari kulit terluar hingga darah di pembuluh darahnya.

Kemudian, Xiao An menambahkan dalam catatannya bahwa Body Tempering ini benar-benar menggunakan Qi internal untuk membaptis diri. Namun, biasanya proses ini dibantu dengan berbagai cara. Ia menuliskan, seperti penggunaan pil obat atau ramuan obat (baik untuk dioleskan maupun merendam tubuh).

Selain itu, latihan fisik yang keras juga sangat penting untuk memberikan tekanan yang diperlukan pada tubuh, seperti: menaiki tangga yang tinggi atau naik gunung, melakukan maraton jarak jauh, mencapai samadhi di bawah air terjun, atau bahkan sparring dengan saling pukul untuk menempa tubuh masing-masing.

Malam sudah larut. Cahaya rembulan menembus celah-celah dedaunan, memandikan pondok kecil dengan nuansa keperakan. Meskipun lelah, Xiao An masih belum bisa berhenti. Di halaman terakhir perkamennya, di bawah semua diagram dan catatan kultivasi yang rumit, dia menambahkan sesuatu yang sama sekali berbeda: sebuah puisi klasik dari bahasa Latin.

Dia menulisnya dengan hati-hati, baris demi baris, kata demi kata, sebuah untaian kalimat kuno yang membawa kenangan dari dunia lamanya. Itu adalah pengingat akan masa lalu yang kini terasa begitu jauh, kontras dengan realitas baru yang sedang ia bangun di bukit ini.

Orandum est ut sit mens sana in corpore sano.

Fortem posce animum mortis terrore carentem,

qui spatium vitae extremum inter munera ponat

naturae, qui ferre queat quoscumque labores,

nesciat irasci, cupiat nihil et potiores

Herculis aerumnas credat saevosque labores

et venere et coenis et plumis Sardanapalli.

Yang artinya:

"Berdoalah agar memiliki jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat.

Mintalah jiwa yang kuat, bebas dari rasa takut akan kematian,

yang menganggap batas hidup hanyalah pemberian alam,

yang mampu menanggung segala penderitaan,

yang tidak mengenal amarah, tidak menginginkan apapun,

dan menganggap kesengsaraan Hercules lebih mulia

daripada kemewahan cinta, jamuan, dan ranjang empuk Sardanapalus."

"Mens sana in corpore sano."

Itulah puisi klasik yang dia sangat hafal, sebuah doa dan pengharapannya untuk hidup sehat, baik jiwa maupun raga. Sebuah ironi manis mengingat kondisinya di dunia lamanya, dan harapannya di dunia baru ini.

Setelah menyelesaikan tulisan terakhirnya, Xiao An menghela napas puas. Rasa kantuk menyerang. Dia kemudian merangkak ke dipan dan tertidur lelap, mimpi-mimpinya mungkin dipenuhi dengan diagram meridian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!