"Saya berharap dimasa depan nanti kita akan berjumpa lagi, tapi tidak sebagai teman. melainkan sebagai pasangan yang sudah terikat secara Agama mau pun Negara. Saya akan menjadi seorang Ayah, sedangkan kamu menjadi seorang Ibu bagi anak-anakku kelak." Itulah kata-kata yang diucapkan oleh seorang siswa laki-laki kepada Yuri saat kelulusan sekolah, akankah mereka berdua bisa dipertemukan kembali dikemudian hari? Lalu siapakah siswa laki-laki itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pajar Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
“Hoh, gitu ya.” Aku tahu dia kecewa, tapi aku tidak peduli.
“Kalau gitu saya permisi Pak.” Buru-buru aku berjalan ke arah temanku, aku takut dia akan terus memaksaku sampai aku mau makan dengannya.
"Cie, Cie! Yang ke sini bareng sama pak Adi!" goda Airin.
"Apaan sih!, biasa aja dong jangan godain aku terus," kesalku, temanku ini sama seperti Rara. Suka sekali menggodaku jika aku jalan dengan atasan.
"Habisnya kalian berdua mesra banget, sudahlah Ri, terima aja cintanya Pak Adi. Kapan lagi coba kita ditaksir sama manajer, duitnya banyak loh."
“Ya udah, Pak Adi sama kamu aja. Aku enggak mau sama dia.”
“Enggak hah! Lagian gue udah punya cowokku, cowok gue juga enggak kalah tajir dari Pak Adi.”
Jam pulang kantor telah tiba, semua karyawan sudah keluar dari kantor. Ada yang dijemput ada yang pulangnya naik motor/mobil.
"Yuri, aku duluan ya pulangnya. Soalnya pacar gue udah jemput di depan." kata Airin.
"Hati-hati ya Airin." Aku melambaikan tangan ke arahnya, tinggallah diriku masih stay di kantor, masih banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan. Berkas laporan ini haris sudah aku serahkan ke atasan langsung.
"Yuri, kamu belum pulang." tanya Adi melihatku masih bekerja.
"Ya, Allah! Pak Adi, maaf pak saya enggak sadar kalau bapak masuk ke sini."
"Maaf ya, bikin kamu kaget. Kamu hari ini lembur?"
"Iya Pak."
"Kamu nanti pulang naik apa? Mau saya anter pulang ke rumah kamu."
"Saya pulang naik ojek online Pak, kostan saya juga dekat dari kantor, terima kasih, tapi tidak usah pak, saya bisa pulang sendiri.” Aku pun melanjutkan pekerjaan yang tadi tertunda. Tapi tetap saja dia masih di sini melihatku bekerja, membuat aku menjadi tidak konsentrasi menyelesaikan pekerjaan. Aku yang risi dengan adanya Adi di sini, langsung menoleh ke arahnya dengan senyum paksa.
“Bapak sendiri tidak pulang ke rumah?”
“Pulang kok.”
“Terus kenapa Pak Adi masih di sini?"
"Saya lagi tunggu kamu, saya tetap mau anter kamu pulang, sekalian saya mau tahu tempat tinggal kamu.” Aku pun tercengang dengan ucapannya, padahal aku sudah menolaknya untuk tidak pulang bersamanya. Tapi kenapa dia maksa banget sih!
Aku yang sudah tidak peduli dengannya, langsung melanjutkan pekerjaanku. masa bodo dia ada di sini.
1 jam kemudian, semua pekerjaanku sudah selesai. Aku merapikan semua barangku di meja, dan untuk Adi. Dia masih saja menungguku di sini.
“Sudah selesaikan? Ayo kita turun ke bawah.” Ajaknya lagi, mau tidak mau aku harus turun bareng sama dia. Untungnya tidak ada karyawan yang lain yang ikut lembur, kalau ada yang melihat aku jalan bareng sama dia bisa ada gosip aneh lagi nanti.
Selama di dalam lift menuju lantai lobi, tidak ada pembicaraan antara kami berdua. Aku sengaja menyibukkan diri dengan bermain ponsel, sekalian pesan ojek online.
Ting
Lift telah sampai di lantai lobi, buru-buru aku keluar dari lift.
“Ri, kamu mau ke mana? Tempat parkiran mobil bukan lewat sana,” ucapnya sedikit teriak.
“Saya sudah ditunggu sama Abang gojeknya Pak.” Tanpa peduli lagi dengannya, aku terus berjalan cepat. Aku tidak ingin pulang bersamanya.
Melihat Yuri sudah pergi jauh, Adi hanya bisa pasrah. Ternyata dia tidak mau pulang bersama dengannya, biar pun sudah ditolak olehnya. Ia tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan hati Yuri.
Ada alasan kuat kenapa ia sangat menyukai Yuri, yang pertama dia cantik, baik, tutur kata lembut ketika berbicara dengan orang yang lebih tua darinya.
Ditambah lagi, Yuri bukan tipe orang yang melihat harta. Beda sekali dengan wanita lain, jika ada yang mendekati Adi, pasti yang pertama dilihat adalah harta milik Adi. Bisa dari mobil, bisa dari jabatan dan sebagiannya.
20 menit kemudian aku sampai di kostan, rasanya badan ini sudah lelah. Sebelum mandi aku merebahkan diri di atas kasur.
“Ya Allah, rasanya nikmat banget bisa rebahan di kasur.”
Setelah di rasa cukup rebahannya, aku pun langsung bersiap-siap untuk mandi. Dan menyiapkan makan malam.
Keesokan paginya, aku bersiap-siap ingin berangkat menuju kantornya dengan menggunakan gojek. Sesampainya di kantor. Seperti biasa aku selalu menyapa timku terlebih dahulu.
Tiba-tiba Airin datang dalam keadaan heboh, membuat kami semua kaget atas ulahnya. Aku yakin sekali dia pasti dapat gosip baru dari departemen lain.
"Eeh, eh! Tahu enggak, hari ini katanya Direktur dari perusahaan Daya Makmur mau datang ke sini loh. Dengar-dengar nih ya, katanya Direkturnya nya masih muda, ganteng lagi. Gosipnya nih ya, dia belum punya pacar, alis masih jomblo,” ucapnya kegirangan.
“Aduh, kebiasaan deh Airin. Kalau ada yang ganteng pasti langsung heboh. Padahal udah punya pacar,” timpal yang lain.
“Gue kan Cuma mengagumi, begini-begini gue setia loh.”
"Ngomong-ngomong lo dapat dapat info dari mana? Kok bisa tahu sedetail itu? Cocok deh lo jadi detektif!" ucap mbak Lia, begitu kagum dengan info yang dibawakan oleh Airin.