NovelToon NovelToon
LINTASAN KEDUA

LINTASAN KEDUA

Status: tamat
Genre:SPYxFAMILY / Identitas Tersembunyi / Action / Mafia / Roman-Angst Mafia / Persaingan Mafia / Tamat
Popularitas:106.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Warning!
Bagi yang berjantung lemah, tidak disarankan membaca buku penuh aksi laga dan baku tembak ini.

Sejak balapan berdarah itu, dunia mulai mengenal Aylin. Bukan sekadar pembalap jalanan berbakat, tapi sebagai keturunan intel legendaris yg pernah ditakuti di dunia terang & gelap. Lelaki yg menghilang membawa rahasia besar—formula dan bukti kejahatan yg diinginkan dua dunia sekaligus. Dan kini, hanya Aylin yg bisa membuka aksesnya.

Saat identitas Aylin terkuak, hidupnya berubah. Ia jadi target. Diburu oleh mereka yg ingin menguasai atau melenyapkannya. Dan di tengah badai itu, ia hanya bisa bergantung pada satu orang—suaminya, Akay.

Namun, bagaimana jika masa lalu keluarga Akay ternyata berperan dalam hilangnya kakek Aylin? Mampukah cinta mereka bertahan saat masa lalu kelam mulai menyeret mereka ke dlm lintasan berbahaya yg sama?

Aksi penuh adrenalin, intrik dunia bawah, dan cinta yg diuji.

Bersiaplah menembus "LINTASAN KEDUA"—tempat di mana cinta & bahaya berjalan beriringan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Ruangan Rahasia

Kembali ke masa kini

Aylin memejamkan mata sejenak. Napasnya masih terasa berat. Kilasan-kilasan penglihatan dari buku yang baru saja ia baca terus berputar di benaknya, seperti potongan mimpi yang menolak pergi. Namun, satu bayangan muncul lebih jelas dari yang lain: lukisan Semar di ruang baca. Ia tak tahu kenapa, tapi lukisan itu selalu terasa… mengawasi. Seolah menyimpan sesuatu.

Ia tiba-tiba tersentak.

“Sepi ing pamrih, rame ing gawe. Pengetahuan adalah kunci rahasia,” gumamnya pelan.

Ia membuka mata, menatap Akay yang kini ikut menoleh padanya dengan cemas.

“Itu filosofi Semar…” lanjut Aylin, nadanya makin pelan tapi mantap. “Semar adalah lambang kebijaksanaan. Pengetahuan. Dan pengetahuan dituangkan ke dalam buku, bukan?”

Akay mengernyit, masih mencoba mengikuti alur pikirannya.

“Apa maksudnya... ada sesuatu di balik lukisan Semar yang hanya bisa dibuka dengan buku ini?”

Akay terdiam, berpikir. Mbok Inem dan Tumirah juga ikut terdiam, wajah mereka memancarkan kebingungan yang sama.

“Akay, ikut aku!” seru Aylin, menarik tangan suaminya.

Tanpa bertanya, Akay langsung mengikuti langkah cepat Aylin—langkah yang seolah dibimbing oleh naluri purba. Di belakang mereka, Tumirah hendak ikut, namun Mbok Inem segera menggenggam pergelangan tangannya.

“Mau ke mana?” tanya Mbok Inem.

“Mau li—”

“Ini bukan urusanmu," potong Mbok Inem cepat. "Lanjutkan saja pekerjaanmu,” ucapnya datar.

Tumirah manyun. “Ih, Simbok. Orang lagi penasaran…”

“Penasaran bisa membuatmu berakhir di kuburan,” sahut Mbok Inem, tajam. Tumirah langsung terdiam.

Aylin berdiri di hadapan lukisan besar Semar, terpajang di dinding ruang baca yang sunyi dan redup. Cahaya senja menyusup lewat kisi-kisi jendela tua, menari di antara rak kayu penuh buku-buku tebal—kebanyakan beraksara Jawa kuno. Aroma kertas tua dan kayu lapuk memenuhi udara, membangkitkan kenangan yang entah dari mana datangnya.

Ia menatap lukisan itu dalam diam, seolah menunggu Semar sendiri bicara dari balik bingkai. Perlahan, tangannya terangkat, menyentuh bingkai kayu yang telah usang dengan jari gemetar.

“Seharusnya petunjuk ketiga ada di sini, bukan?" gumam Aylin.

Akay mengangkat lukisan Semar. Tak ada apa pun. Tapi liontin di leher Aylin kembali berpendar.

“Mendekatlah. Mungkin ada sesuatu di balik lukisan ini yang hanya bisa dilihat dengan cahaya liontinmu.”

Aylin mendekatkan liontinnya ke dinding di balik lukisan. Perlahan, guratan halus mulai tampak—sebuah simbol aneh berbentuk lingkaran bersilang. Simbol itu tampak seperti perpaduan antara mantra kuno dan peta bintang. Persis seperti yang ada di buku—hanya saja kali ini posisinya terbalik.

“Ini sama dengan simbol di buku tadi. Coba kamu tempelkan buku itu ke dinding ini,” ujar Akay.

Dengan hati-hati, Aylin menempelkan buku itu ke simbol yang tampak sebagai cekungan kecil, nyaris tak terlihat.

Tak ada yang terjadi selama beberapa detik.

Lalu…

Klik.

Buku itu seperti tertelan oleh dinding. Suara mekanik tua bergema, diikuti bunyi berderak seperti engsel besi yang telah lama tak bergerak. Dinding kayu di belakang lukisan bergetar… dan perlahan terbuka.

Di baliknya, lorong sempit penuh debu menyambut mereka.

Akay menatap lorong gelap di depannya. “Kita benar-benar membuka sesuatu yang sudah lama dikubur, Ay…”

Aylin mengangguk, matanya terpaku pada kegelapan di hadapan mereka. “Dan aku rasa… kita belum tahu apa yang akan kita temukan.”

Lorong itu terasa sempit dan pengap saat mereka melangkah masuk. Begitu Aylin dan Akay melewati ambang, terdengar suara keras berderak.

BRUK!

Pintu di belakang mereka menutup otomatis. Suasana mendadak hening. Lalu—klik! klik! klik!—deretan lampu di langit-langit lorong menyala satu per satu, membentuk jalur bercahaya ke arah kegelapan yang lebih dalam.

Akay refleks menggenggam tangan Aylin. “Apa ini… jebakan?”

Aylin seperti teringat sesuatu. “Ada panel di atap joglo yang dulu tak tahu terhubung ke mana. Apa mungkin ke ruangan ini?”

Tatapan mereka saling bertemu. Akay bisa melihat kecemasan sekaligus tekad dalam sorot mata istrinya.

“Dulu,” lanjut Aylin sambil mulai melangkah pelan, “Kakek sering berkata memiliki sebuah ruangan rahasia berlampu tenaga surya… dengan nada bercanda. Aku tak menyangka… beliau benar-benar memiliki ruangan rahasia.”

Langkah mereka terus menurun, mengikuti lorong yang ternyata berujung pada sebuah pintu logam tua. Aylin menyentuh tuas di samping, dan pintu itu terbuka perlahan dengan suara berat.

Udara berdebu menyambut mereka. Bau besi, oli, dan kertas tua bercampur jadi satu.

Ruangan itu remang, namun cukup terang untuk memperlihatkan sebuah benda besar di tengah yang ditutupi kain kanvas abu-abu. Aylin mendekat, tangannya bergetar saat menyentuh kain itu.

Dengan satu tarikan, ia membuka penutupnya.

Sebuah motor tua, penuh modifikasi, berdiri kokoh. Cat hitamnya masih mengilap meski usang. Rangka logamnya dihias ukiran rumit khas Jawa. Knalpotnya memanjang dan terlihat seperti baru.

Aylin terpana. “Aku kira motor ini… hilang. Ternyata disembunyikan di sini…”

Di sisi body motor, terdapat tulisan aksara Jawa kecil yang terukir halus: ꦥꦤꦸꦚ꧀ꦗꦸꦏ꧀ ꦢꦭꦤ꧀.

"Seingatku, dulu tulisan ini nggak ada."

Aylin menyipitkan mata, lalu membacanya pelan.

“Panunjuk Dalan.”

(“Penunjuk Jalan.”)

Lampu liontin di leher Aylin kembali menyala samar. Akay berbisik, “Motor ini… petunjuk?”

Aylin mengangguk pelan, lalu memerhatikan lebih seksama. Di bagian bawah jok, tersembunyi sebuah pelat logam kecil yang bisa digeser. Di baliknya… ada ukiran aksara lain, lebih rumit dan lebih kecil.

ꦥꦸꦱ꧀ꦠꦏꦱꦶꦁꦏꦲꦸꦤ꧀ꦕꦶ꧉ꦢꦸꦩꦸꦤꦸꦁꦲꦶꦁꦲꦶꦧꦸꦏꦠꦏꦸꦤꦸ꧉ꦏꦼꦏꦲꦶꦱꦫꦤ꧀ꦠꦶꦩꦸꦂ꧉

Aylin membaca perlahan:

"Pustaka Sing Kaunci, Dumunung ing Ibu Kutho Kuno Kekaisaran Timur."

Ia terdiam, lalu menerjemahkan, “Perpustakaan yang tersembunyi, berada di ibu kota kuno kekaisaran timur…”

Akay menatapnya dengan kening berkerut. “Istanbul.”

Aylin mengangguk.

“Kakek meninggalkan kita lebih dari sekadar petunjuk. Ini… sebuah misi.”

MARKAS RAYYAN – MALAM

Langkah kaki bergema di atas marmer hitam, menggema pelan seperti bisikan rahasia yang tak ingin dibangunkan. Aylin melangkah masuk bersama Akay, matanya menyapu ruangan megah bergaya maskulin itu—elegan, penuh detail yang terasa... berbahaya. Aroma kopi hitam dan kayu oud menguar samar, membaur dalam udara yang nyaris terlalu sunyi.

Di ujung ruangan, Rayyan duduk tenang di kursi kulit gelap. Jubah panjangnya jatuh sempurna, membingkai sosoknya yang karismatik sekaligus menakutkan. Di sisi kirinya berdiri Andi, sosok dingin dan misterius yang diam seperti bayangan. Tak jauh dari mereka, duduk Zayn—putra Rayyan, mengenakan kemeja hitam yang serasi dengan sorot matanya yang tajam. Di samping Zayn, seorang pria tua dengan sikap tenang dan mata penuh kewaspadaan duduk membisu—Buntala, mantan intel sekaligus mertua Zayn.

Di sisi kanan, layar raksasa menyala. Siluet wajah muncul, hanya bayangan gelap dengan sorot mata yang menyala. Neil--pimpinan mafia yang ditakuti.

"Neil sudah online," ucap Rayyan, tanpa menoleh.

Aylin menahan napas. Ini bukan sekadar pertemuan. Ini... konsolidasi keluarga bayangan.

Akay berdiri tegak di tengah ruangan. Cahaya dari layar menorehkan siluet tajam di wajahnya. Rayyan dan Andi menanti dalam diam, seperti hakim yang menanti saksi kunci bicara.

“Kami menemukan petunjuk,” ujar Akay akhirnya, suaranya berat dan tegas. “Sebuah kota tua, terkubur dan terlupakan oleh waktu. Tapi... bukan oleh kita.”

Andi menyipitkan mata. “Di mana?”

“Istanbul,” jawab Akay. “Perpustakaan Tertutup. Tempat yang tak tercatat dalam sejarah, tersembunyi di reruntuhan kota bawah tanah—Konstantinopel. Dulu pusat kekaisaran, kini bayangan masa lalu. Tapi di bawah tanahnya... ada sesuatu yang seharusnya tetap tersegel.”

Sorot mata Rayyan bertemu dengan Neil yang diam di layar. Ketegangan menyelimuti udara.

Akay menatap Rayyan, mantap. “Kami butuh akses. Perlindungan. Segala sumber yang kalian miliki. Karena di dalam perpustakaan itu—ada sesuatu yang terkunci selama bertahun-tahun. Dan liontin Aylin... itu kuncinya.”

Sunyi menggantung. Hanya suara perangkat elektronik yang mengisi ruang hening dan detak jantung Aylin yang semakin keras terdengar dalam kepalanya.

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Lusiana_Oct13
super super keren 👍👍👍😍😍😍
꧁꒰✨N̊ån̊å K̊i̊år̊å✨ ꒱꧂: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Lusiana_Oct13
ah kerennn lah makasih thor Nana 🙏🤩
꧁꒰✨N̊ån̊å K̊i̊år̊å✨ ꒱꧂: Sama-sama Kak 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Lusiana_Oct13
Terlalu byk bacot padahal bisa melumpuhkan musuh dr tadi 🤭
Lusiana_Oct13
Dicoba aja ay mana tau berhasil efek samping gk separah yg di prediksikan 😆
Lusiana_Oct13
Akhirnya terungkap juga siapa pria bertopeng 🤣dah ilang penasaran kk na wlpn tak kenal juga 🤣🤣🤣🤣
Lusiana_Oct13
Udah di bab 87 masih juga blm di bongkar siapa peria bertopeng 😆😆😆 kejam nana buat penasaran
Lusiana_Oct13
Ni mah gilaaaaaaa para ilmuan emg benar genius
Lusiana_Oct13
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kyk mana masang ny
Lusiana_Oct13
huuuuuuuuuuuuuuu bc sambil nahan napa di jam 4 pagi 🤣🤣🤣🤣🤣
Lusiana_Oct13
Pasti ni org kenal aylin dan org terdekat sekitaran aylin cara dia menyebut nama aylin kyk bukan org jauh 🤭 sotoy shaya nya gara penasaran
Lusiana_Oct13
kata lg blackout kok dron bisa berterbangan ???
Lusiana_Oct13
siapa peria bertopeng itu??? kenapa gk ada pada mau nyerang ??? buat rmosi aja 🤣🤣🤣
Lusiana_Oct13
Ternyata 5 org ni masih rapat sampul makan gorengan 🤣🤣🤣🤣 kirsin udah terjun kelapangan ah kyk polisi India aja sllu datang keblekangan 🤭🤭🤭
Lusiana_Oct13
si buntala kemana ?? sniper yg bisa ngelidung alin juga pada kemana apa lg makan sambal terssi 🤣🤣🤣
Lusiana_Oct13
kalau di gabungkan jadinya DORTRQK DORTRAK ya na klo making banyak jadi kyk musik DORTRAK DORTAK DOR DOR TRAK TRAK TRAK DOR DORRRRRRR 💃💃💃💃
Lusiana_Oct13
Baca ini ngebayin drama korea K2 🤣🤣
Lusiana_Oct13
🤣🤣🤣😆🤣🤣🤣🤣😆
Lusiana_Oct13
ah disini ada buntala si daddy super protective
Lusiana_Oct13
Yang sudah baca jagan lupa tingalin JEJAK, LIKE, VOTE , HADIAH. KOMEN DAN TONTON VIDEO 🤣 tu kaka² para author setiap di bawah bab di novel2 lain saya baca 🙏 padahal cerita nya bagus kenapa like nya pada sedikit sedih dech 😢
Lusiana_Oct13
Ayoooo lah ay kesi tau akay jgn ada rahasia gimana pun akay bisa mejaga km
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!