"Kami tidak bisa melihat masa depan dengan sempurna – kemampuan itu hanya dimiliki [Divine Insight]. Namun, kami menyimpan segala pengetahuan semesta. Sebagai hadiah untukmu, dan sebagai salam sampai jumpa dariku, kuberitahu kau satu hal: Mengesampingkan Edenia, makhluk terkuat dalam semesta adalah Vermyna Hellvarossa dan Fie Axellibra. Namun, di antara semuanya, hanya kau saja yang bisa menyerap semua Supreme Magic tanpa memerlukan Air Ethereal ataupun Throne of Heaven. Bahkan, kau bisa meraihnya... pendewaan tanpa Throne of Heaven."
—"Mother of Nature" to Xavier von Hernandez—
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Near, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2: Promise, part 5
Xavier memiringkan sedikit kepalanya ke kiri menghindari kepalan tangan kanan Heckart, pada saat yang bersamaan ia memiringkan tubuh mencoba mendaratkan tendangan menyamping dengan kaki kanan ke sisi kiri tubuh remaja berambut hitam panjang itu.
Heckart yang memiliki postur lebih tinggi menggunakan tangan kiri menahan tendangan menyamping Xavier, kemudian menaikkan kaki mencoba menendang dada anak beriris merah darah itu. Posisi Xavier yang tidak menguntungkan membuatnya tak bisa menghindar. Ia pun menyilangkan tangan kanan di depan dada menahan tendangan Heckart.
Dhuak!
Xavier terlempar ke belakang belasan langkah, tetapi masih dapat menyeimbangkan dirinya dengan baik.
Namun, Heckart tak berniat menunggu. Remaja itu lekas melesat ke arah Xavier berniat kembali menyerang.
Xavier menggemeretakkan gigi-giginya karena harus terpaksa menggunakan mana.
Acceleration dan Enhancement ia terapkan pada tubuhnya. Kemudian ia menyambut pukulan tangan Heckart dengan tangannya. Mereka bertukar pukulan untuk beberapa saat. Setiap pukulan dan tendangan Heckart dapat ditahan dengan baik oleh Xavier. Dan sebaliknya, setiap serangan Xavier dapat diblok dengan efisien oleh Heckart. Pertarungan yang tadinya menguntungkan Heckart, kini berlangsung seimbang.
Tak jauh dari mereka berdua, Monica memfokuskan kedua tangan menjaga stabilitas lingkaran sihir biru gelap. Di atas lingkaran sihir itu terbentuk bola air berdiameter satu meter. Bola itu tak bulat sempurna, Monica masih berusaha membuatnya sempurna.
Beberapa langkah di samping Monica, Menez duduk dengan tenang di dalam tujuh lingkaran sihir yang berbeda warna. Lingkaran-lingkaran sihir itu berada di atas satu sama lain dengan jarak beberapa centi dari tiap-tiap lingkaran sihir. Semuanya melingkupi tubuh Menez. Saat ini, itu adalah level tertinggi yang bisa Menez capai: sihir ilusi tujuh lapis.
Di sisi Monica yang lain, Elena duduk dengan tenang di depan belasan boneka tanah. Kedua tangan Elena bergerak lincah, membuat semua boneka-boneka itu ikut bergerak. Namun, gerakan boneka-boneka itu sangat lambat. Elena harus berjuang dengan sangat keras untuk membuat benda-benda itu bisa digunakan dalam pertempuran.
Di sudut lain ruangan, Jose meliuk-liukkan tubuhnya dengan sebuah pedang besar bermata ganda bergagang coklat di tangan. Masih banyak gerakan-gerakan yang percuma dalam setiap ayunan pedangnya, juga masih terdapat banyak celah dari gerakan-gerakan itu. Jose masih harus menghabiskan banyak waktu untuk menguasai teknik-teknik dasar berpedang.
Di dekat pintu ruangan bawah tanah itu, Evillia duduk santai di singgasana kayunya memandang keenam anak tersebut.
Tujuh bulan sudah berlalu sejak ia pertama kali bertemu dengan mereka. Dibandingkan dengan waktu itu, saat ini keenam anak itu sudah banyak berkembang. Dari mereka berenam, hanya Xavier dan Menez yang merupakan Magic Master. Elena dan Monica adalah Magic Caster. Sementara, Jose adalah Magic Knight, anak itu sama sekali tak bisa melakukan Manipulation. Di sisi lain, Heckart bisa melakukan Manipulation, tetapi hanya sampai tingkat dasar.
Namun begitu, Evillia cukup yakin kalau Heckart dapat memanfaatkan hal itu dengan baik untuk membuatnya lebih unggul dari Magic Knight yang lain. Terlebih dia memiliki sihir elemental angin, meski itu hanya sebelah mata di mata Magic Caster, setidaknya jika diasah dengan baik maka akan menjadi pendukung dalam pertarungan Heckart. Meskipun peluangnya sangat kecil, tetapi Evillia punya harapan agar Heckart bisa mengikuti jejak Gilbert von Herakles, satu-satunya Magic Knight di seluruh Islan yang dapat mendominasi para Magic Master tingkat tinggi.
Mereka berenam bisa membentuk tim yang sangat solid. Normalnya, Heckart sebagai yang tertua lebih cocok untuk memegang peran ketua. Namun, di sini Xavier lebih cocok menjadi ketua dibandingkan remaja yang suka dengan tombak itu.
Evillia tak keberatan untuk menjadikan mereka sebagai pasukan utamanya dalam beberapa tahun ke depan, tetapi sebelum itu ia harus memenangkan pertarungan kecilnya dengan Evana. Kalau Evana sampai mendapatkan tubuhnya secara permanen, usahanya dalam melatih keenam anak itu akan sia-sia.
“Aku akan menjadi penguasa tunggal dunia ini,” batin Evillia melihat keenam anak itu menyelesaikan latihan mereka dan berjalan ke tempatnya duduk.
Evillia menyembunyikan senyum jahatnya di balik ekspresi tegas dan sedikit angkuh. Melihat mereka seperti melihat pasukan elitenya yang sedang berkembang. Meskipun ia masih belum tahu apa tujuan dari Evana memintanya mengajari mereka, itu tidaklah berarti apa-apa; Evillia akan memanfaatkan apa yang bisa ia manfaatkan. Janjinya pada ibunya, Evillia akan melakukan segalanya untuk memenuhi itu.
“Guru Evillia,” sapa Monica, yang lainnya sedikit membungkukkan kepala memberi hormat.
Evillia tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak melengkung angkuh. Monica dan yang lainnya sudah mulai memanggilnya “guru” sejak empat bulan yang lalu, hanya Xavier yang masih belum memanggilnya guru. Kendati begitu, Evillia tahu anak berambut merah gelap berpakaian serba hitam itu menaruh rasa hormat padanya. Hanya masalah waktu sampai dia ikut memanggil dirinya guru.
“Kalian sudah cukup berkembang,” ucapnya, “tetapi saat ini hanya Xavier, Heckart, dan Menez yang bisa mengalahkan lima prajurit Kerajaan Elf secara bersamaan. Sayangnya, Evana tidak mengizinkan kalian untuk meninggalkan rumah pohon ini meski cuma sebentar. Manusia tidak dilarang berkeliaran di jalan-jalan ibukota, tapi dia juga tidak mengizinkan kalian menampakkan diri ke luar. Mengapa begitu?” tanya Evillia sedikit penasaran. “Aku bisa saja mengabaikan perintah nenek tua itu dan membawa kalian keluar dari sini untuk melihat bekas desa kalian, tapi itu tergantung pada jawaban kalian.”
Xavier mengernyitkan kening. Ia tidak suka dengan apa yang baru saja Evillia katakan. Meski dirinya sangat ingin melihat desa, ia tak bisa pergi dari sini dan meninggalkan Monica begitu saja. Penguasaannya terhadap sihir unik miliknya sudah berkembang pesat, dengan sihir itu ia bisa keluar dari rumah pohon ini dengan mudah.
Namun, Monica…. Xavier tidak bisa meninggalkan gadis itu. Selain karena dia adalah teman baiknya, Xavier masih mengingat pesan ayahnya. Monica, ia akan melindungi gadis itu. Karenanya, Xavier tidak bisa menahan diri dari memandang tajam wanita yang telah banyak berjasa atas perkembangannya.
Ekor mata Xavier melirik Monica. Seperti dirinya, Heckart dan yang lainnya juga memandang gadis berambut pirang itu. Pertanyaan itu...tidak ada yang pantas menjawabnya selain Monica. Mau memberitahukannya atau tidak, itu sepenuhnya hak Monica.
“Ada apa? ?alian tidak cukup memercayaiku untuk mengatakan alasannya?”
Monica memandang teman-temannya satu per satu, dimulai dari Xavier dan berakhir pada Menez.
Jika ia sendirian, sudah pasti Monica akan memberitahu Evillia. Namun, Xavier dan yang lainnya telah bersamanya dan menerima keberadaannya. Mereka tidak peduli jika dirinya hanya akan membahayakan mereka; mereka tidak peduli jika salah satu penyebab desa itu dihancurkan adalah karena dirinya.
Oleh sebab itu, Monica tidak bisa langsung memutuskan. Tidak apa-apa jika dirinya yang celaka, tetapi ia tidak ingin melibatkan Xavier dan yang lainnya.
“Maaf,” jadilah Monica berkata, “aku tidak bisa memberitahukan hal itu padamu, Guru.”
Evillia mengibaskan tangan kanannya. “Kalau begitu aku tidak perlu melanggar perintah Evana,” gumamnya. “Namun, aku bisa menunjukkan situasi desa itu saat ini. Walaupun kalian tidak diizinkan ke sana, setidaknya kalian bisa mengetahui kondisinya saat ini. Bagaimana, kalian tertarik?”
“Tolong tunjukkan pada kami!” seru Monica, wajahnya dan yang lainnya penuh harap.
Senyum tipis berkembang di bibir Evillia. “Masuk, Camelia,” perintahnya.
Beberapa detik setelah itu, pintu ruangan bawah tanah terbuka. Seorang elf wanita dewasa dengan tubuh proporsional yang dibalut pakaian bermobilitas tinggi serba hitam dengan wajah yang ditutupi topeng yang juga hitam melangkah ke dalam. Wanita itu memiliki rambut seputih salju panjang yang diikatnya dengan model ekor kuda. Di masing-masing pinggangnya tergantung sebuah pedang pendek, tidak salah jika itu disebut belati.
“Tunjukkan pada mereka, biarkan mereka melihat tanah asal mereka.”
“Sesuai perintah Anda, Nona.” Wanita yang dipanggil Camelia itu berdiri di kanan Evillia, tangannya terarah ke tembok kanan ruangan.
Seketika, sebuah lingkaran sihir putih berdiameter satu meter muncul di permukaan dinding . Dan, tak lama setelahnya, terlihatlah pemandangan yang mengerikan di mata Monica dan yang lainnya.
Desa Carnal yang dulunya indah dan damai, hanya tersisa reruntuhan. Baik Desa Carnal Timur maupun Barat, semuanya sudah rata dengan tanah. Terlihat puluhan pekerja dan prajurit yang sedang membersihkan reruntuhan-reruntuhan bangunan. Sebuah bangunan baru sudah berada di sisi terbarat desa, bendera Kekaisaran Vermillion berkibar angkuh di puncaknya.
Kemudian gambar berpindah ke tempat yang familier di mata semuanya: pemakaman. Xavier dapat melihat makam-makam baru yang bertambah menemani makam-makam yang ada. Bedanya, ukuran makam-makam yang baru itu cukup besar, tak salah lagi di dalamnya dipenuhi puluhan mayat.
Tangan Xavier terkepal erat; melihat itu membuatnya ingin membunuh si Emperor saat ini juga.
Melihat makam-makam besar itu membuat harapan-harapan yang tersisa di hati Xavier dan yang lainnya pudar. Meskipun Zie sudah mengatakan kalau kemungkinan ada yang selamat dari mereka-mereka yang menetap di desa itu mustahil, saat itu mereka masih bisa berharap. Tetapi setelah melihat makam-makam itu… harapan itu hanya akan menyesakkan relung dada mereka. Tak ada harapan lagi; penduduk desa telah dibantai oleh Imperial Army.
“Tidak biasanya Emperor Nueva memerintahkan hal yang seperti itu,” komentar Evillia. “Desa-desa yang lain tidak ada yang bernasib seperti desa kalian, mengapa bisa seperti itu?” Evillia membawa tangan kanannya ke bawah dagu, menerka-nerka alasan sang Emperor. “Apa yang Emperor inginkan dari pembantaian itu? Tidak mungkin itu dilakukan tanpa alasan; pasti ada sesuatu yang ingin orang itu dapatkan. Kemungkinan besar, hal itu berhubungan dengan kalian.”
Xavier sontak mengarahkan pandangannya pada Evillia. Keningnya kembali mengernyit begitu melihat senyuman jahat sang elf berambut ikal panjang seputih salju itu. Meski ia harus mengakui kalau senyuman jahat itu sangat indah, sorot mata gadis itu berkata sebaliknya.
Evillia mendaratkan pandangannya pada Xavier yang memandangnya tajam. Biru langit bertemu merah darah, keduanya saling beradu merebut supremasi. Senyum jahat Evillia melebar, kernyitan di kening Xavier bertambah.
“Kau masih terlalu muda untukku, Xavier,” gumam Evillia dengan nada jenaka. “Mungkin dalam delapan atau sepuluh tahun lagi aku akan mempertimbangkan perasaanmu,” Evillia tak lupa mengedipkan sebelah matanya, menambah efek perkataannya.
“Hmph!” dengus Xavier, mendelik tajam pada wajah arogan Evillia.
Evillia mengedikkan bahunya, memandang wanita di sampingnya. “Kau bisa menghentikan sihirmu, Camelia. Itu sudah cukup.”
Camelia seketika menghentikan sihirnya.Ggambar desa itu memudar, dan lingkaran sihir itu menghilang. “Kalau begitu hamba mohon undur diri, Nona Evillia.”
Evillia mengangguk, wanita bertopeng hitam bernama Camelia itu pun melangkah ke luar ruangan.
“Apa kalian masih berminat ke sana?” tanya Evillia, memandang intens Monica dan yang lainnya.
“…”
Tak ada yang menjawab pertanyaan itu, bahkan Monica menutup mulutnya rapat-rapat. Xavier sendiri tidak peduli dengan gambar yang ditunjukkan sihir elf bernama Camelia itu; apa pun yang terjadi ia pasti akan ke desa itu. Jika ia tidak bisa menemukan buku sihirnya, setidaknya ia akan mencari tahu makam ibu dan ayahnya.
Evillia bangkit dari singgasananya, singgasana itu langsung menghilang menjadi serpihan-serpihan mana lalu menghilang. “Hari ini cukup sampai di sini, kita lanjutkan besok.” Evillia tak menunggu respons yang lain; ia langsung berbalik lalu berjalan keluar ruangan.
Xavier memandang datar punggung elf bertubuh mungil itu cukup lama. Irisnya baru berpindah menuju Monica tatkala wanita itu tak terlihat lagi. “Monica…?”
Monica memandang ke arahnya, tersenyum kecil. “Sebaiknya kita juga kembali,” ucapnya lalu melangkah pergi.
Satu per satu mereka melangkah ke luar, menyisakan Xavier seorang diri di dalam. Xavier menghela napas pelan, lalu berjalan menutup pintu. Kemudian ia kembali berjalan ke tengah-tengah ruangan.
Xavier menghirup napas dalam-dalam, dan perlahan-lahan tubuhnya melayang. Sejauh ini, Xavier hanya menunjukkan sihir api hitamnya di depan semuanya, sihir uniknya ia rahasiakan dari mereka semua. Kemungkinan, yang tahu tentang sihir uniknya hanyalah Zie, Em, dan En. Meskipun ia tidak pernah melihat rupa Em dan En, Xavier yakin kalau mereka juga adalah vampire seperti halnya Zie.
Xavier merentangkan kedua tangan, dua buah lingkaran sihir kecil berwarna merah muncul di masing-masing telapak tangan. Semburan api merah keluar dari masing-masing lingkaran sihir. Whussssss! Kedua semburan api itu menabrak dinding di kedua ujung ruangan, membuat api merah itu menyebar ke segala arah.
Perlahan-lahan api merah itu menjadi oranye, lalu kepadatan api itu meningkat menjadi dua kali lipat, membuat ruangan dipenuhi bunyi tabrakan api dan dinding.
Xavier mempertahankan apinya selama yang ia bisa, tetapi dinding itu sama sekali tak meleleh bahkan setelah lima menit berlalu.
Xaviet mengganti posisinya dari berdiri melayang menjadi duduk dengan kaki terlipat. Kedua tangannya menyatu, dan seketika tubuhnya diselimuti mana abu-abu gelap.
Sekarang saatnya ia melanjutkan latihan sihir uniknya. Meskipun ia masih belum memberinya nama, setidaknya ia sudah tahu sebagian besar fungsinya. Salah satunya, dan yang paling berbahaya, ia dapat mematikan sesuatu yang hidup—tetapi tidak dapat menghidupkan sesuatu yang mati.
Namun, itu memerlukan jumlah mana yang cukup banyak dan memberikan tekanan yang menyakitkan ke jantungnya. Untuk membunuh seekor semut saja ia memerlukan seperempat kapasitas mananya, bagaimana jika ia mengalamatkan sihirnya pada makhluk yang lebih besar?
Pantas saja Zie tidak terbunuh saat itu, dan ia sungguh bersyukur dirinya tidak mati juga saat itu. Kemampuan yang satu itu, Xavier tidak akan pernah menggunakannya. Selain karena itu berisiko untuk membunuh dirinya sendiri, itu memerlukan mana yang sangat banyak.
Tentu saja Xavier tahu kalau itu disebabkan oleh kontrol mananya yang masih tidak ada apa-apanya dibandingkan Zie dan Evillia. Mungkin saja jika kontrolnya sudah selevel mereka, ia akan dapat menggunakan kemampuan itu sebagai kartu as-nya. Tetapi sampai saat itu tiba kemampuan itu tidak bisa dipakai.
“Setiap kekuatan yang hebat memang memiliki bayaran yang hebat pula,” gumam Xavier, memejamkan mata.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Edited.
gas maraton, buat nambah referensi. apalagi ini udah tamat.
• Stabilitas Pembaruan: ★★★★★
• Pengembangan Cerita: ★★★★★
• Desain Karakter: ★★★★★
• Latar Belakang Dunia: ★★★★★
Ulasan: Yes, sama dengan pemikiran pembaca yang lainnya, saya juga merasa ini adalah salah satu Novel terbaik yang pernah saya baca dalam hidup saya.
Dan alasan saya memberikan bintang lima untuk semua kriteria tersebut alasannya jelas.
Untuk kualitas penulisan: Author (Against The World) sendiri memiliki gaya penulisan yang berbeda dengan banyaknya Author pada umumnya, selain kata-kata nya yang terkadang memiliki makna tersirat di dalamnya, Author juga memiliki cara tersendiri untuk membuat penjelasan secara detail tanpa mengurangi atau melebihi makna yang terkandung di dalam penjelasannya tersebut.
Untuk stabilitas pembaruan: Kalian bisa cek sendiri tanggal kapan Author (Against The World) meng-upload setiap chapternya, dan itu menunjukkan bahwa dia hampir sama sekali tidak absen untuk meng-upload setiap chapter perharinya.