Retno punya semua yang diinginkan oleh gadis seusianya, kedua orang tua sempurna, harta dan kehormatan. Hidupnya sangat bahagia dan disiplin, ayah bilang disiplin membedakan manusia dengan binatang. Sejak kelas dua sekolah dasar saat bangun tidur Retno tidak boleh keluar dari kamarnya sebelum membereskan tempat tidurnya, kelas tiga ayah memeriksa kerapihan tempat tidurnya.
"Kerapihan tempat tidur akan mengubah duniamu dan menentukan siapa dirimu" pesan ayah selalu.
Saat kedua orang tuanya meninggal Retno tak tahu apa yang harus dilakukan sampai dirinya bertemu dengan Keanu Hartono
"Retno....maukah kau ikut denganku.?" Keanu menghembuskan nafas panjang, antara yakin dan tidak dengan ucapannya namun kata ajakan itu sudah meluncur dari bibirnya.
Retno menatap wajah didepannya, tak ada senyum disana kecuali sepasang mata yang menatapnya serius. Retno menimbang kesungguhan dalam tatapan itu, Retno hanya bertemu Keanu beberapa kali itupun tanpa komunikasi karena biasanya ia datang menemui ayah. Retno hanya tersenyum dan mengangguk jika bertemu sebagai tanda penghormatan pada tamu ayahnya. Sekarang laki-kaki ini mengajaknya tinggal dirumahnya.
Keanu Hartono adalah seorang CEO NSP Bank yang terpaksa turun lapangan untuk mengatasi Kredit Macet seorang pengusaha daerah yang telah meninggal dunia bernama Bintoro Aldi ayah Retno. Keanu tahu betul apa yang terjadi dengan keluarga tersebut termasuk menyaksikan bagaimana ekonomi keluarga tersebut pelan-pelan hancur. Keanu juga menjadi saksi gadis yang dulunya ceria itu pelan-pelan kehilangan senyumnya. Gadis ABG yang membuat dunianya jungkir balik!
Bagaimana nasib membawa Retno dan adiknya, ikuti kisah ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part-18 Mahasiswa Baru
Hari pertama mengikuti ospek adalah perkenalan sesama siswa, seniornya ramah-ramah. Bertabur senyum disana-sini, sangat menyenangkan. Duduk rapi disebuah aula sambil mendengarkan para dosen memberikan arahan bagi semua mahasiswa baru dari pagi hingga hampir malam. Shely sering terlihat mengantuk, ia paling tak tahan diam sambil mendengar orang bicara. Itulah kenapa ia ambil jurusan pariwisata, biar bisa kelayaban ke seantero jagad raya. Retno sering menyenggol lengan Shely agar tidak ketiduran begitupun sebaliknya, dibangku-bangku sudut juga terlihat mahasiswa mengantuk. Manusia memang paling lemah dalam mendengar, padahal diciptakan dua telinga dan satu mulut. Artinya manusia harus mendengar dua kali untuk satu kali bicara. Telinga selalu terbuka dan mulut selalu tertutup, artinya manusia harus selalu mendengar tapi tidak harus selalu bicara. Hari ini sungguh hal yang sangat membosankan dan melelahkan bagi Shely, rasanya otot di kakinya tegang semua karena terus duduk, tidak ada pergerakan.
" Haduuuh Retno, aku mending disuruh berenang dikolam yang ada buanyanya daripada disuruh duduk seperti ini. Kepalaku sudah berkunang-kunang nih, kamu lihat bintang-bintang nggak keluar dari bola mataku" Shely melebarkan bola matanya dengan kedua jarinya.
"Sabar, ntar lagi juga selesai" bujuk Retno.
"Kalau ada batang korek api udah kuganjel kelopak mata ini..." Shely mengganjal kelopak matanya dengan kedua jarinya.
"Haiii....jangan berisik ya dan dilarang mengantuk, mau merasakan dinginnya air kamar mandi?" salah satu senior yang badannya paling tinggi mulai ganas, membuat mata mahasiswa yang tadinya sayu melebar dengan paksa.
"Huuuh itu mulut pinginnya kuremes ya biar gak ngomel aja" Shely menatap gemas.
"Ssst..." Retno menaruh telunjuk dibibirnya agar Shely diam.
Ospek hari kedua masih tetap indoor, para senior berbaris sesuai Fakultas masing-masing, kemudian mahasiswa baru dibawa kesuatu ruangan dan diberi pengetahuan tentang IQ, SQ dan EQ acara selesai di siang hari. Setelah makan siang dan sholat dhuhur acara dilanjut kelapangan, setiap kelompok diberikan tugas untuk membuat sebuah karya tulis dengan tema 'Kenapa memilih jurusan pariwisata'.
Ospec hari ketiga Retno dan Shely berangkat dari kos jam 06:00 WIB namun sampai pintu gerbang perut Shely mules, Retno menunggu Shely buang hajat diclosed satpam kos hampir 30 menit. Akhirnya keduanya minta pak satpam mengantar sampai kampus dengan terpaksa boncengan bertiga, untung masih pagi sehingga belum terlihat polisi lalu-lalang. Ternyata sampai kampus tetap telat, semua kelompok sudah berbaris rapi. Setelah diceramahi para senior akhirnya Shely dan Retno tetap mendapat hukuman masing-masing 10 kali push up dan dihitung oleh kelompok masing-masing dengan suara riuh. Sungguh pagi yang penuh tantangan, keduanya selesai hitungan kesepuluh dengan tubuh mandi keringat. Setelah presentasi hasil karya tulis masing-mading kelompok para mahasiswa baru mendapat pengarahan bagaimana hari pertama masuk kampus.
Semua mahasiswa di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung mengenakan seragam setiap harinya. Dasi dengan pin dasi, ditambah nametag dan pin wonderful Indonesia yang harus melekat di baju kemeja setiap harinya.
"Yeileh...kita kuliah pakai seragam lagi Retno, ditambah dasi dan nametag. Sudah seperti pegawai hotel aja" Shely menggaruk kepalanya yang berkeringat.
"Dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA, pakai seragam sekarang kuliah juga masih pakai seragam pula bro" komentar mahasiswa lainnya sambil ngedumel.
"Kenapa sih pade berisik. Kuliah pakai seragam keren kok, bangga gue. Pulang kuliah pakai uniform, biar di angkot bisa dibedain mana mahasiswa mana copet. Soalnya kan nggak ada copet pakai seragam, ntar ketahuan. Ya nggak bro" Krisna tertawa geli.
"Ingat ya, kalo sampe ngampus gak pake nametag siap-siap kena ancaman SP (Surat Peringatan), teguran lisan, sampe disuruh pulang dan gak diperkenankan ikut kelas sehingga kehilangan beberapa SKS dan bisa mempengaruhi IPK" jelas senior meyakinkan.
"Yeileh...galak amat bro, seperti hukuman tentara lari dari medan perang saja" celetuk mahasiswa baru.
"Komentar siapa tadi, ayo kedepan" dua orang senior menbawa mahasiswa dalam kelompok Retno.
"Siapa namamu?" tanya senior, bukannya menjawab Fadly malah membusungkan dadanya, menunjukkan nametag-nya.
"Siapa namamu?" ulang senior.
"Nih ada namanya" Fadly kembali membusungkan dadanya, mahasiswa baru pada cekikikan.
"Diam, apa siap push up 20 kali" bentak senior berkulit hitam.
"Berani kamu ya" kata senior yang lain.
"Apa alasanmu meledek kami, mau dikeluarkan dari kampus ini?"
"Kan saya cuma bilang galak doang, emang beneran galak kok kakak senior, masak orang jujur dilarang" Fadly menjawab santai.
"Heh kamu, push up sepuluh kali. Sekarang!" Fadly dikerubuti kakak senior yang lain.
"Sabar bro, perintah siap dilaksanakan!" Fadly memulai push up nya dengan dihitung oleh kakak-kakak senior.
"Dikit-dikit push up, kalah AKMIL."
"Shel, diem sih ntar Lu kena push up 20 kali" Retno memperingatkan.
"Kan tadi pagi udah sama Lu" Shely membekap mulutnya sendiri karena terkikik.
"Untuk mahasiswa tidak boleh ada poni menyentuh alis, kuku panjang, jenggot, cambang harus rapi. Untuk wanita, harus rajin mandi dan pakai lipstick agar kuliah tidak pucat. Pokoknya tiada hari tanpa disiplin. Satu lagi, jangan lupa pakai parfum biar gak badeg. Paham?" kakak senior sedang membacakan tata tertib hari pertama kuliah.
"Kalau laki-laki boleh mandi sehari sekali, itupun kalau inget. Sumpah, apalagi di Bandung kan pagi-pagi dingin" mahasiswa sebelah Shely terkikik.
DISIPLIN! Itu yang ditekankan kepada mahasiswa. Jadi individu yang rapih, tepat waktu, santun dan cerdas. Greeting "Selamat Pagi/Siang/Sore/Malam". Itulah budaya sekolah pariwisata, menyapa dengan ramah. Namun jangan kaget juga kalo ketemu Mahasiswa yang mukanya kusut dan nggak greeting sama sekali, berarti dia lagi nyusun skripsi atau tugas akhir. Manusia, tidak luput dari kesalahan dan beban hidup, jadi mohon maklum seperti wajah kakak-kakak senior ini hanya pasang wajah ramah dihari partama, itupun setengah hari. Selanjutnya ganas-ganas seperti belum ketemu manusia selama setahun!
......
Sehabis sholat isya Retno merapikan mukenanya. Matanya sudah tinggal lima watt, baru saja merebahkan kepalanya dibantal ketika mendengar ponselnya bergetar. Vcall, ketika digeser dilayar ada wajah Keanu yang sedang tersenyum. Mendadak rasa kantuk Retno terbang entah kemana, Retno tersenyum sumringah. Sudah dua hari mereka tidak berkomunikasi, Keanu sedang ada bisnis penting ke Spanyol.
"Assalamualaikum, Bagaimana kuliahmu?"
"Waalaikumssalam, Alhamdulillah semuanya lancar dan baik."
"Bagaimana teman-teman barumu?"
"Menyenangkan, mereka lucu dan kompak."
"Ada cowoknya?"
"Adalah, masak cewek semua macem sekolah asrama putri aja" Retno terkekeh.
"Ada yang ganteng nggak?"
"Ada dong, mereka baik-baik"
"Semoga gak ada yang naksir kamu" Keanu tertawa
"Kakak, jangan mulai ya" Retno menggelengkan kepalanya, tidak terpikir olehnya pertanyaan Keanu.
"Ya kan bisa ganggu konsentrasi belajar kamu sayang."
"Masyasllah, tidak akan Kakak-ku."
"Terus dosen-dosennya gimana?"
"Alhamdulillah, baik dan ngajarnya enak."
"Dosen cowoknya ada yang keren nggak?"
"Keren-keren dong, kan sekolah pariwisata"
"Ada yang gangguin kamu gak?"
"Kakaaak....kenapa sih itu aja yang dipikirin. Gantian sekarang aku yang bertanya, bagaimana hubungan Kakak dengan Evelin yang cantik itu masak Kakak gak tertarik padanya?"
"Evelin ya....hmmm, cantik sih mirip Gigi Hadid yang model profesional itu. Kamu mau tahu kebenarannya...?"
"Kakak, jangan membuatku penasaran" Retno tak sabar menunggu jawaban Keanu.
"Dia sekretaris handal, Evelin tahu apa yang harus dilakukan tanpa Kakak banyak menjelaskan, dia sangat profesional..."
"Lalu?"
"Penasaran ya? Evelin dan Kakak hanya memiliki hubungan profesional, dia sudah memiliki suami dan seorang putri cantik bernama Natasha, puas...?" Keanu tergelak melihat wajah Retno yang tadinya tegang berubah.
Retno terdiam mendengarkan penjelasan Keanu, laki-laki itu mengatakan kata profesional dua untuk Evelin. Menjelaskan betapa pintarnya Evelin. Pikiran Retno melayang, lupa sedang vcall. Keanu selalu berhubungan dengan orang-orang profesional sedangkan dirinya bukanlah siapa-siapa, kuliah saja baru semester-1. Kadang ia bingung, apa yang membuat Keanu mencintainya...?
"Retno, kok diam saja. Kamu melamun ya, Retno..." Keanu mengulang panggilannnya dua kali tapi gadis itu masih diam, seperti ada yang dipikirkannya.
"Ya Kakak" jawab Retno tergagap.
"Ada apa denganmu?" Keanu mengangkat alisnya.
"Tidak apa-apa, hanya berpikir."
"Berpikir tentang apa?"
"Untuk menjadi profesional seperti..."
"Retno, setiap orang memiliki kemampuannya masing-masing. Kamu memiliki keterbatasan begitupun Kakak, kamu tidak harus seperti orang lain untuk menjadi profesional."
"Ya, aku banyak kelemahannya Kakak."
"Justru itulah kelebihanmu, aku tidak berharap kamu bisa melakukan apa saja untukku. Aku mencintai manusia karena aku juga memiliki kelemahan. Ketulusanmu sulit ditemukan pada dunia tempat aku hidup, dimana setiap hal diukur dengan untung dan rugi."
"Lalu...?" Retno sungguh terharu, Kakak sungguh pandai berkata-kata.
"Lalu....aku ingin menikahimu saat kamu siap, kita akan memiliki satu sama lain. Tak terpisahkan hingga ketemu lagi di surga, Kakak yakin kamu akan membukakan pintu surga itu untuk kita" Keanu tersenyum lembut.
Setelah itu keduanya diam, hanya saling menatap dilayar ponsel. Retno terdiam, dadanya berdesir. Tiba-tiba ia merasa begitu dekat dengan Keanu, begitu mengenalnya dan siap menikah kapan saja. Tapi, mungkinkah semudah itu? Retno takut kehilangan, seperti yang ada di mimpinya. Keanu menghilang dan Retno sendirian dalam kegelapan. Bagaimana seandainya Keanu benar hilang, mungkin Retno tak ingin hidup lagi.
"Kakak akan kembali ke Swiss dari Barcelona malam ini?" Retno memulai pertanyaan dengan dada gemuruh.
"Catat nama pesawat dan nomor penerbangannya ya, Germanwings 9525."
"Alhamdulillah, semoga urusan Kakak lancar dan kembali ke Swiss dengan aman" doa Retno sembari mencatat nama pesawat dan nomornya.
"Daaaa sayang, belajar yang rajin ya. Semoga semuanya lancar dan apa yang kamu cita-citakan tercapai. Jaga diri untukku, Assalamualaikum."
"Waalaikumssalam, hati-hati Kakak daa"
"Muaaah" Keanu memberikan kissbye."
Masyaallah indahnya hidup ini, setelah semua yang dilewati hari ini Retno bisa merasakan kebahagiaan itu. Kuliah dan memiliki kekasih seperti Keanu. Kakak selalu mengatakan semuanya akan baik-baik saja, ia begitu pandai menenangkannya. Dia orang besar, masalah baginya hanya seperti serpihan kapas yang diterbangkan angin. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Pemimpin adalah seseorang yang melakukan hal-hal besar yang dianggap sulit oleh orang biasa.
.......
Assalamualaikum
Vote & Comment agar ceritanya update
Terima kasih atensinya.
Salam
Semoga bisa diterima 🤭