Jonathan Li, kehilangan tunangannya, Wen Xia, secara tragis hingga membuat laki-laki kaya dan tampan itu berubah menjadi sosok iblis kejam dan dingin. Karena obsesinya terhadap sosok Wen Xia, Jonathan menyebut dirinya sebagai Pygmalion, membuat patung Wen Xia, dan selalu berkata akan menghidupkannya.
Sautu hari, mobil Jonathan secara tidak sengaja menabrak Liu Lian. Gadis malang yang dijadikan pelunas hutang keluarga pada seorang rentenir. Dia memiliki wajah sangat mirip dengan Wen Xia. Jonathan kemudaian memaksa Liu Lian untuk menjadi Wen Xia.
Sebuah cerita tentang kekejaman, intrik, serta pembalasan dendam yang diwarnai cinta dan tragedi. Yang kuat adalah penguasa, sementara yang lemah akan tertindas bahkan mati sia-sia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoemi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu
Tubuhku bergetar melihat sosok yang memperhatikanku dari kejauhan. Rasanya seperti mimpi. Aku melihat ayahku. Ini pasti tidak nyata. Aku terlalu banyak berpikir. Namun kenapa aku setakut ini? Apakah ini bukan sekedar ilusiku?
"Ayah? Siapa?" Jonathan menanyaiku. Sepertinya tadi dia mendengar ucapanku.
Aku tak mampu menjawab pertanyaan Jonathan. Sekujur tubuhku sudah gemetaran disergap rasa takut. Aku sudah terjatuh jika Jonathan tidak segera memegangiku.
"Apa yang terjadi? Kau sakit?" Jonathan kembali bertanya.
Aku menggigit bibirku. Air mataku hampir tumpah. Ada keringat dingin yang menyembul dari pori-pori kulitku. Bahkan, di pelipisku kurasakan peluhku menetes.
"Ayahku ... aku melihat ayahku," ucapku disertai kecemasan.
"Di mana?"
"Di sana ..."
Jariku menunjuk ke sebuah arah tempat ayah tadi berdiri. Namun aku terkejut, dia sudah tidak ada lagi. Aku memutar ke sekeliling. Sosok ayah sudah tak kutemukan.
"Yang mana?" Jonathan memastikan. Di arah yang kutunjuk hanya ada ada beberapa wanita yang sedang berbincang.
"Sudah tidak ada ..." jawabku lesu. Jonathan tampak meragukan ucapanku.
"Percayalah, tadi dia ada di sini," aku berusaha meyakinkan.
Jonathan menatapku lekat-lekat. Membuatku diselimuti ketakutan. Sepertinya aku tidak bisa luput dari kemarahannya nanti.
"Kita pulang sekarang," ucap Jonathan.
"Tapi pestanya?"
"Sudah tidak penting lagi," suara Jonathan terdengar datar tapi tegas.
Aku hanya bisa mengekor ketika Jonatan menarik tanganku. Dengan cepat kami sudah berada di luar gedung. Tadinya ada beberapa orang yang mencoba menahan kami agar bisa lebih lama berada di jamuan. Namun Jonathan tak menggubris mereka.
"Katakan, kenapa kau ketakutan?" tanya Jonathan dalam perjalanan pulang. Dia mengemudi dengan kecepatan sedang.
"Karena ... aku melihat ayah," jawabku jujur.
"Kau yakin itu ayahmu?"
"Iya, aku tidak mungkin salah mengenali ayahku sendiri."
"Apa yang sudah dilakukannya padamu dulu?" selidik Jonathan.
Aku terdiam. Bingung harus memberi jawaban apa yang paling tepat. Jika salah berucap, iblis dalam diri Jonathan pasti bangkit lagi.
"Ceritakan sedetail mungkin padaku!" perintah Jonathan. Nada khas penguasanya sudah muncul.
Aku menarik napas dalam. "Aku sudah pernah menyinggungnya. Aku adalah adalah anak haram yang tak diinginkan. Ayah dan istrinya terpaksa mengasuhku setelah ibu meninggal."
"Teruskan!"
"Tak ada yang memperlakukanku dengan baik. Ayah terlalu takut pada istrinya. Apa yang dikatakan istri dan anaknya selalu dituruti ayah. Mereka sering memfitnahku. Membuat ayah selalu marah dan salah paham padaku."
Aku mengenang masa lalu. Hal menyakitkan yang ingin sekali kulupakan. Aku selalu berharap tak bertemu lagi dengan ayah dan yang lain. Orang-orang dari masa lalu memberiku kenangan pahit.
"Bagaimana mereka menyiksamu?" Jonathan meliriku sekejap.
Aku memperhatikan ekspresi Jonathan sebelum memberi jawaban. Wajahnya masih tenang. Tak menyiratkan emosi yang meletup.
"Istri ayah paling sering menamparku. Saudara tiriku ... kadang memukul atau mendorongku hingga jatuh. Ayah sendiri, sebernya dia belum pernah memukulku. Hanya saja, ayah selalu marah-marah, berkata kasar, dan sering mengumpatku. Mengataiku anak jala*ng yang tidak berguna dan merepotkan."
Mataku mulai terasa panas. Dalam dada, rasanya berat dan sesak. Aku tak dapat menahan diri. Air mataku pelan menjalar.
"Apa yang kau tangisi? Orang-orang yang memperlakukanmu dengan buruk?"
Kuseka air mataku dan mengatur napas. Berusaha agar diriku tetap tenang dan tidak terbawa suasana.
"Tidak. Aku menangisi diriku sendiri yang terlalu lemah," ucapku dengan pandangan menerawang jauh.
"Besok, ceritakan semua perlakuan mereka secara detail pada Paman Wu!"
"Untuk apa?" tanyaku spontan.
Menceritakan masa lalu sama halnya mengorek luka. Aku sungguh tidak ingin melakukan hal itu. Saat ini saja, rasanya aku sudah kesulitan bernapas karena kenangan buruk itu kembali membayang.
"Mulai sekarang, tidak ada yang boleh menindasmu selain diriku. Siapapun yang berani menyakitimu, akan mendapat balasan yang lebih kejam."
Aku tak percaya kalimat itu terlontar dari mulut Jonatan. Apakah itu artinya dia akan melindungiku? Atau sebuah penegasan bahwa dia adalah "tuanku". Satu-satunya orang yang berhak atas hidupku. Orang bisa memperlakukanku sesuka hatinya dan harus kupatuhi.
Aku hanya bisa diam mematung. Tak tahu bagaimana harus menanggapi ucapan Jonathan. Kalut sudah menyelimuti perasaan dan pemikiranku sendiri ....
sdh membuat kisah yg sll kereeeennnnn..
ditunggu kelanjutan kisah sean yaa..juga kisah yg lainnya.
mangaaaattttt...
luuuuvvvvv....puuuuullll.
😁 baru nyampe sini... nyicil ya bacanya..
aku lanjut dulu...