NovelToon NovelToon
ISTRI KE 13

ISTRI KE 13

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Mimi Zee

Azimah gadis lulusan SMA yang harus berkorban demi kehormatan keluarganya. ia harus rela menjadi istri muda seorang pria kaya yang sudah kepala lima.

Dalam menjalani kehidupan poligami ia harus mengikuti serentetan peraturan yang merantai kebebasannya. Namun dengan keteguhan dan kecerdasannya ia dapat mengubah pemikiran suaminya dan para istri yang lain. Ia harus bertahan dan menunggu kebebasan dirinya datang dengan sendirinya tanpa melanggar norma-norma agama maupun hukum.

Di tengah kehidupan poligami yang menyiksa batinnya, ia bertemu dengan seorang pengacara tampan yang kemudian mendiami hatinya. Mampukah ia bersatu dengan pengacara tampan itu tanpa kata "selingkuh" ataukah ia memilih setia pada suaminya yang sah. Atau justru berlari dari kehidupan yang pelik.

Novel ini penuh dengan drama, skandal dan intrik para tokohnya. penuh misteri juga peristiwa tak terduga. Bagaimana akhir kisahnya???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimi Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Varun Yang Gila

Aku melihat Mbakyu sedang duduk bersantai menikmati kopi di gazebo pinggir kolam renang. Kurasa ini waktu yang tepat untuk bicara dengan Mbakyu. Aku membawakannya cemilan yang kubuat bersama Tina tadi pagi, onde-onde.

"Cobain Mbakyu" Kataku.

Mbakyu menyambut baik pemberianku. Bahkan ia makan dengan lahapnya. Aku masih mencari waktu yang tepat untuk ngomong. Aku sedikit grogi.

"Mbakyu, Mehmed belum pulang?" Tanyaku.

"Belum, mungkin masih ada tugas di sekolah" Jawabnya santai.

Aku sebenarnya sedikit takut. Tapi rasanya ada yang mengganjal jika tidak memberitahu Mbakyu. Dia akan menyesal jika terjadi sesuatu yang tidak baik yang seharusnya masih bisa dicegah.

"Mbakyu, sudah pernah dapat telepon dari sekolah?" Tanyaku mengawali. Semoga berhasil.

"Sekolahnya Mehmed?"

"Hm"

"Pernah, tapi gak kuangkat, biasa lah mereka pasti minta sumbangan lagi. Udah tiap tahun dikasih sumbangan masih aja minta. Nglunjak kan?"

"Ehm, maksud saya telepon yang membicarakan ..... Mehmed" Sekujur tubuhku rasanya panas ketika mengatakan ini.

"Mehmed? Kenapa Mehmed?" Kaya Mbakyu, mungkin ia benar-benar tidak tahu.

"Belakangan ini Mehmed sering bolos"

Mbakyu terperanjat. Ia menatapku tajam. Ia belum pernah menatapku seperti itu. Aku takut. Sungguh.

"Darimana kamu tahu?"

"Ehm...aku.." Aku bingung untuk menjawab. Jika aku menjawab sejujurnya jika aku ke sekolahnya, ia pasti bertanya untuk apa. Jika aku menjawab aku peduli pada Mehmed, apa itu namanya gak ikut campur. Tapi toh Mehmed anak tiriku, berarti aku punya kewajiban menjaganya kan.

"Mehmed selalu diterpa berita miring dari orang-orang yang ingin menjatuhkan keluarga kita. Tak perlu heran. Jangan mudah percaya" Lanjut Mbakyu.

"Aku datang ke sekolahnya kemarin" Kataku.

Dia menatapku lagi seolah tak percaya. Mungkin omonganku kurang meyakinkan.

"Kenapa?" Tanya Mbakyu heran.

"Hm, aku mampir saja, tapi ternyata, dia tidak di sekolah"

"Maksudmu?"

"Menurut guru BK nya, dia akhir-akhir ini sering tidak masuk tanpa keterangan" Pelan-pelan kusampaikan padanya.

"Ah, guru itu lagi. Dia memang sentimen dengan Mehmed. Sudah jangan urus itu. Tak perlu khawatir. Akan segera kubereskan" Nada bicara Mbakyu agak lebih tinggi.

"Apa nggak sebaiknya Mbakyu ..."

"Itu tanggung jawabku, jangan ikut campur" Bentak Mbakyu.

Jika sudah berkata demikian dengan nada tegas, berarti aku sudah tidak boleh menyentuh wilayahnya. Seharusnya aku tidak usah bilang apapun ke Mbakyu. Seharusnya aku tahu dia gak mungkin terima hal ini. Bodohnya aku.

Aku masih menahan sedihku sampai Marni dan Tina keluar kamarku setelah membereskan kamar. Aku menahan sesak semalaman. Aku menyesal ikut campur urusan mereka hanya karena aku peduli masa depan Mehmed. Aku malu. Sungguh. Apalagi kedua pelayan Mbakyu juga di sana saat aku dibentak. Sinta yang sedang memantau pekebun pun juga ikut menyaksikan peristiwa itu. Oh ya Tuhanku.

***

Hari ini semua tampak sibuk. Dapur penuh dengan para pelayan. Beberapa pelayan membersihkan rumah yang begitu luas. Ada pula yang di depan sedang mengatur taman. Malam nanti dijadwalkan Romo akan pulang. Kami sedang menyiapkan hidangan yang Romo sukai. Romo menyukai hidangan tradisional. Para koki sedang mempersiapkan itu.

Aku hanya duduk di pinggir kolam, tempat favoritku sambil baca buku. Mbakyu sedang memantau persiapan hari ini. Aku tidak berani mendekatinya sejak peristiwa itu. Meskipun ia kelihatan sibuk. Sedangkan Jenny sibuk merawat dirinya. Dia tidak punya kegiatan lain selain itu. Dan itulah hobinya disamping belanja dan travelling. Orang kaya mah bebas.

Di atas sana, kulihat Mehmed sedang tertawa-tawa dengan telepon di telinganya. Aku yakin ia sedang berbicara dengan gadis itu. Sudahlah Azimah, jangan pedulikan lagi. Urusi saja dirimu, bisik batinku. Aku takut membayangkan peristiwa kemarin terulang lagi.

Senja begitu cepat tiba. Semua istri sedang berdandan demi menyambut kedatangan Romo. Termasuk aku. Aku masih berdiam diri di kamar menanti maghrib tiba. Aku belum dandan seperti Jenny. Percuma. Sebentar lagi maghrib, bedakku akan hilang kena air wudhu nantinya. Tetapi aku sudah menyiapkan busana mana yang akan kukenakan sore ini.

"Nyonya, untung saja Nyonya belum dandan" Kata Tina dengan gaya bicaranya yang masih kekanak-kanakan.

"Kenapa?" Tanyaku.

"Ada keterlambatan pesawat, jadi Romk datangnya agak telat" Kata Tina.

Syukurlah. Masih ada waktu beberapa jam menikmati kebebasanku. Sehabis sholat maghrib kedua pelayanku mendandaniku. Setelah itu aku turun, dan dari kamar seberang, keluarlah Jenny beserta kedua pelayannya. Ia tersenyum memandangku.

"Halooo Adik Azimah... cantik sekali. Apalagi kalau dipoles lebih wow dikit huuu pasti yang kusambut malam ini bukan Lestari tapi yang ada di depanku ini" Puji Jenny padaku.

Tapi aku tak percaya. Dia hanya membual agar aku mau bergabung dengannya suatu hari nanti untuk mengikuti hobinya. Sayangnya aku tidak tertarik.

Kami turun bersama. Di bawah sana ada Mbakyu yang melihat kami berjalan berdua. Mengetahui bahwa Mbakyu sedang melihat kami, Jenny malah semakin merapat denganku, bahkan ia merangkulku seolah kami sangat akrab. Aku tahu, itu untuk memanas-manasi Mbakyu. Mbakyu hanya melihat kami sebentar lalu beralih pandang. Mimik wajahnya masih tetap datar.

Terus terang aku tidak suka diperlakukan seperti itu oleh Jenny. Jika harus memilih, aku lebih suka memilih Mbakyu. Dia lebih ramah padaku sekalipun menurutku dia juga menyimpan rahasia yang sewaktu-waktu akan meledak.

Di dalam rumah cukup ramai karena para pelayan yang menata meja perjamuan. Sementara di luar cukup sepi. Aku kini berada di pinggir kolam renang. Entah kenapa aku suka area ini. Tenang, sejuk, damai. Nanti aku akan bergabung dengan mereka di dalam setelah Romo benar-benar datang.

Aku memandang lurus di depan. Di sanalah waktu itu aku melihatnya. Melihat ia bersujud menghadap kiblat. Di sanalah aku melihat Varun dari kejauhan. Aku membayangkan seandainya dia ada di sini saat ini. Kupejamkan mataku membayangkan ia ada di sampingku. Hanya itu yang bisa kulakukan. Aku tahu aku telah menduakan suamiku. Tetapi diapun sama. Dia bukan hanya menduakanku, tapi mengempatkanku.

"Azimah... Nyonya Azimah" Sapa lembut seseorang.

Aku terdiam. Suaranya begitu nyata.

"Nyonya...Azimah" Sapanya lagi karena aku tak merespon.

Aku mencoba membuka mata. Aku menoleh. Ya Allah, apakah ucapanku memang bertuah? Siapa lelaki di depanku ini? Oh Ya Robby...dia benar-benar muncul di hadapanku. Dia, Varun, ada di sini. Jantungku serasa berhenti.

"Apa kabar Nyonya Azimah" Dia berkata lagi. Sudah ketiga kalinya dia berucap da aku masih melongo tak percaya.

"Ah, oh baik....kenapa Pak Dosen bisa ada di sini..." Aku salah tingkah.

"Aku bersama Bayu"

"Oh jadi dia yang mengajakmu?"

"Tidak, aku yang mengajaknya"

"Apa?"

"Sudah kubilang aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, aku ingin memastikan pria tua itu tidak menyakitimu"

"Sudah kubilang jangan khawatir. Aku bisa menjaga diriku"

Kami terdiam beberapa saat.

"Kenapa kamu tidak ikut ke Bali?"

"Ha?"

"Aku ada di Bali bersama suamimu, tapi rupanya kamu tidak ikut serta" Katanya.

"Ini giliran istri yang lain yang mendampingi Romo. Kenapa kamu cari aku?" Jawabku.

"Untuk mengobati lukaku. Kamu seperti....obat sekaligus racun untukku"

"Hah?"

"Lukaku bisa sembuh dengan melihatmu, tapi melihatmu membuat aku sakit lebih dalam. Kamu seperti candu"

"Jangan membuatku tertawa"

"Tolong aku" Kata Varun seolah tak membiarkanku berbicara lebih banyak.

Aku yang semula menunduk terpaksa mengangkat kepalaku menatapnya.

"Apa?"

"Lepaskan aku dari bayanganmu"

"Hm?

"Apa kamu bahagia?"

Aku masih menatapnya dengan pandangan penuh tanya.

"Kamu bahagia menikah dengan pria tua itu?"

"Stop Varun, jangan menyerbuku dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh itu" Suaraku bergetar karena aku sedikit membentakknya. Aku bisa menangis jika saja tidak menyadari tempatku sekarang.

Varun terdiam. Seolah ia memberiku kesempatan berbicara dan dia siap mendengarkan.

"Kamu pikir aku kegirangan dinikahi pria kaya seperti dia? Aku masih muda kamu pikir aku sudah tidak waras apa nikah sama pria yang lebih pantas jadi ayahku? Kamu tidak tahu apa-apa Varun. Jadi tolong jangan mengorek masalahku"

"Sampai kapan....kamu bertahan"

Suara Varun tetap tenang meski aku sudah membentaknya.

"Aku tidak tahu. Aku hanya menunggu takdir berpihak padaku"

"Bagaimana jika takdir itu aku?"

Dia selalu menggunakan kalimat yang sulit kucerna dengan cepat.

"Aku rasa aku jatuh cinta" Kata Varun.

Aku kembali menatapnya. Mencari setiap jawaban di bola matanya.

"Aku jatuh cinta pada perempuan yang sudah menjadi milik orang lain. Apakah aku dosa? Jika aku dosa, kenapa Tuhan menumbuhkan cinta ini di hatiku?"

"Apa kamu yakin itu cinta? Bukankah itu hanya ketertarikan sesaat"

"Aku tidak tahu, tapi aku yakin kamu pun juga begitu"

"Ha?"

"Jangan berbohong. Matamu mengatakan begitu sejak bertemu di kampusmu"

Ya, dia benar, aku merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan. Tapi aku menutupi semuanya. Karena takut. Karena bimbang. Karena ragu. Entahlah.

"Kamu tidak sadar sedang bicara dengan siapa"

"Saya tahu, istri muda dari orang terkaya di Lombok. Aku bisa mengalahkannya jika kau mendukungku"

"Berpikirlah dengan waras"

"Jawablah pertanyaan ku, maukah berjuang bersamaku?"

"Apa?"

"Aku akan melindungimu"

"Bagaimana jika aku tidak mencintaimu?"

"Tidak apa. Aku tidak butuh balasan. Aku hanya butuh melindungimu"

Kami terdiam. Hanya saling menatap. Matanya menyelam di mataku begitupun aku. Dia tahu perasaanku. Ya, Varun. Kamu benar.

Ceklek.

Pintu rumah akses ke kolam renang terbuka. Jenny muncul dari sana dengan langkah anggun bak modelnya.

"Rupanya di sini, ayo Adik Azimah, semua diminta berkumpul" Katanya.

Jenny kemudian melihat ke arah Varun, tentu saja ia bertanya-tanya kenapa bisa ada bersamaku.

"Oh Mas Varun juga ada di sini"

"Mbak Jenny, Pak Varun ini dosen tamu di kampusku" Kukatakan begitu agar terlihat pantas ia berada di sini.

"Oh ya..?" Kata Jenny dengan nada kagum.

"Hmmm dan dia menawarkan nilai yang tinggi padaku"

"Wow apa imbalannya?"

"Dia minta kucarikan jodoh"

"Oh hahhahah... Carikan saja Adik Azimah, teman-teman kampusmu mungkin cocok" Kata Jenny dengan tawa gelinya.

"Ngomong-ngomong Mas Varun ingin yang seperti apa?" Lanjut Jenny.

"Yang seperti Nyonya Azimah"

Seketika aku memandangnya. Kenapa dia menjawab sebodoh itu. Benar-benar nekat.

"Oh.....kalau begitu jadilah seperti Romo dulu hahahaha" Kelakar Jenny.

Jenny menggandeng tanganku mengajakku pergi ke dalam rumah. Dalan situasi sesempit itu, Varun masih sempat memegang tanganku pelan. Namun hanya sebentar. Varun benar-benar gila.

***

1
Zeldaa ༼⁠✩
keren cerita nyaa
momy luqy_
keren kaka..q suka ceritanya. ngga ad yang q skip deh pokoke👍😘
momy luqy_
Luar biasa
kiwicream
ceritanya bagus banget kak. bener2 antimainstream beda dari yg lain. sampe q begadang buat dengerin ini saking penasarannya
bunda DF 💞
bagua banget ceritanya,, bukan ttg ceo,, bukan ttg bucin"an,,, ttg poligami yg ruwet,, perebutan harta,, tp dikemas dgn keren n bikin penasaran
ossy Novica
dari sana saja bandot tua itu tak sadar juga ., sudah berapa orang istrinya meninggal
ossy Novica
jangan alasan poligami sebagai sunnah Rasul. Kebajakan itu di salah gunakan . Contohnya Romo , wanita hanya sebagai budak nafsu kalo tak berguna di ceraikan tampa apa2 Dia ngak sadar , sudah banyak istri tapi susah dapat keturunan , mungkin Allah sayang sama si anak ka4na itu di ambil cepat dari pada menderita nantinya.
ossy Novica
Varun tidak bisa di percaya ,berhati hatilah Imah ....
ossy Novica
jangan nampakkan rasa tak suka ,berhati hatilah Imah
Endah Windiarti
bagus banget ceritanya
Yuyun Haryanto
Jd baper bacanya Thor. ikutan 😭😭😭
Yuyun Haryanto
azimah biarpun tdk mencintai Romo tp dia tetap baik dgn Romo. dia sll ingin mencari keadilan tanpa memanfaatkan untuk kepentingan sendiri. azimah sosok yg tulus, cerdas.
Hera sasuwe
suka ceritanya menarik
Yuyun Haryanto
ternyata Halimah licik jg
Yuyun Haryanto
iih kok jg ngeri yah. tiap mimpi JD kenyataan. dulu wkt disekap digudang jg. manggil jg datang. sprt saling terkoneksi tanpa telepon.
Yuyun Haryanto
ternyata cinta itu buta yah Varun. GK ngeri apa menghadapi Romo ?
Yuyun Haryanto
ceritanya bagus Thor. gk bisa bayangin hidup serumah dgn 4 istri.
Asinan May
kereeeennnnn
xandn.na
bagus banget
Isnay Maulani
maacih thor 🙏
cerita baguuusss...
seruuu...
sukses trs tuk karya2nya 💕💕💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!