tiga tahun sudah pernikahan kita...Dipaksa menikah di usia muda ketika kita masih duduk di bangku SMA..
Tak ada kontak fisik. Di rumah seperti orang asing. Aku tahu Aksa memiliki ke kasih tapi apa salah ku. Hingga batas kesabaran ku hilang juga.
"Kak Aksa aku ingin gomong".
"Kalau ngomong ya ngomong aja Bintang".
"Kak mari kita berpisah".
Apa Aksa mengabulkan permintaan Bintang. Atau mempertahankan pernikahannya ???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vita no, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Aksa
Setelah semalam acara dadakan kumpul keluarga usai, pagi ini kami ngumpul untuk sarapan. Seperti biasa kami sarapan dengan tenang. Hanya dentingan sendok yang terdengar.
Akhirnya sesudah sarapan kami berkumpul di ruang keluarga. Kebetulan hari ini hari minggu.
"Bagaimana kalau hari ini kita jalan ke pantai. Kan enak dua keluarga bisa jalan sama sama. Bagaiman Din?"
"Boleh juga Ratna. Kita juga sudah lama nggak jalan bareng. Kebetulan sekali kan aku disini."
"Benar Din!" Mommy harap kamu juga ikut Aksa. Sekalian bawa Bintang jalan jalan ke pantai."yang hanya dianggukkan oleh Aksa.
"Ok, yuk kita siap siap."ucap mommy Aksa.
Setelah selesai siap siap. Kami akan jalan menuju kepantai. Kedua orang tua kami memakai satu mobil yang sama. Sementara aku dan kak Aksa memakai satu mobil. Sebelum kami mau pergi, orang tua Tia dan Tia juga mampir ke rumah mommy Aksa.
"Eh mau kemana ni jeng Ratna?"
"Kami mau jalan ke pantai bu Sekar."
"Boleh dong kami ikut, biar tambah rame gitu jeng."
"Ya sudah. Silahkan bu Sekar."
Mereka akhirnya menuju kemobilnya. Dan mengikuti kami ke pantai. Dan jadilah tiga mobil yang pergi jadinya.
"Kak Aksa bisa Tia ikut sama kakak?"
"Mending kamu sama orang tua mu Tia."setelah mengucapkan itu, Aksa menghidupkan mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan Tia yang bengong.
"Tia ayuk naik. Ngapain kamu bengong disitu. Apa kita nggak jadi ikut aja!"
"Nggak ma. Tia juga ingin ikut."
Didalam mobil Aksa aku memulai omongan dengan kak Aksa biar nggak canggung dan diam aja.
"Kenapa kak Aksa nggak biarkan aja Tia ikut kita tadi kak?"
"Malas."
"Ooo."jawabku cemberut. "Kenapa susah kali sih ngajak bicara kulkas 40 pintu ini."gumam ku dalam hati.
"Jangan mengumpat kakak dalam hati mu Bin. Dosa loh ."
"Ah, dari mana kakak tahu ?"tanya ku dengan bengong.
"Sudah jelas dari wajah mu itu Bin."ucap Aksa dengan senyuman yang tipis, sangat tipis sekali sehingga tak bisa dilihat oleh Bintang.
Aku menunduk malu karena kak Aks bisa baca fikiran ku.
"Kita singgah ke mini market bentar ya kak. Bintang ingin beli cemilan buat duduk di sana."
"Ya udah."yuk turun, kita sudah sampai di mini marketnya."
Aku turun dari mobil, tapi anehnya kak Aksa juga turun."kok kak Aksa turun juga. Emang ada yang mau kakak beli juga?"
"Kakak hanya mau pastikan saja. Apa kamu pakai kartu yang kakak berikan atau nggak. Soalnya kakak nggak pernah dapat notifikasi pemakaian kartu nga."
Aku hanya menunduk saja, saat kak Aksa ngomong pada ku. Tak terduga kak Aksa memegang tangan ku dengan lembut menuju mini market.
"Pilih mana yang mau di beli. Dan masukkan ke keranjang ini. Biar keranjangnya kakak yang dorong."
"Iya kak."ucap ku. Aku berjalan ke arah cemilan, sambil berjalan aku memilih milih cemilan yang ku beli. Tak disangka, keranjang yang didorong kak Aksa sudah penuh aja.
"Wah banyak juga jadinya ya, cemilan yang aku pilih. Maaf ya kak, Bintang khilaf kalau beli cemilan!"
"Buat apa minta maaf. Jika kamu selalu khilaf kalau beli cemilan, kenapa nggak ada notifikasi pemakaia kartu mu Bin!"
"Itu..itu.."
"Jangan bilang kamu pakai kartu kamu lagi buat beli kebutuhan kamu!"
"I iya kak. Bintang minta maaf kak."
"Ternyata kamu juga keras kepala ya Bin. Jika bulan ini nggak ada notifikasi pemakaian lagi, kamu akan kakak hukum. Ingat itu Bin."
"Emang hukumannya apa ya kak ? Kalau boleh Bintang tahu!"
"Emang kamu mau hukuman yang bagaimana?"
"Emang ada ya kak, hukuman yang bisa di request?"
"Tak."
"Duh kenapa jidat Bintang kakak sentil. Sakit tahu kak."
"Sudah bayar tu cemilannya."
"Iya iya."jawab ku sambil cemberut.
Setelah selesai membeli cemilan, aku dan kak Aksa naik ke mobil dan mobil dijalankan oleh kak Aksa menuju ke arah pantai. Sesampai di pantai. Aku melihat kedua orang tua kami dan juga orang tua Tiara juga Tiara duduk di pondok lesehan.
"Kemana sih menghilangnya kalian berdua?"
"Ini mom, Bintang membeli cemilan ini."
"Wah kamu bisa aja Bin. Kebetulan sekali kita sudah lama nggak seperti ini kan Din. Jadi ingat waktu kita sekolah dulu."
"Iya benar sekali Rat."
Dan kami menikmati suasana pantai dengan cemilan yang di beli Bintang. Serta memesan es kelapa muda.
Sedangkan aku bermain di tepi pantai. Sedangkan kak Aksa hanya berdiri di belakang ku. Hingga Tiara menyamperin kak Aksa.
"Kak kenapa sih aku nggak boleh nebeng dengan mobil kakak. Tia ingin sikap kakak seperti dulu lagi. Yang baik sama Tia."
Tapi ucapan Tia hanya dianggap angin lalu sama Aksa. Karena suasana canggung yang terjadi aku memcoba menjauh dari mereka, tapi nggak disangka, kak Aksa memegang tangan ku dengan lembut. Membawa ku ke mobil nya untuk pulang karena hari sudah mulai malam.
Kami akhirnya pulang juga kerumah, karena hari sudah mulai malam. Kami pulang kerumah dan orang tua Tia juga pulang kerumah mereka.
Sesampai dirumah kami pun membersihkan tubuh kami yang sudah lengket karena keringat. Setelah itu kami mulai makan malam bersama. Dan sesudah makan malam seperti biasa kami duduk diruang keluarga.
"Bin, besok pagi mama dan papa ada pertemuan dengan rekan bisnis papa. Setelah itu kami langsung ke Singapur ya sayang."
"Kok cepat kali sih ma, Bintang masing kangen loh sama mama dan papa."
"Bagaimana lagi Bin. Pekerjaan papa mu nggak bisa ditunda tunda."
Aku hanya bisa diam mendengar kata kata mama ku.
"Oh iya Aksa, mama dengar dari mommy mu, kamu terpilih untuk mendapatkan bea siswa ke Harvard Business School (HBS) di Cambridge, Massachusetts."
"Iya ma."
"Jadi apa kamu ambil bea siswanya."
Agak lama Aksa menjawabnya. Sebelum Aksa menjawab, dia sempat menatap Bintang. Setelah itu dia menjawab." Iya ma, rencana Aksa mau mengambilnya. Sekalian menambah ilmu di negeri orang."
"Bagus itu Aksa, papa medukung fikiran mu itu. Benarkan Ray ?"
"Iya Yon."
Aku hanya mendengarkan mereka bicara sambil menonton acara tv yang dihidupkan. "Jadi kak Aksa sudah menentukan pilihan masa depannya. Apa pernikahan ini akan berakhir ya. Jika pun berakhir itu lebih baik. Lebih cepat berakhir lebih cepat pula aku menentukan jalan hidup masa depan ku."gumam Bintang dalam hati.
"Kok kamu diam aja sih Bin. Apa kamu nggak tahu kalau Aksa dapat bea siswa ke Cambridge, Massachusetts."aku jawab ucapan mama dengan gelengan kepala.
"Mungkin Aksa lupa menyampaikannya sama kamu Bin."
"Iya ma."jawab ku sesingkat mungkin.
"Mana mungkin kak Aksa lupa, kak Aksa nggak kasih tahu aku hal yang membahagiakannya karena aku ini nggak penting. Jadi buat apa coba dia memberitahu aku. Mungkin hanya aku aja yang nggak tahu.uh."gumam ku dalam hati.
"Ya sudah, hari sudah larut malam. Sebaiknya kita tidur lagi."
"Iya mom, kalau gitu Bintang naik ke atas dulu ya mom, ded, ma, pa."
"Iya."jawab mereka serentak