Narko tak mengira jika kebahagiaan keluarganya di raih dengan cara yang tidak wajar, ia baru sadar setelah satu persatu saudaranya meninggal sebagai wadal pesugihan sang ayah. Apakah dia bisa melepaskan diri sebagai wadal berikutnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Tumbal
La ilaha illa Allah...La ilaha illa Allah...
Terdengar suara riuh warga sedang berdzikir, aku pun khusuk mengikuti pengajian itu.
*Dep!!
Tiba-tiba lampu padam membuat semua orang langsung terdiam.
" Ana apa kie (ada apa ini)??"
Tiba-tiba terdengar suara riuh warga yang kaget karena lampu tiba-tiba padam.
"Mati lampu kayane (sepertinya mati lampu),"
"Coba cek saklare, takute njeglek (coba cek saklarnya takut turun)!" seru Pak Karim
"Nggih pak!" seorang warga segera bangun dan berlari ke depan untuk memeriksa meteran listrik.
Tak lama pria itu kembali,
"Saklarnya gak turun kok, sepertinya ini mati lampu total pak RT, soalnya semua rumah warga juga padam!" ucap pria itu
"Yaudah kalau gitu beli lilin!" seru Pak Karim
Beberapa orang pemuda segera keluar untuk membeli lilin.
Para warga pun mulai riuh bergosip mengaitkan kejadian hari ini dengan kematian keluarga ku yang berturut-turut dan dianggap tidak wajar. Ditambah keluarga kami yang tidak mau melakukan tradisi tahlilan untuk mendoakan mereka. Tentu saja semua warga sudah bisa menebak jika keluarga kami menjalankan ritual pesugihan.
Melihat riuh para warga bergosip Pak Karim pun berusaha menenangkan mereka.
"Perhatian bapak-bapak, tolong jangan berisik. Acara pengajian akan kita lanjutkan meskipun mati lampu, sambil nunggu lilin datang mari kita lanjutkan dengan membaca istighfar bersama-sama!"
Semua warga langsung diam dan mengikuti semua arahan Pak Karim. Acara dilanjutkan meskipun tanpa penerangan. Tidak lama beberapa pemuda yang membeli lilin kembali. Mereka segera menempatkan lilin-lilin itu ke beberapa titik untuk menerangi ruangan.
Para warga mulai tidak konsen, sehingga membuat Pak Karim menghentikan tahlil sementara sampai semua lilin menyala.
Sekarang ruangan kembali terang setelah semua lilin menyala. Namun baru saja acara akan di mulai kembali, tiba-tiba lilin-lilin itu padam Tentu saja hal itu membuat semua warga panik. Saat semua orang sedang panik untuk mencari penerangan aku justru melihat sosok Ibu sedang menggendong Zidni dan ditemani Dewi ada di acara itu.
Mereka menatap nyalang ke arah ku. Seperti marah padaku.
Aku berusaha beristigfar untuk menghalau mereka. Namun mereka tak kunjung pergi.
Aku semakin gemetar hingga keringat dingin keluar membasahi keningku.
"Astaghfirullah hal Adzim, Allahu La illaha illa huwal Hayul Qoyum...."
Saat aku berusaha membaca ayat kursi tiba-tiba semua orang langsung menatap tajam kearah ku.
Mereka mendekati ku perlahan dan berbisik di telingaku, "Ini salah kamu Narto, gara-gara kamu mereka semua mati!" seru mereka membuat ku terkejut hingga melempar buku yasin di tanganku.
Aku reflek berteriak dan menutup telingaku agar tidak mendengar ucapan mereka. Entah kenapa orang-orang di sana berubah menjadi pocong membuat aku semakin ketakutan.
"Arghhhh!"
"Mas, Mas Narto, Mas sadar Mas!!"
Tiba-tiba kurasakan seseorang mengguncang tubuhku. Saat ku lihat Pak Karim duduk di depanku sambil memegang bahuku.
"Istighfar Mas," ucapnya kemudian membimbing ku untuk beristigfar
"Astaghfirullah hal Adzim," ucapku dengan bibir bergetar
Tidak lama seorang wanita datang membawakan segelas air putih untukku.
"Minum dulu mas, biar tenang,"
Aku meraih gelas itu dan segera meneguknya hingga habis.
"Terimakasih,"
"Gimana sekarang, apa sudah tenang?" tanya Pak Karim
Aku mengangguk.
Tidak lama listrik pun menyala lagi, Pak Karim kemudian meminta warga untuk melanjutkan acara tahlilan. Para warga kembali khusuk berdzikir begitupun dengan ku. Baru beberapa menit tahlilan berjalan khusuk tiba-tiba kami dikejutkan dengan kedatangan bapak.
Malam itu bapak begitu marah saat mengetahui aku mengikuti pengajian. Ia bahkan melarang para warga untuk mendoakan ibu dan adik-adikku.
"Gak perlu repot-repot mendoakan anak dan istri saya, saya bisa sendiri mendoakan mereka!" seru Bapak saat Pak Karim berusaha menjelaskan kepadanya maksud acara tahlil malam itu
Namun bapak seolah kesetanan sehingga terus menyalahkan aku dan Pak Karim.
"Pokoknya aku tidak mau tahu, jika sesuatu terjadi lagi kepada keluarga ku, maka kalian yang harus bertanggung jawab, terutama kamu Narto!" pekiknya
Ia kemudian menyeretku untuk pulang ke rumah. Aku begitu malu dengan Pak Karim dan para warga yang sudah berbaik hati mah mendoakan ibu dan adik-adikku. Namun aku bisa apa, bahkan bapak langsung menarik lenganku saat aku hendak berpamitan dengan Pak Karim.
"Wis ora usah pamitan!" seru Bapak
Ku lihat Pak Karim hanya tersenyum kearah ku membuat aku semakin malu.
Ya Allah, sebenarnya apa yang terjadi dengan bapak, kenapa dia jadi begini.
*Brakkkk!!
Bapak langsung membanting pintu setibanya di rumah.
"Kamu itu, masih saja bikin ulah. Apa kamu mau semua keluarga kita mati!" hardik bapak
"Aku hanya ingin mendoakan ibu sama Adik-adikku saja pak, sumpah Narto gak punya maksud lain. Apalagi sampai membuat keluarga kita celaka!" jawabku
"Tapi caramu itu bisa membuat kita semua celaka!" teriak bapak dengan nada suara yang lebih tinggi dari sebelumnya
*Prang!!"
Seketika bapak terdiam saat mendengar benda jatuh dari lantai dua. Ia kemudian duduk di lantai dengan wajah muram.
Ku liat wajahnya begitu sedih, meskipun ia berusaha menutupinya.
"Sekarang kamu lihat sendiri akibat perbuatan mu Nang," ucapnya lirih
Aku buru-buru berlari menaiki tangga. Ku lihat Rere menangis tersedu-sedu di samping jenazah Neneng..
Aku langsung lemas melihat jenazah adikku.
"Mas, tadi mbak Neneng di kerubuti pocong, aku takut Mas!" seru Rere membuat aku semakin sedih
Ku peluk Rere yang tampak ketakutan.
"Jangan takut ya dek, ada Mas di sini. Aku akan melindungi mu dan Nadia, dimana dia sekarang?" tanyaku
Rere kemudian menunjuk kearah Ranjang.
Bola mataku seketika hendak keluar saat melihat Nadia tergeletak di ranjang bersimbah darah.
"Tadi Mbak Nad juga di kerubuti pocong sama kaya Mbak Neneng,"
Aku benar-benar tak mengerti kenapa semuanya bisa begini.
"Sekarang kamu masih mau melanjutkan acara tahlil itu?"
Tiba-tiba bapak berdiri di samping ku.
"Sebenarnya apa yang terjadi pak?" tanyaku penasaran
Malam itu bapak akhirnya menceritakan semuanya kepada ku. Ternyata benar bapak melakukan ritual pesugihan. Kamar misterius berwarna hijau itu adalah kamar khusus dimana bapak menemui sang lelembut yang memberi bapak kekayaan.
Sebenarnya aku begitu marah dan ingin meluapkan kemarahan ku kepada bapak. Karena begitu tega melakukan semua ini kepada kami. Tapi bagaimanapun juga bapak melakukan semua ini terpaksa. Demi membahagiakan keluarga kami, itu alasannya. Tapi apapun alasannya aku tidak bisa menerimanya. Bagiku ini adalah sebuah kejahatan dimana bapak sudah menjual keluarganya kepada makhluk gaib hanya demi harta.
"Sekarang terserah padamu Nang, kalau kamu pergi meninggalkan bapak ya silakan. Tapi meskipun kamu pergi ke ujung dunia sekalipun, kamu tetap akan jadi tumbal selanjutnya begitupun dengan Rere!" seru bapak
"Kamu pasti mati seperti mereka!" imbuh bapak
"Kenapa bapak tidak mengakhiri saja semua ini?"
"Bagaimana caranya??" tanya Bapak
"Kita minta bantuan Ustadz atau orang pintar?"
Bapak terdiam sejenak. Ia terlihat seperti sedang mengingat sesuatu.
"Kalau begitu sekarang juga kita harus pergi!" ajak bapak
"Tapi bagaimana dengan mayat Nadia dan Neneng?"
"Kita bawa mereka!"
ang sekaya apa tumbalnya koq begitu sering,udah kayak orang nyemil/ makan cemilan aja