Seorang pemuda yang misterius menyamar menjadi laki-laki culun, bertemu dengan gadis yang sedikit manja dan baik hati.
"Diam jangan bergerak nanti bakal aku lepaskan kalau kamu nurut."
"Afkar!" jerit Regita kaget.
"Shuttt..diam jangan teriak nanti orang tuamu dengar"
"Kenapa loe bisa masuk ke sini?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VivianaRV, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMG 18
Mereka berjalan beriringan, Afkar berjalan dengan biasa saja sedangkan Regita dia menatap was-was disegala penjuru.
"Kamu masih takut?" tanya Afkar.
"Enggak gue berani kok" tiba-tiba semak-semak disamping Regita bergoyang-goyang, sontak saja Regita langsung loncat di gendongan Afkar.
"Afkar itu apa yang dibalik semak-semak jangan-jangan itu suster ngesot" Regita menjerit histeris.
"Enggak mungkin lah suster ngesot disemak-semak suter ngesot itu adanya dirumah sakit tapi kalau di balik semak-semak itu suster ngesot berarti derajatnya udah turun sekarang."
"Udah mending loe cek dibalik semak-semak itu" suruh Regita.
"Gimana mau ngecek kesana kamu aja gelondotin aku kayak gini susah jalan nih" Regita langsung sadar akan posisinya yang berada di gendongan Afkar.
"Ohh....sorry enggak sengaja gue" muka Regita langsung bersemu merah.
"Bentar aku cek dulu kamu tunggu disini sebentar" Regita hanya mengangguk kepalanya sambil terus menunduk malu.
Srekk(suara semak-semak dibuka).
"Oh cuma kucing, aman Git enggak ada yang perlu ditakuti yang dibalik semak-semak itu anak kucing doang kok."
"Hah...anak kucing? mana gue mau lihat. Ih lucu banget sih kamu cing mau aku bawa pulang aja ah."
"Emang enggak dimarah sama orang tua kamu?"
"Enggak ngapain orang tua gue marah paling ya cuman ngomel dikit aja."
"Ya sama aja Git, eh BTW kamu jadi beli sate enggak?"
"Oh iya hampir aja lupa ayok beli, kucingnya aku tinggal sini dulu aja ya."
"Terserah kamu."
"Cingg loe disini dulu ya jangan jalan kemana-mana nanti gue kesini lagi bawa makan buat loe terus kita tinggal bareng" dibalas meongan.
"Iya hati-hati di sini ya."
"Emang tadi kucingnya ngomong apa?"
"Iya, dia bolehin gue pergi sebentar" mendengar ucapan Regita Afkar agak bergidik ngeri.
"Kamu udah lama kayak gini?"
"Kayak gini gimana?"
"Ngomong sama bintang."
"Sering banget, anjing pak Mamat aja sering gue aja ngobrol sama tuker pikiran."
"Sakit deh kayaknya kamu, kamu harus segera dibawa ke rumah sakit"
"Gue sehat wal afiat kok tidak kekurangan suatu apa pun."
"Terserah loe deh gue yang waras ngalah aja, ayo cepat jalannya keburu ramai nanti disana" mereka berjalan dengan sedikit berlari hingga sampai tujuan.
"Mulai ramai nih tempatnya ayo kita segera pesan Afkar" setelah memesan mereka duduk di atas trotoar sembari menunggu pesanannya jadi.
"Afkar loe kok tumben ad di komplek ini?"
"Iya gue nginap di rumah tanteku hari ini."
"Pantesan biasanya 'kan loe tinggal di tengah hutan. Eh ngomong-ngomong tinggal di tengah hutan seram enggak sih? ketemu banyak hewan buas enggak? sering dapet teror dari mahluk astral enggak 'kan biasanya di hutan banyak mahluk astralnya" Regita bertanya dengan antusias.
"Pertanyaannya apa perlu dijawab semua?"
"Perlu dong biar jiwa penasaran gue tidak meronta-ronta lagi."
"Ok aku akan jawab, kalau tinggal di hutan itu enggak seram menurut aku sih malah nyaman dan tenang, kalau ketemu hewan buas setiap hari aku bertemu dan juga ditempat tinggal aku itu tidak ada mahluk astral."
"Gue boleh nanya satu lagi enggak, please."
"Mau tanya apa lagi?"
"Disana apa aja kegiatan loe?"
"Kegiatanku disana ya seperti manusia pada umumnya."
"Enggak ada hal lain?"
"Kamu jangan memancing-mancing ya Regita kamu tidak ingat ancamanku pada malam itu" Regita langsung kicep.
"Eneng ini satenya udah jadi" teriak tukang sate.
"Makasih bang ini uangnya" saat akan memberikan uang Afkar menahan tangan Regita.
"Udah biar aku aja yang bayar, jadi semuanya berapa pak?"
" Eh enggak usah Afkar ini gue bawa uang sendiri."
"Enggak papa sekalian aja, berapa pak?"
"Semuanya seratus ribu" Afkar langsung mengeluarkan uangnya.
"Seharusnya loe enggak perlu bayarin sate gue."
"Udah enggak papa santai aja."
"Makasih loh ya udah dibayarin."
"Iya sama-sama" tiba-tiba Afkar berhenti berjalan dan mengawasi sekitar dengan waspada.
"Ada apa kenapa kok loe berhenti?"
"Shutt... kalau ngomong jangan keras-keras."
"Kenapa?"
"Aku ngerasa seperti ada yang mengawasi kita sedari tadi."
"Oh iya mana?" Regita langsung celingukan yang otomatis dihentikan oleh Afkar dengan memegang kedua bahunya agar menghadap kearahnya.
"Kamu jangan sampai memperlihatkan apabila kita tau dia sedang mengawasi kita, tetap tenang ok?"
"Orangnya bahaya enggak?" tanya Regita sambil berbisik.
"Bisa dibilang berbahaya" mendengar ucapan Afkar Regita langsung bergetar ketakutan.
"Tapi tenang aja selagi ada aku kamu enggak perlu khawatir dan takut, ayo kita jalan kembali seperti biasa jangan sampai memperlihatkan kepanikan kita" Regita menurut dan mengikuti langkah Afkar.
"Apa orangnya masih mengikuti kita sekarang?" tanya Regita berbisik.
"Masih dan sepertinya semakin mendekat, kamu bisa beladiri 'kan?"
"Bisa tapi enggak lincah-lincah banget."
"Gunakan itu sekarang, ayo kita serang dia" Regita dan Afkar yang semula berjalan membelakangi orang misterius itu langsung membalikkan tubuhnya. Ternyata benar mereka sedang diikuti disana ada dua orang berbadan besar dan memakai topeng.
"Sial sekali aku hari ini" gumam Afkar.
"Kamu siap git?"
"huum gue siap, gue lawan yang agak kurus dikit itu ya loe lawan yang badannya besar banget itu."
"Ok, ayo serang!" terjadilah baku hantam digang pada malam itu tapi kejadian itu tidak berlangsung lama karena ada beberapa warga yang mendengar keributan itu lalu membantu mengeroyok dua laki-laki berbadan besar.
"Huh huh rasakan itu makanya jangan cari gara-gara disini jadi benyokkan muka kalian, gimana rasanya pasti sakit?" Regita berbicara dengan nafas yang tidak teratur.
"Ayo kita serahkan mereka berdua ke kantor polisi" ucap salah satu bapak-bapak yang ikut mengeroyok tadi.
"Tidak usah pak biar saya saja yang mengurus mereka berdua" ucap Afkar menyela.
"Mau kamu apain mereka berdua ini?"
"Saya akan memberikan pelajaran yang setimpal kepada mereka, sebelum itu terima kasih atas bantuannya tadi."
"Ya sudah kamu hati-hati sama mereka, iya sama-sama anak muda" para bapak-bapak itu pun mulai pergi.
"Ini kiriman dari musuh loe?" tanya Regita.
"Mungkin iya tapi ini bakal aku selidiki lebih lanjut."
"Ternyata musuh loe banyak ya gue kira cuma Brandon aja musuh loe, sebenarnya seberapa berbahaya sih loe?" tanya Regita.
"Kamu tidak perlu tahu tentang itu."
"Kalau seperti itu lama-lama gue takut ada disekitar loe, nanti bisa aja mereka mengincar gue. Sepertinya lebih baik kita saling jaga jarak saja."
"Iya itu terserah loe aja" setelah Afkar berkata seperti itu Regita langsung berlari meninggalkan Afkar.
Brak(suara bantingan pintu yang sangat keras sekali).