"Karya ini merupakan karya jalur kreatif"
***
Tahun 2222 Masehi.
Kecanggihan teknologi telah mengubah kehidupan manusia bukan hanya satu atau dua, tapi secara keseluruhan. Tatanan kehidupan juga tidak lagi sama, karena manusia sudah ketergantungan akan teknologi - termasuk pendidikan.
Semua gedung sekolah telah lama tutup, tidak ada aktivitas untuk proses belajar mengajar. Lalu, bagaimana dengan anak-anak yang membutuhkan ilmu pengetahuan agar tidak bodoh?
"Kau punya uang? Beli pengetahuan! Karena di dunia ini, pengetahuan dapat diperjual-belikan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Tidak Suka
Di saat Reo sedang gencar melakukan inovasi dan penelitian untuk beberapa pekerjaan, keluarga David justru seperti sedang terpecah karena beberapa hal yang membuat mereka berbeda pendapat.
"Aku heran dengan Charles, bagaimana cara dia berubah begitu cepat? Dan perubahan itu, Mama tidak suka!" ucap Nyonya David dengan ketus.
"Mama maunya bagaimana? Charles yang menjadi anak pemalas, badung dan semaunya? Apakah Mama tidak suka jika Charles menjadi lebih baik seperti sekarang?" tanya David menanggapi kekesalan istrinya.
Mereka sedang mendebatkan tentang perubahan sikap putra mereka satu-satunya, yang kata mamanya terlihat berubah. Dan anehnya, perubahan sikap putranya yang lebih baik itu justru membuatnya kesal.
Adinati Simara menilai bahwa, Charles lebih cocok menjadi pemuda yang sedikit membangkang agar terkesan macho - cocok menjadi putra mereka yang kaya raya. Sementara sang suami - David Himam Rifaldi, justru merasa senang atas perubahan sikap putra mereka yang tentunya diinginkan menjadi penerus perusahaan keluarga pada suatu hari nanti.
"Pa, apa tidak sebaiknya Charles menjauh dari Reo itu?" Adinati Simara kembali meragukan dan mempertanyakan kemampuan Reo.
"Lho, Mama kan lihat sendiri bagaimana Reo kemarin, sewaktu makan malam?" David membalikan pertanyaan tersebut untuk istrinya.
"Ahhh, Papa! Mama itu cuma menghargai dia sebagai tamu undangan Papa, gak lebih!"
Ternyata sikap ramah dari Adinati Simara pada Reo malam itu hanya demi menjaga image keluarga mereka, dan bukan tulus dari hati. Sementara anak sulung mereka, dengan jelas memperlihatkan sikap datar tanpa mau beramah tamah dengan Reo.
David menggelengkan kepalanya - tidak percaya, saat mendengar alasan istrinya yang tidak menyukai Reo. Padahal Reo adalah sumber keuangan mereka saat ini, jika Reo ada dalam kendalinya.
"Ma, Mama itu seharusnya bisa bersikap baik, bahkan lebih baik karena Reo itu aset utama perusahaan kita saat ini. Apalagi laboratorium Chip Cemer belum ada kepastian kapan diperbaiki."
"Maksud, Papa?" cepat Adinati Simara mengajukan pertanyaan.
"Reo itu sumber pengetahuan, sebab kecelakaan di laboratorium pada saat itu secara tidak langsung justru menanamkan Chip Cemer terbesar yang sedang diteliti para ahli. Dan itulah yang membuat Papa harus mendekatinya, bahkan kalau perlu mengikatnya secara paten."
"Lalu, apa maksudnya ia menjadi sumber keuangan dan keuntungan perusahaan?" Adinati Simara kembali mengajukan pertanyaan, karena ia belum bisa memahami jalan pikiran suaminya.
Akhirnya secara perlahan-lahan David Himam Rifaldi memberikan pengertian pada sang istri, jika Reo bisa melakukan apa-apa yang tidak bisa dilakukan oleh para ahli biasa.
Pria itu juga menceritakan keberhasilan dalam perakitan satelit khusus untuk memantau segala sesuatu yang terjadi di kota ini. Bahkan dunia sekalipun bisa di pantai dari satelit tersebut.
Mata Adinati Simara terbelalak mendengar penjelasan yang diberikan oleh suaminya, karena itu di luar dugaannya. Ia tidak pernah menyangka kalau Reo adalah Master Chip Cemer, yang itu artinya dia adalah sumber ilmu pengetahuan dari berbagai pengetahuan yang ada di muka bumi ini.
"Halah, ngaco Papa!"
Tiba-tiba datang si sulung yang baru saja datang menanggapi pembicaraan kedua orang tuanya, dengan sikap meremehkan. Gadis itu tidak percaya dengan cerita papanya, sebab di dunia ini tidak ada orang yang sesempurna itu.
"Eza, kamu belum mengenal Reo secara benar. Bahkan rencana Papa, Reo akan papa tempatkan pada bagian tertentu di perusahaan agar bisa membantu mengembangkan bisnis kita." David masih saja membela Reo di depan istri dan anaknya.
"Tapi, Pa. Aku nggak suka dengan dia, dekil gitu!" ejek Eza dengan wajah yang terlihat jijik.
"Kita harus berpura-pura baik agar Reo itu tetap nurut sama Papa, karena kita membutuhkan dia untuk eksis di dunia bisnis kita, sayang." David berbicara perlahan pada istri dan anaknya - merayu dan menenangkan keduanya, dengan mengatakan rencana apa yang sebenarnya ia sembunyikan.
Adinati Simara dan anak gadisnya saling pandang, lalu saling tersenyum kikuk karena mereka harus setuju dan mengikuti keinginan David - meskipun sebenarnya mereka menolaknya karena tidak menyukai sosok Reo.
Di dalam hati mereka, ada rencana tersembunyi agar kepura-puraan mereka ini tidak berlangsung lama.
"Di mana, Russel?" tanya Eza, yang tidak melihat keberadaan adik bungsunya.
"Katanya ada touring ke pusat kota bersama teman-temannya," terang sang Mama, memberitahukan kegiatan Putrinya yang paling kecil.
"Ck, dasar bocah!" decih Eza, tidak suka dengan hobi adiknya.
"Sudahlah, kakak. Adikmu itu perlu juga bersenang-senang dan bersosialisasi supaya masa mudanya berarti," ujar sang mama membela putrinya - Russell Olive.
Eza Mikhaella tidak lagi bicara. Gadis itu malas jika harus berdebat dengan mamanya sendiri, karena ia tahu jika mamanya itu akan lebih banyak mengeluarkan kata-kata untuk membela adiknya.
Ia sendiri sebenarnya juga masih ingin melakukan semua kegiatan anak-anak remaja, yang tidak banyak berpikir untuk mengurusi pekerjaan di kantor yang tidak ada habisnya. Tapi ia juga tidak mau jika tidak memiliki masa depan karena hanya memikirkan foya-foya, sementara ia ingin menjadi pemimpin perusahaan setelah papanya pensiun.
'Aku tidak bisa membiarkan Charles yang menjadi pemimpin perusahaan, di kemudian hari!' batin Eza - membuang nafas berat.
***
Di apartemen, Reo sedang bersiap-siap untuk kepindahannya ke rumah - yang saat ini juga dijadikan sebagai markas penelitian.
"Aku tidak membawa banyak barang, Sean. Tidak perlu membantuku," ujar Reo melihat Sean yang cepat tanggap dengan membantunya.
"Tidak apa, Reo. Semua pekerjaan akan cepat selesai jika dilakukan bersama," sahut Sean yang tidak mau diam.
"Sean, aku bukannya tidak mau kamu bantu. Tapi, aku memang tidak perlu membawa barang-barang yang ada di sini. Semua ini miliknya pak David, dan aku hanya perlu membawa beberapa bajuku saja."
Reo cukup tahu diri, karena dia memang tidak membawa apa-apa pada saat datang ke apartemen ini. Ia juga tidak mau jika nantinya dituduh sebagai pencuri, karena saat ini dia sudah memiliki banyak uang yang bisa digunakan untuk membeli apa saja.
Pengawal Reo itu tidak lagi membantah. Ia diam dan membiarkan Reo memasukkan beberapa potong bajunya ke dalam travel bag.
"Kamu yakin akan pergi dari apartemen ini, Reo?" Sean tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang sudah pernah ditanyakan kepada Reo.
"Sean, aku sudah memiliki tempat tinggal. Kegiatanku juga ada di sana, jadi untuk menghemat waktu dan tenaga lebih baik di rumah itu saja. Aku juga sudah pamit pada pak David, melalui pesan."
Reo memberikan jawaban tersebut, sebab ia memang sudah menghubungi papanya Charles untuk pamit. Tapi sayangnya David tidak bisa menerima panggilannya sehingga ia hanya bisa menyampaikan keinginannya untuk pindah rumah lewat pesan singkat.
"Apakah tuan David sudah menyetujuinya?"
Tangan Reo berhenti saat memasukkan baju terakhir ke dalam travel bag, ketika mendengar pertanyaan Sean tadi. Ia memang belum mendapatkan balasan atau persetujuan dari papanya Charles.
"Tidak apa-apa, pak David pasti menyetujui." Reo tersenyum dengan percaya diri.
***
"Karya ini merupakan karya jalur kreatif"