NovelToon NovelToon
Kakak Ipar, I Love You But I Hate You

Kakak Ipar, I Love You But I Hate You

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Pengganti / Dijodohkan Orang Tua / Konflik etika / Tamat
Popularitas:112.1k
Nilai: 5
Nama Author: Teriablackwhite

Selamat membaca ...!

Navian Narendra Devandra seorang pengusaha sukses di bidang property, kehidupannya begitu sempurna, dia memiliki seorang istri yang cantik jelita seorang model papan atas, tetapi semua itu berakhir begitu saja, ketika istrinya Vianna Dewi memutuskan bercerai setelah melahirkan anaknya karena tidak ingin karirnya hancur karena tubuhnya menjadi jelek.

Dalam kekalutan, Navian dipaksa untuk menikah lagi dengan adik dari mantan istrinya yang bernama Tiara Dewi Violina, demi anaknya yang baru lahir tujuh bulan.

Apakah pernikahan mereka akan berujung cinta, atau malah kebencian yang akan terbangun?

Saksikan kisahnya hanya di sini, jika membaca tinggalkan jejak ya ges 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Teriablackwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 18

This is just fiction.

••••••••••••••••••••••••••

    Tiara tercengang mendengar jawaban singkat dari sang papa, seolah-olah Ridzwan memang mengetahui segalanya, atau bahkan memang ini rencana pria berumur 45 tahun itu memasukkan putrinya ke dalam kampus di mana Marwan berada.

    Gadis itu menghentakkan kakinya kesal. "Papa ... Kok jawabnya enteng banget, Tiara kan udah bilang sama Papa, kalau aku gak mau berhubungan dengan keluarga Kak Navian lagi, hubungan Kak Vianna dengan Kak Navian sudah berakhir, jadi aku tidak ada alasan untuk terus dekat dengan keluarga mereka," protes Tiara geram, tetapi gadis itu masih mengucapkan kata-katanya dengan tuturan yang lembut.

    "Ada," jawab Ridzwan lagi singkat, pria dewasa itu masih disibukkan dengan laptop dan berkas-berkas yang berserakan di samping kanan dan kirinya. "Ansel, anak Vianna dan Navian tidak melakukan kesalahan apapun, dan Ansel itu keponakan kamu dan juga cucu Papa, jadi kita masih punya ikatan dengan mereka, yang putus adalah hubungan Navian dan Vianna, tidak dengan kita dan keluarga Devandra," sambung Ridzwan menghentikan pekerjaannya, dia mulai menelisik wajah merah sang putri.

    Secara cepat Ridzwan menyadari mengapa putri keduanya itu bersi-keras untuk menghindari Navian dan keluarganya, sekali lagi dia menerjemahkan apa yang tersirat di bola mata sang putri yang sendu. Netra Tiara selalu sama, ia sang sendu, dan rasa mengalah yang berkesinambungan.

    Tatapan itu selalu sama membuat Ridzwan tak ingin melihatnya lagi, Tiara selalu bersikap seperti itu, mengalah dan terus mengalah, entah kapan putri cantiknya ini akan memperjuangkan yang menjadi miliknya tanpa harus dipinta olehnya.

    "Kamu mencintai Navian, Nak?" tanya Ridzwan menekankan pertanyaannya.

    Itu bukan sebuah pertanyaan, Ridzwan sudah mengetahui apa yang dirasakan putrinya, tetapi dia hanya ingin mendengarnya langsung dari Tiara, apa yang dirasakan sang putri dan apa yang diinginkannya.

    "Hah?!" seru Tiara kalang-kabut, sorotnya berkelintaran tak karuan bersamaan dengan punggungnya yang mematung. "Papa ini pertanyaannya ngaco aja, masa aku suka sama mantan kakak iparku sendiri sih, udah ah Pa, aku mau ke kamar, mau bersih-bersih," lanjut Tiara mengalihkan pertanyaan dari sang papa.

    Tanpa berdalih apapun lagi, gadis berambut panjang lurus itu gegas mengayuh langkahnya dengan cepat, membaca setiap undakan dengan gerakan cepat, dia melesat seperti angin yang berkelana di sekitarnya, rambut panjang yang menyentuh pinggang gadis itu terbawa angin yang mengikutinya saat gadis itu berlari menuju lantai dua, di mana kamarnya berada.

    Ridzwan di bawah mengendur sembari melipat kedua tangannya di depan, lalu menggeleng kepalanya, pria itu nampak frustasi dengan tingkah putrinya, embusannya terdengar berat. Sudah berulang kali dia menanyakan hal yang sama pada Tiara, tetapi tidak pernah ada jawaban yang terlontar dari gadis bermata kecoklatan itu.

    "Kenapa kamu berbohong pada diri kamu sendiri Nak, Papa harap suatu saat nanti kamu bisa jujur dengan hati kamu sendiri ya Nak, Papa harap kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan, orangtua kamu meninggalkan segalanya dan Papa hanya menjalankannya saja, karena perusahaan Papa sebenarnya bukan yang sekarang Papa kerjakan," papar panjang Ridzwan.

    Derap langkah Tiara di atas menggebu-gebu, debaran di dadanya membuncah bukan main, lutut gadis yang mengenakan celana jeans hitam itu pun terasa kelu, dia berlari cepat masuk ke dalam kamar pribadinya, dia tutup pintu itu dengan rapat, tetapi tidak menguncinya.

    Punggung Tiara bersandar pada pintu yang dilengkapi dengan smart lock, seluruh rumah Tiara memang menggunakan pintu dengan smart lock tanpa terkecuali, bahkan pintu gudang sekalipun, rumah besar berlantai empat itu menyimpan banyak barang-barang mewah yang dijaga ketat oleh Ridzwan.

    Bahkan Ridzwan tidak mengizinkan istri dan anak kandungnya untuk menyentuh barang apapun yang ada di sana, kecuali Tiara, karena Ridzwan pikir Tiara memiliki hak sepenuhnya atas rumah itu.

    "Papa apaan sih pertanyaannya, bikin jantung anaknya jantungan aja untuk enggak copot," gerutu Tiara melelehkan punggungnya ke bawah sembari memegangi dadanya, di sana dia merasakan debaran dadanya kembali normal.

    Lantas dia menghela napasnya panjang hingga kembali normal, dia elus lagi dadanya berulang kali sampai ketenangan yang dia inginkan menjumpainya, matanya dipejamkan kuat untuk mengatur hatinya untuk tenang.

    Perlahan dia lempar tas yang tersampir di tubuhnya ke atas ranjang yang terbalut oleh sprei merah muda yang berpadu dengan warna putih bening, di sudut kanan dan kiri ranjang itu dihiasi oleh boneka-boneka berbagai ukuran tertata rapi di posisinya masing-masing.

    Lantas dia bergerak ke kamar mandi yang berada di lorong di depannya, melewati ranjang yang berhadapan dengan meja rias tepat di samping dinding yang menempel dengan lemari pakaian dan aksesoris miliknya.

    Di sisi lain Navian telah tiba di rumah Tiara menggunakan mobil hitam pribadinya, dengan penampilan rapi mengenakan jas yang berwarna senada dengan celananya, Navian berayun ke depan, mengetuk pintu rumah yang sebelumnya sering dia kunjungi untuk bertemu Vianna.

    "Rumah ini ...." Hati Navian mencelus, rasa perih menyeruak di dalam hatinya.

    Langkah malasnya mendekati pintu rumah megah yang tertutup rapat itu, lantas dia menekan bel yang ada di samping pintu berukuran besar berwarna putih di sana pun ada monitor kecil yang menampilkan siapa yang telah menekan bel rumah tersebut.

    Tak lama dari itu Ridzwan keluar dari rumah itu membukakan pintu dengan lebar. "Eh Navian, ada apa Nak? Apa ada pesan dari papa kamu?" tanya Ridzwan tak merasa heran sama sekali atas kedatangan mantan menantunya itu.

    Sebelum menjawabnya, Navian sempat melontarkan senyuman pada sang mantan mertua. "Tidak Pa, euum ... Om," jawab Navian mengulang jawabannya, pikirnya dia sudah tak berhak menyebut Ridzwan dengan sebutan papa karena dirinya telah menjadi mantan suami putri kandung dari Ridzwan.

    "Enggak apa-apa Nav, panggil Papa aja seperti biasa, ayo masuk dulu," ajak Ridzwan menarik punggung Navian masuk ke dalam rumahnya.

    Tanpa melihat bawaan yang digenggam oleh Navian, Ridzwan membawa mantan menantunya masuk ke dalam rumahnya, ini kali pertama Navian memasuki rumah itu lagi setelah perceraiannya yang telah berlalu beberapa waktu yang lalu.

    "Nav ke sini mau mengantarkan barang Tiara yang ketinggalan di kampus Pa," ucap Navian menjelaskan kedatangannya, sesaat setelah keduanya menepi di depan tangga lebar menuju ke lantai dua.

    Pelan-pelan Ridzwan menjatuhkan kerlingannya ke bawah, bukan pada lantai ataupun kaki Navian yang dibaluti sepatu hitam yang mengkilap, melainkan pada barang-barang yang di bawa oleh pria muda di depannya.

    "Buku-buku dan laptop Tiara? Kok ada sama kamu Nav?" tanya Ridzwan heran, di mana mereka bertemu.

    Karena setahunya lokasi perusahaan yang dipimpin oleh Navian berada jauh dari lokasi kampus di mana Tiara mengenyam pendidikan lagi.

    "Tadi aku ke kampus jemput Ansel sama papa, terus di sana Tiara membantu papa menenangkan Ansel dan dia seperti terburu-buru jadi dia melupakan bawaannya ini," jelas Navian sembari dia menyisir setiap benda yang ada di sana.

    Semuanya masih sama, tidak ada yang berubah, rasanya sudah ada berbulan-bulan aku tidak datang kemari, Papa Ridzwan memang suka dengan hal-hal yang teratur.

    Batin Navian bergumam.

    "Oh pantesan aja kamu bisa bawa buku-buku Tiara, tapi tumben anak itu melupakan barangnya, biasanya tidak seperti itu," jawab Ridzwan aneh.

    "Entahlah Pa, mungkin Tiara sedang terburu-buru," timpal Navian mengarah pada Ridzwan.

    "Ah sudahlah," tepis Ridzwan mengirapkan satu tangannya di depan wajahnya. "Kamu ke kamar Tiara aja, putri Papa itu baru masuk ke kamarnya," pinta Ridzwan membuat Navian melebar.

    Mengapa Ridzwan begitu mudahnya membiarkan seorang pria dewasa yang telah pernah menikah masuk ke dalam kamar gadis cantiknya, Navian merasa tidak enak dengan hal itu, itu tidak mungkin dia menerobos masuk ke dalam kamar seorang gadis begitu saja.

    "Tapi Pa, apa Nav gak apa-apa masuk ke dalam kamar Tiara?" tanya Navian memastikan jika apa yang barusan dia dengar benar adanya, bukan sebuah kesalahan.

    "Iya dong Nak, kenapa tidak boleh, kamu tidak mungkin melakukan hal di luar nalar kan? Saat bersama Vianna saja kamu tidak melakukan apa-apa, sudah pasti dengan Tiara pun sama," cetus Ridzwan beralih dari hadapan Navian kembali duduk di sofa di mana dia terduduk tadi.

    Walaupun apa yang dikatakan mantan mertuanya itu benar, Navian tetap saja merasa lancang masuk ke dalam kamar seorang gadis muda yang belum menikah tanpa izin dari gadis itu sendiri, Navian terdiam di posisinya.

    "Sudah Nav, sana naik, ketuk aja dan masuk, gak apa-apa, Tiara tidak pernah mengunci pintu kamarnya, dia itu trauma dengan pintu terkunci," jelas Ridzwan yang kembali melanjutkan pekerjaannya.

    Navian tetap bergeming, tetapi beberapa saat kemudian dia mulai melangkahkan kakinya membaca setiap undakan yang dia pijaki, netranya masih memasati Ridzwan di bawah sembari terus melangkah menghabiskan langkahnya di atas undakan itu.

    Sampai tiba di lantai dua, langkah Navian bergerak ke area kamar Tiara, sebelumnya Navian memang sudah mengetahui di mana letak kamar Tiara, Vianna sering masuk ke dalam kamar Tiara tanpa seizin dari Tiara sendiri.

    "Papa bilang tadi, kalau Tiara trauma dengan pintu terkunci? Aneh," seru Navian saat dia tiba di depan pintu kamar Tiara.

    Pria itu mengetuk pintu itu berulang kali sampai dia menerima jawaban dari Tiara. "Iya ... Siapa?" sahut Tiara dari dalam kamar.

    "A—" Baru saja Navian membuka mulutnya Tiara sudah lebih dulu menimpalinya lagi.

    "Pa ... Bantu Tiara pasang ini dong Pa, susah nih," seru Tiara lagi, suaranya menggema keluar.

    "Ta—" Lagi dan lagi pembicaraan Navian terpotong lagi dengan panggilan Tiara yang menyerukan papanya.

    "Papa ... Ayo cepetan, Tiara keburu jatuh."

    Navian mendengkus.

    Ternyata Tiara bawel, kenapa saat di luar dia jarang sekali berbicara.

    Apa karena itu aku, makanya dia sulit untuk membuka mulutnya.

    Batin Navian berujar.

    Terpaksa Navian membuka pintu kamar gadis itu, Navian masuk ke dalam kamar dengan luas yang cukup besar, lemari tanam yang berada di sisi kiri berhadapan dengan ranjang king yang terbalut sprei dengan rapi, belum lagi setumpukan boneka yang menghiasi area sudut ke sudut di atas ranjang tersebut.

    Tetapi .... Ada hal lain yang lebih menarik hati Navian dibanding barang-barang yang tertata dengan rapi di dalam kamar itu, bukan lemari, ranjang, meja rias ataupun guci yang menghiasi sudut kamar tersebut.

...See you next part....

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
SemestaBernyanyi
mohon diperhatikann pemilihan katanya ya. "sekujur tubuhku sampai kehilangan nyawa" artinya dia sudah mati, padahal belum. kata "sampai" bisa diganti "hampir" atau bisa juga dipakai kata seolah-olah kehilangan nyawa
Teriablackwhite: Ah iya, sebenarnya itu sebuah kata kiasan, bukan kata sebenarnya, nanti aku revisi, terima kasih atas sarannya 🥰
total 1 replies
SemestaBernyanyi
apa maksudnya tersungku? apakah yang dimaksud tersungkur? jika benar tersungkur, maka tidak tepat jika dikatakan tersungkur ke belakang karena tersungkur artinya terjerembap dengan muka mengenai tanah
Teriablackwhite: Sekali lagi terima kasih kakk 🙏🙏🙏🥺
total 1 replies
SemestaBernyanyi
alangkah baiknya jika menidurkan/merebahkan bayi atau seseorang di tempat tidur jangan ditulis "menjatuhkan" karena konotasinya berbeda. lebih baik ditulis merebahkan atau meletakkan saja jika tidak ingin menyebut kata menidurkan.
Teriablackwhite: Oke kakk, terima kasih koreksiannya 🥰
total 1 replies
ANTU BELAU
+
Teriablackwhite: Terima kasih telah mampir membaca 😉 maaf, aku baru bisa buka akun ini lagi
total 1 replies
avfgh nnnnm bcxxc
ceritanya bagus bgt
Teriablackwhite: Terima kasih telah membaca hingga akhir 🥳🥰
total 1 replies
Amelia
aku mampir ya ❤️❤️
Bilqies
sampai sini dulu yaa Kaka, nanti lanjut lagi
Bilqies
aku mampir lagi kaak
mampir juga di karyaku yaa
Bilqies
hai kak aku mampir yaa

yuk mampir juga di karyaku
"Mencintaimu dalam DIAM"
Jangan lupa like, komen dan subscribe
Teriablackwhite: Terima kasih sudah mampir 😉
total 1 replies
NurKarni
ceritanya bagus hanya yang baca sedikit, mungkin outhornya kurang promosi
Teriablackwhite: makasih kak ... memang, aku kurang promosi, mau coba promosi lagi nanti, makasih, yaaa
total 1 replies
muhammad affar
semoga kandungannya baik2 saja thor
muhammad affar
kenapa sih semua kok kurang tegas sama viana dan emaknya
Reni Anjarwani
doubel up
Reni Anjarwani
doubel up thor
Reni Anjarwani
doubel up
Teriablackwhite: okkeyy 😉
total 1 replies
Reni Anjarwani
doubel up thor
Mamah Kekey
mampir kk
Reni Anjarwani
doubel up
Reni Anjarwani
doubel up thor
desember
sdah ku duga navian akan menyadarinya
Teriablackwhite: Yups, kalau gak sadar, nih cowok hatinya agak bebal berarti
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!