Ketika Cindy berusia 10 tahun, ia diperkenalkan oleh kedua orang tuanya dengan remaja muda berusia 16 tahun. Ayah dan Ibu memperkenalkannya sebagai Paman Angkat.
Singkat cerita, Paman Angkat bernama David hendak menikah dengan seorang wanita yang sudah dipacari nya lebih dari 3 tahun. Namun pernikahan itu batal, karena pihak dari pengantin wanita tidak hadir dan menikah dengan pria lain.
karena sudah menyebar undangan dan tidak ingin keluarga menjadi malu, orang tua Cindy tiba-tiba saja menikahkan dirinya dengan David, Sang Paman Angkat.
Bagaimana Kisah Mereka? Mari Disimak Sekarang Juga!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 18
Malam Hari.
Cindy bingung harus melakukan apa di rumah sebesar itu. Semua pekerjaan sudah ada yang mengerjakannya. Rasanya aneh jika ia hanya bersantai tanpa melakukan pekerjaan apapun.
David yang kala itu baru pulang dari perusahaan, berlari kecil menghampiri Cindy yang terlihat tengah melamun.
“Cindy!” David menepuk punggung Cindy.
Cindy terkejut seraya berteriak memanggil David dengan sebutan Paman dengan cukup kencang.
“Paman!!” Cindy yang tak terima, saat itu juga menarik rambut Pamannya dan memukul lengan pria yang telah menjadi suaminya.
“Cindy, jangan bertindak tidak sopan begitu terhadap suamimu,” celetuk Mama Ratih yang tak sengaja melihat perlakuan Cindy terhadap David.
Cindy panik bukan main dengan celetukan Mama mertua. Ia pun menundukkan pandangannya seraya meminta maaf berulang kali atas apa yang telah ia lakukan.
Mama Ratih sepenuhnya tidak marah terhadap Cindy, justru ia sedikit lega karena menantunya bukanlah wanita yang lemah. Karena ia sendiri sangat puas jika menantunya itu cukup berani.
“Mama tidak marah. Sebagai wanita, kamu memang harus bisa menjaga diri. Mama yakin kamu tidak akan ditindas oleh keluarga mereka,” tutur Mama Ratih seraya berjalan menjauh.
Cindy yang tak mengerti dengan ucapan Mama mertua yang menurutnya cukup aneh.
“Apa maksud dari perkataan Mama Ratih? Keluarga mereka itu siapa?” tanya Cindy penasaran.
“Kamu tidak perlu memikirkan ucapan Mama. Ini sudah malam dan sudah waktunya kita tidur,” balas David.
Cindy mengernyitkan keningnya, “Jangan bilang kalau kita tidur seranjang?” tanya Cindy sambil melangkah mundur.
David menjitak kening Cindy dengan cukup keras.
“Sakit Paman!” Cindy mengusap keningnya yang terasa sakit.
“Kamu kira Paman mau sama kamu? Sudah! Jangan pikirkan yang tidak-tidak. Besok kamu harus bangun sangat pagi untuk pergi bersama Paman ke perusahaan,” pungkas David.
Keesokan Pagi.
Cindy yang masih bermimpi indah di ranjang empuk tersebut, terpaksa bangun karena panggilan David.
Dengan setengah sadar, Cindy terduduk seraya bersandar di bagian kepala ranjang.
“Paman, ini jam berapa?” tanya Cindy yang tak terdengar jelas.
“Jam 5,” jawab David yang sudah bersetelan rapi.
“Ini masih terlalu pagi, Cindy ingin kembali tidur,” balas Cindy hendak melanjutkan mimpi indahnya.
David berjalan mendekati Cindy dan perlahan jemari tangannya meraba wajah mulus Cindy.
“Kalau kamu tidak mau bangun, Paman akan mencium kamu,” bisik David yang mana bisikan tersebut membuat mata Cindy terbuka lebar.
Cindy mendorong David dengan sekuat tenaga dan menarik cepat selimut untuk menutup seluruh tubuhnya.
“Paman jangan bertingkah aneh-aneh ya sama Cindy. Kalau sampai terjadi, Cindy akan melaporkan tindakan Paman ke Ibu dan juga Ayah,” tutur Cindy dari balik selimut.
David menarik selimut tersebut dengan sekuat tenaga hingga selimut tersebut terlepas.
“Pergilah mandi!” perintah David sambil melempar handuk berwarna putih tersebut ke arah Cindy.
Cindy perlahan turun dari tempat tidur dengan menatap tajam David.
“Memangnya kita mau kemana sepagi ini?” tanya Cindy seraya berjalan menuju kamar mandi.
“Jangan banyak tanya. Nanti kamu tahu sendiri,” balas David.
30 menit kemudian.
Cindy dan David berjalan beriringan menuju ruang makan. Rupanya di sana sudah ada Mama Ratih yang terlihat sangat cantik.
“Mama mau kemana?” tanya Cindy penasaran.
“Memangnya suamimu belum memberitahu kemana kita akan pergi?” tanya Mama Ratih kembali.
Cindy menggelengkan kepalanya dengan imut.
“Selepas sarapan, kita pergi ke perusahaan. Setelah itu, kita pergi ke KUA untuk mengurus pernikahan kalian,” terang Mama Ratih.
“Ke KUA? Apa tidak terlalu cepat?” tanya Cindy yang tiba-tiba panik dengan keterangan dari Mama mertua.
“Terlalu cepat bagaimana? Justru, lebih cepat lebih baik. Pernikahan kalian harus disahkan secara hukum agar lebih afdol,” pungkas Mama Ratih.
Cindy hanya bisa menelan salivanya seraya mencoba tetap tenang.
Melihat Cindy yang terlihat gelisah, membuat David hanya bisa menghela napas panjang.