Demi mencari tahu penyebab kematian sang adik yang sangat janggal. Shasa seorang agen rahasia harus menyamar menjadi seorang aktris.
Memasuki dunia yang bertolak belakang dengan identitas nya,membuat Shasa harus berhadapan dengan berbagai rahasia gelap dibalik kemerlapan dunia entertainment itu.
Mampukah Shasa membalas dendam atas kematian adiknya ketika Shasa harus berurusan dengan para mafia kelas kakap.
Apakah ia akan berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istana Fredrick
Melihat sosok cantik itu sudah mulai terkena reaksi obat yang diberikannya, Fredrick hanya tersenyum sambil menyaksikan detik-detik hilangnya kesadaran sosok wanita yang menarik perhatiannya.
"Apa.... Yang... Kau.... Kepalaku...."
"3,2,1!" Dengan jentikan jari nya, kesadaran Shasa menghilang dan tubuhnya langsung disambut oleh pria gagah itu.
"Tidurlah dengan pulas. Siapkan mobil, kita pergi!" Titahnya yang segera dikerjakan oleh anak buahnya.
"Baik tuan, mari... Mobil sudah siap." Fredrick langsung menggendong tubuh Shasa yang sudah terpejam menuju mobil mewah miliknya.
"Jalan! Dan bereskan semua!"
"Siap tuan." Mobil segera melaju beriringan dengan tatapan kagum dan memuja.
Tangannya seperti rollercoaster menyapu rambut lembut itu serta mengelus pipi kenyal Shasa. "Kau sudah memberikan jawabannya dan sekarang.... Kau jadi milikku." Tekannya dengan senyuman sumringah nya, manik Fredrick tak henti-hentinya menatap wajah cantik Shasa yang tengah terlelap dalam pangkuannya.
"Kau memiliki kecantikan yang berbeda, ada sesuatu yang membuat ku sangat tertarik padamu. Sangat.... Seperti...." Fredrick menggelengkan kepalanya dan satu tangannya tampak mengepal seolah membuang pikiran yang sempat menetap di kepalanya.
Dering ponsel shasa menarik perhatian Fredrick. Matanya membaca nama dari penelpon itu. "Manager? No, kau milikku sekarang!" Dalam satu tekan, ponsel mahal Shasa sudah nonaktif dan membuat Fredrick kembali memandangi wajah yang berada dalam dekapannya.
"Tuan, kita sudah sampai." Mobil bewarna abu-abu itu berhenti tepat di halaman kediamannya dan juga dalam sekali langkah keluar sudah menuju pintu masuk yang telah dibukakan.
"Sudah siap?" Tanya Fredrick yang melangkahkan kakinya di lantai mengkilap kediamannya.
"Sudah siap tuan." Jawab wanita itu dengan menunduk.
"Lakukan yang lainnya. Aku tidak mau ada yang ketinggalan."
"Baik tuan." Fredrick langsung menuju tangga berdasar kaca yang menyala ketika dipijak itu menuju ruangan yang ingin ia tuju.
"Nah, sekarang... Hanya ada kau dan aku." Shasa yang sudah terbaring di ranjang tampak tidak tau lagi apa yang menimpa dirinya saat ini.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Tidak tau berapa lama maniknya menutup, sosok yang terbaring di ranjang besar dengan kamar yang sangat luas itu sudah membuka matanya dan langsung bangkit dari posisi tidurnya menatap sekelilingnya yang sudah disapa oleh mentari serta dentingan jam yang menunjukkan pukul 8 pagi.
Kedua tangannya segera memeriksa tubuhnya yang tertutupi pakaian tidur yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Tidak ada hal aneh, dirinya juga menggoyangkan kedua kakinya dan bersyukur tidak merasakan ada sesuatu di milikmu yang berharga.
"Aku tidak disentuh." Shasa ingat dengan jelas dirinya tak sadarkan diri setelah meminum minuman dingin itu bersama Fredrick.
"Kemana dia membawaku?" Shasa langsung mengedarkan pandangannya dan terlihat dirinya berada di salah satu kamar dengan ukuran yang sangat besar dengan desain pintu kaca yang meliputi balkon yang langsung berhadapan dengan laut lepas.
"Dimana aku?" Shasa mencari ponselnya tapi tidak ia temukan.
Merasakan dahaga, Shasa mengambil air putih yang menyegarkan itu setelah memastikan aman untuknya. "Dia memiliki maksud lain dengan membius ku. Dia tidak menyentuh ku, apa tujuannya?" Shasa menormalkan jantung nya yang berdebar.
Melihat cermin tak kalah besarnya, Shasa segera memeriksa tubuhnya jikalau pria itu memberikan tanda haram untuknya. "Pemikirannya tidak terduga,dia bisa saja melakukan tindakan murahan padaku, tapi dia tidak melakukan nya. Aku harus berhati-hati lagi disini. Dia tidak tau bukan?"
"Apa yang tidak ku tau? Kau sudah bangun rupanya. Tidurmu nyenyak?" Shasa tidak mendengar kedatangan Fredrick yang masuk ke kamar itu.
"Kebiasaan buruk tidurku? Kau tidak tau kan? Dan ya, kepala ku masih sedikit pusing."
"Aku bawakan jus lemon. Dan tenang ini tidak ada obat apapun seperti semalam. Kau pasti bertanya-tanya, terlihat dari matamu yang indah itu." Fredrick membawakan segelas jus lemon segar ditangannya.
"Kalau kau tidak keberatan." Ujar shasa membuat Fredrick tersenyum.
"Ini adalah kediaman ku, tidak ada yang tau mengingat kehidupan ku serta keluarga ku. Kau pasti tau bagaimana rasanya dikenal banyak orang dan itu membuat ku merasa ketentraman ku terganggu, jadi aku harus melakukan seleksi sebelum seseorang memasuki kediaman ku ini senorita."
"Aahh, begitu ternyata."
"Mandilah, aku bawakan pakaian untukmu. Aku yakin akan sesuai untukmu."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Shasa tengah berpikir untuk tersambung dengan organisasi nya karena dirinya sudah memasuki kediaman Fredrik, dimana dia akan menemukan sesuatu yang besar disini.
"Tidak ada yang mencurigakan dari rumah ini. Itu tidak mungkin kan?" Ujar Shasa ketika dirinya duduk di salah satu kursi sambung menikmati hidangan yang disajikan untuknya.
Shasa juga mencoba memindai kediaman Fredrick dan juga menghitung berapa penjaga disini maupun pelayan yang berkerja.
Hingga matanya tertarik pada sebuah sofa yang bersandar di balik tangga. Tidak ada yang salah memang dari sofa cantik itu, tapi dimata Shasa ada sesuatu disana.
'Sebuah jalur rahasia?'
makasih author 🙏🙏🙏❤️❤️❤️❤️
gitu juga orang yg kamu aniaya, juga terasa sakit..