"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 18
"Wah, Hanin nih! Gimana-gimana, kerja di Bandung?" Mbak Alina menyambutku dengan sumringah setelah Mbak Wina mengantarku ke kamar sebelah yang jadi tempat menginapku, dua malam nanti.
"Ribet, Mbak. Mau ke Wijaya grup lagi kira-kira Pak Divine masih nerima nggak, ya?"
"Masih kok, kalau Papa gak mau nerima nanti kerja sama aku aja!"
Aku terkekeh, Mbak Alina ini memang ramah sekali kalau sama bawahannya, padahal kan aku cuma mantan.
"Jadi aspri ya, Mbak. Aku gak mau loh cuma jadi staff biasa, nglunjak dikit gak apa-apa hehe. Btw, Mas Reyhan gak marah, Mbak sok sibuk di pernikahannya Mbak Wina?"
"Boleh lah jadi aspri asal disiplin, berani dan setia. Oh ya, Nin! Kamu coba dulu deh gaunnya, tadi Wina nitip. Bagus nggak?"
"Kaya slogan gak sih Mbak? Btw harus banget Mbak seseksi ini, aku kan dada lempeng!" rasanya ingin menangis melihat modelan gaun bridesmaid yang telah disiapkan oleh Mbak Wina. Selain bagian dada rendah, belahan pahanya juga terlalu tinggi.
Oh no...
"Coba dulu, Nin. Kali aja kelonggaran! Tinggal besok lho acaranya."
"Iya, Mbak!" Aku pun hanya bisa menurut.
Mencoba gaun berbahan satin lembut itu ke kamar mandi.
"Wow!" gumamku pelan kala melihat pantulan diri di depan cermin. Tak lupa, mengabadikannya dengan berselfie.
"Kamu seksi di mata kamu sendiri! Anjrr, whehehe pantesan Mas Harsa salah sebut pas ijab. Kira-kira sekarang kondisi rumah kaya apa, ya? Apa kaya kapal pecah karena Mbak Nau mengamuk?"
Aku malah sibuk dengan lamunanku sendiri yang kemana-mana.
"Nin?"
"Iya, Mbak. Gimana?" tanyaku setelah keluar lalu memutar badan, ala-ala model catwalk.
"Oke, btw kalau Wina nyari bilang aja aku keluar bentar."
"Kemana?"
"Ketemu temen!" sahut Mbak Alina yang seperti terburu-buru.
Aku termangu menatap langit-langit kamar hotel, rasanya nyaman. Padahal setelah dua hari ke depan, belum tahu mau melanglang kemana.
Sampai, pagi pihak WO meminta bridesmaid berkumpul dan mulai make-up. Bukan hanya aku dan Mbak Alina saja, ada beberapa wanita lagi yang kami hanya akrab sebatas iya-iya saja. Dan yang tak pernah kusangka, Gara akan jadi groomsmen mendampingi pengantin pria.
Sayangnya, saat berhadapan ia malah berpasangan dengan Mbak Alina.
"Mbak Wina, selamat ya? Semoga langgeng sampai aki nini, punya anak, menantu, cucu!"
"Aamiin Nin, kamu juga segera nyusul ya? Udah punya calon belum."
"Kapan-kapan, Mbak!"
"Kalau gitu santai-santai aja dulu setelah ini, makan, minum, nanti ada sesi foto bareng khusus bridesmaid dan groomsmen."
"Oke, Mbak."
***
Ingatanku kembali pada kejadian kemarin malam, Sagara memaksa mengantarku ke mall padahal aku hanya mau membeli baju dinas untuk hadiah pernikahan Mbak Wina. Tapi memang alasanku keluar karena suntuk seharian di hotel. Laki-laki itu bersikap gentle dengan tak membiarkan aku berkeliaran sendiri di kota orang. Alasannya, takut aku diculik om-om, atau duda karena melarikan diri dari kampung.
Konyol.
"Kamu ngajak masuk aku kesini mau apa, Nin?" Wajahnya memerah bak kepiting rebus, dan aku hanya tertawa lirih sebagai respon.
Sagara memerah karena aku memaksanya ikut masuk ke gerai lig*rie.
"Bagus yang mana?"
"Merah!"
Kan kan, dia bilang apa tadi? Taunya ngasih masukan juga.
"Kamu ngapain beli kaya gini? Gak berniat untuk one night stand sama laki orang kan?"
"Ngaco! Ini tuh buat kado pernikahannya Mbak Wina sama Pak Madel."
"Oh kukira!" dia tertawa, setelahnya kami makan bersama bahkan sempat ia mengajakku bermain game di timezone.
Lamunanku buyar kala mendengar suara gaduh. Disana, Mbak Alina terlibat adu mulut dengan seseorang, sampai bajunya basah dan aku segera mendekat karena merasa situasinya cukup menegangkan.
Namun, langkahku terhenti kala Gara lebih dulu sigap menolongnya.