“Hasil karya Allah itu selalu indah, tidak ada yang jelek dan Dia scriptwriter terbaik. Apa yang kamu takutkan?” tanya Yusuf pada Silvia.
Sikap dan tutur kata Yusuf selalu indah, seindah tatapan sayu matanya. Tanggung jawabnya kepada Silvia sebesar ketaatannya kepadaNya.
Kendati demikian, hati Silvia masih terus terpaut pada Andrew–masa lalunya yang ia yakini lebih baik dari Yusuf. Pekerjaan Yusuf juga menjadi pemicu keraguan hati Silvia untuk bisa hidup bahagia.
Lantas, apakah nantinya Silvia bisa mencintai Yusuf dan menerimanya sebagai suami?
Tadabbur cinta, “Meniadakan luka dengan mendekatiNya.”Sebuah karya dalam kemasan novel yang akan mengajak para jomblo merenungi, memahami cinta yang sesungguhnya. Mencintai dan memiliki tanpa melukai hati dan menodai ajaranNya.
Menjadi taman bacaan dan obat galau para jomblo yang sedang jatuh cinta, di era modern yang mengedepankan materialisme dan menganggap hedonisme sebagai satu-satunya cara, hidup bahagia.
ig @menu.kenanganmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa Zifara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merenung Part 1
Kala itu benar-benar menjadi hari yang mengharukan untuk Silvia. Dia tidak menyangka Yusuf akan bicara seperti itu dihadapan banyak orang tanpa rasa malu. Sedangkan dirinya, tidak pernah mau mengakui atau memuji Yusuf dihadapan orang lain, sekalipun hanya kepada Yunika–sahabatnya. Semua seolah tidak ada yang baik dan istimewa dari diri Yusuf.
***
"Mbak Silvia!" Gadis belia sedang berlarian menyusul Silvia sembari membawa mukenanya.
"Ada apa?" tanya Silvia yang berhenti kala itu.
Gadis belia meringis, "Eng–nggak ada apa-apa, sih. Saya cuma mau balik bareng sama Mbak Silvia aja," ujarnya.
"Oh, kirain ada apa. Teman-teman kamu kemana?"
"Mereka semua pada nungguin Gus Yusuf, karena mereka mau berlatih hadroh."
"Terus kamu gak ikut?" tanya Silvia lagi.
Santi menggelengkan kepalanya pelan. Karena belum terlalu akrab dan baru kenal, keduanya masih sering saling diam, hingga Santi membuka pembicaraan dengan sebuah pertanyaan kepada Silvia, sembari berjalan menuju ke asrama putri yang letaknya tidak jauh dari rumah Yusuf.
"Mbak Silvia, saya boleh nanya sesuatu nggak? agak pribadi, sih."
"Mau tanya apa? tanya aja, gak papa."
"Mbak Silvia dan Gus Yusuf itu dulu ketemunya gimana sih, ceritanya? ketemu di mana? Boleh dong, Santi tahu sedikit ... aja, ceritanya. Kali aja ada kisah kalian berdua yang bisa Santi contoh untuk ke depannya karena Santi nggak mau pacaran, Mbak. Santi maunya langsung nikah."
Silvia tersenyum tipi. Dia sebenarnya sedikit enggan bercerita kepada orang lain tentangnya dan Yusuf. Sebab apa yang Yusuf ceritakan tidak 100% benar dan hubungannya dengan Yusuf belum layak untuk dipanggil sebagai suami istri. Pasalnya, dia dan Yusuf masih belum melakukan hubungan suami istri dan hubungannya tidak seindah yang orang lain sangka.
"Aduh ..., gimana ya? cerita gak ya? Sebenarnya aku agak males sih, kalau disuruh cerita," ucap Silvia. Dia kembali tersenyum dan sedikit menunduk.
"Aku dan Yusuf itu ketemunya di sosial media, secara tidak sengaja. Jadi sebenarnya kami udah saling kenal dan saling tahu, udah cukup lama. Tapi kami gak pernah ngobrol karena ya ... cuman sebatas teman di sosmed. Gak tahu kenapa, tiba-tiba Tuhan pertemukan kami dengan secara gak sengaja juga, dan terjadilah sebuah perkenalan. Lalu tiba-tiba Yusuf pengen ngelamar aku," ucap Silvia.
Santi terkejut dengan pernyataan yang disampaikan oleh Silvia. Dia sudah lama mengenal Yusuf sebagai seorang pemuda yang bertanggung jawab, amanah, jujur dan sangat berpegang teguh dengan prinsipnya.
Dia tidak pernah melihat Yusuf bermain-main dengan teman perempuannya, meskipun hanya sekedar jalan berdua untuk mencari hiburan atau kepentingan pekerjaan.
Kemanapun perginya, Yusuf selalu bersama teman-teman sesama lelaki. Sehingga wajar saja jika Santi merasa terkejut karena ternyata di media sosial, diam-diam Yusuf mengajak Silvia berkenalan.
"Masyaallah ... skenario Allah itu memang sangat indah dan tidak disangka-sangka ya, Mbak," ucap Santi.
"Maksud kamu?"
"Iya ..., kalau kita pikir-pikir, di sosial media itu mustahil untuk ketemu sama jodoh. Tapi ternyata nggak ada yang mustahil buat Allah, selagi dia berkehendak."
"Saya mengenal Gus Yusuf cukup lama, sejak saya masih SMP dan Gus Yusuf saat itu sudah kuliah. Saya tidak pernah melihat Gus Yusuf pergi bersama teman-teman perempuan, walaupun itu untuk sebuah kepentingan. Jadi, saya tidak menyangka saja, ternyata Gus Yusuf berani mengajak kenalan Mbak Silvia. Padahal di sosial media itu 'kan banyak bohongnya."
"Entah lah, San. Aku juga gak tahu, kenapa bisa begitu. Mungkin ini udah takdir dari Tuhan, mau gimana lagi."