Hai ini karya terbaru saya, dukung saya dengan meninggalkan komentar like dan ikuti agar saya lebih semangat membuat cerita tentang hubungan Sashi yang panas dan penuh konflik.
Terimakasih ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lakuna Amerta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18, Hina
“Jangan keras-keras gitu ih.” Ujar Sashi yang masih saja khawatir dengan Agatha.
“Karyawan tu jangan terlalu dimanja sayang.” Ujar Rio menenangkan Sashi lagi, sambil menyetir dan keluar dari gedung.
“Nanti kalo Agatha nggak kuat gimana? Nanti dia resign lho.”
“Yaudah kalo mau resign sih. Namanya juga dunia kerja, nggak ada yang mudah. Berarti mental dia nggak oke sayang.”
“Tapi…”
“Udah ah sayang, biar jadi urusanku. Ini kerjaanku, hal kayak gini udah biasa kok.”
Sashi pun akhirnya diam dan mencoba untuk mengabaikan masalah tadi. Bagaimanapun benar juga itu bukan urusan dia.
“Oke! Tuan putri kita mau makan dimana ni?” Rio mencoba memperbaiki suasana
*****
Sementara itu Agatha masih menangis seorang diri di kantornya. Dia sedih dan sakit hati dengan perlakuan Rio. Dia seperti benar-benar dibuang. Dia sudah paham hari ini pasti akan terjadi, memang salah satu harus ada yang dibuang. Tapi dia tidak menyangka akan secepat ini.
Ia meratapi semua sakit hatinya ini seorang diri. Lalu akhirnya Agatha memutuskan untuk pergi ke atap saja. Sambil Ia meratapi kesedihannya.
Ternyata ada salah satu temannya di sana, bernama Aldo. Aldo yang selalu memperhatikan Agatha, Aldo juga sudah lama tertarik dengan Agatha. Namun Agatha tak sedikit pun meliriknya. Karena di hatinya cuma ada Rio.
“Agatha…”
“Eh Aldo, kamu disini juga?”
“Iya. Mau makan siang masih males, nggak nafsu.”
“Oh iya…”
“Kamu udah makan siang?”
“Aku nggak nafsu makan juga Do…”
“Oh gitu, lagi ada masalah? kayaknya abis nangis.”
“Biasa.” Agatha pun memilih duduk di samping Aldo, tak lupa ia juga menyalakan rokoknya. “Berantem sama cowokku.”
“Oh kamu udah punya pacar?”
Agatha menoleh ke arah Aldo, Ia menatap Aldo serius.
“Ya iyalah Do, masa di umur segini aku masih jomblo. Ha..ha..ha..”
“Kirain masih jomblo.” Ucap Aldo malu-malu. “Nah gitu dong ketawa.”
Giliran Agatha yang malu. Akhirnya mereka mengobrol kesana-kemari, bercerita banyak hal hingga Agatha lupa masalah Rio tadi.
Saking asyiknya mereka mengobrol dan bercanda, mereka sampai lupa waktu. Sudah 1 jam mereka disana.
“Eh waktunya balik ini Tha.”
“Eh iya.”
Mereka bangkit dari tempat duduk mereka dan pergi menuju kantor mereka di lantai 8.
Sesampainya disana, Aldo dan Agatha masih terus bercanda dan tertawa disana. Bahkan sampai di ruangan meeting.
Rio dan teman-temannya yang sudah ada disana melihat pemandangan itu.
“Wah kayaknya Aldo sama Agatha ada sesuatu nih.” Ledek salah seorang temannya.
“Jangan-jangan…” Tambah Kino mengompori.
“Apa sih. Enggak ah.” Aldo menampiknya.
Agatha melirik ke arah Rio, dia seakan-akan tidak peduli dan tidak melirik sedikitpun. Seolah-olah Rio tidak mendengar semua itu. Agatha kembali kesal, apa maksudnya si bajingan satu ini.
Waktunya kembali kerja dan fokus ke pekerjaan masing-masing. Mereka kembali meeting dan menyelesaikan pembahasan proyeknya. Karena ini proyek yang pegang Kino dan asistennya, Rio agak bisa bersantai.
Sampai tiba waktunya mereka pulang, Rio yang masih sedikit membereskan pekerjaannya di ruangannya. Hari ini dia bisa pulang lebih awal. Namun agak sedih karena tidak ada Sashi.
Telepon Sashi ah.
Rio meraih ponselnya dan bergegas menelpon kekasihnya itu. Ia menunggu kekasihnya mengangkat teleponnya dengan tidak sabar.
“Halo sayangku…”
“Halo sayang. Udah sampai apart?”
“Udah sayang barusan, tadi mampir beli makan sama ambil laundry.”
“Berarti ini lagi mau makan?” Rio beranjak untuk keluar.
“Belum sayang, nanti aja makan malam. Mau mandi dulu sayang.”
“Ikut dong mandinya.” Goda Rio, sambil berjalan melewati meja Agatha. Dan rupanya Agatha memperhatikannya dengan kesal.
“Sini sayang…”
Rio pun bergurau melalui telepon sambil berjalan menuju parkiran. Sampai di parkiran Rio berpamitan pada Sashi.
“Yaudah sayang, aku mau nyetir dulu ya..”
“Oke sayangku. Hati-hati ya…”
“Bye. See you minggu depan…”
“Bye sayangku…”
Rio menutup teleponnya dan menyalakan mobil menuju apartemennya. Sepanjang perjalanan dia memikirkan perkataan teman-temannya untuk menikahi Sashi.
Agar ada yang menyambutnya dirumah, memasakkan makan malam. Dulu Ia pernah sempat berpikir untuk mengajak Sashi menikah. Namun Sashi masih belum bisa menemukan ayahnya.
Sekarang papanya udah ketemu ya, apa aku tanyain aja udah mau nggak ya kalau diajak nikah?
Tak beberapa lama Ia sampai di apartemennya dan kembali ke rutinitas biasanya. Entah kenapa perasaan dan hati Rio kosong. Padahal mereka sudah lama LDR dan malam-malam Rio selalu diisi dengan nongkrong bersama teman-temannya atau beberapa bulan ini waktunya sering Ia habiskan bersama Agatha.
Namun entah mengapa setelah pertemuan kemarin, Rio sedikit benci dengan Agatha. Dan ingin memperbaiki cintanya dengan Sashi. Padahal sebelum-sebelumnya, Rio akan berhenti berselingkuh kalau ketahuan Sashi.
Namun entah angin apa, dia memikirkan dengan serius tentang pernikahan. Dia merenungi semua yang sudah Ia lakukan. Rio duduk bersandar di sofa depan TV. Belum juga mandi, Ia seperti orang kesepian.
Nggak biasanya aku begini, kenapa ya?
Rio seperti orang yang kosong, yang tiba-tiba sangat menyesal menyelingkuhi Sashi. Yang tiba-tiba ingin menikah, dan tiba-tiba merasa kesepian setelah bertahun-tahun LDR
Ting..tong..
Rio beranjak, sepertinya dia tahu siapa yang datang. Dia berjalan menuju monitor, dan ya benar itu Agatha. Sedikit malas Rio membukakan pintunya, namun Ia harus segera menyelesaikannya.
“Mau apa lagi Tha?” Tanya Rio yang sudah tidak ingin menatap wajah Agatha. “Aku lagi capek males diajak debat.
Agatha tak memperdulikan perkataan Rio, Ia segera masuk dan duduk di ruang tamu.
“Maksud kamu apa bilang aku sadar diri. Kamu ada masalah apa? Aku bikin salah apa? Kemarin kita baik-baik aja lho.” Cecar Agatha.
Rio yang mulai muak, tidak ingin menjawab apapun.
“Kita nggak ada masalah, tapi setelah kamu bawa Sashi ke tongkrongan kamu jadi berubah?” Imbuh Agatha.
Agatha berdiri menghampiri Rio, dan Ia raih tangan Rio. Namun sayang, Rio menepisnya. Rio sama sekali tidak mau disentuh.
“Maksud kamu apa Rio? Kamu mempermainkan aku? Bukannya kamu udah nggak sudi dengan Sashi kenapa sekarang jadi begini. Tiba-tiba banget. Jawab Rio! Ini pasti gara-gara Sashi.”
Plak!
Pipi Agatha memerah, Ia memegangnya dan terasa perih. Agatha gemetar dan menangis sambil tersungkur karena tamparan Rio cukup keras.
“Nggak usah sebut nama Sashi pake mulut kotormu.” Rio murka dan geram.
Agatha masih menunduk dan menangis, dia tidak menyangka akan diperlukan seperti ini oleh orang yang dia cintai.
“Kamu kalo nggak bisa diem mending pergi.” Umpat Rio. “Aku jijik sama perempuan murah kayak kamu.”
“Maksud kamu apa Rio.” Teriak Agatha. “Aku nggak sesampah itu!”
“Kamu udah tidur kan sama Aldo.” Rio mencengkram dagu Agatha memperlihatkan muka Agatha yang sudah basah penuh dengan air matanya. “Murahan!”
Rio lalu melepaskan cengkramannya dan membuat Agatha tersungkur jatuh ke bawah, Ia lalu menangis tersedu-sedu.
“Maksud kamu apa Rio? Aku cuma akrab aja sama dia. Bahkan Aku nggak pernah ketemuan sama dia.”
“Basi ******!” Teriak Rio lagi.