Menjadi sarjana diusia yang masih muda, tentu impian semua wanita, begitu pula dengan Alesya Faihanah, seorang wanita muslimah yang bersungguh-sungguh menghabiskan waktu mudanya untuk meraih impiannya.
Ketika Alesya sedang mempersiapkan baju toga entah mengapa ia harus memakai baju pengantin secara tiba-tiba. Apakah ini menjadi TAKDIR TERINDAH bagi Alesya?, yaitu menjadi seorang mahasiswi sekaligus seorang istri.
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
"Teruntuk kalian yang sedang membaca, jadilah pembaca yang aktif ya, aktif beri bintang dan beri komentar, Percayalah jempol kalian adalah suntikan semangat bagi saya sebagai penulis pemula yang masih belajar merangkai cerita"
{Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yak🙏}
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ukhfira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perlakuan Manis
Ketika dua orang saling mencintai
Dan sudah terikat dengan
ikatan yang halal
Setiap apa yang mereka lakukan
Semuanya berbuah pahala
~Takdir Terindah ~
Ukhfira
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yah🙏
Selamat membaca
Semoga suka
🌻🌻🌻
Hari libur telah tiba, banyak orang-orang yang menghabiskan hari libur mereka dengan kegiatan yang bervariasi, ada yang pergi liburan, ada yang bersantai di rumah bahkan ada juga yang masih sibuk dengan rutinitas kerjanya, sama halnya dengan Afnan, dia mengisi waktu libur kuliahnya itu dengan sibuk membereskan rumahnya seorang diri dari menyapu, mengepel, mengelap perabotan rumah membersihkan dapur pokoknya seperti asisten rumah tangga yang rajin sekali membersihkan rumah majikannya.
"Maa syaa Allah ini rumah jadi bersih banget, lantainya juga sudah makin kinclong, padahal baru saja aku mau beres-beres rumah, siapa yang bersihkan ini semua ya?"
Alesya yang baru saja turun dari tangga langsung terpukau melihat rumahnya bersih seketika padahal dia baru saja ingin membersihkannya tetapi ternyata sudah ada yang bersihin dan betapa kagetnya ia melihat sosok laki-laki yang mengenakan kaos lengan pendek dan celana selutut sedang asyik mengelap-elap kaca jendela rumahnya, walau wajahnya tidak terlihat karena berdiri membelakangi Alesya tetapi Alesya sudah mengenalinya, ia tersenyum lalu menghampirinya.
"Maa syaa Allah, suaminya siapa ini kok rajin banget."
Mendengar suara perempuan dari belakang sontak membuat Afnan sedikit terperanjat dan langsung menoleh ke belakang.
"Eh Sya, kamu sudah selesai mencuci bajunya?"
Alesya mengangguk. "Iya alhamdulillah aku sudah selesai mencuci baju, dan tadinya aku mau bereskan rumah eh ternyata sudah dibereskan sama pak suami, jazakallah khoiron."
Afnan tersenyum simpul. "Wa jazakillah khoiron Sya."
Alesya masih terheran-heran mengapa Afnan melakukan pekerjaan ini semua padahal ini adalah tugasnya sebagai ibu rumah tangga yang memang biasanya mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi ini malah kepala rumah tangga yang mengerjakannya, seperti terbalik saja.
"Kamu kenapa mengerjakan ini semua?, ini kan seharusnya menjadi tugas aku bukan kamu." Tanya Alesya kepada Afnan yang sudah selesai mengelap kaca kemudian mendudukkan dirinya di sofa.
"Kata siapa ini tugas kamu Sya, ini tugas kita bersama, kan yang tinggal di rumah ini kita berdua, lagi pula kamu kan sudah mencuci baju jadi aku yang bersihkan rumah, kalau begitu kan adil, kita bagi tugas namanya."
Dengan perasaan yang semakin kagum Alesya mulai menghampiri sang suami lalu menatapnya dengan penuh kekaguman, Afnan pun kebingungan dan ia lebih memilih meneguk air yang sedari tadi bertengger di meja.
"Maa syaa Allah, ternyata benar ya suami aku ini paket komplit, limited edition lagi, beruntung banget sih aku ini." Tutur Alesya dengan begitu bahagianya mendapatkan suami seperti laki-laki yang kini duduk dihadapannya.
Afnan pun tersenyum membalas senyuman istrinya yang begitu indah
"Alhamdulillah, Sya membantu pekerjaan rumah itu sunnah lho, Nabi Muhammad saja sering kok membantu istrinya membersihkan rumah, jadi sebagai umatnya aku harus dong ikuti sunnahnya."
Hati Alesya langsung berbunga-bunga bagaimana tidak kekasih halalnya itu berhasil membuat bulu kuduknya merinding sampai keakar-akarnya, bahkan rasa cintanya kian bertambah, rasanya Alesya seperti melihat Rasulullah didiri suaminya yang berusaha mengamalkan sunnah nabinya.
"Maa syaa Allah babarakallah Lak suami, aku boleh nggak peluk kamu?." Pinta Alesya yang berbinar-binar akibat rasa kagum kepada suaminya pemilik akhlakul karimah yang mana telah dicontohkan oleh idolanya nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam.
Dengan senang hati Afnan merenggangkan kedua tangannya untuk memberikan ruang bagi Alesya agar dapat memeluk tubuhnya, dengan hati yang tak kalah senangnya Alesya langsung berhambur kepelukan sang suami dengan penuh cinta, tak lupa Afnan mendaratkan ciuman penuh cinta dipuncak kepala sang istri.
"Oh ya Sya badan aku bau keringat ini, nanti kamu juga ikut bau lho."
"Nggak masalah, bagiku bau keringatmu adalah harumnya bunga syurga."
Bagi Alesya setiap tetesan air keringat yang keluar dari tubuh suaminya adalah tetesan air suci dari Syurga karena suaminya berpeluh keringat seperti itu sebab membantu dirinya membersihkan rumah. Istri mana yang tidak bersyukur memiliki suami yang mau membantunya dalam mengurusi rumah mereka, pasti istri-istri diluaran sana iri dengan Alesya karena mendapatkan seorang suami yang paket komplit seperti Afnan.
Akhirnya pelukan penuh cinta yang disaksikan oleh para malaikat itu terlepas dengan diakhiri saling melukiskan senyuman terindah di wajah keduanya.
"Karena kamu sudah bereskan rumah, sekarang giliran aku yang beraksi."
"Maksudnya Sya?." Tanya Afnan tak mengerti akan ucapan Alesya yang ambigu itu.
"Aku mau masak makanan kesukaan kamu."
Alesya pun beranjak dari duduknya lalu berlalu menuju dapur dengan disusul Afnan yang senang luar biasa karena selama 1 bulan lebih 3 hari menikah baru kali ini Alesya memasuki dapur untuk memasak, sebenarnya bukannya Alesya tidak suka memasak tetapi kemarin ia tidak diberi kesempatan oleh Afnan untuk memasak bagaimana tidak suami dari Alesya itu suka sekali memasak ditambah lagi Alesya masih membecinya jadi Alesya sama sekali tidak ingin menyentuh dapur.
"Memangnya kamu tahu makanan kesukaan aku?." Tanya Afnan kepada Alesya yang sedang menyiapkan peralatan masaknya.
"Ya tahu dong." Jawab Alesya dengan percaya diri.
"Apa memangnya?." Tanya Afnan lagi.
"Makanan yang halal."
Alesya langsung tertawa kecil setelah menjawab pertanyaan Afnan tentang makanan kesukaannya itu, sementara Afnan malah geleng-geleng kepala, tetapi benar juga apa yang dikatakan istrinya makanan yang halal adalah makanan kesukaannya.
"Bener kan makanan kesukaan kamu makanan yang halal, masa iya sih kamu nggak suka makanan yang halal."
"Iya benar kok, istriku ini memang pintar banget ya, nggak menyangka Pak suamimu ini lho." Puji Afnan dengan riangnya.
"Tapi mau masak makanan halal apa sih?." Tanya Afnan penasaran.
Bukannya menjawab pertanyaan suaminya itu, Alesya malah beralih ke kulkas lalu mengeluarkan semangkok udang mentah.
"Aku mau masak udang balado sama tumis kangkung, kamu suka nggak?"
Afnan memutar bola matanya seakan-akan membayangkan lezatnya udah balado plus tumis kangkung.
"Suka banget, jadi nggak sabar nih ingin kamu cepet-cepet selesai masaknya."
Alesya menggeleng-gelengkan kepala melihat suaminya yang antusias sekali menunggu dirinya selesai memasak.
"Yang sabar ya, sudah mendingan kamu tunggu di ruang tengah saja, sambil nonton atau melakukan aktivitas yang lainnya."
"Nggak mau, aku mau melihat kamu masak, kalau perlu aku abadikan."
Bisa saja Afnan menggoda sang istri yang dibuat senyum-senyum sendiri.
"Bismillah."
Dengan ucapan basmalah Alesya yang sudah siap dengan celemeknya memulai kegiatan memasaknya, sang suami yang tak kalah seriusnya memperhatikan kelihain dirinya mencincang-cincang bawang.
"Sya itu bawangnya kurang lho, nanti cita rasanya berkurang juga." Kritik Afnan bak juri killer di acara perlombaan memasak.
"Kurang apanya sih sudah cukup, kalau ditambah lagi malah kelebihan."
Afnan pun hanya dapat menggelengkan kepala mendengar pembelaan Alesya yang sepertinya tidak menerima masukan darinya.
Tumis kangkung buatan Alesya sudah hampir masak dan sekarang sedang diaduk-aduk diatas kompor, lalu sambil menunggu tumis kangkungnya masak Alesya mulai mencuci udang-udangnya terlebih dahulu sebelum nanti ia tiris-tiriskan.
"Lho Sya itu tumis kangkungnya diaduk dulu sampai rata, jangan malah membersihkan udangnya, selesaikan satu-satu."
Rupanya kicauan Afnan yang sudah berlebihan membuat Alesya memutar bola matanya jengah, ia langsung menghampiri sang suami dengan wajah sebal sementara Afnan langsung menyengirkan gigi putihnya yang tersusun rapi sehingga membuat ketampanannya kian bertambah. Tetapi tidak membuat Alesya tergila-gila.
"Kamu bawel ya dari tadi, ini kan aku yang masak jadi suka-suka aku dong."
"Ya tapi Sya aku cuma memberitahu kamu."
"Aku sudah tahu, sudah deh mending kamu keluar saja sana ke mana saja dari pada ganggu aku masak, atau kalau kamu masih di sini aku nggak jadi memasak buat kamu nih."
Ancaman Alesya sukses membuat Afnan panik dan ketakutan, mau tidak mau dia harus mengalah daripada istrinya itu moodnya buruk dan malah tidak jadi memasak makanan untuknya, dia pun akhirnya keluar dari dapur menuruti permintaan yang lebih tepatnya perintah dari istrinya yanh tercinta.
∆∆∆∆∆
Setengah jam berlalu Afnan yang tadinya sedang duduk santai sembari memainkan handponenya dikejutkan dengan kedatangan chef Alesya yang sedang membawa 2 piring yang mana terdapat udang balado dan tumis kangkung buatannya, Afnan langsung menelan ludah ketika melihat begitu menggodanya kedua makanan yang sudah berada dihadapannya itu.
"Makanan datang." Ucap Alesya.
"Maa syaa Allah ini enak banget Sya." Ujar Afnan yang sedang mempelototi masakan buatan Alesya.
"Kan belum dicoba, kok sudah bilang enak?" Tanya Alesya heran.
"Dari kelihatannya saja sudah enak Sya, pasti rasanya enak banget ini."
"Ya sudah dimakan dong."
Dengan penuh perhatian Alesya mengambilkan nasi plus udang balado dan tumis kangkung yang disatukan di piring untuk suaminya yang sudah tidak sabar menunggu.
"Bismillahirohmaanirrohiim."
Satu suap sendok perpaduan nasi, udang balado dan tumis kangkung masuk kedalam mulut Afnan yang langsung terbelalak menikmati rasa yang terdapat dimasakan buatan istrinya.
"Bagaimana enak nggak?." Tanya Alesya yang tak sabar menunggu jawaban dari Afnan.
"Maa syaa Allah enaknya pakai banget Sya." Jawab Afnan sambil megacungkan jempolnya.
Alesya senang sekali mendengar pujian yang diterimanya dari mulut sang suami yang tidak habis-habisnya dipenuhi makanan.
"Alhamdulillah kalau enak, ya sudah dimakan lagi dong."
"Kamu juga makan dong Sya, sini duduk samping aku."
Dengan sigap Afnan langsung memundurkan kursi disampingnya lalu Alesya pun duduk dikursi tersebut, dan Afnan mengangkat sendok yang sudah ia isi dengan udang balado tepat didepan mulut Alesya.
"A dong."
"Maa syaa Allah ternyata enak juga masakan aku, padahal sudah lumayan lama aku nggak masak gara-gara suamiku yang hobi masak jadinya istrinya mengalah deh."
Afnan yang mendengarkan jawaban sekaligus sindiran halus dari Alesya yang ditujukkan untuknya langsung kaget dan membelalakkan matanya seraya cengengesan.
"Aduh maaf ya istriku gara-gara suami kamu yang sering masak kamu malah nggak pernah masak, aku janji deh mulai besok kamu saja chef di rumah ini ya dan aku siap mengundurkan diri."
Alesya terkekeh ketika mendengar pengakuan dari Afnan yang katanya mengundurkan diri dari bidang masak-memasak sudah seperti bekerja di kantor saja pakai acara mengundurkan diri segala.
Acara makan-makan pun telah usai, dengan lahapnya Afnan menghabisi masakan istrinya yang terasa lezat dilidahnya bahkan sampai tak bersisa hanya tersisa piring-piring kotor saja yang siap diangkut ke dapur untuk dibersihkan kembali.
"Eh Sya mau ke mana?." Tanya Afnan menahan Alesya yang beranjak dari duduknya.
"Mau cuci piring."
"Nggak usah biar aku saja, sekarang giliran aku yang beraksi, ya."
"Ya tapi-"
Tanpa berkata-kata lagi Afnan langsung beranjak dari duduknya lalu mendudukkan Alesya kembali ketempat duduknya, sementara dia langsung memboyong seluruh piring kotor untuk dibawa ke dapur, Alesya hanya dapat tersenyum melihat sang suami sudah berlalu meninggalkan nya.
Dretttt drettt drettt
Suara getaran handpone mengagetkan Alesya, ia pun segera meraih benda pipih tersebut yang bersembunyi dibalik saku gamisnya.
Nama "Silmi" tertera dilayar handponenya menandakan bahwa yang sedang menelponnya adalah Silmi, sahabatnya.
"Hallo assalamu 'aikum Sil."
Alesya meletakkan handponenya didekat telinganya untuk mendengarkan suara Silmi diseberang sana.
"Wa 'alaikumus salaam Al kamu di mana, aku di depan rumah kamu ini."
"Aapa?, kamu didepan rumah aku?." Tanya Alesya dengan terbata-bata karena kaget mendengar pengakuan Silmi yang katanya sedang berada didepan rumahnya lebih tepatnya di depan rumah orang tuanya.
"Iya aku ingin main ke rumah kamu, tapi kok rumah kamu sepi sih, memangnya kalian sedang pergi ke mana?"
Di rumah orang tua Alesya sepi?, berarti anggota keluarganya sedang tidak di rumah, tetapi sedang dimana mereka, mengapa tidak memberitahu Alesya. Benar-benar membuat dirinya kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari Silmi.
"Aku-, aku lagi di luar Sil, tapi aku nggak lagi sama Bunda dan Ayah, aku nggak tahu juga mereka ke mana."
Alesya bisa bernapas sangat lega karena otaknya dapat bekerja dengan baik sehingga dia dapat menjawab pertanyaan Silmi tanpa harus berbohong.
"Terus kamu kapan pulangnya Al?, aku ingim main ke rumah kamu nih soalnya aku bosan berdiam diri di kost terus, sudah seperti ayam betina mau bertelur saja."
Ocehan sahabatnya itu sukses menggelitiki perutnya sampai mengeluarkan gelak tawa yang terdengar oleh telinga Silmi.
"Lho kok malah tertawa sih, jadi bagaimana Al kamu kapan pulangnya?"
Raut wajah Alesya seketika berubah setelah suara Silmi disebarang sana mempertanyakan dirinya yang kapan pulang, kalimat apa lagi yang harus dia jadikan jawaban untuk pertanyaan tersebut.
"Eummm, ini aku sudah mau pulang kok Sil, kamu tunggu saja dulu sebentar ya, tambah stok sabarnya oke, sudah dulu ya assalaamu 'alaikum"
Dengan secepat mungkin Alesya segera memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak bahkan belum sempat Silmi berkata-kata, tetapi mau bagaimana lagi Alesya sudah panik dan tidak bisa berpikir lebih lama lagi daripada nanti dia berbohong lebih baik segera mengakhiri sambungan teleponnya.
"Siapa yang telpon Sya."
Kedatangan Afnan yang baru saja selesai mencuci piring menyadarkan Alesya tentang Silmi yang sedang berada di rumah kedua orang tuanya dan menunggu dirinya.
"Silmi, dia sekarang lagi di rumah Ayah dan Bunda, aku harus ke sana sekarang."
"Oh ya sudah kalau begitu aku ikut."
"Jangan!"
"Kenapa?" Tanya Afnan tak mengerti.
"Kok kamu malah nanya kenapa sih?, Silmi kan nggak tahu kalau kamu itu suami aku, aku belum siap memperkenalkan kamu sama Silmi, kamu mengerti kan?"
Melihat raut wajah sang istri yang tengah cemas membuat Afnan mengalah dan segera mengelus puncak kepala istrinya dengan lembut.
"Aku mengerti kok, ya suda kalau begitu aku anterkan kamu ya?"
"Nghak usah, aku naik motor saja, soalnya kan Silmi tahu kalau aku sudah punya motor, ya sudah kalau begitu aku pergi dulu ya, assalaamu 'alaikum."
Dengan langkah tergesa-gesa Alesya keluar dari ruang makan meninggalkan Afnan yang baru saja menjawab salamnya tetapi Alesya malah balik lagi menghampiri suaminya.
"Ada apa?"
"Aku lupa cium tangan suamiku."
Afnan pun tersenyum melihat sang istri begitu lucu karena tergesa-gesa sampai lupa untuk mencium punggung tangannya.
"Assalaamu 'alaikum."
"Wa 'alaikumus salaam, fii amanillah Sya."
Kali ini Alesya sungguhan meninggalkan suaminya untuk pergi ke rumah orang tuanya menemui sahabatnya yang sedang ingin singgah ke rumah tersebut tentunya ingin bermain dengannya.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Assalamulaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Hayyyy readersss
Jangan lupa ya setelah singgah dilapak ini, tinggalkan vote dan komennya
Jangan malah pergi tanpa jejak
Itu menyakitkan😢
Yukkk hargai setiap cerita yang disuguhkan yaaa
Cukup vote dan komen saja kok
Ringan kan nggak berat
Buat kalian para readers
Yang vote dan komen
Kalian LUAR BIASA
Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Semoga ada season 2 dari karya ini
lanjut ah baca yang ke dua