Awan tidak pernah menyangka kalau gadis yang akan di jodohkan dengannya itu adalah Senja kekasihnya sendiri. Kedua orang tua mereka sudah sepakat dan akan segera menikahkan mereka. Tapi suatu konflik telah terjadi karena kebohongan orang tua Awan yang mengaku kalau dirinya orang kaya. Pak Agung telah mengetahui kalau Awan bukan anak orang kaya seperti yang di harapkan nya.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Akankah hubungan mereka bisa berlanjut ke jenjang pernikahan setelah hal tersebut terjadi?
Mari ikuti ceritanya dalam Pernikahan Tanpa Restu.
👉 Selamat membaca semoga suka 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristina dinata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja datang kerumah Orang tua Awan
Siang itu Awan dan Senja tiba di rumahnya. Mama Andin yang masih duduk termenung kaget mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya. Awan dengan rasa malunya menunjukkan rumahnya pada Senja.
"Sayang, inilah rumah orang tuaku apa kamu masih mau jadi pacarku?" tanyanya ragu.
"Apaan sih Mas, nanya nya kok gitu? aku gak mempermasalahkan rumah atau pun apa. Aku hanya ingin kamu mengerti aku, setia sama aku dan aku bisa bahagia saat bersamamu, itu sudah lebih dari cukup Mas," ujar Senja.
"Hem, so sweat banget sih kamu Sayang, aku jadi terharu deh, makasih ya? sudah mengerti keadaanku. Kamu adalah wanita paling terbaik dalam hidupku setelah Mama aku Sayang," puji Awan merasa bangga punya pacar sebaik Senja.
"Hah, biasa aja bicaranya Mas, jangan lebay gitu?" cibir Senja. Awan menatap Senja sambil tersenyum ia pun mengajak Senja masuk.
"Mama ... Mama ...!" panggil Awan sambil mengetuk pintu.
"Awan?" ucap Mama Andin ia langsung pergi ke arah pintu, ia mengintip memastikan siapa yang datang. Ternyata benar itu Awan, sontak Mama Andin merasa senang ia segera membuka pintu. Tapi saat mengetahui Awan pulang tidak sendiri ia menutup kembali pintunya.
"Lho. Ma, kenapa di tutup lagi pintunya? kita mau masuk Ma ...!" Awan berteriak.
Mama Andin membuka pintu kembali dan langsung menarik tangan Awan. Tapi, tidak dengan Senja ia membiarkan Senja di luar dan tidak di tawari masuk.
"Awan! apa yang kau lakukan ini? kenapa kamu mengajak Senja ke rumah ini? apa kamu ingin Ayah marah. Bagaimana kalau ia memberitau Pak Agung kalau kita orang miskin pastilah mereka akan membatalkannya perjodohanmu," ujar Mama Andin nyerocos tiada henti. Awan diomelin habis-habisan karena membawa Senja ke rumahnya tanpa ijin dan persiapan dulu. Mama Andin sangat kuatir Senja akan memberitahukan pada papa dan mamanya kalau mereka telah berbohong selama ini tentang identitas dan status mereka. Pastilah orang tuanya akan membatalkan perjodohan mereka.
"Ma, Mama dengerin dulu, aku mau bicara!" ucap Awan bernada keras membuat Mama Andin terdiam. Sementara Senja masih berada di luar kebingungan kenapa ia belum di ijinkan masuk malah di biarkan diluar sendirian.
"Senja sudah tau semuanya Ma, buat apa di tutup-tutupi lagi!" seru Awan bersuara keras.
"Apa?" Mama Andin histeris.
"Jadi bagaimana soal pertunangan kalian? apa Senja mau sama kamu anak orang kismin? bagaimana dengan orang tuanya juga?" tanya Mama Andin panik.
"Senja itu cintanya tulus sama aku Ma, ia mau menerima aku apaadanya oleh sebab itu, Awan mau Mama sama Ayah berhenti bersandiwara berlagak jadi orang kaya. Plis jangan bikin malu Awan dengan sikap konyol kalian!" ucap Awan dengan tegas.
Awan pun pergi meninggalkan mamanya dan ia menemui Senja yang masih di luar.
"Sayang Maaf yah, sudah biarkan kamu diluar," ucap Awan membawa Senja masuk.
"Iya gak apa-apa Mas, apa Mama kamu marah aku ke sini? kalau dia marah aku pulang saja Mas," ucap Senja ingin balik ke mobil.
Awan menarik tangan Senja menghentikan langkahnya. "Mama tidak marah kok Sayang, cuma Mama ..." Awan berhenti sejenak.
"Cuma apa Mas?" tanya Senja penasaran.
"Mama ... Mama malu, kamu tiba-tiba datang ke sini Sayang, karna kondisi rumah kita seperti ini adanya." ucap Awan bicara lemah.
"Hem, apa sih? selalu mempermasalahkan hal itu aku biasa aja. Santai saja emang apanya yang kurang, perasaan biasa aja rumahnya gak jelek-jelek amat malah aku suka dengan rumah seperti ini lebih nyaman," ujar Senja bicara jujur.
"Jangan meledek Sayang bilang aja terus terang kalau rumah kami tidak senyaman di rumahmu," cibir Awan.
Iya benaran aku suka rumahnya gak percaya banget sih kamu Mas bikin sebel aja!" ujar Senja cemberut.
"Mama malu karena sudah membohongi keluargamu Sayang, mengaku punya rumah gedung, tapi kenyataannya begini," ucap Awan sungkan dan merasa malu.
"Hem, itu tidak masalah buatku. Rumah kamu bagus kok yaman dan bikin tenang. Justru aku mengidamkan rumah seperti ini Mas, kalau kita menikah nanti aku mau punya rumah seperti ini. Tidak terlalu besar cukup untuk keluarga kecil kita. Ada ruangan sederhana seperti ini 2 kamar punya halaman yang luas di tanami bermacam jenis bunga dan tumbuh-tumbuhan aku senang berada di sini, terasa sejuk," ucap senja merasa senang.
Senja melihat di sekeliling rumah Awan. Memandang tabjub ke arah luar jendela melihat berbagai jenis tanaman bunga dan beberapa pohon membuat suasana nyaman dan indah di pandangan matanya.
Awan kaget mendengar pembicaraan Senja dan Mama Andin yang menguping ikut terharu hingga ia menitiskan air matanya karena Senja tidak seperti yang ia bayangkan mau saja menerima keadaan Awan dan keadaan rumah mereka.
Mama Andin menemui Senja di depan ia menyambut kedatangan Senja dengan hangat dan ramah ia juga meminta maaf pada Senja karena sudah berbohong selama itu tentang status keluarganya.
"Senja maafin Ibu ya?" ujar Mama Andin sungkan.
"Gak perlu minta maaf Bu, Senja sudah memaafkan Ibu dan Bapak kok," sahut Senja.
Mama Andin merasa senang dan bahagia ia langsung merangkul Senja dan mereka berpelukan. Lalu Mama Andin membawa Senja masuk.
"Maaf ya Sayang, rumah kita sempit kamu kepanasan ya? biar Ibu ambil kipas di kamar," ucap Mama Andin ingin beranjak tapi di tahan Senja.
"Gak perlu Bu, gak perlu. Senja gak kepanasan kok, di sini suasananya nyaman banget Senja suka seperti di desa-desa gitu. Sejuk dan sepi benar-benar tidak bikin stres," puji Senja.
Mama Andin memperlakukan Senja sangat spesial dirumahnya ia menyediakan tempat duduk paling terbaik untuk Senja. Lalu senja teringat sesuatu.
"Mas Awan aku lupa belanjaan masih di mobil," ucap Senja tiba-tiba.
"Oh iya Sayang, biar aku ambil dulu." Awan bergegas keluar mengambil belanjaan Senja yang tadi di belinya.
"Belanjaan apa?" tanya Mama Andin kaget.
Setelah beberapa menit Awan kembali ia membawa sekantong besar belanjaan.
"Nih, Sayang belanjaannya. Aku bawa di dapur ya."
"Awan itu apa?" tanya Mama Andin.
"Itu bahan untuk memasak Bu, rencananya Senja mau ajak Ibu masak-masak hari ini, kata Awan Ibu pintar masak jadi boleh dong sekalian Senja belajar sama Ibu," ujar Senja sambil tersenyum.
"Ya ampun Senja Sayang, kok repot-repot sih bawa belanjaan segala. Kalau mau masak ada kok bahan di dapur gak perlu beli gini, aduh jadi gak enak Ibu," ujar Mama Andin sungkan.
"Gak apa-apa Buk. Sekali-sekali," sahut Senja.
"Ya sudah kalau mau masak, Senja di sini saja biar Ibu yang masak."
"Gak bisa gitu dong, Senja juga mau ikut masak." sahut Senja bangun dari tempat duduknya.
"Emang Senja bisa masak?" Mama Andin ragu.
"Ya belajar dulu dong, Senja kan pengen jadi istri yang baik buat Mas Alam," ucap Senja tersenyum sambil melirik Awan yang masih menenteng kantong belanjaan.
Awan terseyum bahagia mendengar ucapan Senja.
Mama Andin pun mengajak Senja ke dapur.
"Maaf ya Sayang, dapurnya jelek dan berantakan maklum Ibu sibuk bekerja sendiri lagi tak ada yang bantu buat beres-beres," ucap Mama Andin basa-basi.
"Bagus kok Bu, dapurnya bersih. Ibu tenang saja setelah Senja sah jadi menantu Ibu, Senja akan bantu-bantu berberes di dapur," ucapnya.
"Gak usah repot-repot Sayang, ibu bisa kerjakan nya sendiri. Ibu cuma asal bicara saja bukan menyuruh kamu bantu-bantu ada-ada saja kamu," ucap Mama Andin sambil tertawa sendiri memikirkan kata-katanya.
ijin follow yaa, follback thor
PaMud mampir