Pantas saja dia tidak mau menyentuhku, ternyata ada hati yang sedang dia jaga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran besar
Sejak kejadian itu, seolah Ayu menghindari bertemu dengan Rafa di rumah itu. Dia bahkan merasa sangat tertekan karena tidak bisa pergi dari Rafa akibat kondisi ibunya yang menderita penyakit jantung dan tidak bisa mendengar kabar buruk atau penyakitnya akan kambuh. Sementara dokter mengatakan agar mereka tidak membuat jantungnya kambuh, atau mereka akan mengalami kemungkinan terburuk, yaitu kehilangan sang mama.
Rafa yang baru saja bangun tidur bermaksud mengambil ponselnya di atas nakas. Namun, tanpa sengaja dia melihat ke arah laci yang sedikit terbuka. Terlihat sebuah pil kontrasepsi yang sudah dibuka beberapa butir.
Mata Rafa membulat, tak percaya karena ternyata selama ini Alini mengkonsumsi pil kontrasepsi karena tidak ingin hamil. Padahal, anak adalah hal yang paling Rafa harapkan dalam hidupnya. Apalagi ibunya selalu bertanya kapan dia akan punya anak.
"Lin, bangun kamu," ucap Rafa sambil mengguncang tubuh Alini yang masih terlelap di atas tempat tidur.
"Emmmh, apa sih, Mas." Alini menggeliat karena tidurnya diganggu oleh Rafa. Tadi malam dia pulang cukup larut, dan harus melayani suaminya sehingga dia masih terlihat lelah dan mengantuk.
"Kamu minum pil kontrasepsi?" tanya Rafa yang langsung membuat mata Alini terbuka sempurna. Dia langsung bangun dari tidurnya meskipun kantuknya masih terasa.
Merebut pil kontrasepsi itu dan menyembunyikannya lagi di laci nakas.
"Kamu jujur sama aku, Lin, kamu diam-diam minum pil kontrasepsi? Kamu nggak mau punya anak?" tanya Rafa yang masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran Alini.
"Aku bisa jelasin, Mas. Aku mau punya anak, kok, tapi nanti, nggak sekarang. Aku maunya nanti setelah kamu pisah sama Ayu." Alini menatap ragu seakan tahu jika jawabannya tidak akan diterima oleh Rafa.
"Nggak, kamu nggak boleh menunda kehamilan. Aku pengen banget punya anak." Rafa masih memaksa Alini yang masih menunjukkan raut wajah ragu.
"Maaf, Mas, aku belum bisa."
"Kenapa? Kamu takut kalau setelah hamil kamu nggak bisa foya-foya lagi? Nggak bisa shopping sesuka kamu? Nggak bisa jalan-jalan ke sana kemari sama mama kamu? Takut kalau tubuh kamu berubah? Takut capek? Lelah? Kurang tidur?" Pernyataan Rafa seolah menjawab semua ketakutan Alini. Menurut Rafa, wanita yang mementingkan penampilan seperti Alini tidak akan mudah memutuskan untuk memiliki anak. Pasti dia takut jika tubuhnya berubah dan tidak secantik sebelumnya.
"Mas, tolong dong kamu ngertiin aku. Bangun pagi aja aku susah, apalagi ngurus anak, bangun malam, kasih susu, beresin pupnya." Akhirnya Alini mengakui bahwa dia enggan memiliki anak karena tidak mau repot dan kehilangan kecantikannya.
"Jadi mau sampai kapan kamu takut kehilangan kecantikan kamu? Mau sampai kapan kamu baru akan memutuskan punya anak?"
"Mmmm, Mas, gimana kalau kita freechild aja. Kayak selebgram itu. Katanya biar awet muda kita nggak usah punya anak."
"Itu sama sekali nggak ngaruh, Lin, mau punya anak atau enggak, kita akan semakin tua dimakan usia. Aku nggak habis pikir dengan jalan pikiran kamu. Bisa-bisanya kamu berpikir untuk nggak memiliki anak. Kalau kamu nggak mau, lalu untuk apa kita menikah? Untuk apa aku menikahimu? Untuk bisa memberikanmu kehidupan mewah dan uang agar kamu bisa foya-foya bersama ibumu?"
"Cukup, Mas, kamu nggak berhak menyalahkan mamaku. Di sini aja kamu salah karena kamu udah menikah lagi."
"Aku hanya menuruti surat wasiat dari papa."
"Halah, udah meninggal aja udah ngerusak hubungan anaknya. Ngapain kamu terlalu patuh sama wasiat itu. Toh yang menjalani kehidupan kan kamu. Sedangkan papa kamu udah meninggal!"
"Diam, kamu, Lin, kamu nggak berhak mengatakan hal itu padaku. Biarpun papa aku udah meninggal, tapi warisannya tetap bisa kamu rasakan. Semua barang-barang mewah dan uang yang kamu gunakan untuk foya-foya adalah hasil dari kerja keras papaku. Sekarang aku jadi nyesel, kenapa aku mau menikahi wanita seperti kamu. Ternyata benar wasiat yang diberikan papaku. Dia ingin aku menikahi Ayu, karena dia tahu Ayu adalah istri yang baik. Menyesal aku karena telah membuatnya sedih."
Ucapan Rafa membuat Alini marah besar. Bisa-bisanya Rafa mengatakan bahwa dia sudah menyesal menikah dengan Alini. Padahal, Alini sudah menyerahkan hidupnya, bahkan menerima status yang disembunyikan oleh Rafa dari publik.
"Jadi kamu nyesel nikah sama aku?"
"Kalau iya kenapa? Nggak terima? Makanya ngaca! Udahlah, lebih baik aku keluar daripada sumpek di rumah ngeliat kamu!" Rafa pun pergi dari rumah itu dengan perasaan kesal. Dia pun pergi ke klub malam dan berbabuk-mabukan di sana. Berusaha untuk menghilangkan rasa kesalnya dengan menenggak minuman haram itu.
Sedangkan Alini menangis tersedu-sedu di kamarnya karena ucapan Rafa sudah sangat menyakitinya. Dia pun mengepal erat tangannya dan menatap tajam ke sembarang arah.
"Ini pasti karena Ayu masih di sini makanya dia berani bersikap kayak gitu sama aku. Dulu dia selalu mengabulkan apapun permintaanku dan nggak pernah menuntut seperti ini. Ayu, sepertinya kamu memang harus segera aku singkirkan dari rumah ini."
walaupun singkat tapi mantap
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘