Follow Ig @deche62
Ketika Rahma Sasmita berjalan menuju ke kantornya. Tanpa sengaja ia melihat seorang kakek yang hampir terjatuh karena kakinya keseleo akibat tidak melihat lubang yang ada di trotoar. Namun, siapa sangka pertemuannya dengan kakek itu bisa merubah hidupnya yang tenang menjadi nano-nano.
Rendi Dirgantara Kartabatara seorang pria keren dan tampan. Ia berasal dari keluarga kaya raya namun sayang dia sangat sombong. Pada suatu hari kakeknya memperkenalkan Rendi dengan seorang perempuan sederhana yang berpreofesi sebagai aparatur sipil negara. Kakeknya mengancam jika Rendi tidak menikah dengan perempuan itu maka namanya akan dicoret dari daftar ahli waris. Dengan terpaksa Rendi mengikuti perkataan kakeknya.
Bagaimana hubungan Rendi dan Rahma selanjutnya? Baca cerita ini sampai tamat! Jangan dibaca jika tidak tertarik dengan jalan ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Makan
Hari ketiga di Wonosobo Rahma masih sibuk dengan mengevaluasi calon penerima manfaat. Namun, hari ini pesertanya tidak sebanyak kemarin. Pukul sebelah sudah tidak ada lagi peserta yang akan mengikuti evaluasi. Rahma dan rekan-rekannya membereskan formulir-formulir yang sudah diisi. Mereka bersiap-siap untuk makan siang.
Kali ini mereka akan makan siang di luar karena mereka masih harus berkunjung ke salah satu kecamatan yang ada di Wonosobo. Mereka akan mengevaluasi disabilitas calon penerima manfaat yang berada di kecamatan tersebut.
Sebelum pergi ke kecamatan yang dituju mereka mampir dulu ke sebuah rumah makan. Ibu Rosida mengajak mereka untuk makan mie ongklok. Mie ongklok adalah makanan khas Wonosobo yang dimakan bersama dengan sate sapi.
Ini pertama kalinya Rahma dan Rendi makan mie ongklok. Ketika pelayan rumah makan menaruh mie ongklok di meja, Rendi dan Rahma penasaran untuk segera melihat mie ongklok. Ternyata mie ongklok adalah seporsi mie yang disiram dengan kuah kental. Rahma mengambil sendok lalu mencicip kuah kental. Ternyata rasanya manis dan ada rasa gurih. Rasanya asing di lidah mereka. Mungkin baru kali ini mereka makan mie berkuah manis.
Rahma memasukkan sambal ke dalam mangkok mie. Rendi memperhatikan Rahma yang sedang memasukkan sambal.
“Tidak kebanyakan tuh sambelnya?” Rendi menunjuk ke mangkok milik Rahma.
“Tidak,” jawab Rahma sambil mengaduk mie yang sudah diberi sambel lalu dicicipi rasanya. Rahma mengangguk-angguk sebagai tanda rasanya enak.
Kemudian pelayan itu datang lagi dan menaruh sepiring sate sapi di meja mereka.
“Dimakannya sama sate, ya?” Rahma bertanya kepada Rendi.
“Iya, mungkin,” jawab Rendi.
Rendi mengambil satu tusuk sate sapi lalu memakannya.
“Hmm. Dagingnya empuk,” ujar Rendi sambil mengunyah sate.
Di atas meja juga sudah disediakan tempe kemul dan ge-blek. Rahma mengambil satu buah ge-blek lalu memakannya.
“Rasanya mirip dengan cireng,” kata Rahma sambil mengunyah ge-blek. Rahma mencoba semua makanan yang tersaji di atas meja.
Setelah selesai makan mereka melanjutkan perjalanan menuju ke kecamatan yang dituju. Ternyata kecamatan tersebut sangat jauh dari kota. Mereka harus menempuh perjalanan selama setengah jam. Akhirnya mereka sampai di alun-alun kecamatan yang dituju.
Mereka disambut oleh pegawai kecamatan. Para peserta evaluasi sudah menunggu kedatangan mereka. Mereka langsung mengadakan evaluasi di kantor kecamatan. Seperti biasa Rendi berperan sebagai tukang foto. Pukul tiga mereka selesai evaluasi. Sudah waktunya mereka kembali ke hotel.
Pukul setengah empat mereka sudah sampai di pusat kota Wonosobo. Perut Rendi mulai lapar kembali karena tadi siang mereka tidak makan nasi melainkan makan mie. Sebelum ke hotel mereka mencari makanan. Mobil yang dikendarai Pak Sobir melewati rumah makan yang menjual soto.
“Itu ada soto.” Rahma menunjuk ke arah rumah makan tersebut.
Rendi menoleh ke Rahma. “Mana?” tanya Rendi.
“Sudah kelewat,” jawab Rahma.
“Berhenti, Pak!” ujar Rendi.
Pak Sobir menghentikan mobil.
“Mundur, Pak!” kata Rendi.
Perlahan Pak Sobir memundurkan mobil. Rendi membantu melihat ke belakang kalau saja ada kendaraan lain di belakang mobil. Lalu Pak Sobir memarkirkan mobil di depan rumah makan. Rendi dan Rahma turun dari mobil. Mereka masuk ke dalam rumah makan.
Rumah makan itu nampak sepi tidak ada satu orangpun yang berkunjung. Rendi mengambil daftar menu yang berada di atas meja. Ia membaca daftar menu.
“Pak Rendi mau makan apa?” tanya Rahma. Rahma sudah siap dengan kertas dan pinsil.
“Soto daging.” Rendi menaruh kembali daftar menu di atas meja.
Pak Sobir menyusul ke dalam rumah makan.
“Pilih mau makan apa!” Rendi memberi daftar menu kepada Pak Sobir.
Rahma mencatat pesanan mereka lalu diberikan kepada pemilik warung makan. Mereka menunggu pesanan mereka yang sedang dibuat. Lima belas menit kemudian pesanan mereka datang. Mereka pun memakan pesanan mereka.
Setelah selesai makan mereka membeli oleh-oleh di toko oleh-oleh yang ada di sebelah rumah makan. Rahma membeli banyak oleh-oleh untuk Pak Sultan dan Ibu Claudia serta teman-teman kostnya. Ketika Rahma hendak membayar belanjaannya tiba-tiba Rendi langsung menyodorkan kartu saktinya kepada Rahma.
“Bayar pakai ini, Ma,” ujar Rendi.
“Tidak usah, Pak Rendi! Saya bayar sendiri saja.” Rahma menolak kartu sakti pemberian Rendi. Ia mengambil uang dari dalam dompet. Cepat-cepat Rendi memberikan kartu sakti kepada kasir.
“Saya bayar pakai ini,” ujar Rendi. Kasir menerima kartu sakti tersebut lalu memproses pembayaran. Melihat apa yang Rendi lakukan Rahma menghela napas. Ia kedahuluan oleh Rendi.
Setelah selesai belanja Rendi membawakan semua belanjaan Rahma ke mobil. Ia memasukkan ke dalam bagasi. Rahma masuk ke dalam mobil. Tiba-tiba ponsel Rahma berdering. Rendi masuk ke dalam mobil. Ia mendengar suara ponsel Rahma yang berdering. Rahma sedang mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Di layar ponselnya tertulis Pak Iqbal calling.
“Assalamualaikum,” ucap Rahma.
“Waalaikumsalam. Rahma, kamu dimana?” tanya Pak Iqbal.
“Saya masih di luar, Pak,” jawab Rahma.
“Jangan lupa kita buat laporan!” ujar Pak Iqbal.
“Baik, Pak,” jawab Rahma.
“Dimana buat laporannya?” tanya Rahma.
Rendi menajamkan pendengarannya. Ia mendengarkan pembicaraan Rahma dengan Pak Iqbal. Ia ingin tahu apa yang Rahma bicarakan dengan Pak Iqbal.
“Di kamar saya saja,” jawab Pak Iqbal.
“Baik, Pak. Nanti saya ke kamar Bapak,” kata Rahma.
“Assalamualaikum.” Pak Iqbal mengakhiri pembicaraannya.
“Siapa yang menelepon?” tanya Rendi.
“Pak Iqbal. Dia mengajak saya untuk membuat laporan,” jawab Rahma.
“Perasaan kamu kerjanya buat laporan terus,” ujar Rendi.
“Saya kan staf biasa. Setiap ada tugas yang diberikan oleh atasan saya, saya harus memberikan laporan kepada atasan saya,” kata Rahma.
“Pak Rendi mah enak. Kalau menggunakan uang perusahan tidak usah membuat laporan,” lanjut Rahma.
“Kata siapa? Kalau tidak ada pertanggung jawaban, perusahaan itu tidak akan berdiri sampai sekarang,” ujar Rendi.
“Iya, deh saya salah. Saya minta maaf,” ucap Rahma dengan nada bersalah. Ia menyangka Rendi suka menghambur-hambur uang milik kakeknya. Ternyata dugaan Rahma salah. Dia orang yang bertanggung jawab.
Rendi tersenyum menatap Rahma.
“Tidak apa-apa. Saya mengerti maksud kamu,” ujar Rendi.
Rendi menatap keluar jendela sepertinya dari tadi mereka belum sampai ke hotel.
“Pak Sobir, kenapa kita belum juga sampai? Bukankan tadi kita sudah hampir dekat dengan hotel?” tanya Rendi.
“Anu, Pak. Petanya ngajak muter-muter terus,” jawab Pak Sobir sambil melirik sebentar ke kaca spion yang berada di tengah.
“Ke pinggir dulu, Pak! Kita tanya ke orang lain,” ujar Rendi.
Pak Sobir menepikan mobil ke pinggir jalan. Kebetulan di pinggir jalan ada tukang parkir. Rahma membuka kaca jendela mobil.
“Maaf, Pak. Numpang tanya, kalau hotel Defem dimana?” tanya Rahma.
“Oh, di dekat jalan ke Dieng,” jawab tukang parkir.
“Dari sini kemana, Pak?” tanya Rahma.
Tukang parkir itu menerangkan jalan menuju ke hotel. Mereka mendengarkan baik-baik perkataan tukang parkir. Mereka mencoba untuk mengerti petunjuk yang diberikan oleh tukang parkir.
“Terima kasih, Pak,” ucap Rahma setelah mengerti petunjuk yang diberikan tukang parkir. Rahma menaikkan kaca mobil. Mobil pun melaju mengikuti arah yang diberikan oleh tukang parkir. Akhirnya mereka sampai juga di hotel.
.
.
sok mandiri