ig : @es.pucil
_____________
Ada banyak alasan mengapa Karina dengan sangat mudah diterima di keluarga Eduardo. Ia seorang aktris terkenal yang selalu sukses menjadikan filmnya selalu laris di bioskop, serta memiliki karakter dan budi pekerti yang sangat baik.
Namun, ada juga beberapa alasan yang sangat kuat mengapa Karina harus memilih Erik Eduardo sebagai kekasih meski usia mereka terpaut 19 tahun. Selain kaya raya serta sukses di bidang bisnis, Karina juga harus memilih Erik untuk ... balas dendam. Demi menebus kematian dirinya dan sang kakak 19 tahun silam, karena keserakahan Erik untuk memiliki sang anak hasil hubungannya dengan sang kakak: Bella ... yang membuahkan gadis kecil bernama Eliza dengan fisik sangat menyerupai mendiang Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Es Pucil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Tiga Hari Penentuan
Karina dan Eliza tiba di ruang makan hampir bersamaan, tetapi saling bertukar pandang dengan ekspresi yang jauh berbeda. Karina memandangnya lembut, bahkan tersenyum dengan sangat ramah. Berbanding terbalik dengan Eliza yang sinis dan nyalang.
Dibandingkan tersinggung, Karina malah semakin tertarik karena seakan melihat sisi lain dari kakaknya yang dahulu sangat penyabar dan penyayang. Ini terasa ... menyenangkan karena seolah bisa bermain-main lagi dengan sang kakak walau dalam wujud lain..
Erik masuk tidak lama kemudian, dengan membawa selembar jas yang tersampir di lengan kirinya. Ia menghampiri Eliza lebih dulu untuk mencium kening puncak kepala putrinya itu, lalu berpindah mengecup sebentar kening Karina.
“Saya seperti punya dua putri sekarang,” kata Erik ketika sudah menduduki tempatnya yang berada tepat di tengah-tengah antara Karina dan Eliza.
Karina mengangkat cangkirnya. Sebelum berbicara, ia sempatkan berbicara pada Erik, “Tapi aku spesial, bisa kasih kamu putra atau putri tambahan.” Lalu mengedipkan sebelah mata dengan senyum tipis.
Erik mendengkus geli, lalu tersenyum sangat lebar sampai matanya menyipit sempurna. Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya takjub, lalu mengangguki jawaban Karina. Hampir mengabaikan ekspresi tidak suka dari putrinya sendiri.
“Omong-omong,” kata Karina ketika Erik hendak menanyakan ketidaknyamanan di wajah Eliza. Sehingga pria itu kembali fokus padanya. “Kamu mau ke mana? Kamu bukannya libur sampai satu pekan ke depan? Kamu udah janji mau habisin waktu sepekan depan buat temenin aku.”
“Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan sesegera mungkin, Sayang. Semua target yang seharusnya dikerjakan nanti, harus saya selesaikan sesegera mungkin. Perkiraan, maksimal selesai tiga hari. Tim akan saya paksa bekerja keras, supaya nantinya setelah ini selesai, kita bisa bulan madu ke luar negeri lebih lama," jelas Erik, tenang.
Karina tersenyum malu-malu, dipaksa. Gadis itu menunduk dalam, seolah ingin menyembunyikan wajah yang memerah, tetapi tidak. Ia merasa tidak nyaman atas ide tersebut entah untuk alasan apa. Feeling-nya mendadak buruk mengingat bahwa gadis itu bahkan belum tahu sedikit rahasia tentang Erik.
Apa pun bisa saja terjadi ke depannya, dan Erik akan kembali terkenal jika sesuatu menimpa Karina.
Jelas, gadis itu tidak bisa tenang. Jika perkiraannya bahwa Erik mengejar ketenaran adalah benar.
“Tapi, kapan kita bisa pergi bersama? Aku selalu mau ajak kamu belanja bareng.” Karina memasang wajah memelas, agar pria itu tidak bisa menolaknya.
Erik sempatkan bergeming sesaat, seolah sibuk berpikir mempertimbangkan waktu dan jadwalnya.
“Berapa lama, Sayang?” tanya Erik.
“Cuman sebentar kalau kamu nggak bisa lama-lama. Kamu juga pemilik perusahaan, bisa pantau semuanya dari jauh. Cukup temani aku, kamu bisa tunggu aku selesai sambil kamu kerja. Bagaimana?” Karina menawarkan, dengan hati-hati dan penuh negosiasi agar tidak ditolak.
Pertama-tama, ia ingin memperbaiki namanya yang buruk akibat bocoran fakta dari Erik tentang jumlah uang yang Karina habiskan selama empat hari. Maka dari itu, ia harus mengajak Erik sekalian demi rencana ini.
“Nggak bisa nunggu empat hari lagi, Sayang?”
Hanya beberapa detik setelah Erik mengatakan itu, Karina segera mencebikkan bibir menunjukkan ketidaksukaan. Memancing reaksi bergidik ngeri dari Eliza yang memperhatikan interaksi mereka.
“Aku kenyang, Pa.” Eliza akhirnya menyerah pada rasa muak atas tontonan menggelikan pagi ini. Ia bahkan belum menyentuh satu pun piring yang secara teratur dibawa pelayan ke meja makan berisi lauk dari dapur.
“Sarapan sedikit, Eliza. Kamu punya mag kronis!” kata Erik, dengan suara lantang menunjukkan kekhawatiran tinggi untuk sang putri.
“Nggak papa, Erik, biar aku yang susul buat anter bekal buat dia.” Karina menawarkan dengan suara yang teramat lembut khas keibuan. “Aku pastikan dia bakalan habiskan semua makanannya.”
“Terima kasih, Sayang.”
“Oh iya, sekitar kapan berapa kamu bisa temani aku?”
Erik sempatkan melirik jam di pergelangan tangan kirinya sebentar.
“Hari ini aku usahakan bisa, jam dua belas, sepuluh menit, perkiraan, Sayang. Nggak bakalan terlalu jauh dari jam segitu,” jawab Erik.
“Okey, Sayang.” Karina balas dengan senyum terbaik yang ia punya.
Jika Erik punya waktu tiga hari untuk menyelesaikan pekerjaannya, maka Karina memiliki waktu yang sama banyaknya untuk mencari rahasia pria itu agar bisa dimanfaatkan sebagai perisai keamanan untuk diri sendiri.
Namun, bukankah Angga juga memiliki informasi tentang Erik?
...*...
“Sayang, kamu makan, ya? Bukan cuman papa kamu aja yang khawatir nanti. Aku juga bakalan khawatir kalau kamu sakit lagi.”
Suara Angga terdengar dari ponsel Karina yang diarahkan ke Eliza. Gadis dalam pakaian serba navy lengkap dengan masker dan kacamata itu tengah menyodorkan dua hal pada si anak tiri: ponsel dan bekal.
“Setelah papa aku, sekarang Angga pun kamu kendalikan juga?” Eliza bertanya. Suaranya terdengar geram, tidak disembunyikan sama sekali.
“Hm ....” Karina sempatkan bergumam seolah kebingungan selama sesaat, lalu memberikan jawaban paling menyebalkan untuk si anak tiri. “Iya.”
Eliza berdecak kesal. Ia berniat menjatuhkan bekal, tetapi Karina bisa mengelak dengan cepat.
“Duanya beda, Eliza. Yang satu,” Karina menggoyangkan ponselnya mengisyaratkan bahwa ia menyebut Angga, “Dia di bawah kendali saya karena dia secinta itu sama kamu, karena mau kejar target yang papa kamu kasih supaya bisa lanjutkan hubungan dengan kamu. Dia setulus ini peduli sama kamu, dan satu-satunya yang mau peduli banget sama kamu. Mau nggak mau, kamu harus dengerin apa kata orang ini. Kalau papa kamu ... jangan terlalu berharap, Nak. Saya sudah ambil alih hati dan perhatian papa kamu. Seutuhnya.”
Napas Eliza seketika memburu setelah mendengar pernyataan tersebut. Ia bahkan mengepalkan tangan dengan sangat kuat di sisi kanan-kiri tubuhnya. Sedang berusaha menahan amarah sekuat tenaga. Namun, ketika ia tidak menemukan satu hal untuk dilakukan demi membalas ibu tiri, Eliza hanya bisa menarik bekal dengan kuat, lalu berbalik cepat meninggalkan Karina.
“Semangat belajarnya, Nak!” teriak Karina dengan suara lembut, bahkan melambai walau si lawan bicara tidak melihatnya.
Misi Eliza selesai. Karina harus melanjutkan tujuan utamanya selama masih senggang, ia sempatkan melirik jam tangan untuk melihat berapa tenggang waktu menuju menuju jadwal perjanjiannya dengan Erik. Sembari kembali ke mobil yang hanya berjarak beberapa meter, gadis itu sibuk dengan telepon.
“Kamu ada di mana sekarang, Angga?” tanya Karina, hendak melanjutkan transaksi mereka tentang info mengenai Erik, dan mungkin bisa memanfaatkan pria ini karena posisinya yang sangat dekat dengan Eliza.
Angga menyebutkan posisi kontrakannya saat ini secara spesifik.
“Ada restoran dekat situ? Atau kafe? Di mana? Saya mau ketemu,” kata Karina hampir tanpa adanya perubahan intonasi suara.
Setibanya di dalam mobil, gadis itu tidak langsung berangkat. Semua jendela berkaca hitam dinaikkan, sehingga ia bisa mengenakan jaket kulit cokelat, serta mengganti celana berbahan lembut miliknya menjadi celana jeans hitam. Masker bermotif, diganti menjadi masker polos, lalu topi hitam. Setelah merasa cukup, barulah Karina melanjutkan perjalanan menuju lokasi yang sudah disebutkan oleh Angga.
Selama perjalanan, Karina juga mempertimbangkan satu hal. Bahwa ia butuh ‘sesuatu’ untuk dikorbankan di sini—entah dalam hal apa karena dirinya yakin ini tidak akan berlangsung mudah. Korban dalam bentuk barang dan ... manusia—
“Angga, kamu sibuk hari ini?” tanya Karina.
—dan Angga kandidat paling tepat untuk menjadi salah satu korbannya.
“Saya mau belikan kamu mobil,” lanjut Karina.
...****************...
jam 12.10 WIB
jam 00.10 WIB
info cerita :
ig : es.pucil
fb : Es Pucil III
#Menarik 😳
Sugar Daddy nya cakep bner kak Chil..mau dah w jg klo bgtu mh 🙈