"Ren kamu kirim gadis itu jauh dari negara ini," ucap Devano dengan wajah tanpa ekspresi itu saat bicara.
"Gadis yang mana tuan dan apa kesalahannya?" bertanya dengan penuh tanda tanya, karena belum paham atas ucapan tuannya.
"Gadis yang ada di sebelah mobil ini, karena dia membawa penyakit yang menular," melirik sekilas lalu merasakan kembali penyakit itu lagi.
"Penyakit menular apa tuan?" belum paham maksud perkataan tuannya ini.
"Saat aku melihat kearah dia, jantung ku bekerja dua kali lipat dari biasanya. Bahaya sekali penyakit itu, cepat kamu kirim dia jauh dari negara ini,"
Dalam hati Ren " itu bukan penyakit tuan muda tapi anda jatuh cinta namanya, selamat datang di dunia baru menurut anda tuan muda dan selamat menikmati. jika saya menuruti ucapan anda lalu saya sendiri yang akan susah saat anda tau apa arti debaran jantung itu".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghindarlah.
Pulang dari meeting tadi Devano terus melafalkan kalimat yang tidak dimengerti oleh Ren.
Pokoknya sejak di tempat meeting tadi dan setelah perbincang Rindu dengan rekan bisnisnya membuat Devano seperti cacing kepanasan karena dari gelagatnya saja sudah bisa dipastikan bahwa dia tidak rela bahwa Rindu berinteraksi dengan orang lain apalagi ini di depan matanya.
"Bisa diam kan Dev?"
Ren mana bisa tahan melihat sahabatnya bertindak tidak jelas seperti ini padahal dari kemarin-kemarin dia sudah mengatakan bahwa apa yang dia rasakan terhadap Rindu itu bukanlah penyakit melainkan rasa suka terhadap lawan jenis yang tidak pernah dia rasakan selama ini.
"Kenapa lo santai saja saat dia berani menggoda rekan bisnis di saat jam kerja seperti tadi, nggak profesional sekali,"
Devano mana mau ditegur seperti itu karena dia tetap merasa bahwa dirinyalah yang benar dan Rindu tetap salah karena sudah berani ingin bertukar kabar bersama rekan bisnisnya dan itu di depan mata Devano sendiri.
"Lagian apa yang dia lakukan itu wajar, Rindu perempuan single dan rekan bisnis kita juga belum memiliki pasangan jadi wajar jika mereka ingin melakukan pendekatan,"
Ren harus mulai mencari cara membuka pikiran Devano bahwa agar laki-laki itu segera menyadari bahwa rasa suka itu dimulai dari saat gadis yang mengusik pikiran kita justru berbincang hangat dengan orang lain.
Ada rasa tidak rela tapi belum bisa memahami apa yang telah terjadi.
"Pokoknya dia nggak boleh melakukan itu apalagi di depan gue, sok kecantikan sekali dia apa dia mau penyakit mematikan yang dia miliki itu justru menular juga ke orang lain? apa dia tidak puas menularkan penyakit itu kepada gue seorang? apa dia ingin menyiksa orang lain juga? Lo nggak mikir sampai ke sana kan karena otak lo nggak nyampe?"
Cerotus Devano mengeluarkan isi pikirannya sejak tadi karena memang itu yang dia pikirkan, tidak ingin penyakit Rindu ditularkan kepada orang lain dan hanya cukup kepada dia sendiri.
"Biarkan saja penyakit itu menular kepada orang lain dan berharap penyakit itu sembuh di diri loh biar lo senang,"
Tapi Ren yakin bahwa penyakit yang dimaksud Devano bukan hanya terjangkit pada diri laki-laki itu saja tapi sudah mulai merasuki rekan bisnisnya tadi terbukti dengan laki-laki itu meminta kontak pribadi dari Rindu.
"Jadi lo ingin penyakit itu menurut pada orang lain juga? Lo nggak tahu bagaimana rasanya menyesakkan penyakit itu! Rasanya sangat sesak dan sulit bernafas dan lo mendukung penyakit itu dirasakan juga oleh orang lain. Rasanya nggak enak Ren sulit bernafas bahkan tidur pun kadang rasanya terganggu,"
Devano tetap pada pendiriannya bahwa rindu tidak boleh berinteraksi dengan orang lain dengan alasan takut menulakan penyakit yang dimiliki oleh gadis itu tanpa Devano sadari bahwa di hati kecilnya dia tidak ingin dan tidak rela hal ini dekat dengan orang lain karena cukup dekat dengan dirinya saja.
"Itu namanya lo menyukai gadis itu Devano, jangan mengelak lagi karena ciri-ciri orang yang menyukai seorang gadis itu sudah ada dalam diri lo dan sifat lo yang enggak suka melihat Rindu dekat orang lain apalagi itu hanya sebatas ngobrol,"
Jika sudah seperti ini Ren harus lebih banyak lagi memupuk rasa sabar karena tidak mudah untuk menyadarkan Devano bahwa dia memang sudah menyukai Rindu sejak pada pandangan pertama di lampu merah waktu itu.
Tapi Devano tetap teguh pendirian bahwa dia tidak menyukai Rindu gelagat dia sudah menunjukkan hal yang sebaliknya.
"Jangan membodohi gue Ren, Lo ingat ya nggak ada mereka suka itu yang menyiksa, rasa suka itu membuat seseorang bahagia bukan disuruh sebaliknya jadi jangan pernah sesekali membodohi gue dengan mengatakan gue menyukai gadis itu, nggak akan mampu mempengaruhi gue Ren,"
Hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya ini sebab dengan cara apa lagi dia harus membuka pikiran Devano tentang cinta pandangan pertama.
"Gue mengatakan itu berdasarkan pengalaman gue dekat dengan seorang gadis dan itu sama seperti yang lu lakukan sekarang. Jika semakin hari lo mengelak dan dia akhirnya jatuh ke tangan orang lain maka lo akan lebih uring-uringan dari ini dan juga lo akan sulit bahkan malas untuk melakukan sesuatu karena yang ada dalam pikiran lo hanya dia,"
"Sudahlah gue mau balik ke ruangan gue malas berdebat dengan lo lama-lama seperti ini tapi nggak ada hasilnya,"
Sampai mulut Ren berbusa pun jika Devano berkata tidak maka sangat sulit sekali merubah jalan pikiran laki-laki itu yang sangat buta tentang hubungan asmara atau tentang cinta pada pandangan yang pertama.
"Nggak jelas lo,"
"Lo yang nggak jelas,"
Ren butuh ketenangan untuk mengembalikan kewarasan setelah berdebat alot dengan Devano tapi tidak membuahkan hasil.
"Mending gue lanjut kerja,"
Devano tidak terlalu ambil pusing ucapan Ren tadi.
Hanya angin lewat yang tidak terlalu penting padahal Ren ingin sahabatnya itu menyadari perasaan dia miliki tapi semua itu seperti benang kusut yang sangat sulit untuk diurai.
Laki-laki tampan itu larut dalam fokus untuk memeriksa berkas yang sudah menumpuk di atas mejanya. Hingga.
Tok..
Tok...
"Masuk,"
Menjawab tanpa mengalihkan pandangan pada pintu yang diketuk.
"Permisi pak ini hasil meeting kita tadi,"
Devano terlonjak kaget lagi karena dia tidak menyangka jika yang mengetuk pintu itu adalah Rindu orang yang sudah dilarang memasuki ruangannya tapi justru ucapan dia itu tidak didengar sama sekali.
"Apa kamu tidak punya telinga? Bahwa kamu sudah selera masuk ke ruangan saya ini tapi kenapa kamu masih tidak mendengarkan ucapan saya! Bukankah masih ada sekretaris saya kenapa kamu selalu yang masuk?"
Devano menaikkan nada suaranya seiring dengan naiknya juga detak jantungnya yang bekerja jadi untuk menutupi getaran di dada dia bicara dengan keras kepada Rindu.
Padahal sejak hari itu Devano sudah mengatakan bahwa rindu tidak boleh lagi memasuki ruangannya tapi apa yang terjadi sekarang? justru gadis itu sedang berdiri di depannya yang hanya berjarak meja kerjanya saja.
"Kerjaan saya kan membantu sekretaris bapak jadi tidak masalah jika saya mengantarkan hasil meeting tadi,"
Rindu yang tidak tahu pokok permasalahannya menjawab Devano seperti tidak menyadari bahwa kehadirannya membuat laki-laki itu gelisah.
"Pokoknya mulai hari ini kamu tidak boleh lagi memasuki ruangan saya ini dan untuk mengantarkan hasil kerja masih ada sekretaris Saya yang bisa melakukan,"
Nafas Devano memburu karena setiap berdekatan dengan Rindu selain detak jantung yang berdegup kencang juga dia kesulitan dalam bernafas.
"Bapak kenapa sih sepertinya sangat membenci saya? Apakah saya memiliki kesalahan atau saya sebuah virus yang harus dihindari?"
Walaupun ini bukan kali pertamanya Rindu mendapat penolakan jika dia memasuki ruangan bosnya ini tapi sampai sekarang dia belum menemukan alasan apa yang membuat Devano melarang dia memasuki ruangan mewah ini.
"Kamu mau tahu apa alasannya?"
Rindu mengangguk karena sampai sekarang dia belum tahu alasan dia dilarang melakukan tugasnya sebagai seorang sekretaris pembantu.
"Karena kamu memiliki penyakit yang mematikan dan sudah menularkannya kepada saya jadi mulai hari ini kamu tidak perlu mengantarkan hasil laporan kerja dan saya berharap untuk kedepannya kamu tidak perlu menampakkan diri di depan saya apapun alasannya,"
Rindu terbengong berdiri di tempatnya karena setahunya dia tidak memiliki penyakit yang mematikan karena hampir setiap bulan dia melakukan check up kesehatan dan hasilnya menunjukkan bahwa dia sehat-sehat saja.
Lalu kenapa bosnya ini mengatakan dia memiliki penyakit mematikan dan bisa menegakkan kepada seseorang padahal si pemilik badan merasa dia baik-baik saja.
\=\=\=\=\=
Bersambung 😘