Dulu, aku adalah seseorang yang menjadi inspirasi hidupmu, Aku lah wanita yang selalu kau bangga-banggakan pada siapapun yang bertanya perihal siapa sosok di balik kesuksesan mu.
Namun sekarang, aku hanya sebuah nama yang terkubur bersama masa lalu mu. Kau sembunyikan aku jauh dari hidup mu. Semua sudah berubah, hanya karena orang-orang baru, aku tersingkirkan dari sisi mu.
Terima kasih Mas, kau pernah memeluk ku dengan erat, meski pada akhirnya kau melepaskan ku demi dia. Ya, dia yang jauh lebih sempurna di bandingkan diriku.
Dari dirimu aku belajar, pernah dibahagiakan bukan berarti tidak akan disakiti. Pernah di cintai bukan berarti tidak akan dibenci dan aku mengerti. Aku tidak akan pernah bisa selamanya menjadi orang yang berharga di hati mu. Karena aku bukanlah pelabuhan hati mu yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Entah angin darimana membuat Mas Doni kembali mendatangiku, kali ini ia mendatangiku saat aku sedang pergi bersama Bi Inah di hari liburku.
Aku dan Bi Inah hari ini sudah janjian akan pergi berbelanja kebutuhan dapur. Ferdy tak menemani kami, karena sedang pulang ke kediaman orang tuanya.
Tepat di dalam supermarket bagian perdagingan. Mas Doni menyapa ku dari belakang.
"Hai, Lea. Bagaimana kabar tangan mu, apa masih sakit?" Sapanya dari belakang sembari menepuk pundak ku.
Aku terkejut, dan memandang sinis dirinya yang masih tak melepaskan tangannya di bahuku. Ku lirik tangannya yang berada di bahuku dengan tatapan sinis, kemudian menatap kembali dirinya dengan tatapan yang lebih sinis lagi.
Dia memberikan senyum mengejeknya saat aku terus menatapnya dengan tatapan sinis.
"Jauhkan tangan kotor mu dari bahu ku Mas!" Ucap ku penuh dengan penekanan.
"Sombong sekali kamu sekarang Lea," balasnya yang kemudian menyingkirkan tangannya dari bahu ku.
Ia melihat kedua telapak tangannya kemudian malah menepuk kedua tangannya, seakan membersihkan tangannya dari debu.
"Sial," umpat ku saat melihat tingkahnya.
"Bi, apa sudah selesai dagingnya di timbang?" Tanya ku yang meremas tangan Bi Inah.
Aku memberikan kode padanya, agar ia mau menghindar dulu dari tempat ini karena ada Mas Danu. Bi Inah ya tetap Bi Inah, dia sama sekali tak mengerti dengan kode yang aku berikan. Dia malah meminta ku untuk sabar karena masih ada dua jenis daging lagi yang sedang di timbang oleh pelayan toko supermarket itu.
"Tunggu ya Non, sabar sedikit, lagi pula Den Ferdy lagi gak ada, jadi bebas belanja." Ucap Bi Inah yang seakan memberitahukan Mas Doni, jika aku sedang di luar pengawasan calon suami ku.
Mas Doni tersenyum senang mendengar ucapan Bi Inah. Ia malah kembali mendekatiku.
"Kau tahu Lea, sudah beberapa hari ini aku selalu merindukan mu. Rindu lenguhan mu memanggil namaku." Bisik Mas Doni dengan suara sensualnya yang membuat tubuhku meremang.
"Sialan, brengsek!" Refleks ku yang langsung memukulnya dengan tas branded yang sedang ku jingjing.
"Menjauhlah dari ku, sebelum ku adukan apa yang kau bicarakan tadi dengan calon suami ku!" Ancam ku dengan suara meninggi.
Aku tak perduli dengan tatapan orang yang seketika itu juga melirik ku dengan tatapan penuh tanya.
"Lea, dia hanya calon belum menjadi suamimu, sedang aku adalah suami mu, kita masih bisa kembali dan mengulang kisah cinta kita bukan?" Sahutnya tanpa rasa malu, meskipun sudah menjadi pusat perhatian semua orang.
"Kau sudah gila Mas, aku tidak mau kembali pada mu. Haram bagi ku untuk rujuk dengan pria seperti mu." Balas ku dengan rasa takut yang hampir menguasai diriku.
"Satpam!!! Mana Satpam!!! Tolong Satpam!!" Pekikku mencari pihak keamanan.
Aku merasa terancam dan takut Mas Doni berbuat nekat padaku. Aku segera mengambil ponsel ku, ku hubungi segera Ferdy dan memberitahukannya mengenai Mas Doni.
"Hallo sayang, tolong aku," ucapku saat Ferdy mengangkat panggilan telepon dari ku.
"Ya Hallo, kamu kenapa? Ada apa?" Balasnya dengan nada suara yang khawatir.
"Sayang, tolong susul aku di supermarket Aladin, Mas Doni menguntit ku dan sekarang dia berbuat kurang ajar pada ku di sini." Pinta ku dengan suara yang gemetar.
Pihak keamanan yang tak kunjung datang, membuat Mas Doni terus melangkah maju mendekati ku, aku terus berjalan mundur menjauh darinya. Bi Inah malah pergi entah kemana, mungkin sedang memanggil bala bantuan untuk diriku.
"Tunggulah aku, aku akan segera ke sana. Carilah pihak keamanan sebelum aku datang," jawab Ferdy yang menjadi akhir pembicaraan kami.
Aku tak lagi menjawab ucapan Ferdy. Aku fokus pada langkah Ferdy yang terus mendekati ku.
"Menjauhlah dari ku Mas, kau ini mau apa sebenarnya?" Pekik ku yang terus menghindar.
"Tentu saja aku mau diri mu Lea," jawabnya yang terus melangkah maju mendekati ku.
"Kau tau kenapa aku menikahi mu dulu Lea?" Tanya Mas Doni yang ku abaikan.
Aku tak mau menjawab pertanyaannya yang aneh menurutku. Pastinya dulu dia menikahi ku karena ia sangat mencintaiku. Banyak sekali perjuangan yang ia lewati, hingga membuat hatiku luluh.
"Pasti kau menganggap, aku mencintai mu bukan? Cih, sebenarnya tidak seperti itu Lea. Aku tak pernah mencintaimu. Aku mengejar mu dan menikahi mu, agar aku bisa selangkah lebih maju dari pada Ferdy, calon suami mu." Ucapnya yang membuat ku terkejut.
"Selangkah lebih maju dari Ferdy? Apa Mas Doni sebelumnya sudah kenal dengan Ferdy?" Tanya ku dalam diam.
Aku bermonolog dalam hati ku sendiri namun sepertinya Mas Doni membaca isi pikiranku.
"Aku mengenal baik calon suami mu, dia adalah sahabat ku sejak kecil. Dulu, Ayah ku adalah supir pribadi keluarganya. Kedua orang tuanya begitu baik padaku, menyekolahkan ku, di sekolah yang sama dengan putra semata wayangnya. Niatnya memang baik, tapi teman-teman di sekolahku yang tidak baik pada ku. Aku di bully karena hanya menjadi seorang anak supir. Kau tahu, aku benci dia yang selalu di elu-elukan semua orang, bukan hanya ketampanannya, kebaikannya, kekayaannya tapi juga dengan prestasinya. Sedang aku apa Lea, tak ada nilai lebih dari diriku. Aku berambisi mengambil apapun yang dia miliki termasuk diri mu." Terang Mas Doni panjang lebar.
Sesak dada ku mendengar penuturannya. Ini benar-benar tak pernah aku duga sebelumnya. Dia menikahi ku bukan karena ia mencintai ku, tapi hanya sebatas ambisi. Pantas saja selama ini dia hanya diam ketika ibunya selalu bersikap tak baik padaku. Ternyata inilah penyebabnya.
"Jahat kamu Mas!" Pekik ku yang tak terima.
"Aku tak jahat Lea, tapi takdirlah yang jahat dengan ku. Jika takdir bisa ditawar. Aku tak mau dilahirkan dari benih seorang supir dan seorang tukang jamu. Ku kira dengan menikahi mu, selain selangkah lebih maju dari Ferdy. Aku bisa merubah nasibku. Menjadi seorang pengusaha, meneruskan usaha keluarga mu, namun apa? Kehadiran ku pun tak diterima oleh keluarga mu yang sombong itu." Balas Mas Doni dengan senyum sinisnya.
Semula ia sudah menghentikan langkahnya, namun sekarang ia kembali melanjutkan langkahnya mendekati diriku lagi.
"Sekarang kau mau apa Mas? Menjauhlah dari ku. Ingat kau sudah mempunyai istri." Ucap ku yang masih berusaha menghentikan langkah Mas Doni mendekati ku.