Ruri dan Zainudin adalah orang yang sama-sama punya kisah gagal dalam rumah tangga. Zai mempunyai putra yang menguak tabir rumah tangganya, sementara Ruri harus berjuang sendiri demi anak-anaknya.
Pertemuan keduanya tak terduga di sekolah anak mereka. Apa yang terjadi selanjutnya dengan mereka berdua? Yuk, ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabir Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LSC 18
Sampai di Polsek. Zai turun dari mobil berjalan masuk untuk absen dan duduk di meja kerjanya bersebelahan dengan Toni.
"Pagi, Ton," sapa Zai duduk di kursi.
"Pagi juga Zai," sahut Toni mencatat beberapa hal yang ditulisnya di buku. Begitu pula Zai mencatat hal-hal yang hari ini akan dikerjakannya.
Setelah itu, mereka berdua berdiri dan segera keluar ruangan untuk apel pagi sebelum berangkat menuju lapangan bersama yang lainnya.
Setengah jam apel pagi pun bubar, beberapa dari mereka mulai melangkah menuju motor, ada juga yang menuju kantor untuk melaksanakan tugas dari masing-masing.
Zai dan Toni juga yang lainnya menuju lapangan untuk mengatur lalu lintas pagi hari yang padat merayap di beberapa titik ruas jalan.
Beberapa menit kemudian, Zai mengambil ponsel di sakunya untuk memotret dirinya dan Toni saat sedang menjalankan tugasnya. Keduanya pun tersenyum cerah mengabadikan momen tersebut dan Zai pun melihat ada beberapa pesan masuk.
Terlihat grup alumni sekolahnya ada ratusan chat, dia hanya membaca saja obrolan itu karena tidak ada yang penting dan mereka terkadang mengajaknya berkumpul untuk melepas rindu masa-masa sekolahnya. Akan tetapi, Zai selalu mencari alasan sibuk bekerja.
"Teman-teman! Kita reunian yuk? Sudah lama kita tidak kumpul bareng ini?" ajak Ruly yang sangat ingin bertemu teman masa sekolahnya.
"Iya juga, kangen aku dengan masa sekolah dulu," sahut Mariana di grup chat.
"Mana nih ketua grup? Woii nongol lah!" seru Ansori saat melihat beberapa temannya muncul di grup.
"Apa Sor! Teriak-teriak mencariku? Kangen ya?" sahut Dinang dengan emot tertawa di chat grupnya.
"Eh, ketua? Ayok lah, kita reunian. Masa cuma aktif di grup saja, tetapi gak peernah kumpul-kumpul lagi?" ucap Erma ikut nimbrung di grup.
"Tumben nih grup rame! Biasanya sepi kayak kuburan!" kata Zai yang ikut menimpali obrolan mereka.
"Wah, ada pak polisi nih! Zai, yuk kita reunian? Kangen aku sama kamu?" ajak Erma yang dulu sempat menyukai Zai.
"Ogah, Er. Aku sibuk kerja. Kalian saja yang reunian," tolak Zai dengan tegas.
"Wah, langsung ditolak ajakan mu, Er. Kasiannya! Kayak cina bertepuk sebelah tangan aja, Er, kamu itu," ledek Ansori menertawakannya dengan emot tertawa lebar.
Erma di rumahnya pun hanya tersenyum kecut dengan penolakan Zai tersebut. Dirinya sudah tahu kalau lelaki yang sempat dipujanya dulu akan menolak terang-terangan.
Sedang Zai sudah tidak melanjutkan obrolan mereka karena sudah harus bekerja lagi.
Satu jam di lapangan, Zai dan Toni selesai mengatur lalu lintas. Lalu, keduanya kembali ke kantor polsek untuk melapor juga mencatat hasil hari ini bahwa semua terkendali dengan aman.
Beberapa jam bekerja, keduanya pulang ke rumah dinas untuk istirahat. Kebetulan, Zai dan Toni tinggal berdua daripada harus sendiri-sendiri. Lebih baik Zai dan Toni tinggal serumah.
"Oke, Ton. Zai mandi dulu ya? Setelah itu kita cari makan malam di luar nanti," ucap Zai mengambil handuk di tasnya.
"Oke, Zai."
Hanya beberapa menit saja, Zai selesai melakukan ritualnya bergantian dengan Toni yang juga selesai mandi 10 menit saja.
Lalu, keduanya berjalan kaki menuju warung terdekat yang kebetulan rumah dinas mereka dekat dengan para pedagang dan mulai memesan makanan.
"Zai! Apa kamu gak ada keinginan ingin pacaran lagi?" tanya Toni sibuk mengunyah makanannya.
"Nggak, Ton. Zai gak ingin pacaran, tetapi langsung menikah saja kalau sudah ketemu jodohnya," jawab Zai juga menyantap makanan pecel lele di warung.
"Begitu ya?" ujar Toni menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Obrolan mereka tak terasa membuat makanan yang di piring cepat habis. Keduanya pun membayar masing-masing dan pulang ke rumah dinas untuk istirahat setelah seharian bekerja.
Seminggu telah berlalu, Zai pulang kerumah orang tuanya. Sedang Toni, menikmati tinggal dirumah dinas sendirian dengan teman-teman yang lain karena mereka belum memiliki pasangan.
Menempuh perjalanan beberapa jam, Zai tiba dirumah dengan membawa oleh-oleh untuk orang tua dan juga kedua anaknya. "Assalamualaikum," sapa Zai di depan rumah.
"Waalaikumsalam," sahut seseorang dari dalam dan membuka pintu yang ternyata adalah Bu Erna.
Zai pun mencium punggung tangan ibunya dan memeluk karena rasa rindunya pada sosok Ibu yang telah melahirkanku ke dunia.
"Apakabar Zai? Ayo masuk, anak-anak pasti senang melihatmu pulang," pinta Bu Erna membawa barang yang dibawa Zai dan menuju dapur.
"Rere, Gabriel, lihat siapa yang pulang!" teriak Bu Erna pada kedua cucunya.
Rere dan Gabriel yang sedang bermain di belakang dengan kakeknya mendengar teriakan neneknya, bahwa ada seseorang yang datang. Mereka berdua langsung berdiri berlari menuju siapa yang pulang hari ini.
"Papaaaa!" teriak keduanya berhamburan memeluk Zai erat dan mencium pipi papanya berkali-kali hingga membuat sang empunya tertawa lebar melihat kedua anaknya tumbuh semakin besar.
"Lihat, anak Papa. Baru ditinggal seminggu sudah semakin gemuk," ucap Zai mencubit pipi keduanya gemas.
"Iya, Pa. Kami berdua makan banyak agar kelak bisa tumbuh dewasa seperti Papa," jawab keduanya kompak.
"Bagus. Itu baru anak Papa."
"Kalian minta sama Nenek ya, oleh-oleh kalian dibawa sama Nenek di dapur. Papa mau ke kamar untuk ganti pakaian," kata Zai berdiri dan berlalu pergi menuju kamarnya.
"Horeeee. Papa bawa oleh-oleh. Yuk, Kak Rere, kita ke dapur?" ajak Gabriel menggandeng tangan kakaknya.
Keduanya berlari menemui neneknya dan meminta oleh-oleh mainan yang dibelikan Zai, lalu membawanya ke kamar Gabriel.
Bu Erna yang dikejutkan oleh cucunya hanya tersenyum melihat tingkah mereka yang menggemaskan.
"Kedua cucuku, tak terasa mulai tumbuh besar. Semoga kalian hidup bahagia dan menemukan seorang Ibu yang menyayangi sepenuh hati." Bu Erna mendoakan untuk kedua cucunya.
Malam telah tiba, keluarga Zai berkumpul di ruang keluarga. Bercanda tawa bersama dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan di antara mereka.
Hari berganti hari. Dua bulan tak terasa waktu pendaftaran sekolah TK Gabriel semakin dekat. Zai yang beberapa bulan ini sibuk bekerja, menyempatkan waktunya untuk mendaftarkan anaknya sekolah TK di tempat yang sama sewaktu Paud dulu.
Selesai, mendaftarkan segala urusan keperluan sekolah TK Gabriel, Zai pun mengajak anaknya untuk jalan-jalan.
"Setelah ini, kita jalan-jalan ke Taman Bermain, yuk?" ajak Zai pada Gabriel.
"Ayo, Pa!"
Setelah Zai dan Gabriel masuk mobil. Zai melajukan kendaraannya membelah jalanan menuju Taman Wisata yang dilengkapi dengan berbagai permainan.
Tak lama, seorang wanita berusia 30 tahun bernama Ruri Aprilita masuk ke sekolah Tk Dharma Wanita membawa seorang anak laki-laki berusia 5 tahun mendaftar bernama Berry Abraham.
Baru berjalan beberapa langkah dari gerbang, Berry menghentikan langkahnya karena merasa khawatir dengan sekolahnya yang baru. Sebab, ini pertama kalinya dia masuk sekolah. Ruri pun ikut berhenti dan melihat anaknya itu.
"Mama, nanti teman-teman Berry gak nakal semua 'kan?" tanya Berry dengan polosnya.
"Nggak, Sayang. Teman-teman Berry baik semua kok," Ruri menjawab seraya berjongkok mensejajarkan posisinya dengan anaknya.
"Benarkah, Mama?"
"Iya, Sayang. Ayo, masuk?" ajak Ruri berdiri menggandeng tangan mungil anaknya berjalan menuju ruang pendaftaran.
mampir y