Rasa kecewa yang berkali-kali kualami atas perlakuan suamiku, Bram, dan keluarganya yang tidak pernah mengahargai sebagai istri dan menantu, akhirnyanya terlampiaskan.
Setelah bertahun-tahun tertindas, aku akhirnya menunjukkan perlawanan.
Ternyata tanpa aku duga sebelumnya, orang tua yang mengasuhku selama ini, bukanlah orang tua kandungku.
simak kelanjutannya dan mohon dukungan dari pembaca, untuk karya baru ku ini.🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"Bila sesalmu datang meragut hati. Saat itulah nurani berbincang arti kesetiaan. Mungkihkan pelangi akan mewarnai hari-harimu, lagi."
Pov Author.
"Dasar wanita i**is!" maki Bram, gusar. Ditendangnya kursi di ruang tamu, dalam gelap. Bram mengaduh kesakitan saat jempol kakinya beradu dengan kaki kursi.
"Benar-benar ceroboh!" lagi-lagi Bram memaki. Kali ini dirinya sendirilah yang jadi sasaran. Harusnya tadi dia tak meladeni ajakan Sarah, V*S. Selama ini memang aman-aman saja. Siapa sangka, istrinya terbangun tengah malam dan memergoki ulahnya.
Tidak tanggung-tanggung, istrinya sampai merekam segala. Tak disangaknya, istrinya yang menurutnya selalu nampak polos dan lugu itu ternyata cerdik juga.
Ancamannya saja membuatnya merinding. Belum lagi saat melihat eskpresi wajahnya, dingin dan kaku. Belum pernah dia melihat wajah istrinya itu begitu. Saat nyawanya saja sudah terancam, dia masih dengan wajah tenang menatapnya. Tidak takut mati, sama sekali. Membuat,Bram, begidik dan tanpa sadar emosinya langsung ambyar, berganti dengan rasa ngeri.
Jadi, istrinya telah memata-matai dirinya selama ini? Sejak kapan? Bagaimana bisa, Reny menebak begitu tepat sasaran. Tuduhannya tak tergoyahkan. Sehingga ancamannya juga tak bisa dia anggap remeh begitu saja.
Bram, memang telah lama mengabaikan istrinya. Mengabaikan semua keluh kesahnya, termasuk hal gajinya yang berkurang terus tiap bulan. Tapi, setiap kali dia ajukan alasan, bahkan alasan itu terkadang berlebihan. Dia masih diam saja. Walaupun dia protes, saat tak diladeni, diam sendiri.
Bukannya dia tak tak tau, ponsel istrinya telah sekarat. Membuat istrinya selalu tak bisa menghubunginya apabila dia terlambat pulang kerumah. Yang membuat istrinya tak leluasa memantaunya. Semua itu hanya dengan satu tujuan, agar Reny tidak terlalu asyik di dunia maya.
Baru setelah dia panik, saat anak istrinya pergi piknik dengan tetangga. Bram, merasa dirinya sangat keterlaluan sekali. Ketika tau alasan istrinya tidak dapat dihubungi, karena ponselnya benar-benar tidak bisa di gunakan lagi.
Karena rasa bersalah, akhirnya Bram membeli yang baru. Bram, bermaksud memberi kejutan sama istrinya. Namun kejutan itu gagal, karena istrinya telah membeli ponsel yang baru dengan sistim kredit. Wajahnya terasa tertampar dengan penolakan itu.
Dibandingkan ponsel yang dibeli, Reny, masih bagus ponsel yang dibelikannya. Reny blak-blakan menolak. Ada emosi yang ia simpan dalam penolakan itu. Sayangnya, lagi-lagi ia abaikan.
Saat itulah nalurinya seolah diperingatkan, kalau istrinya tidak sedang baik-baik saja. Dia dapat merasakan dengan jelas. Semua itu seolah jadi penanda, kalau istrinya tak mengaharap apa-apa dari dirinya. Jika dia ribut soal uang belanja, mungkin hanya karena tak ingin kedua anaknya kelaparan.
Entah sudah berapa lama dia mengabaikan istrinya itu. Yang jelas sejak Sarah, kerap menggodanya. Lalu hatinya luruh tergoda, sejak itulah dia berubah sikap pada, istrinya.
Padahal jelas ia tau perbuatannya, salah besar. Cepat atau lambat akan terbongkar, itu pasti.
Yang dia takutkankan pada akhirnya terjadi juga, Reny, istrinya memergoki sendiri perbuatannya. Padahal selama ini, Bram, telah menyimpan rahasia itu cukup rapi.
Mau tak mau, dia terpaksa mengiyakan permintaan istrinya. Demi keamanan karirnya dan juga keluarganya. Apa jadinya kalau saudaranya Roni, mengetahui perselingkuhan istri dan adiknya.
Yang jelas perang saudara akan terjadi. Dititik ini sesal baru hadir di hati, Bram. Tapi semua sudah terlanjur terjadi.
"Apa-apaan kamu ke rumah ibu, larut malam begini?" seru Bu Henny, ibu , Bram. Sesaat setelah membukakan pintu. Bu Henny melihat jam dingding menunjuk angka, 2 dini hari.
Bram menarik nafas lega, karena akhirnya pintu dibukakan setelah hampir 10 menit menggedor pintu.
Bram, menerobos masuk. Takut jadi perhatian tetangga. Bukan tidak mungkin ada tetangga yang medengar gedorannya. Sedang mengintip, ingin tau apa yang terjadi.
"Kamu ribut dengan, Reny, ya?" selidik Bu Henny memandang putra keduanya dengan tatapan tajam. Melihat wajah kusut, Bram, pasti sesuatu telah terjadi pada rumah tangga putranya ini.
Bram, yang langsung merebahkan tubuhnya di sofa, tak menghiraukan ucapan ibunya. Bram memejamkan matanya, seolah sudah tidur.
"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kamu minggat malam- malam begini?" kejar Bu Henny lagi makin penasaran dengan sikap putranya.
"Sudahlah, Bu. Bram, ngantuk. Bram tadi kelamaan di cafe. Jadi terlambat pulang ke rumah. Reny sudah tidur. Taulah, ibu, tetanggaku akan kepo, kalau aku sampai menggedor pintu membangunkan, Reny."
Alasan yang masuk di akal. Reny memang agak susah bangun kalau sudah tidur. Apa lagi tengah malam. Bram pernah cerita soal kejelekan menantunya itu. Bikin malu saja, karena para tetangga yang bukain pintu rumah mereka. istrinya malah asyik ngorok.
"Bukannya kamu punya kunci cadangan?" selidik Bu Henny masih tak.puas.
"Ketinggalan di dalam,Bu. Saat ganti baju. Sudah, ah, Bu. Bram ngantuk!" Bram memirirngkan tubuhnya menghadap sandaran sofa. Dia paham, ibunya seperti detektif saja layaknya, kalau ada mencium sesuatu yang tidak beres. Kalau diladeni, alamat tak tidurlah semalam suntuk.
Bu Henny menghela napas panjang. Bagaimanapun naluri seorang ibu sangat kuat.
Bu Henny bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres malam ini dalam rumah tangga anaknya. Pasti mereka tengah bertengkar lagi. Karena mereka memang sudah lama tidak akur.
Bu Henny sendiri, juga tidak begitu menyukai menantunya itu. Apalagi setiap kali Reny, protes kalau anaknya, Bram, membagi gajinya sebagian untuknya. Belum lagi hasutan, Sarah, yang mengatakan Renny itu asal usulnya tidak jelas.
Sudah miskin, keluarganya juga tak jelas bibit, bobotnya. Dulu saat baru.menikah, menantunya itu memang baik dan perhatian. Tapi setelah mereka pindah lebih dekat kerumahnya, sikapnya berubah.
Bu Henny tau semua itu, karena Bram, kerap cerita dan mengeluh padanya. Masalah yang sebenarnya, Bu Henny memang tidak tau apa- apa. Semua murni karena gesekan Sarah, juga karena keluhan Bram.
Akhirnya, lama-lama dia juga ikutan antipati pada menantunya yang satu itu. Anehnya, dia melihat Bram dan menantunya, Sarah, sangat akrab. Cerita mereka selalu nyambung, Bram, malah sangat royal dengan kakak iparnya. Juga pada keponakannya.
Wajar saja menurutnya kalau, Bram selau mengantar jemput kaka iparnya saat bekerja. Karena Roni abangnya kerja di luar kota. Reny jadi suka cemburuan kata Sarah. Sehingga hubungan kaka ipar itu jadi renggang.
Bu Henny, menyelimuti tubuh Bram, yang tidur di sofa. Dia tak tega membangunkan, Bram supaya pindah ke kamar tamu saja.
Setelah ibunya kembali masuk ke kamar, Bram menghempaskan selimut itu, hingga teronggok di lantai.
Bram terduduk di sofa. Pikirannya benar-benar pusing dan tidak bisa diajak berpikir. Apa yang akan dia lakukan selanjutnya, setelah dia ketahuan selingkuh dengan kakak iparnya.
Cara satu-satunya, hanya dengan meluluhkan hati istrinya. Meminta maaf mungkin harus di coba, walau Bram pesimis akan hal itu.
Dua hal yang Bram takutkan, jangan sampai Roni tau masalah ini. Begitu juga dengan pimpinannya, tempat dia bekerja. Karena hal itu akan menghancurkan karirnya, dan hidupnya.
*****