Diseret paksa oleh ayahnya untuk menggantikan kakaknya yang kabur sehari sebelum pernikahan, membuat hidup Aneska berubah 360 derajat.
Aneska yang membutuhkan uang untuk biaya berobat ibunya, yang sudah bercerai dengan ayahnya itu, akhirnya menerima perintah tersebut dengan berat hati.
Dan saat Danish mengetahui kalau sebenarnya yang dia nikahi bukan Aresha, melainkan Aneska, membuat ia menjadi sangat marah, dan bahkan tidak mempedulikan Aneska. Terlebih setelah fitnah yang Aresha lakukan pada adiknya sendiri.
Sementara Aneska menjalani kehidupan terburuknya setelah pergi dari Danish, dan ditinggal sang ibu untuk selamanya, tiba-tiba teman masa kecilnya datang. Pria itu juga membawa Aneska jauh dari kota tersebut, membuat Aneska meninggalkan kenangannya dengan sang suami, membawa benih cinta yang tertanam di rahimnya.
***
Original story by MYLIHU
Image from Freepik
Edited by Canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EgaSri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Niat jahat Aresha
Aneska berdiri kaku saat mendengar perkataan Danish, tapi kemudian dia tersenyum tipis.
"Jika Mas bisa, maka lakukan disini," tantangnya, yang membuat Danish menggelengkan kepalanya. Tak disangkanya, jika Aneska akan mengatakan itu. Jelas ia tak bisa melakukannya disini, tapi lihat saja jika nanti mereka kembali ke hotel. Tak akan Danish biarkan istrinya itu turun dari ranjang sebelum dirinya benar-benar lelah.
Aneska mengerling jahil saat melihat Danish yang tak bisa menjawab tantangannya. Lalu ia pun terus melihat-lihat kearah arena permainan yang ada di pasar malam tersebut.
Hingga akhirnya hari yang sudah semakin larut, membuat Danish akhirnya memilih untuk mengajak Aneska kembali ke hotel.
"Kita balik ke hotel, ya? Nanti kamu masuk angin, kalau kelamaan diluar malam-malam begini," ucap Danish, yang terlihat khawatir. Lagipula, dari tadi Aneska juga sudah sangat puas saat memainkan beberapa permainan yang ada di sana.
Hingga akhirnya, Aneska mengangguk menyetujui perkataan suaminya. Mereka kembali ke motor yang tadi diparkirkan didepan pintu masuk pasar malam tersebut.
Dengan angin malam yang semakin tak sehat untuk kesehatan, Danish pun melajukan motornya agar cepat sampai di hotel. Salahnya juga, karena sebelum pergi tak membawa Jaket.
Dengan tangan yang rasanya sudah sangat kedinginan, akhirnya mereka berdua tiba di hotel. Dan setelah menyerahkan motor ke petugas hotel, keduanya masuk.
"Kamu mau mandi air hangat dulu?" tanya Danish saat Aneska yang tampak sudah mulai tidak kedinginan.
Dengan kepala yang mengangguk, Aneska mengiyakan kata-kata suaminya.
"Oke, kamu mandi duluan," ucap Danish.
Namun saat melihat bibir Danish yang pucat, Aneska menjadi tidak tega.
"Mandinya langsung berdua saja, Mas. Kayaknya Mas juga kedinginan dan kecapekan," ucap Aneska. Ia tiba-tiba merasa bersalah karena membuat Danish harus menemaninya bermain saat hari yang semakin larut.
Mendengar perkataan Aneska, Danish pun menyetujuinya.
Awalnya, tak ada hal yang ganjal saat mereka mulai menyiram tubuh dengan air hangat. Hingga kemudian saat tangan keduanya tak sengaja saling bersentuhan ketika ingin membilas tubuh, getaran itu muncul tiba-tiba.
Danish segera mengguyur tubuhnya agar tak tertinggal sisa-sisa sabun yang dipakainya. Dan ia juga menyiram Aneska, agar bersih. Hingga kedua mata itu saling bertatap, dan Danish yang lebih dahulu mulai mendekatkan tubuhnya.
Aneska hanya menuruti apa yang dilakukan oleh suaminya, hingga kejadian itu terjadi begitu saja.
Kini tak ada lagi rasa dingin yang menyengat, hanya ada rasa panas yang menjalar di seluruh tubuh.
Malam yang panjang baru saja berlalu, semakin panas setiap detiknya.
***
Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya di hotel yang tak terlalu mewah, Aresha sedang berdebat dengan Evan, kekasihnya.
"Mama nyuruh aku pulang, Resha!" kata Evan.
"Tapi kamu sudah berjanji untuk menemani aku disini, Evan!" sentak Aresha tidak terima.
"Aku memang ingin terus bersama kamu, tapi mamaku memaksa. Kalau kamu mau, ayo kita kembali bersama ke Jakarta. Sudah cukup jalan-jalannya," ucap Evan lagi.
Dia ada disini, karena menuruti permintaan kekasihnya itu untuk berlibur, selama sebulan penuh. Dan ini sudah tiga Minggu lamanya, ia dan Aresha mengunjungi tempat-tempat wisata.
Evan tak mengeluarkan uang untuk liburan ini, karena dibiayai oleh uang Papa Aresha. Dan Evan tidak tahu alasannya apa. Tapi yang jelas, ia mencintai Aresha, gadis yang sudah menjadi pacarnya selama enam bulan ini.
"Aku belum mau kembali ke Jakarta! Aku masih mau disini! Lagian, kita baru disini empat hari, masa harus balik lagi!" kesal Aresha. Sebenarnya, bukan karena itu ia tidak mau kembali ke Jakarta. Tapi karena siang tadi ia melihat Aneska ada di pulau ini juga.
Jadi, sebenarnya ini adalah kesempatan bagus untuk Aresha, mengacaukan Aneska. Dan ia hanya sedikit berdrama saja, agar Evan tidak curiga.
"Baiklah, kalau itu yang kamu mau. Aku akan berangkat sendiri besok pagi. Kalau urusanku sudah selesai di Jakarta, aku akan menjemputmu kembali kesini jika sempat," ucap Evan, yang merasa tidak nyaman saat harus meninggalkan Aresha sendirian disini.
"Baiklah," jawab Aresha seadanya. Ia kemudian membalas pelukan Evan yang memeluknya. Dan membantu kekasihnya itu untuk berkemas.
Dengan tidak adanya Evan di sisinya, Aresha jadi semakin bersemangat untuk mengacaukan hubungan Aneska dengan Danish. Karena sampai kapanpun, dia tidak akan rela jika melihat Aneska bahagia.
***
Selamat membaca!