Kinan Maharani 23 tahun adalah sosok ibu idaman bagi para suami, dia sangat pandai mengurus anak-anaknya tanpa bantuan orang lain. Akan tetapi, satu kesalahan terbesar Kinan, dia melupakan akan peran istri yang ternyata juga penting dalam rumah tangga.
Muhammad Raka 27 tahun, sebenarnya adalah seorang laki-laki baik dan penyayang. Namun, melihat istrinya yang selalu fokus mengurus dua anaknya sehingga dirinya tak lagi mendapatkan perhatian, selalu saja diabaikan seakan peran nya sebagai seorang suami tak penting dalam hidup Kinan sejak kedua anak kembarnya lahir. Sebagai seorang laki-laki normal, Raka membutuhkan belaian manja dari istrinya walaupun itu hanya sebentar saja. Tapi Kinan tak pernah lagi memberikan kewajiban nya karena selalu anak yang menjadi mayoritas istrinya tersebut.
Merasa bosan dan jenuh, tak lagi mendapatkan hak kewajiban seorang istri untuk melayani dirinya. Raka mengambil jalan pintas yaitu mendua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rizal sinte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari yang buruk
Raka tidak pernah menduga sama sekali jika istri-istri nya bisa saling mengenal satu sama lain, dia terkejut seketika melihat Kiran duduk di hadapannya. Tak punya pilihan lain selain berpura-pura untuk tidak saling mengenal, dan sungguh tidak terduga ternyata Kiran melakukan hal yang sama, bahkan wanita itu tanpa ragu menyodorkan tangannya, bukanya tak ingin membalas namun tangannya terlalu berat, dia sendiri tidak tahu mengapa sangat berat untuk mengangkat tangan saja dan membalas uluran tangan dari istri keduanya itu.
Melihat wajahnya yang agak kecewa sungguh perih dalam hatinya, sungguh Raka tidak bermaksud seperti itu. Apa lagi mendengar pernyataan istri pertamanya jika dirinya engan bersentuhan dengan wanita lain, Raka dapat melihat raut wajah sedih dari istri keduanya itu walaupun berusaha di tutupi dengan senyumnya. Hatinya juga ikut terluka.
" Hamil?" Bak di sambar petir siang bolong mendengar pernyataan jika istri keduanya ternyata tengah hamil muda. Raka tidak tahu sama sekali bukan tentang hal tersebut di tambah lagi istri keduanya itu tidak mengatakan apapun tentang kehamilannya.
Raka disini tidak tahu harus bagaimana, ingin senang karena mendapatkan anak lagi, tapi hatinya juga merasa sedih sangat teramat dalam. Apa yang harus dia lakukan?
" Iya, tapi syukurlah tidak terjadi apa-apa dengan janinnya. Tapi seriusan loh Kiran, jika kamu merasakan sakit atau aneh dalam perut kamu tolong jangan di tahan ya, aku takut itu efek terjatuh tadi," kata Kinan, wanita itu sangat cemas.
" Nggak apa-apa, sungguh! Kami baik-baik saja, jangan terus meminta maaf, aku jadi merasa tidak nyaman." Kiran berkata terus terang.
" Baiklah kalau begitu." Hening sesaat, Kinan mulai menyuapi kedua anaknya sementara Kiran memakan makanan yang dia pesan tanpa melirik arah Raka sama sekali, padahal tanpa dia sadari jika laki-laki itu terus menatap arahnya.
" Zee suka sekali ya …" Kiran berinteraksi dengan beby Zee anaknya Nita. Dia bingung mau ngapain, suasana menjadi sangat canggung sejak hadirnya Raka. Begitu juga dengan Nita, yang tadi nya terus heboh sekarang menjadi pendiam.
" Oh iya Kiran, suami kamu kerja dimana?" Tanya Kinan tiba-tiba.
Deg … Raka otomatis melirik arah Kiran, sementara Kiran dan Nita saling pandang. Pertanyaan Kinan semakin memperburuk keadaan.
" Emmm, di kantor PT Jaya …" jawab Kiran sembari tersenyum kikuk. Tak sengaja pandangan matanya bertemu dengan Raka yang sedari tadi menatapnya. Cepat-cepat Kiran membuang kearah Zee berpura-pura bermain padanya. Padahal tubuhnya kini sudah menjadi panas dingin akibat tatapan itu, apa mungkin dia salah bicara. Kiran merutuki kecerobohannya.
" Benerkah, kalau begitu sama dong dengan Mas Raka. Ya kan Mas?" Raka tidak menjawab, dia memilih mengangkat Rizki dan memangkunya.
" Siapa nama suami kamu dan kerja di bagian apa? Barangkali Mas Raka kenal. Kan satu kantor," kata Kinan ingin tahu sekali.
Kiran mati kutu dengan pertanyaan itu, dia harus menjawab apa sekarang ini.
" Hey, ayolah. Kantor itu besar dan luas. Kamu kira suami mu kenal semuanya sama orang-orang yang kerja di sana." Nita menyahuti.
Kiran lega, dia berterima kasih sekali dengan sahabatnya itu kerena sudah membantu.
" Iya juga ya, hehehehe." Kinan berhenti bertanya sekarang membuat ke-tiga orang yanh duduk di dekatnya agak lega tidak terlalu tegang seperti tadi.
" Suami aku mau datang nie, gak apa kan gabung?" Kata Nita bertanya pada Kiran.
" Bagus dong, suruh aja kesini biar rame. Sekalian suami kamu juga Ki, kan pasti sudah pulang dari kantor, kumpul-kumpul disini sekali-kali pasti seru," sela Kinan cepat. Lagi-lagi membuat semuanya tegang.
" Maaf, suami aku tidak bisa datang. Dia lagi sibuk sekarang," jawab Kiran, dan Raka kembali menatapnya lagi.
" Ow, sayang sekali."
Kiran tersenyum tipis, dia memasukan makanan ke dalam mulut. Suaminya sudah disini hanya saja Kinan tidak tahu, bukan! Sungguh miris menjadi istri simpanan tidak bisa memamerkan suaminya pada teman-teman atau di muka umum. Sungguh membuat hati sangat iri melihat para pasangan suami istri yang menikmati jalan bersama, sementara diri nya hanya bisa bersembunyi-sembunyi itupun jika di apartemen, dan jika di luar berpura-pura untuk tidak saling mengenal.
" Sayang liat deh Rizka makan lahap banget. Sampai belepotan begini." Kinan meminta Raka melihat tingkah lucu anak perempuannya.
Raka tersenyum lalu mengelap mulut kecil tersebut dengan tisu. Kiran ikutan tersenyum melihatnya. Apalagi pasangan suami istri itu terlihat serasi dan harmonis sekali dan nampak bahagia. Ingin sekali dia menangis sekarang ini melihat kebahagiaan itu, dan sebentar lagi akan hancur karena dirinya.
" A-aku ke toilet dulu." Nita hanya memperhatikan punggung sahabatnya, dia melihat arah Kinan dan Raka yang nampak bahagia bersama keluarga kecil mereka. Nita sungguh kasihan dengan sahabat satunya itu.
" Semoga kamu juga merasakan kebahagiaan itu, Kiran." Dalam Hati Nita sedih.
Kiran berada di toilet, dia terduduk bersandar di dalamnya. Kiran menangis disana, dia sendiri tidak tahu mengapa dia ingin mrnanhis. Yang jelas air matanya tidak mau berhenti walaupun dia berusaha untuk menghentikannya sehingga dia menumpahkan segalanya di dalam toilet tersebut tidak peduli jika ada orang uang mengetuk pintu.
" Mbak nggak apa-apa?" Orang itu mendengar tangisan Kiran.
" Iya aku nggak apa-apa." Kiran menjawab dengan suara serak. Tak terdengar lagi suara ketukan pintu mungkin orang di sebelahnya sudah pergi.
Kiran menghapus air matanya, dia keluar dari toilet lalu mengasuh mukanya di wastafel. Kiram bercermin melihat matanya yang bengkak dan sembab tidak mungkin dia kembali dengan keadaan seperti sekarang ini.
" Nita aku pulang duluan ya, kepala ku pusing dan perut ku terasa mual. Barang-barang aku tolong di bawakan. Besok-besok aku ambil di rumahmu."
Kiran mengirim pesan pada Nita, setepeaan berkirim Kiran memakai kacamata hitam dan masker lalu pergi meninggalkan pusat belanja itu menggunakan taksi.
" Kemana Mbak?" Tanya sang supir saat Kiran sudah masuk ke mobil.
" Jalan aja Pak," kata Kiran, dia malas untuk pulang. Mungkin keliling-keliling lebih dulu akan membuat hatinya lebih baik.
Sementara itu, Nita membaca isi pesan dari Kiran. Nita tidak membalas karena tahu penyebab sahabatnya itu pulang. Sesungguhnya dia sangat kasihan tetapi membiarkan sahabatnya sendiri dulu mungkin lebih baik.
" Oh iya Ki, Kiran sudah pulang tadi dia mengirim pesan ke aku. Katanya kepalanya pusing dan perutnya mual-mual gitu jadi gak sempet buat pamitan, barang-barang nya aja aku yang disuruh bawakan," kata Nita.
" Ya Allah, tapi dia nggak apa-apa? Aku takut itu karena efek jatuh tadi, gimana dong?" Cemas Kinan merasa bersalah.
" Berlebihan deh, perutnya mual kan wajar hamil muda. Kayak gak pernah aja," ejek Nita.
" Tapi aku juga mau pulang sih, suami aku udah di parkiran." Sambungnya, Nita sudah tidak berselera lagi berlama-lama di sana karena keadaan tidak seasik seperti tadi.
" Yah kok pada pulang sih, yaudah deh."
Sementara itu, Kiran berada di sebuah taman. Hari sudah jam tujuh malam tetapi wanita itu masih menyendiri disana tanpa ingin pulang. Tiba-tiba telponnya berbunyi …
" Hallo, Kiran kamu dimana?"
klo istri ad slh n kurang bkn jd alesan selingkih
Biarpun awalnya Kinan bersalah mengabaikan Raka, harusnya Raka ga seperti itu.