Arsyila Qiana Azzahra. Perempuan berusia 32 Tahun. Belum Menikah. Cerdas, Mandiri, Berprestasi dan Berbakti kepada kedua orang tua.
Satu yang belum Arsyila miliki diusianya yang sudah kepala tiga, SUAMI!
Kedua Orang tua Arsyila menginginkan putri satu-satunya menikah seperti anak perempuan keluarga lain seusianya bahkan telah memiliki anak.
Beberapa pria datang melamar Arsyila namun Arsyila menolak hingga disatu titik ucapan Bapaknya seolah mengetuk sanubari Arsyila.
Akankah Arsyila tetap Menanti Cintanya? atau Takdir yang akan mempertemukan Arsyila dengan jodohnya?
Semoga cerita ini bisa menjadi insprirasi dan dapat diambil pelajaran baik dan buruknya jangan diikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pradana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nagasari
..._________🍃🌺🍃_________...
...Assalamualaikum Wr.Wb....
...Reader jangan lupa support...
...Like dan Kembang Kopinya ya!...
...Selamat Membaca!...
..._________🍃🌺🍃_________...
...“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”...
...(QS. Al Isra ayat 23)....
"Bapak nanti setelah shalat Isya akan ikut Pak Ustadz bersama Bapak-Bapak ke tasyakuran acara Aqiqah cucunya Pak Dirman." pamit Bapak.
"Bapak bawa kunci cadangankan? Takutnya Ibu dan Syila sudah tidur." Bu Dewi mengingatkan suaminya.
"Bawa Bu. Kalau begitu Bapak pamit Bu. Assalamualaikum." Pak Hakim mengucap salam dan menerima cium tangan dari istrinya.
"Waalaikumsalam." Bu Dewi menutup pintu selepas Bapak keluar rumah.
Syila dan Bu Dewi kini duduk di meja makan menikmati santap malam berdua karena Bapak pamit akan datang ke acara aqiqah cucu Pak Dirman selepas bada Isya.
"Alhamdulillah." Bu Dewi mengucap hamdalah saat menyelesaikan makanan yang ada dipiringnya.
"Bu Syila mau ngomong sama ibu." Syila menahan langkah ibunya yang hendak bangkit.
"Soal Wiwi ya Nduk?" tebak Bu Dewi.
"Iya Bu."
Bu Dewi kembali duduk siap mendengarkan ucapan Syila.
Syila menghela nafas dan mulai menceritakan dari awal kedatangan Wiwi hingga niat Syila yang akan mengajak Wiwi melihat kios besok sekalian Syila berangkat mengajar.
"Menurut ibu bagaimana?" Syila menatap mengharapkan jawaban dari ibunya.
"Nduk, ibu senang kamu memiliki hati yang baik. Tapi apa kamu punya uang untuk membantu Wiwi?"
"Syila ada tabungan bu. Untuk itu Syila meminta saran ibu."
"Nduk, Ibu dan Bapak tidak akan melarang kamu menggunakan uang pribadimu, apalagi niatmu ingin menolong Wiwi. Sekiranya kamu merasa mampu membantu Wiwi ya maka lakukanlah."
"Terima kasih Bu. Syila hanya ingin meringankan beban Wiwi. Lagi pula kalau Wiwi kembali ke Arab bagaimana kedua orang tua dan adik-adiknya."
"Ibu bangga punya anak seperti kamu Nduk. Semoga Allah memberikan pahal bagimu."
"Aamiin."
"Oh iya Nduk, Minggu depan kita ada undangan dari sahabat Bapak, anaknya ada yang nikahan. Kamu ikut ya."
Syila terdiam sejenak.
Bukannya Syila malas untuk mengantar Bapak dan Ibunya ke undangan namun terkadang saat hadir di pernikahan orang lain ada saja pertanyaan "Kapan Nikah?" yang membuat Syila harus ekstra sabar menjawabnya karena tidak akan hanya 1 kali bahkan bisa berkali-kali pertanyaan itu hadir untuk dirinya.
"Iya Bu. Insha Allah Syila akan mengantar Bapak dan Ibu."
"Makasi ya Nduk."
"Sama-sama Bu."
"Ibu mau bikin nagasari? Mari Syila bantu."
"Ga usah Nduk, besok kamu ngajar. Nanti capek. Istirahat saja."
"Gapapa Bu. Lagipula kalo dikerjakan berdua kan cepat selesai. Ibu juga bisa lebih cepat istirahat."
"Ya sudah. Kita mulai biar cepat selesai juga."
Syila dengan cekatan membuat adonan nagasari sedangkan ibu menyiapkan daun pisang dan di potong sesuai ukuran.
"Bu ini mau satu warna apa dibuat beda warna?"
"Bu RT bilang bebas, yang penting enak." Bu Dewi menirukan ucapan Bu RT saat memesan padanya.
"Kalau begitu setengah Syila buat warna hijau ya Bu, kebetulan di kebun belakang daun Suji banyak."
"Boleh Nduk. Kamu tuh memang segala bisa. Duh, semoga gusti Allah kabul ya ibu segera punya mantu!"
"Ibu ada saja. Dari Nagasari disambungkan ke jodoh!" Syila tersenyum dengan bridging halus ala MC kondang saat menautkan kata demi kata.
Syila menuju kebun belakang rumahnya mengambil daun suji sebagai pewarna alami untuk Nagasari yang ia buat.
Meski berpendidikan tinggi, Syila yang terbiasa mandiri dan sering membantu ibunya memasak kini sangat terampil dalam urusan memasak dan membuat kue-kue.
Bahkan kalau Bapak bilang, Syila kalau buat kue seperti di Toko karena ukurannya bisa presisi, tidak besar tidak kecil, kemudian Syila juga mengemasnya secara rapi sehingga kue buatan Syila layaknya kue-kue yang sering dijual di toko-toko padahal buatan rumahan.
"Bu coba dulu segini Pas atau kurang manis?" Syila memberikan taster pada Bu Dewi mengenai adonan Nagasari yang ia buat.
"Cukup Nduk."
Setelah mendapat kata sepakat soal rasa Syila segera mengeksekusi dan Nagasari made in Syila sedang on prosess.
Berhubung Syila orang yang baik, Syila ga keberatan bagi resep andalan keluarganya dalam membuat Nagasari.
Readers yang suka buat Kue disimak baik-baik ya!
Resep Nagasari ala Syila dan Bu Dewi
Bahan-bahan:
■》200 gram tepung beras
■》50 gram tepung sagu
■》50 ml air daun suji (dari 15 lembar daun suji dan 3 lembar daun pandan)
■》850 ml santan dari 1 butir kelapa
■》100 gram gula pasir
■》1/2 sendok teh garam
■》2 lembar daun pandan
■》2 buah pisang tanduk, dikukus, dikupas, dibelah dua, dan dipotong panjang 5 cm untuk isi
■》100 gram kelapa muda, dikeruk panjang
■》2 buah nangka, dipotong kotak
■》Daun pisang muda untuk membungkus
Cara Membuat:
1》Larutkan tepung sagu dan 200 ml santan (dari 850 ml). Sisihkan.
2》Aduk rata tepung beras dengan sisa santan dan air suji. Tambahkan gula pasir, garam, dan daun pandan. Masak sampai meletup-letup sambil diaduk. Angkat.
3》Tuang larutan tepung sagu sedikit – sedikit sambil diaduk sampai licin. Masukkan kelapa muda dan nangka. Aduk rata.
4》Ambil daun pisang muda. Beri adonan. Letakkan pisang tanduk. Tutup adonan. Bungkus.
5》Kukus 15 menit di atas api sedang sampai matang.
Dan Tarrrrraaaa, Nagasari buah Karya Syila dan Bu Dewi matang sempurna.
"Bu coba dicicipi." Syila meminta Bu Dewi mencicipi hasil karya mereka.
"Enak Nduk. Kamu tuh ada aja idenya. ternyata ditambah serutan kelapa dan Nangka jadi lebih gurih dan wangi. Muleh dadi tempat Bule-Bule yo kok pinter bikin Nagasari Nduk!" bu Dewi tersenyum.
"Ibu bisa aja. Kan sekarang ada Youtube, Google dan Aplikasi memasak Online. Semua bisa belajar bikin apapun tinggal ikuti aja dari sana." jawab Syila.
"Ngono toh Nduk? Ealah, masak aja sekarang bisa lihat di Youtube?" Bu Dewi tertawa.
"Iya Bu. Sekarangkan zamannya serba Daring dan Semua kembali kepada kita. Teknologi itu jika diibaratkan seperti sebuah pisau, jika digunakan untuk kebaikan maka akan sangat banyak manfaatnya, namun jika manusia memilih menggunakan untuk keburukan maka manusia iru sendiri yang akan menerima keburukan dan kerugian." jelas Syila pada Bu Dewi yang gaptek soal teknologi saat ini.
"Baik Bu Dosen." Bu Dewi tersenyum melihat sisi Syila saat sedang mengajar.
"Ibu bisa saja menggoda Syila."
"Lah bener toh Ndok. Wong putri ibu kan dosen. Pasti mahasiswa kamu seneng diajar sama kamu toh Ndok?"
"Syila di bilangnya dosen galak bu!" tawa Syila.
"Yo itu juga bener sih! Wong kalo diem kamu tuh judes!" Bu Dewi menjawil dagu putrinya.
"Oh gitu Bu!" Syila pura-pura merajuk.
"Hehehe, tapi wedok ibu ini ayu ayu tenan. Makanya banyak senyum ya biar ga kelihatan judes!"
Syila dan Bu Dewi tertawa bersama melanjutkan menyelesaikan membuat Nagasari pesanan Bu RT.
Ini Hasil Karya Kue Nagasari by Syila dan Bu Dewi.
Gimana Readers, Mau nyobain ga Nagasari Made in Bu Dosen Arsyila.
...“’An Abi Hurairah radiyallahu ‘anhu qala, ja-a rajulun ila Rasulillahi SAW, faqala Ya Rasuمullah: man ahaqqu-nasi bihusni shahabatiy? Qala ummuka. Qala tsumma man? Qala tsumma ummuka. Qala tsumma man? Qala tsumma ummuka. Qala tsumma man? qala tsumma abuka,”....
...Yang artinya: “Dari Abu Hurairah, dia berkata, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya: ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?’ Rasul pun menjawab: ‘Ibumu’. ‘Lalu siapa lagi?’, ‘Ibumu’. ‘Siapa lagi’, ‘Ibumu’. ‘Siapa lagi’, ‘Ayahmu’.”...
..._________🍃🌺🍃_________...
...Waalaikumsalam Wr.Wb....
...Reader jangan lupa support...
...Like dan Kembang Kopinya ya!...
...Terima Kasih sudah membaca karya Author...
...Alhamdulillah...
..._________🍃🌺🍃_________...
sementara ibu nya Dimas sudah mau memberikan Restu dan mendatangi kedua orang tua syila
tapi koq gak jadi
ya seperti flasback gitu kak biar gak penasaran aja para readers nya
akhirnya syila menemukan jodoh nya
semoga samawa