Buku ke-2 dari The Ragen.
Baca dulu The Ragen : Escape From Zombie Apocalypse
Hari-hari setelah kemenangan pasukan Venus atas Demon membawa harapan baru bagi umat manusia. Para Ragen dan MoRag melemah, memberi kesempatan bagi Army untuk membasmi mereka dengan lebih mudah. Beberapa wilayah berhasil disterilkan dan kembali layak huni. Pangkalan Venus terus menyiarkan pesan ke seluruh negeri, menawarkan perlindungan bagi para penyintas.
Namun, di balik kemenangan itu, ada pihak-pihak yang diam-diam memanfaatkan situasi. Mereka memburu serum MoRag peninggalan Demon demi keuntungan, menjualnya kepada negara-negara tertentu untuk menumbangkan saingan mereka. Salah satu target utama mereka adalah UK, negeri yang menyimpan banyak harta berharga dari era sebelum perang nuklir.
Akankah Leo dan kawan-kawannya kembali ke tanah air mereka untuk menyelamatkan rakyatnya? Mampukah mereka mempertahankan negara itu dari kehancuran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aria Monteza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18. Gagal menyelamatkan
Setelah beberapa hari melakukan uji coba dan menyempurnakan formula untuk membunuh virus Ragen di dalam tubuh Selena, hari ini Matthew dan timnya akhirnya membulatkan tekad untuk mencobanya langsung pada tubuh gadis itu. Harapan dan kecemasan bercampur menjadi satu di dalam laboratorium.
Langkah pertama yang mereka lakukan adalah menyiapkan ruang khusus dengan sistem keamanan tingkat tinggi. Ruangan itu diperkuat dengan dinding berbahan logam campuran yang dapat menahan benturan hebat, serta dilengkapi dengan medan energi yang mampu menekan setiap bentuk serangan dari dalam. Sensor pemantauan dipasang di setiap sudut untuk mendeteksi perubahan suhu, denyut jantung, dan gelombang energi yang mungkin muncul selama proses pencairan.
Setelah memastikan semua sistem keamanan berfungsi dengan baik, mereka beralih ke tahap berikutnya yaitu proses pencairan tubuh Selena. Tabung kriogenik yang selama ini menjaga tubuhnya tetap dalam keadaan beku perlahan mulai menaikkan suhunya. Uap putih tipis mulai memenuhi ruangan, suhu di dalamnya berangsur-angsur naik untuk mengembalikan tubuh Selena ke kondisi normal.
Matthew berdiri di depan panel kontrol, matanya tak lepas dari layar pemantauan yang menunjukkan berbagai data vital Selena. Rain dan Aaron berdiri di sisi lain, bersiap dengan peralatan medis dan serum yang telah mereka racik dengan susah payah. Mereka harus memastikan bahwa proses ini berjalan lancar tanpa menyebabkan guncangan berlebihan pada tubuh Selena.
"Suhu tubuhnya mulai meningkat," ujar Rain dengan suara tegang. "Sirkulasi darahnya juga mulai aktif kembali. Kita harus tetap waspada."
Matthew mengangguk. "Pastikan kadar oksigennya tetap stabil. Jangan biarkan tubuhnya mengalami kejutan mendadak. Jika ada anomali sedikit saja, segera laporkan."
Proses itu berlangsung dengan perlahan namun pasti. Jari-jari Selena yang sebelumnya membeku mulai menunjukkan sedikit pergerakan, kelopak matanya tampak sedikit berkedut. Namun, sebelum mereka bisa merasa lega, alarm pemantauan berbunyi nyaring.
"Apa yang terjadi?!" tanya Aaron panik sambil melihat data yang terpampang di layar.
Rain menajamkan pandangannya. "Detak jantungnya meningkat drastis! Ini tidak seharusnya terjadi..."
Matthew segera mengambil tindakan, menyesuaikan dosis serum yang disiapkan untuk menstabilkan kondisinya. Namun, sesuatu yang tidak mereka duga terjadi. Tubuh Selena mulai bergetar hebat, otot-ototnya tampak menegang seperti sedang berjuang melawan sesuatu di dalam dirinya.
"Kita harus bertindak cepat!" seru Arvent yang berdiri di luar ruangan, mengawasi situasi dengan wajah tegang.
Matthew menggertakkan giginya, melihat ke arah Selena yang kini tampak berjuang dalam kondisi antara sadar dan tidak. Sensor mulai menunjukkan lonjakan energi yang tidak biasa dalam tubuhnya. Cahaya samar berpendar dari kulitnya, sebuah tanda bahwa virus Ragen masih bereaksi terhadap upaya pencairan ini.
"Sial... ada sesuatu yang berbeda!" ujar Matthew dengan ekspresi serius. "Sistem tubuhnya seolah menolak perubahan. Virus ini tidak hanya pasif, tapi bertahan dan melawan."
Aaron mencoba menyesuaikan parameter pada alat bantu kehidupan, namun tiba-tiba Selena mengerang lemah, napasnya terdengar berat dan terputus-putus. Denyut jantungnya melonjak ke tingkat yang tidak stabil.
"Matthew, kita harus melakukan sesuatu sebelum terlambat!" Rain berteriak, tangannya sudah bersiap dengan injektor darurat yang berisi dosis pengendali untuk mencegah tubuh Selena mengalami kejang fatal.
Tidak ada waktu untuk ragu. Mereka harus mengambil langkah selanjutnya sebelum keadaan menjadi fatal. Matthew mengambil napas dalam-dalam, lalu mengulurkan tangan untuk mengambil serum terakhir yang mungkin bisa menyelamatkan Selena dari krisis ini.
Setelah memastikan tubuh Selena cukup stabil untuk menerima pengobatan, Matthew menarik napas dalam dan menggenggam erat suntikan berisi serum yang telah mereka siapkan. Tatapan matanya penuh ketegangan saat ia menatap gadis yang masih terbaring di dalam ruangan isolasi. Rain dan Aaron berdiri di belakangnya, mengawasi setiap perubahan yang terjadi dengan alat pemantauan medis.
"Ini saatnya," ucap Matthew, suaranya terdengar berat.
Dengan tangan yang mantap, ia menusukkan jarum ke pembuluh darah Selena, menyuntikkan serum yang telah mereka uji coba dengan begitu teliti. Detik-detik berlalu dalam kesunyian yang mencekam, hanya terdengar bunyi alat-alat medis yang terus merekam tanda-tanda vital tubuh Selena.
Beberapa menit pertama, tidak ada perubahan mencolok. Matthew, Rain, dan Aaron saling bertukar pandang dengan raut cemas. Kemudian, perlahan, tubuh Selena mulai menunjukkan tanda-tanda respons. Detak jantungnya yang sempat tidak stabil mulai kembali normal, napasnya yang berat berubah menjadi lebih teratur. Warna pucat di kulitnya perlahan memudar, menunjukkan tanda kehidupan yang lebih baik.
"Ini berhasil…?" bisik Aaron dengan nada harapan.
Rain yang berdiri di depan monitor terus memantau angka-angka yang berubah. "Tanda-tanda vitalnya meningkat ke arah yang lebih baik. Bisa jadi ini pertanda kalau serumnya bekerja."
Namun, sebelum mereka bisa merasa lega sepenuhnya, suara alarm kembali berbunyi nyaring. Monitor yang menampilkan data tubuh Selena mulai menunjukkan perubahan yang tidak normal. Detak jantungnya melonjak drastis, suhu tubuhnya meningkat di luar batas wajar, dan tubuhnya kembali bergetar hebat.
"Tidak mungkin…" gumam Rain, jemarinya dengan cepat bergerak di atas layar pemantauan. "Virusnya bermutasi! Ini bukan yang kita perkirakan!"
Mata Matthew membulat saat melihat tubuh Selena yang tadinya tampak membaik, kini kembali menunjukkan tanda-tanda infeksi yang lebih ganas. Pembuluh darah di sekitar leher dan lengannya menghitam, seolah virus dalam tubuhnya sedang menggila, menolak upaya penyembuhan mereka.
Selena mulai bergerak gelisah, matanya yang tertutup berkerut seolah menahan rasa sakit luar biasa.
"Matthew…" suara parau itu terdengar samar, namun cukup untuk membuat Matthew tersentak.
"Dia sadar!" seru Aaron kaget.
Namun, kesadaran Selena hanya berlangsung sesaat. Tubuhnya kembali bergetar, napasnya terengah-engah, dan detak jantungnya semakin tidak terkendali. Ia mendadak melengkungkan tubuhnya ke belakang dengan erangan tertahan, seolah ada sesuatu yang meledak di dalam tubuhnya.
"Kita harus menghentikan ini sekarang!" seru Arvent dari luar ruangan, wajahnya tampak tegang.
Matthew menggertakkan giginya. Ia tidak punya pilihan lain. Dengan cepat, ia mengatur kembali sistem kriogenik dan mengaktifkan proses pembekuan darurat. Asap putih mulai memenuhi ruangan saat suhu dengan cepat turun ke titik beku.
Selena yang masih dalam kondisi tidak stabil mengerang lemah sebelum tubuhnya perlahan kembali kaku dalam lapisan es. Semua orang dalam ruangan hanya bisa menatap layar pemantauan dengan ekspresi kecewa dan putus asa.
Rain menghela napas panjang, menundukkan kepala. "Kita gagal…" suaranya hampir berbisik, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Matthew mengepalkan tangannya, menatap Selena yang kembali membeku di dalam tabung kaca. Hasil uji coba mereka yang pertama ternyata gagal total. Data dari sampel jaringan Selena yang mereka gunakan dalam eksperimen sebelumnya ternyata tidak cukup akurat untuk memprediksi respons tubuhnya yang sebenarnya.
"Kita harus mencari cara lain," ujar Matthew akhirnya, suaranya dipenuhi tekad yang lebih besar dari sebelumnya. "Aku tidak akan menyerah."
Arvent menepuk bahunya pelan. "Kita akan temukan solusinya. Akan selalu ada cara lain."
Di dalam ruangan yang kini kembali sunyi, mereka semua berdiri diam di depan tabung pembekuan. Harapan masih ada, namun mereka harus bekerja lebih keras lagi untuk menyelamatkan Selena.
***
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Di dalam laboratorium yang kini hanya diterangi cahaya redup dari lampu-lampu kecil di sudut ruangan, Matthew berdiri diam di depan tabung kriogenik yang kembali menahan tubuh Selena dalam keadaan beku. Tatapan matanya kosong, tetapi hatinya penuh dengan gelombang emosi yang tidak dapat ia ungkapkan. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, menahan perasaan bersalah yang semakin lama semakin menghimpit dadanya.
Selena tampak begitu damai di dalam sana, seolah sedang tertidur dalam mimpi panjang. Namun Matthew tahu kenyataannya tidaklah seindah itu. Ia tahu bahwa tubuh Selena sedang bertarung di dalam lapisan es tersebut, melawan virus ragen yang terus bermutasi di dalam dirinya. Semua ini, segala penderitaan yang dialami gadis itu, semua berakar dari satu kesalahan. Kesalahan yang telah Matthew buat di masa lalu.
Matanya perlahan berkabut saat pikirannya kembali mengingat semua yang telah terjadi. Kalau saja ia tidak pernah menciptakan serum Alpha dan Beta, kalau saja ia tidak begitu terobsesi untuk menyembuhkan dirinya sendiri dari penyakit bawaan yang hampir merenggut nyawanya dulu, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Ia mungkin akan mati, tetapi setidaknya ia tidak akan menyeret orang lain ke dalam penderitaan yang jauh lebih buruk.
Atau jika saja ia tidak bertemu dengan Demon. Pria itu, dengan dalih ingin menyelamatkan dunia, justru menghancurkannya dengan memanfaatkan hasil penelitian Matthew untuk menciptakan prajurit super power yang akhirnya gagal total. Gagal bukan dalam arti mereka mati begitu saja, tetapi mereka berubah menjadi monster, menjadi ragen yang kini mengancam dunia.
Jika ia bisa memutar waktu, ia akan memilih mati dalam kesendirian. Ia lebih rela menghadapi ajalnya sendiri dari pada harus melihat orang yang paling ia cintai mati secara perlahan seperti ini. Tetapi kenyataannya tidak ada yang bisa mengubah masa lalu, dan ia harus hidup dengan penyesalan yang menggerogoti jiwanya setiap hari.
Matthew mengulurkan tangannya, menyentuh permukaan kaca tabung yang dingin. Napasnya bergetar, suaranya hampir tak terdengar ketika ia berbisik, "Maafkan aku... Selena. Aku berjanji akan menemukan cara untuk menyelamatkanmu. Aku tidak akan menyerah lagi..."
Di belakangnya, pintu laboratorium terbuka perlahan. Rain berdiri di ambang pintu, matanya mencerminkan kelelahan dan kesedihan yang sama.
"Matthew," panggil Rain pelan.
Matthew tidak menoleh, hanya menghela napas panjang. "Aku sudah menghancurkan hidupnya, Rain. Aku yang menyebabkan semua ini."
Rain melangkah mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Matthew. "Kita semua punya kesalahan di masa lalu, tapi yang terpenting adalah apa yang akan kita lakukan sekarang. Selena masih punya harapan, dan kau adalah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya. Jangan biarkan rasa bersalah menghentikanmu."
Matthew mengepalkan tangannya semakin erat. Ia tahu Rain benar. Ia tidak bisa terus terjebak dalam rasa bersalah ini. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah mencari jalan keluar, mencari solusi, dan memastikan bahwa ia tidak akan gagal lagi.
Dengan tekad baru yang mulai mengalir dalam dirinya, Matthew menatap Selena sekali lagi. Kali ini bukan dengan keputusasaan, tetapi dengan janji yang akan ia tepati bagaimanapun caranya.
Ia akan menyelamatkan Selena. Tidak peduli berapa harga yang harus ia bayar.
lalu ada kota² dan desa² nya. dan di setiap kota/desa dilindungi tembok. aku kepikiran ini pas baca yg bagian evakuasi raja ke zona utara.
mungkin kalo di lihat dari udara. UK di novelmu penampakannya mirip punggung kura². dg garis² nya sebagai benteng tiap kota/desa.
coba donk thor. next update bikinin peta UK kalo dilihat dari udara
anaknya selena cewek
pas gede, mereka berjodoh.
fix, leo jadi besan dg mantan pacarnya😁
bisa kembali muncul ketika leo akhirnya bertemu lagi dg selena