NovelToon NovelToon
Teror Mahar Mewah

Teror Mahar Mewah

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Horor / Perjodohan / Balas Dendam / Pembunuhan / Tamat
Popularitas:30.6k
Nilai: 5
Nama Author: syahri musdalipah tarigan

Penuh dengan Misteri. 👺👺

Vivana Gadis desa berusia 21 tahun di paksa menikah dengan seorang pria kota yang baru saja bertemu dengan Ayahnya.

Hanya karena pria tersebut memberikan sebuah perkebunan yang cukup luas, Ayahnya rela menjadikan Vivana syarat pembayaran buat menikah.

Bukannya kebahagiaan di dapatkan Vivana setelah menikah. Pria yang menikahi Vivana adalah seorang Psikopat dan MAHAR MEWAH bernilai fantastis pemberian pria tersebut malah menjadi TEROR yang merenggut beberapa orang tercinta dan terdekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Pertama kali menginjakkan kaki di Masjid.

Akhirnya aku, Fanny dan Baskara sampai di Masjid. Masjid yang tak jauh dari kediaman rumah Fanny. Aku menghentikan langkah kakiku di depan teras Masjid, kedua tangan terselip mukenah milik Fanny yang di pinjamkan buatku, kedua mata menatap sekeliling Masjid yang terlihat tenang dan nyaman.

‘Seumur hidup baru kali ini aku menginjakkan kedua kakiku di Masjid. Ayah selalu melarang diriku untuk pergi ke Masjid karena dirinya tidak mempercayai akan adanya Allah.’ Batinku.

“Vivana.”

Aku mendengar suara pria yang cukup familiar di kedua telinga, pikiran dan hatiku. Setelah beberapa hari aku pergi, dan sempat berpikir tidak akan bisa mendengar suaranya lagi. Tapi kali ini aku mendengar suara yang cukup lembut memanggil namaku, suara itu adalah suara pria yang sempat mencintaiku, dan menjaga diriku dengan tulus tanpa meminta apa pun meski dulu aku kekasih nya. Aku segera memalingkan wajahku ke sisi kanan dimana suara lembut seorang pria memanggil namaku.

“Mas Valdi.”

Aku tak menyangka jika suara itu beneran suara Mas Valdi, kedua mataku berbinar, hatiku terasa nyaman dan hangat saat menatap wajah tenang dan senyum tulus yang selalu di pancarkan Mas Valdi.

“Cieee! Cie. CLBK, cinta lama bakalan kelar.” Sambung Fanny merangkul bahuku dari belakang.

“Iya. Apa lagi. Kalau jodoh bakalan kembali. Gas terus! Jangan kasih kendur.” Sahut Baskara merangkul Mas Valdi.

“Apaan sih! gak lucu.” Sahut aku dan Mas Valdi serentak, kami juga sama-sama serentak melepaskan rangkulan tangan Fanny dan Baskara.

“Cieee! Serentak.” Sahut Fanny dan Baskara saling menatap satu sama lain, bibir tersenyum manis melihat aku dan Mas Valdi terlihat kaku.

10 menit kemudian, adzan Isya’ berkumandang sangat jelas di dalam Masjid, semua orang baik di luar Masjid atau menuju Masjid bergegas melangkah memasuki Masjid.

Aku dan Fanny sedang duduk dilurusan syaf paling belakang. Aku meminta duduk di syaf paling belakang karena diriku tidak tahu bagaimana caranya sholat. Meski Fanny sempat memarahiku karena aku tidak tahu bagaimana cara sholat, tapi dirinya tetap menuruti keinginanku, asalkan aku mau berubah untuk menjadi wanita yang taat kepada Allah.

Adzan berkumandang terdengar sangat merdu.

^^^Allahu Akbar, 4x^^^

^^^Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah, 2x^^^

^^^Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah, 2x^^^

^^^Hayya’ Alash Shalaah, 2x^^^

^^^Hayya’ Alal Falaah, 2x^^^

^^^Allahu Akbar Allahu Akbar,^^^

^^^Laa Illaaha Illallah.^^^

Sampai selesai adzan, aku masih duduk di atas sajadah, termenung, merenungi nasib yang aku jalanin saat ini. Aku masih sedikit kecewa dengan semua takdir tak adil yang saat ini aku lalui.

Fanny yang duduk di sebelah kiriku menggoyang kuat tubuhku, memecahkan lamunanku.“Hei, bangun Vivana. Kamu mau sholat atau tidak.” Ucap Fanny lembut.

“Oh, iya.” Aku segera berdiri, membenarkan rok mukenah yang melorot, aku mendekatkan bibir ke daun telinga Fanny yang tertutup mukenah. “Fan, kita langsung sholat saja, nih?” Tanya ku berbisik pelan, kedua mata menatap sekeliling jama’ah ibu-ibu yang menatapku tajam.

“Baca niat, niat sholat Isya.Tahukan niatnya?”

“Enggak.”

“Hadeh.” Keluh Fanny, tangan kanannya menarik diriku mendekati bibirnya yang berbisik di telingaku. “Bahasa Indonesia saja ya. ‘Ushalli fardhol isyaai arba'a raka'atin mustaqbilal qiblati adaa-an imaman lillahi ta'ala’.”

“Oh! Baik.” Sahutku kembali berdiri di syaf milikku.

Aku yang tak pernah melakukan sholat akhirnya mengikuti sholat berjamaah, mengikuti beberapa jama'ah yang berada di syaf bagian depan. Mungkin aku terlihat seperti anak kecil yang baru saja belajar, tapi niatku untuk merubah diri tulus dari dalam hati. Bukan itu saja, aku sengaja mengikuti semua ini karena aku tak ingin terus-menerus di ganggu hantu wanita.

Akhirnya akupun berhasil di rakaat terakhir, mengucap salam dan terus berdoa meski aku tidak tahu harus berdoa apa kepada Allah, karena aku tidak tahu bagaimana caranya berdoa yang baik. Aku hanya mengikuti semua gerakan Fanny dan Ibu-ibu jama’ah.

Setelah selesai melakukan ibadah sholat Isya’, diadakanlah pengajian bersama. penyekat kain berwarna hijau yang memutuskan antara pria dan wanita kini di tarik sampai ke ujung. Fanny mengajakku duduk di depan, mendekati Ustad yang sedang duduk di dekat mimbar.

Aku, Fanny, dan beberapa Ibu serta anak gadisnya duduk melingkar. Wanita dengan wanita, pria dengan pria. Pelan-pelan aku mencuri pandang kepada Mas Valdi terlihat tampan dan tenang.

‘Mas Valdi tetap sama, dari dulu raut wajahnya tetap adem dan membuat hatiku sangat tenang saat menatapnya.’ Batinku terkesima.

Fanny menyikut tangan kananku. “Vivana. Buka iqro’ milikmu.” Bisik Fanny mengingatkan aku untuk fokus dan membuka iqro' miliknya yang di pinjamkan untukku.

“Eh! Vivana. Aku pikir siapa.”

“Tumben datang ke Masjid, pasti kamu ingin tebar pesona dengan Valdi, kan?”

“Ia, ke mana suami kamu yang kaya raya itu?”

“Paling sudah cerai, mana mungkin bisa bertahan dengan gadis yang memiliki Ayah seperti tuan takur. Matre.”

“Lagian baru kaya di kampung saja sudah sombong, berlagak menikah dengan pria kota yang kaya raya. Tapi kenapa suami kaya rayanya malah milih tinggal di desa sebelah.”

“Ada istrinya kali di kota.”

Ucap Ibu-ibu warga saling sahut menyahut satu sama lain menghina diriku, tatapan seperti merendahkan diriku terpampang jelas di kedua mata mereka yang diam-diam melihat diriku tanpa berkedip.

Aku hanya diam, kedua tangan menggenggam kuat iqro' yang aku pegang, kepala aku tundukkan. Rasanya aku ingin lari dari ibu warga yang sedang duduk melingkar di sisiku. Tapi aku tidak bisa kabur dari sini, karena aku harus tetap bertahan demi Baskara dan Fanny, sudah susah payah mereka membawaku keluar dari rumah dengan mengelabuhi Ayah, kenapa aku tidak bisa bertahan hanya karena mendengar omongan Ibu-ibu warga desa.

“Astaghfirullah hal adzim.” Ucap Pak Ustad menggeleng, tangan kanan memegang tasbih. Kedua mata menatap satu-persatu jama’ah baik perempuan maupun laki-laki yang hadir mengikuti pengajian yang di bawakan Ustad tersebut. “Ibu-ibu. Tidak bisakah wahai kita umat manusia saling berbaik sangka kepada umat manusia lainnya. Kenapa Ibu-ibu berkata kasar, menghujat gadis yang ingin melaksanakan Ibadah kepada Allah. Sudahkah kita memperbaiki diri sendiri sebelum kita menghujat dan berbicara hal buruk tentang orang tersebut. Apa manfaatnya jika kita membicarakan hal buruk tentang orang lain kepada orang lain?”

“Tidak ada Pak Ustad.” Sahut Ibu-ibu serentak, kedua tangan saling menyikut satu sama lain, kedua mata melirik satu sama lain dengan wajah yang tertunduk malu.

“Kalau begitu silahkan minta maaf kepada gadis yang sudah Ibu-ibu hakimi.” Sambung Pak Ustad mengarahkan tangan kanannya ke diriku yang duduk lurus menghadap Pak Ustad.

“Kami minta maaf kepada Neng Vivana.” Ucap Ibu-ibu warga secara serentak.

“Enak saja minta maaf. Aku sumpahi Ibu-ibu di sini suaminya kawin dengan janda-janda.” Sambung Fanny ketus menatap satu persatu Ibu-ibu jama’ah.

“Fanny.” Aku menarik tangan kanan Fanny, berusaha menenangkan emosi Fanny yang sedikit meluap.

“Astaghfirullah hal adzim. Neng Fanny kenapa berbicara seperti itu. Ayo cepat minta maaf kepada Ibu-ibu yang sudah di sumpahi.” Ucap Pak Ustad lembut menasehati Fanny agar tidak lagi menyumpahi seseorang meski dalam keadaan marah.

"Gak mau Pak Ustad."

"Fanny....." Ucapku menekan, tangan kanan mencubit lengan kiri Fanny.

"Iya-iya. Minta maaf sama manusia bermuka dua." Ketus Fanny, wajah terlihat suram.

...Bersambung.......

Terimakasih atas kunjungan Anda. ☺️☺️

Jika penulisan ku masih salah, mohon Maaf ya? 🤗🙏🙏🙏

Terus tinggalkan jejak, agar aku bisa kembali berkunjung ke tempat Anda. ☺️😍

1
Nengnong Ipin
horor bgt si thor
Nengnong Ipin
spertinya bara dan Santo pelakunya...sadis bgt mereka
Nengnong Ipin
sepertinya emang bara yg merampas harta janda kaya raya itu...
makanya datang terus meneror
Nengnong Ipin
kyanya hntu itu yg menyerupai s bibi
sereeeemmm
Nengnong Ipin
ayah yg dbutakan harta
Nengnong Ipin
semua masih misterius....
Nengnong Ipin
itulah akibatnya klo mnyombongkn diri
Nengnong Ipin
seneng deh SMA Fanny...
Nengnong Ipin
orang misterius LG🤔
Nengnong Ipin
kasihan vivana...jdi dia yg terus d teror
Nengnong Ipin
Fanny yg sewot...🤣
Nengnong Ipin
ayah tirikah...🤔
Nengnong Ipin
makin seru...
Nengnong Ipin
kasian vivana jdi korban
Nengnong Ipin
lanjut Thor...
Nengnong Ipin
kyanya itu kalung punya janda kembang yg meninggal
Nengnong Ipin
gregetan SM fanny
sari. trg: terimakasih sudah mampir kak, ☺️😊
total 1 replies
Nengnong Ipin
kasian vivana n Valdi cintanya terhalang mahar😞
Nengnong Ipin
lanjut kak
Rini Antika
Aku rasanya ingin pingsan dengar emas 10 kg..😱😱
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!