Hidup dalam kepalsuan bukanlah hal yang Safira inginkan. Menjadi sosok gadis yang sombong penuh keangkuhan bukanlah sifat aslinya. Namun keadaan memaksanya untuk menjalani kehidupan penuh manipulatif ini.
Safira jenuh dengan kehidupannya, gadis itu ingin lari dari semuanya, meninggalkan segala kepalsuan ini. Hingga dimana Safira tidak lagi sanggup, gadis itu akhirnya benar-benar pergi. Meninggalkan keluarganya dan teman-temannya serta kehidupan yang selalu membuat iri semua orang.
Namun siapa yang menyangka, kepergiannya ini justru membawanya kembali ke masa kelamnya. Lelaki itu, sosok bajingan yang telah menghancurkan hidupnya dengan brutal, muncul di saat Safira ingin melupakannya.
Safira sangat membencinya, hingga timbul dalam hatinya ingin membalaskan dendamnya. Ya, Safira memanfaatkan kesempatan ini untuk membalas kehancurannya.
Cerita ini merupakan sequel dari MY POOR WIFE. Silakan baca dulu agar lebih seri bacanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novia Butera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Hari ini, setelah semua yang terjadi, Safira akhirnya pulang bersama keluarganya. Pulang dengan damai tanpa rasa sakit hati yang menyiksanya selama ini. Wanita itu tersenyum, mematut dirinya di depan cermin lamarnya.
"Semua akan baik-baik saja Safira." wanita itu meyakinkan hatinya, bahwa semua ini adalah jalan terbaik untuk hidupnya, juga untuk janin di dalam perutnya.
Namun meski mencoba terlihat baik-baik saja, jauh di dalam lubuk hatinya terdapat kehampaan. Semangat yang dipupuknya untuk menghibur dirinya sendiri hanyalah omong kosong belaka. Tidak ada perasaan bahagia, layaknya seorang ibu yang menanti kelahiran anaknya. Yang ada hanyalah kekosongan tanpa adanya tujuan hidup.
"Sayang, sudah siap?" panggil Davina.
Safira mengangguk, lalu melangkah menyusul ibunya. Beberapa barangnya telah dikirim, sehingga mereka tinggal pergi tanpa bawaan yang berat.
"Ibu baru saja menghubungi Kakakmu Denna, dia sangat senang mendengarmu akhirnya pulang." ucap Davina sesaat setelah mereka berada dalam perjalanan menuju bandara.
Tidak seperti yang Davina harapkan, Safira hanya tersenyum tipis lalu kembali diam sambil melihat jalanan kota.
"Apa yang kau pikirkan lagi? Kau masih mengharapkan bajingan itu?" timpal Bara yang duduk di bangku kemudi.
Rara segera memegang pundak suaminya, ketika mata mereka bertemu Rara menggelengkan kepalanya.
Bukan tanpa alasan Bara cukup ketus seperti ini. Tentu saja karena Bara tahu bahwa sebelumnya Dave sering mendatanginya. Dan satu hal yang membuat Bara marah adalah Safira malah diam saja padahal dia tahu keberadaan Dave.
Tidak lama kemudian, mereka akhirnya sampai di bandara. Keberangkatan mereka menuju Jerman menggunakan jet pribadi milik keluarga Pramana. Sehingga mereka tidak perlu menjadwalkan keberangkatan sebelumnya.
"Jangan bersedih terlalu lama sayang." ujar Davina yang ikut duduk di samping putrinya mencoba menenangkan sang putri.
"I'm oke Mom." sahut Safira. Meski sebenarnya dia sedang tidak baik-baik saja.
"Tidak, Ibu tau kau tidak baik-baik saja." Davina menyelipkan rambut putrinya ke balik telinganya. "Kalau kau memang ingin bersama Dave, Ibu bisa membantumu." tawar Davina.
Sontak Safira mengerutkan keningnya, "Maksud Ibu? Apakah Ibu berpikir aku menginginkan bajingan itu?" cetusnya. Safira menggeleng dengan senyum sinisnya, "Tidak Bu. Aku bahkan sangat membencinya, bagaimana mungkin aku menginginkannya." Safira membantah ucapan sang Ibu.
Davina menyambut tangan putrinya tersebut, kemudian mengusapnya lembut. "Kau bisa membohongi perasaanmu, tapi tidak dengan Ibu. Aku ibumu, Ibu mengerti dengan semua yang ada dalam dirimu sayang."
Safira bungkam, sementara dalam hatinya dia menyangkal ucapan sang Ibu. Dia tidak mengharapkan Dave sama sekali, yang ada hanyalah kebencian untuk pria itu.
"Berbaliklah sayang, ada yang ingin bertemu denganmu." ucap Davina.
Safira mengangkat alisnya, namun tak urung membalikkan tubuhnya. Manik wanita itu berkaca-kaca begitu melihat seseorang yang sangat dia sayangi ada di depannya saat ini.
"Al..." lirihnya.
Mendengar namanya disebut, Alice segera berlari menerjang sahabatnya. Safira menyambutnya, memeluk sahabatnya erat.
"Maafkan aku..." tangis Alice pecah. "Maaf.... Aku minta maaf.... Aku tidak tau Safira, aku benar-benar bodoh karena tidak menurutimu." Alice meraung.
"No, jangan minta maaf. Kau tidak bersalah dalam hal ini. Kau juga korban." Safira menghapus air mata Alice.
"Tapi kenapa kau tidak mengatakan padaku yang sebenarnya? Kenapa kau malah diam dan menanggung semuanya sendiri."
Safira menatap Alice dengan tulus, cukup lama ia diam "Karena kau mencintainya."
Dan tangis Alice kembali pecah.
knpa?
semangaat yaa othor, sehat selalu
kita semua menunggu
lanjut kaaa
penasaran bget jdina tpi g up date,gmana nie thor???