NovelToon NovelToon
Dark Memory

Dark Memory

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Militer / Tamat
Popularitas:2.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: kenz....567

"Siapa kamu sebenarnya? kenapa kamu selalu masuk kedalam mimpiku hah?! please ... jawab aku, siapa kamu sebenarnya. Sungguh perasaan ini menyiksaku," (~ Ezra Louise Elvish)

"Jendralnya ganteng sih, tapi sayang ngeselin," (~ Zanna Liana putri Wesley)

***

Menceritakan tentang Leon yang kini telah merubah identitasnya menjadi Ezra Louise. Setelah di nyatakan sembuh dari penyakit ensefalitis, kini Leon atau yang harusnya kita sebut Ezra melupakan ingatannya.

Namun, sepertinya takdir mempersatukan mereka dimana Ezra selalu memimpikan sosok Zanna dengan mata hijaunya.

Selama 10 tahun Ezra memimpikan Zanna tanpa tahu siapa Zanna sebenarnya.

Ezra mengobati penyakitnya selama 2 tahun dan setelahnya dia di kabarkan amnesia yang menyebabkan dirinya sama sekali tak mengingat Zanna.

10 tahun kemudian mereka kembali di pertemukan dalam akademi militer. Apakah Ezra bisa memahami mimpinya setelah ia bertemu Zanna secara langsung? Apakah memory Ezra akan kembali? ataukah justru tidak akan pernah kembali?

Haruskah cinta mereka berakhir? Ataukah ada keajaiban untuk cinta mereka? lebih pada penasaran mending langsung saja baca, di jamin seru!

Cerita yang tidak serius, sedikit bercampur komedi agar pembaca terhibur.


Peringatan! ini hanya cerita fiktif/ khayalan Author. Bukan kenyataan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejadian yang mengejutkan

"Mommy! ayo ke lestolan hiks ... ayo hiks ...,"

Amora tengah di pusingkan dengan Ravin yang terus menerus merengek ingin pergi ke restoran, padahal segala macam makanan ada di rumah. Tetapi anak itu terus merengek ingin ke restoran.

"Ravin mau makan apa sih? kan tinggal bilang sama paman koki." bujuk Amora sambil menatap putranya yang bergelantungan di kakinya.

"Hiks ... nda mau! nda mau! Lavin mauna ke lestolan!" anak itu tetap saja keras kepala.

Amora menghela nafasnya, dia menatap ponselnya yang dia genggam dan mencari kontak suaminya.

"Iya-iya! udah, jangan gelendotan begitu, mommy mau telpon daddy dulu ini," bujuk Amora.

Ravin yang mendongak dan menatap mommynya yang sedang menelpon sang daddy melepaskan rangkulannya pada kaki sang mommy.

Anak kecil itu menghapus air matanya dan juga ingusnya dengan punggung telapak tangan kanannya.

"Sruuuk!"

Amora yang mendengar sang anak yang menghirup kembali ingusnya segera mengambil tisu yang berada di meja tak jauh darinya. Dengan segera dia mengarahkan tisu itu pada hidung mungil sang putra.

"Keluarkan!" titah Amora.

Ravin langsung menuruti ucapan sang mommy, dan tak lama suara sang daddy terdengar karena sang mommy yang memasang pengeras suara pada ponselnya.

"Ravin dengar daddy?"

Amora langsung mengarahkan ponselnya pada Ravin sehingga anak itu mendengar lebih jelas suara sang daddy. Sementara dirinya membuang tisu tersebut pada tong sampah kecil yang ada disana.

"Iya hiks ...," sesenggukan Ravin.

"Di rumah aja yah, jangan keluar ... karena lagi banyak virus," bujuk Alden.

Sepertinya bujukan Alden tak mempan, anak itu sekarang membuka mulutnya tetapi tak menangis yang mana membuat Amora kelabakan.

"Eehhh, iya-iya kita pergi!" ujar Amora sambil membawa sang anak ke gendongannya. Tapi naas, sepertinya dia terlambat.

"HIKS HUAAAA,"

"Oke fine! ajak Ravin ke restoran yang, nanti aku nyusul kalian sebentar lagi," ujar Alden yang merasa takut jika tangisan keras Ravin tak kunjung berhenti dan membuat sang anak demam saat malam nanti akibat terlalu banyak menangis.

Amora mengangguk dan mematikan ponselnya, dia segera menghentikan tangisan sang anak yang terlihat seperti sangat tersakiti.

"Udah ya udah, sekarang kita siap-siap." ajak Amora sambil beranjak dari sana menuju kamarnya.

Netra Amora mendapatkan sang putri yang baru saja keluar dari kamarnya. Dia segera menghampiri sang putri yang juga berjalan mendekatinya.

"Aurora sayang, mommy mau ke restoran karena adikmu merengek ingin kesana. Apa kamu mau ikut?" tanya Amora sambil mengelus rambut sang putri.

"Hmm ... yaudah deh, Aurora ikut. Kalau gitu Rora siap-siap dulu yah," ujar Aurora dan langsung masuk kembali ke kamarnya.

Amora tersenyum, dia juga segera pergi menuju kamarnya untuk mempersiapkan dirinya dan sang anak.

Tak membutuhkan waktu lama, kini Amora, Ravin dan Aurora sudah bersiap. Mereka sudah berada di dalam mobil untuk pergi menuju restoran.

"Mommy, tadi aku video call dengan kak Lia. Tapi ku lihat sudut bibirnya kak Lia terluka, apakah di asrama militer begitu mengerikan seperti itu mom?" tanya Aurora sambil menatap sang mommy yang sedang memegangi Ravin yang saat ini berdiri menghadap jendela mobil.

"Benarkah? saat mommy dan daddy kesana wajah kakakmu masih mulus saja, mungkin hari ini dia ada pelatihan," jawab Amora dan menolehkan kepalanya.

Aurora mengangguk kan kepalanya, mungkin saja sang kakak ada pelatihan yang menyebabkan dirinya terluka. Namun, tetap saja Aurora khawatir pada kakaknya itu.

"MOMMY! MOMMY! LOOK!" seru Ravin.

Amora dan Aurora mengikuti arah pandang Ravin, mereka membulatkan matanya ketika melihat dua mobil yang akan bertabrakan.

"AAAAA!"

Jder!

Aurora dan Amora sontak saja terkejut, kecelakaan itu dekat sekali dengan mobil mereka.

"Pak! minggir dulu pak, kita tolong mobil itu," panik Amora.

"Iya nya," ujar sang supir.

Mobil mereka menepi, Amora langsung menggendong putranya dan keluar dari mobil itu di ikuti oleh Aurora.

Tok!

Tok!

Tok!

Amora mengetuk keras jendela mobil, tetapi orang yang berada di dalam sepertinya pingsan yang mana membuat Amora terpaksa membukanya.

Cklek!

"Nyonya! anda tidak apa-apa?!" panik AMora saat melihat seorang wanita yang memegangi kepalanya.

Wanita itu meringis, dia menegakkan kepalanya dan menatap Amora yang terkejut melihatnya.

"Loh, mbak Kirana? mbak gak papa mbak?!" panik Amora.

Kirana tak menjawab, dia menoleh menatap seorang pria yang pingsan dengan darah yang mengalir di kepalanya.

"MAS! MAS!" panik kirana sambil menggoyangkan lengan pria itu yang tak lain adalah Zidan.

Kepala Zidan terhantuk stir dengan keras sehingga pria itu pingsan dengan darah yang mengalir dari kepalanya.

"Zidan?" gumam Amora.

"Kamu gendong Ravin dan bawa ke mobil, cepat!"" titah Amora pada putrinya sambil menyerahkan sang putra.

Aurora mengangguk, dia mengambil Ravin dan berjalan menuju mobil.

Sedangkan Amora meminta bantuan pada orang sekitar untuk membawa Zidan ke mobilnya.

"Pak tolong bantu pria itu masuk ke mobil saya yang di sana yah." pinta Amora sambil menunjuk mobilnya.

"Hiks ... hiks ...," isak Kirana.

"Mbak ayo ikut mobilku saja, kita bawa suami mbak ke rumah sakit," pinta Amora.

Kirana mengangguk, dia keluar dari mobil dengan di bantu oleh Amora. Sedangkan Zidan sudah di bawa oleh beberapa orang menuju mobil Amora.

"Aurora duduk di depan sama adek yah," ujar Amora saat sampai di mobil nya.

Aurora mengangguk, dia keluar dari mobil dan pindah ke depan tepat di sebelah sang supir.

"Hiks ... Hiks ... Lavin mau cama mommy," isak anak itu yang kini merasa takut.

"Ravin di depan dulu ya nak, nanti baru sama mommy," bujuk Amora yang duduk di samping Kirana yang berada di tengah-tengah antara dirinya dan Zidan.

Beruntung Ravin mengerti fan menghentikan tangisannya.

Mobil mereka akhirnya berjalan menuju rumah sakit, Kirana tak henti-hentinya menangis karena Zidan yang tampak semakin pucat.

Beruntung jarak rumah sakit dekat dengan lokasi kecelakaan sehingga kini mobil mereka memasuki area rumah sakit.

Mobil terhenti tepat di depan rumah sakit, Amora segera keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah sakit untuk memanggil para perawat.

Dan tak lama para perawat pun datang dengan membawa brankar, mereka langsung mengeluarkan Zidan dan menaruhnya di atas brankar.

Amora kembali ke mobil untuk memapah Kirana yang terlihat lemas, sementara Aurora mengikuti mereka dari belakang dengan menggandeng tangan sang adik.

Zidan memasuki ruang UGD, sementara Kirana dan Amora menunggu di depan pintu ruang UGD.

"Hiks ... Hiks ...," isak Kirana sambil menduduki dirinya di kursi tunggu.

Amora menepuk pelan bahu Kirana, dia sangat ingin bertanya apakah benar pria tadi adalah Zidan. Namun, tampaknya ini bukan waktu yang tepat.

Cklek!

Dokter keluar dan menemui Amora dan juga Kirana.

"Maaf, saya ingin bertanya siapa keluarga pasien?" tanya sang dokter.

Amora berdiri, dia menunjuk Kirana yang masih menangis tersedu-sedu.

"Maaf dok, biar saya wakilkan. Bagaimana kondisi pasien dok?" tanya Amora.

"Kondisi pasien cukup buruk, dia kekurangan darah. Apakah keluarga ada yang memiliki golongan darah o rhesus negatif? kami harus mendapatkannya segera, karena di rumah sakit sedang tidak menyediakan stok darah tersebut," terang sang dokter.

Amora sontak saja terkejut, pikirannya tentang pria itu adalah Zidan semakin kuat dengan adanya golongan darah yang sama.

"Hiks ... Amora hiks ... gak ada yang punya golongan darah itu hiks ... bahkan putra pertamanya memiliki golongan darah yang berbeda hiks ... aku harus apa?!" panik Kirana saat mendengar ucapan dokter.

Amora kembali menatap sang dokter, dia mengambil nafas dan membuang nafasnya secara perlahan.

"Ada dok, dia suami saya. Saya akan mengabarkannya untuk kesini dengan segera," ucap Amora.

Dokter tersebut mengangguk dan pergi dari sana sementara Amora menatap kirana yang terkejut dengan ucapannya barusan.

"Suami kamu punya golongan darah itu?" heran Kirana.

"Tentu saja, Zidan Elvish nama suami mbak bukan?" tanya Amora dan mendapat anggukan dari Kirana yang mana membuat Amora yakin jika Zidan ternyata masih hidup.

"Dia ... suami mbak itu adalah kakak dari suamiku Alden Leon Wesley,"

Degh!

"A-apa? k-kau ...,"

JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.

1
Dahlia Kartono
good ceritanya ❤️❤️❤️
nor hidayah
mak-mak kan makhluk tkuat terhebat di dunia...
Rosmerry
ceritanya TDK tuntas
Rusma Yulida
knp kirana di salahin yv salah pak tua jacob ,knp kirana di bilng pelakor
alden juga ngoming seenak jidat g berasa dia jafiin amora lakor😄
Rusma Yulida
mungkin meisya egois juga ,karna dia tau clara ank angkt dan g mau ortonya sayang clara hmmmm
Atik Marwati
kalo ga mau jangan dipaksa lia...bilang aja ke Ezra biar dicariin lagi
Atik Marwati
ternyata Frans sangat mencintai Aqila dan anaknya...
Atik Marwati
Lio suka viola ya
Atik Marwati
gimana kabarnya elbert yak kapan ketemu jodohnya adiknya lia udah nikah
Atik Marwati
oteh thor
Atik Marwati
sukurin...
Atik Marwati
keluarga Alden penolong Lio gercep...🥰🥰🥰
Atik Marwati
kasihan adik Heri baru tiga tahun sedah ga punya ortu sekarang kakanya meninggal dunia...
semoga ada orang baik yang mau adopsi mungkin Alden atau zidan
Atik Marwati
Oke thor semangat...
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣....kayak bola aja ditendang tendang ya
Atik Marwati
ravin ga takut singa
Nurhayati
BeneR2 nie KeLuarga SompLaK smUa...dr yg BociL Ampe yg TuE🤦🤦
Nurhayati
EzRa/LeOn MaU aZa PunYa MerTua Bin Ajaib na kebangeTan🤦🤦🤦
Nurhayati
😄😄😄SeRu juga kl ada ank yg masih cadel😂😂
Nurhayati
Alden pea...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!