Dikhianati oleh keluarga sendiri, tidak akan membuat Hasper Laurensya Veranichii gentar. Kunjungannya secara tidak sengaja ke sebuah mansion tua di tengah hutan, bertemu dengan Kaisar berwajah dingin, Neca Aguilera Levine sampai masuk ke dunia fantasi underground ... keajaiban tidak pernah berakhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon иⱥиⱥツ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 15 - Ungkapan Caver
(Hasper, Xel, Lotus, Rafael, Jevi, dan Caver)
"Jangan terlalu banyak makan," Xel mengacak rambut Hasper.
"Saya tidak mau tahu! Saya ingin," ujar Hasper. Pemilik manik ruby menggembungkan pipinya. Tidak ingin diperintah.
"Kalian manis sekali..." Lotus menatap mereka berdua bergantian. Wajahnya bersemu, memerah.
"Dan apakah bersemu memerah termasuk hal yang harus dilakukan ketika melihat sepasang suami-istri melakukannya?" tanya Xel.
Blush! Wajah Lotus makin memerah. Entah mengapa dia begitu mudah merona akhir-akhir ini. Semenjak Rafael memgejarnya. Dia sering menghindar dan merona. Dia sendiri tidak tahu kenapa.
"Meronalah hanya untukku, Nona," titah Rafael. Pria itu mencengkram dagu Lotus mengarahkan wajah gadis itu ke arahnya.
Rafael bisa melihat sayunya mata Lotus. "Aku terlalu memaksamu ya? Maaf..."
"Dan apakah seorang Pangeran bisa seenaknya melakukan hal romantis di depan umum?" Hasper memicingkan matanya.
"Ha! Calon velha, apakah Anda memang selalu mengesalkan seperti ini?" Rafael menghela nafas panjang. Begitu kesal dengan Hasper.
"Setidaknya, saya ingin eouny saya mendapat yang terbaik dan menjadi yang terbaik," Hasper menggandeng tangan Xel. "Ayo! Saya lapar!"
Hasper menarik Xel pergi meninggalkan Lotus dan Rafael di sana.
"Plinplan sekali mereka dengan perasaan sendiri," tukas Hasper.
"Apa itu plinplan?" tanya Xel.
"Tidak menentu, mereka tidak menentu dengan perasaan sendiri. Terutama eouny. Jika suka ya suka. Jika tidak ya tidak. Masa membawa perasaan di atas segalanya," Hasper memutar kepalanya ke belakang. Terlihat Lotus dan Rafael berjalan santai sambil bercengkrama akrab. Wajah Lotus benar-benar membuat pemilik manik ruby gemas.
"Lalu, kamu sendiri? Bagaimana tentang perasaanmu padaku?" tanya Xel.
Hasper melirik Xel, lalu menghela nafas panjang. "Saya ya suka pada Anda. Sudah begitu saja. Saya bukan tipe yang akan berbasa-basi atau semacamnya. Jika suka ya tunjukkan melalui perbuatan. Jika tidak ya harusnya bersikap biasa saja, tidak berlebihan."
"Begitu ya..." Xel menatap Hasper. Dilihatnya wajah yang dihiasi senyuman tipis itu. Pemilik manik amethyst benar-benar merasa... Bagaimana ya cara mengungkapkannya? Yang jelas dia benar-benar jatuh hati dengan gadis yang sedang menggandeng tangannya sekarang.
"Setelah semuanya selesai," kata Xel. "Aku akan membawamu ke Kuil Utara." Xel mengecup kening Hasper. "Semoga dirimu bisa bahagia di sini untuk sesaat, semoga aku bisa bertemu denganmu lagi."
"Jangan berkata seolah saya akan pergi sekarang! Masih ada ratusan dae lagi," Hasper menggembungkan pipinya. "Saya bersyukur saya bisa dipertemukan dengan Anda. Jika yang menemukan saya bukan Anda, saya tidak tahu harus bagaimana..."
"Aku lebih, Hasper Lauren, aku lebih..."
***
"Masih r-" Xel langsung membekap mulut Hasper dengan telapak tangannya. Pemilik manik amethyst menatapnya tajam.
"Au mmmiii!!!—aku mengerti!!!"
Xel melepas bekapannya.
"Hump!" Hasper menggembungkan pipinya. Kesal.
"Diege, dimana Caver?" tanya Xel.
"Ah... Tuan Caver bilang dia ingin mengunjungi seseorang. Di pusat kota sebentar. Seorang perempuan katanya," Diege mengangkat bahunya. "Kalau tidak salah namanya Jev-"
"Akhirnya!" sanggah Hasper. "Sebentar lagi kalian punya nyonya baru!"
Diege langsung menganga mendengarnya. "Nyonya... Nyo-nyonya baru?!"
"Ha?! Tuan Caver akan meminang gadis?!" pelayan lainnya menganga. "Akhirnya! Akhirnya setelah lama dia menyendiri, dia akan menikah juga!"
"Hasper Lauren-"
"Panggil saya Haspy," sanggah Hasper. "Orang-orang terdekat saya memanggil saya begitu."
"Panggil saya Aza kalau begitu," Xel menyambung kalimat Hasper.
"Ah... Baiklah..." Hasper memegang poninya yang acak-acakan.
"Lihat mereka sudah heboh. Sepertinya rambut Caver akan naik ketika dia sudah kembali dari acara 'kunjungan' ke rumah gadis itu," Xel mengangkat bahunya.
"Ah... Itu dia..." Hasper menunjuk orang yang barusaja datang dengan wajah berbinar itu.
Orang kasmaran sepertinya memang selalu memasang tampang budu ya? batin Hasper. Gadis itu tersenyum canggung.
"Tuan Caver kembali! Kita harus memberi selamat padanya," ujar para pelayan semangat. Berbondong-bondong mereka mengerumuni Caver.
"Selamat ya Tuan, akhirnya Anda akan menikah!!!"
Wajah Caver yang berseri mendadak langsung datar. Pemilik manik green nature itu memicingkan matanya. Mendelik kesal. Ini pasti kerjaan Nona Zenya, saya yakin sekali! Awas kamu Nona! batin Caver. Kesal.
"Kembali ke pos kalian sekarang!" bentak Caver.
Nyali para pelayan langsung menciut. Kerumunan itu perlahan-lahan sirna. Mereka kembali ke pos mereka. Menyisakan Xel dan Hasper yang mengintip di belakang badan pemilik manik amethyst.
"Nona Zenya..." Hasper bersumpah bisa mendengar tulang-tulang jari tangan Caver berbunyi, tanda siap melempar kekesalannya.
Rafael tiba-tiba datang, merangkul Caver. "Hoi, bruder, masakkan sup, aku lapar."
Rafael bisa merasakan aura membunuh dari Caver. Pria bersurai abu-abu itu langsung menjauh. "Sorry bruder, tidak jadi."
Tiba-tiba, sepasang suara manis yang sangat dikenal Caver, Hasper, dan Xel terdengar. Meski berat tetapi jelas.
"Tuan Caver!" itu suara Jevi.
Rafael dan Lotus menatap ke arah Jevi juga.
Jevi yang berlari-lari kemudian berhenti. Gadis itu berjalan santai dengan keringat membasahi tubuh. "Panas sekali, astaga!"
Jevi kemudian menatap Caver yang juga menatapnya datar. Hiiihhh, Tuan Caver kenapa? batin Jevi. Gadis itu merinding.
"Anda meninggalkan ini di rumah saya. Saya rasa harus mengembalikannya," ujar Jevi, gadis itu memberi sebuah cincin pada Caver.
Hasper tidak takut pada Caver sekarang. Gadis itu menutup mulutnya berusaha untuk tidak tertawa. "Hmpp... Ha... Hahahahahahahahaha..." Tawa geli Hasper yang keras itu pecah seketika. Pemilik manik ruby sedang menertawakan Caver.
Caver menepuk jidatnya pelan. Wajahnya merona sekarang. "Astaga, Jevi, apakah kamu mendengar apa yang kukatakan tadi?"
"Ah? Apa memangnya yang Anda katakan? Anda langsung pergi begitu saja..." Tatapan polos Jevi dan perkataannya membuat tawa Hasper makin keras.
"Yang Mulia!" Caver menatap Hasper tajam tapi gadis itu tak kunjung menghentikan tawanya.
Jevi bingung.
"Seandainya saya adalah laki-laki, saya sudah mela-" Xel membungkam mulut Hasper dengan mulutnya.
Semua orang terdiam dibuat mereka.
Jevi refleks menutup matanya. "Apa yang Anda lakukan di depan anak kecilll?!" Jevi berteriak nyaring.
"Begitu cara mengetuk hati orang dengan benar, Caver, kamu terlalu takut," Xel menatap Caver.
Xel langsung menarik Hasper pergi, duduk di meja panjang di pojokan sana. Hasper langsung memukul-mukul bahu Xel. Tapi itu tidak membuat Xel merasa sakit.
"Maaf, aku tidak sengaja melakukannya..." Xel bisa melihat wajah Hasper merona sekaligus merah padam. Pemilik manik ruby itu tidak mendengar apa kata Xel.
Rafael dan Lotus bergabung ke meja yang ditempati Xel dan Hasper.
Caver menarik Jevi ke meja khusus dua orang. Dia ingin meluruskan kesalahpahaman antara dirinya dan Jevi.
"Er... Begini, Jevi..."
Jevi dengan tatapan polosnya menatap Caver, membuat pemilik manik green nature salah tingkah.
"Ya? Ada apa?"
"Jevi... Aku suka padamu..."
Pufff! Wajah Jevi langsung merona. "Apa maksud Anda, Tuan?"
"Ah... Lupakan sajaaa!" Caver menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Pikirannya benar-benar melayang sekarang.
"Jadi cincin ini untukku?" tanya Jevi polos.
Caver mengangguk. Dia mengalihkan perhatiannya ke sembarang arah.
Di seberang, Hasper terkekeh. "Nah begitu dong!"
Sukses iya buat karyanya.
Jangan lupa mampir di karya pertamaku. Yang menceritakan seorang lelaki letoy yang selalu ditolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
terimakasih 🙏
udah aku like , like back ya kak..