Novel romance pernikahan
Aku telah bertahan semampu yang aku bisa. Jika di sinilah pertahananku kandas. Maka biarkan diriku pergi dari kehidupanmu. Selamat tinggal.
Olivia meninggalkan sepucuk surat di atas meja riasnya. Sungguh, dirinya tidak pernah menyangka jika beginilah nasib pernikahannya. Lima tahun bersama seakan tiada berarti apa-apa. Kebahagiaan dan perjuangan dalam mempertahankan keutuhan rumah tangganya telah berakhir. Saatnya Olivia melangkah pergi, meninggalkan segala kenangan yang ia ukir bersama suaminya di rumah itu.
Derai air mata mengiringi langkahnya. Bagaimanapun kepedihan itu terjadi. Olivia harus mampu bertahan, demi janin yang dikandungnya.
Bagaimana Olivia dan calon anaknya menapaki hidup selanjutnya? Mampukah ia bangkit dari keterpurukan yang dialaminya? Atau, malah menyerah dan memilih kembali kepada kehidupan yang sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IkeFrenhas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Delapan Belas
“Kamu dari mana saja? Kenapa teleponku tidak dijawab?” cecar Vino begitu telepon mereka tersambung.
Olivia meringis malu. “Aku keasyikan makan sampai enggak denger suara telepon. Kakak sudah makan siang?”
“Kamu makan apa?” Sepertinya sudah menjadi kebiasaan Vino. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan istrinya, melainkan balik mengajukan tanya.
Olivia mencebik. ‘Kebiasaan,’ gerutunya dalam hati. “Aku tadi masak,” sahut Olivia kemudian.
“Wah, asyik, dong. Bentar lagi aku pulang,” timpal Vino dengan suara riang.
“Jadi, Kakak belum makan?” tanya Olivia memastikan lagi.
“Enakan makan masakan kamu, Sayang,” balas Vino. “Ya udah, tungguin ya. jangan tidur, lho. Aku mau makan ditemenin kamu,” lanjutnya dengan suara tegas.
“Oke. Siap. Aku tungguin. Cepetan pulang dan jangan ngebut,” sahut Olivia senang.
Setelah sambungan terputus. Olivia memilih untuk membuka laman facebook. Sudah lama dirinya tidak bermain di media sosial itu. Mungkin saja bisa mendapatkan informasi pekerjaan, ‘kan?
Beberapa menit berlalu, seseorang yang ditunggu tidak kunjung datang juga. Merasa bosan karena apa yang dicari juga tidak didapatkan. Olivia menutup laman tersebut, lalu mematikan layar ponselnya. Beberapa kali mulutnya terbuka. Olivia menguap sebagai tanda matanya telah mengantuk. Tidak perlu menunggu lama, ia telah terlelap dengan posisi duduk seraya memeluk ponsel.
Vino tergesa-gesa menaiki anak tangga itu. Perasaan yang beberapa saat lalu diselimuti kabut gelap perlahan menampakkan sinarnya seiring langkah yang mendekati pada pujaan hati. Dengan perasaan tidak sabar, ia mengetuk pintu di hadapan. Sampai beberapa kali disertai suara memanggil, tetapi tidak juga mendengar sahutan dari dalam.
Vino pun membuka pintu itu. Harapan untuk disambut sang istri ketika sampai menguap begitu saja, seiring terpampangnya tubuh yang terlelap itu di kasur dengan posisi yang tampak tidak mengenakkan.
Vino menutup pintu dengan perlahan, melepaskan tas ranselnya lalu meletakkan di samping kasur dekat Olivia. Tidak ingin membuang-buang waktu, Vino pun membenahi posisi tidur Olivia yang duduk dengan badan miring ke samping.
Kemudian, setelah menjalankan kewajibannya, barulah Vino menikmati hidangan makan siang yang telah dimasak istri tercintanya. Dua piring nasi telah tuntas masuk ke perutnya. Vino tersenyum seraya menggeleng melihat berapa banyak belanjaan yang dibeli Olivia.
“Mau dimasak kapan sayur macam-macam sebanyak ini?” ucapnya pelan. Lalu bergerak mendekati tubuh Olivia yang terkulai terlelap di atas kasur. Vino mendekap tubuh itu, berharap wanita itu mampu bertahan hidup dengannya. Perasaan haru menguasai Vino, ia pun mencium pipi Olivia dengan perasaan penuh cinta.
“Lho, Kak. Kapan pulang?” Olivia menggoyang-goyang lengan Vino yang melingkar di perutnya.
Tadi, saat matanya mengerjap pelan dan terbuka. Olivia sontak kaget mendapati Vino yang telah berada di sampingnya dengan posisi tidur. Padahal, ia berniat menunggu lelaki itu malah ketiduran.
“Kak, sudah makan belum?” tanyanya lagi dengan tangan terus menggoyang-goyang lengan Vino. Lelaki itu hanya menggumam pelan. Entah apa yang dikatakannya, Olivia tidak mengerti.
“Kak, bangun. Ayo! Katanya mau makan.” Olivia tetap berusaha membangunkan Vino.
“Aku sudah makan.” Mata Vino terbuka lebar. “Katanya mau nungguin, eh, enggak tahunya tidur.” Vino mencubit gemas hidung Olivia sampai memerah.
“Iya, maaf. Aku enggak sengaja tadi, nungguin malah ketiduran.” Olivia beringsut duduk. Tangannya terulur mengelus rahang suaminya yang kasar karena ditumbuhi bulu-bulu halus, tetapi Olivia menyukainya. Sensasi geli menggelitik sampai ke hatinya.
“Mau makan lagi? Ayo! Aku temani,” usul Olivia kemudian.
“Nanti aja. Aku tadi udah makan dua piring. Masih kenyang. Mana langsung tidur lagi.” Vino mengangkat bajunya ke atas menampakkan perutnya yang masih tampak rata bagi Olivia. “Nih, lihat. Perutku bakalan buncit kalau begini.”
“Mana, masih rata begitu, kok,” bantah Olivia. Memang ia melihat perut Vino masih tampak rata dan ... seksi.
“Enggak sekarang, tapi nanti. Kalau aku terus-terusan makan dan langsung tidur,” sahut Vino seraya menurunkan kembali bajunya.
Olivia merasa sedikit kecewa. Jika boleh jujur, ia ingin berlama-lama melihat pemandangan itu. Baginya perut suaminya itu tetap saja tampak seksi dan menggoda. Tidak terbayangkan bagaimana jadinya jika perut rata dengan kotak-kotak itu tiba-tiba berubah buncit. Ia tersenyum geli membayangkannya. Bagaimana jika dirinya nanti hamil sedangkan perut suaminya ikutan hamil juga?
“Ngapain senyum-senyum begitu?” tanya Vino penuh selidik.
“Enggak,” jawab Olivia seraya menggeleng. “Aku Cuma lagi ngebayangin kalau kita hamil berdua,” lanjutnya. Seketika itu juga Olivia tertawa terbahak, sampai air matanya mengalir sangking lepasnya ia tertawa.
Vino mencebikkan bibir. Bisa-bisanya hal yang begitu malah ditertawakan.wanita itu benar-benar tidak tahu bagaimana usahanya mendapatkan perut yang kota-kotak seperti miliknya. Tidak akan pernah terbayangkan jika peruntnya yang rata tiba-tiba membuncit.
Oh, tidak. Itu tidak akan pernah terjadi. Akan sia-sia usahanya selama ini. Olah raga yang dijalani akan terbuang sia-sia jika ia tidak mampu mempertahankan postur tubuhnya.
Tidak bisa dipungkiri. Teman-teman Vino yang telah menikah rata-rata memang merubah segalanya termasuk perut mereka. Walaupun teman yang dimaksud bukanlah teman seperjuangan di bidang pembentukan tubuh ideal.
“Emang kamu mau, kalau perutku ikutan buncit gitu ya?” tanya Vino lagi.
“Ya, enggak sih. Aku senang aja kalau pas aku hamil ada temennya,” sahut Olivia asal.
“Kalau gitu. Aku akan tetap mempertahankan tubuh idealku ini. Biar kamu tetap bisa pegang-pegang si rata.” Vino berkata dengan wajah serius.
“Kak, badan gemuk itu berarti dia bahagia, lho. Itu tandanya suaminya itu bahagia hidup bersama istrinya,” sahut Olivia dengan pikiran mengingat kedua kakak iparnya yang tampak gemukan setelah menikah.
“Aku bahagia hidup sama kamu walaupun aku kurus kering kayak triplek,” ujar Vino yakin.
Bukannya serius menanggapi. Olivia malah terkikik geli. Memang, sih, suaminya itu tampak kurus, tetapi juga tidak sampai kayak triplek juga kali. Badan tampak gagah begitu, kok, dibilang triplek yang rata. Sangat tidak masuk akal. Kemudian, siang keduanya pun dihabiskan dengan canda dan tawa.
“Oh, iya, Kak. Kenapa pagi tadi perginya terburu-buru?” Vino bingung menjawabnya. Olivia mengerjap-ngerjap menanti jawaban dari Vino yang tak kunjung bersuara. Ia sempat berpikir, adakah rahasia yang disembunyikan suaminya itu darinya?